Past For Future

Past For Future
Terbongkar (Fatal)


__ADS_3

Oliv tengah celingukan mencari taksi yang melintas, bolak-balik ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara klakson yang melintas di depannya.


Tin tinnn


Oliv menyipitkan matanya untuk memastikan wajah pengemudi mobil itu. Ia menyilangkan tangannya di dada saat pengemudi itu menurunkan kaca pintu mobil. Rasanya sangat jengah, bertemu dengan pria asing yang sok peduli, ingin rasanya berteriak mengusir agar pria itu tak lagi menampakkan batang hidungnya.


"Nunggu apalagi? ayo!" seru pria yang tak lain adalah Gema.


"Ogah!! Gue kan udah nyuruh elo pergi. Ngapain masih nungguin Gue sih!" kesal Oliv dengan suara yang meninggi.


"Cepet naik, atau Tuan Baskara sendiri yang akan jemput kamu." ancam Gema sembari menatap Oliv dengan tajam.


brukk


Oliv menutup pintu mobil dengan cukup kuat karena kekesalannya pada Gema. Pria asing yang selalu mencari kesempatan dalam kelonggaran itu seolah memegang kendali atas dirinya. Oliv kembali menyilangkan tangannya di dada dengan bibir yang sudah membentuk paruh bebek dengan sempurna.


"Kenapa lipstik kamu luntur?" tanya Gema dengan tatapan yang terfokus pada bibir Oliv.


"Ini cowok apaan sih, kepo banget. Oke, sekalian aja gue buat panas."


"Emm lipstik gue luntur ya? hehe, gimana ya?" Oliv menggaruk tengkuknya sembari cengengesan, "Ya Elo pasti tau sendiri lah. Gue kan habis ketemu sama calon suami Gue. Jadi ya kami kangen-kangenan dong." Oliv tersenyum puas saat melihat reaksi wajah Gema yang enggan menoleh kearahnya. Bisa dilihat bahwa kini wajah Gema sudah memerah seperti menahan amarah.


"Makanya jangan main-main sama Gue. Ini sih belum seberapa kalo Elo masih ngebet mepet Gue." gumam Oliv.


Gema mulai melajukan mobilnya keluar dari area gedung apartemen. Rahangnya kian mengeras setelah mendengar penuturan Oliv tadi. Tak bisa dipungkiri bahwa ia tak bisa mengontrol rasa cemburunya. Selama ini ia sudah mati-matian menjaga Oliv, namun Oliv dengan cerobohnya memberikan bibirnya pada pria lain.


Suasana jalan siang ini tidak terlalu ramai, yang membuat Gema semakin menambah kecepatan mobilnya. Rasa cemburu seolah membakarnya hidup-hidup. Ia mencengkram stir dengan kuat, sesekali ia memukul klakson dengan kasar.


"Woy!! pelan-pelan, Gue belum mau mati!!" teriak Oliv namun tak dihiraukan oleh Gema yang semakin mempercepat laju kendaraannya. "Kak, tolong pelan-pelan!! oke-oke, maafin Gue. Tolong jangan ngajak Gue mati cepet!!" perlahan Gema mengurangi laju kendaraannya yang membuat Oliv menghela nafas lega.


"Sekarang hari apa?" tanya Gema tanpa menoleh.


"Yaelah malah nanyain hari." gumam Oliv, "Hari Minggu, emangnya kenapa,?"


"Di mana Marcel?" tanya Gema lagi.


"E-em katanya tadi ada urusan di luar. Urusan kerjaan, emangnya kenapa?"


"Urusan kerjaan? ck." Gema terkekeh. "Aku akan buktikan ke kamu kalo Marcel bohong sama kamu." Gema menyeringai tipis.

__ADS_1


"Bohong?? jangan sok tau deh Elo. Kak Marcel nggak akan bohong, dia pamit sama Gue langsung tadi kalo dia ada urusan mendadak." Oliv kembali menyilangkan tangannya di perut.


"Oke, kita buktikan siapa yang sebenernya sok tau. Aku atau kamu." Gema melirik dengan senyuman liciknya.


Oliv hanya menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata Gema yang terlihat sangat menyombongkan diri itu. Ia tak akan terperdaya pada ucapan-ucapan Gema yang hanya akan membuatnya sakit kepala.


Gema memarkirkan mobilnya di depan sebuah masjid dan gereja yang bersebelahan. Tempat yang sangat terkenal akan toleransi nya di Kota ini. Oliv mengerutkan keningnya, pasalnya siang ini belum memasuki waktu Dzuhur, lalu untuk apa Gema membawanya kemari.


"Mau ngapain?" tanya Oliv.


"Kamu lihat aja kesana. Cari Marcel. Dia ada di rumah ibadah." perintah Gema pada Oliv.


"Hah? terus kenapa kalo Marcel lagi ibadah? apa salahnya? Elo mau ngadu ke Marcel ya? biar Marcel batalin pernikahan kami kan?" Oliv mencecar dengan segala tuduhan. " Huh, silahkan... tapi itu akan sia-sia. Karna Marcel akan menerima Gue apa adanya."


"Kenapa susah banget kompromian sama kamu ha? sekarang ayo keluar, ikuti saya." Gema keluar dari mobil dengan tergesa. Ia memutari mobilnya kemudian membuka pintu mobil untuk Oliv.


"Apaan sih, Elo. Suka banget maksa." protes Oliv.


Gema segera mencekal lengan Oliv dan menariknya menuju salah satu rumah ibadah.


"Woy, tangan Gue sakit. Pelan-pelan dong jalannya! hiiih, Elo dengerin Gue nggak sih, biawak bisu!" Omel Oliv pada Gema yang menyeretnya bak membawa seekor sapi.


"What?? ngapain Gue ke Gereja? di dalem banyak orang, Elo nggak usah neko-neko deh." kesal Oliv.


"Oke, sini." Gema menarik tangan Oliv untuk mengintip dari jendela. "Elo lihat itu." Gema menunjuk salah seorang yang ada di dalam Gereja.


"Elo nggak sopan banget sih jadi orang, di dalem orang lagi pada ibadah. Ngapain lagi ngintip-ngintip mereka. Udah ah, Gue mau pulang." Oliv hendak meninggalkan Gema namun dicegah.


"Oliv!! selangkah aja kamu pergi, saya akan meresmikan kamu sebagai istri saya tanpa persetujuan dari kamu!!" gertak Gema yang membuat Oliv membalikkan badannya.


"Habisnya Elo gaje banget sih." Oliv memanyunkan bibirnya.


" Gue harus cepet cari cara untuk nyingkirin laki-laki ini dari muka Bumi. Dari kelakuannya aja udah gaje banget."


"Lihat apa yang saya tunjukkan ke kamu." Gema menarik tangan Oliv lagi dan mengarahkan pandangannya pada objek yang sedang ia lihat saat ini.


Mata Oliv membulat dengan sempurna saat melihat Marcel menautkan jari-jarinya dengan doa-doa yang terlantun bersama jamaat-jamaat lainnya. Seketika tubuh Oliv bergetar, ia menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Oliv menggelengkan kepalanya untuk menyangkal apa yang tengah ia lihat saat ini.


"Nggak mungkin, itu Kak Marcel?" nafas Oliv mulai naik turun saat ia kembali memastikan keberadaan Marcel.

__ADS_1


"Kamu harus tau yang sebenarnya sebelum semua terlambat. Saya ingin kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri apa yang sebenarnya Marcel sembunyikan dari kamu."


Buliran air mata Oliv sudah lolos dengan mudahnya, bagaimana Marcel bisa menyembunyikan hal sepenting ini padanya? rasanya belum percaya akan fakta yang ada. Oliv berharap saat ini ia hanya sedang bermimpi.


Tak lama setelah itu, para jemaat tampak membubarkan diri masing-masing, sepertinya mereka telah mengakhiri ibadah mereka di gereja ini. Oliv menunggu Marcel di dekat pintu masuk untuk meminta penjelasan lebih lengkap dari sang kekasih.


"Kak Marcel!!" panggil Oliv dengan tegas.


Marcel menoleh saat merasa namanya dipanggil, "Sa-sayang? ka-kamu?" gugup Marcel, "Kita duduk di sana aja, yuk." Marcel menunjuk bangku yang ada di bawah pohon.


Oliv mengikuti langkah Marcel yang membawa mereka ke bangku di bawah pohon rimbun. Oliv tak mengeluarkan sepatah katapun, lidahnya seolah tak mampu lagi untuk merangkai kata-kata.


"Sayang, kamu ngapain di sini?" tanya Marcel saat mereka telah duduk. "Kamu naik apa kesini?"


"To the poin, kamu tau apa maksud aku kesini." ucap Oliv dengan datar.


"Sayang, aku bisa jelasin ini semua. Kamu tolong dengerin ya." bujuk Marcel.


"Kenapa?" Oliv berbicara dengan nada tinggi tertahan. "Kamu tau? kali ini sangat fatal, Marcel Cristian Pradigta..."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2