Past For Future

Past For Future
Bintang 2


__ADS_3

"Jadi nak Dirga dan Bintang saudara sepupu?" tanya ibu terkejut


"Iya buk." jawab Dirga saat mereka telah duduk di ruang tamu


"Apa kamu tau kemana Bintang selama ini nak? Maaf ibu jadi tanya sama kamu" ujar Ibu


"Setau Dirga dia pindah ke kota ini sekitar kurang lebih tiga tahun lalu untuk menjalani pengobatannya buk" jawab Dirga


"Pengobatan?? pengobatan apa nak?? Bintang sakit??" tanya ibu beruntun


"Iya buk, kanker otak stadium akhir." jhawab Dirga lagi


Ibu tertegun dengan perkataan Dirga. Tak lama terdengar langkah kaki menuruni anak tangga.


"Buk, kak" sapa Bintang yang baru ikut bergabung


"Gimana keadaan Bulan nak?" tanya ibu pada Bintang


"Bulan udah tidur buk. Ibuk sama kak Dirga tenang aja Bulan baik-baik aja" jelas Bintang pada mereka berdua


"Sebelumnya aku minta maaf kak karna udah lancang sama istri kakak. Aku nggak bermaksud apa-apa kok" ujar Bintang pada Dirga memberi penjelasan


Dirga menghela nafas panjang sebelum menjawab kata-kata Bintang


"Kakak nggak nyalahin kamu hes. Cuma kakak sedikit shok sama keadaan kali ini" ujar Dirga seraya mengusap wajahnya kasar


"Aku nggak akan ambil Bulan dari kak Dirga. Aku akan membuat Bulan bisa menerima kakak. Aku yakin itu nggak akan lama" ucap Bintang meyakinkan


"Nak, sepertinya kalian harus membicarakan ini berdua. Ibuk pamit ke kamar dulu ya" pamit ibu lalu menepuk pundak mereka berdua.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu hes?? Dari yang kakak lihat sepertinya Bulan sangat takut kehilangan kamu lagi. Kamu adalah separuh jiwa Bulan yang hilang selama ini"


"Kak Dirga jangan pesimis dulu. Justru sekarang Bulan beda. Tatapan mata Bulan bukan lagi tatapan cinta untuk aku kak" Ujar Bintang menenangkan Dirga


"Jangan berbicara hanya untuk meyakinkan kakak hes." ucap Dirga


"Apa kakak lupa kalau aku pernah jadi mahasiswa psikolog? Aku nggak bercanda kak. Bulan sebenernya udah buka hati untuk kakak tapi dia masih ragu untuk melangkah" Bintang menepuk pundak Dirga


Dirga hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh sepupunya itu.


"Aku udah kenal Bulan sangat lama kak. Yang harus kakak lakuin sekarang hanya meyakinkan Bulan. Aku yakin seiring berjalannya waktu Bulan bisa menerima keadaan dan menjalani kehidupan ini dengan kak Dirga" Bintang tersenyum menyemangati Dirga


"Tapi gimana kalau Bulan meminta untuk tetap bersama kamu hes?" cemas Dirga


"Itu nggak akan terjadi kak. Kakak tau sendiri kondisi aku gimana. Dan dokter memvonis umur aku nggak akan lama lagi." Bintang tersenyum kecut meratapi takdirnya


"Kamu pasti sembuh hes. Apa perlu kakak kirim kamu ke luar negeri?" Dirga menghadap ke arah Bintang seraya memegangi pundak Bintang


"Itu akan sia-sia kak. Tapi apa aku boleh minta sesuatu sama kakak?" tanya Bintang pada Dirga


"Apapun hes"


"Aku cuma pengen di hari-hari terakhir ku ini bisa bersama Bulan dan kak Dirga." pinta Bintang


Dirga terdiam sejenak menimbang-nimbang permintaan Bintang


"Aku akan menyelesaikan tugas ku selama aku hidup kak. Aku akan membuat kalian berdua sadar bahwa kalian sudah saling mencintai" ujar Bintang dengan penuh kesungguhan


Dirga tersenyum pada Bintang dan memeluk erat tubuh Bintang. Beruntung ia tak menyelesaikan masalah ini dengan emosi. Bila itu terjadi maka Dirga tak akan tau akan bagaimana cara membawa Bulan kembali pada pelukannya.


"Bukannya kemarin kamu pake kursi roda hes?" tanya Dirga yang baru menyadari keadaan Bintang

__ADS_1


"Kekuatan Cinta" jawab Bintang yang membuat Dirga mengerutkan keningnya


"Nggak bisa dipungkiri kalau aku masih mencintai Bulan kak meski kini tak terbalaskan" lanjutnya dengan tersenyum "Kakak tau waktu aku koma saat itu?" tanya Bintang yang hanya di jawab anggukan kepala Dirga


"Bulan yang menyelamatkan aku dalam mimpi itu." ujar Bintang "Dan saat aku mendengar Bulan diculik aku benar-benar shok. Tanpa sadar aku bisa berdiri dan berlari untuk menyelamatkan Bulan" Bintang menjelaskan maksudnya


"Sebesar itu cinta kamu?" tanya Dirga yang sebenarnya dalam lubuk hati tak rela istrinya dicintai pria lain


"Cinta kak Dirga lebih besar. Aku bisa lihat itu. Dan Kakak jangan cemas karna di hari terakhirku nanti aku akan melepaskan perasaan ini" Bintang menghela nafas panjang lalu tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit


"Aaaaaaaargghh" rintih nya


"Hes, kamu nggak papa?" cemas Dirga


"Kak, bawa aku pulang." pinta Bintang


"Nggak. Kita ke rumah sakit dulu ya" ujar Dirga


Bintang sudah tak sanggup lagi membantah karna rasa sakitnya telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dirga pun segera memapah Bintang menuju mobil.


...


Sedangkan di tempat lain sepasang sejoli tengah beradu argumen di sebuah apartemen sang pria.


"Kamu nggak usah ngeyel deh kak. Kak Dirga udah bilang kita jangan kesana dulu. Lagian ini udah sore banget" cegah Oliv pada Marcel yang tengah bersiap untuk menuju ke rumah Bulan


"Kamu urus aja urusan kamu sendiri Liv." ujar Marcel tegas


"Selangkah aja kakak keluar, aku nggak akan segan-segan cium kak Marcel di depan umum!!" ancam Oliv yang membuat Marcel membalikkan tubuhnya


"Jadi sekarang mainnya ngancem?" ujar Marcel


Marcel tak menjawab ucapan Oliv. Ia melangkah semakin dekat pada Oliv yang membuat Oliv mundur kebelakang sampai terpentok dinding.


"Kak. Kakak mau apa?" cemas Oliv karna wajah Marcel yang semakin dekat


"Kamu bilang mau cium kan? jangan di tempat umum sayang. Disini aja" ujar Marcel dengan tersenyum licik


Bulu kuduk Oliv berdiri karna ucapan Marcel yang membuatnya merinding.


"Kak... emmmphh" mulut Oliv dibungkam oleh Marcel tiba-tiba


hufft hufft


Nafas mereka tersengal karna durasi yang Marcel buat sangat lama tanpa memberi ampun Oliv.


Keduanya membisu. Ini adalah yang pertama kalinya untuk mereka dan naas nya mereka melakukannya tanpa cinta. Marcel yang awalnya hanya ingin menggoda Oliv malah tak bisa menahan diri karna gemas dengan bibir merah Oliv.


"Ciuman pertama kita bukan?" tanya Marcel yang membuat pipi Oliv merona


Tak sanggup lagi diposisi menegangkan ini, Oliv segera melangkahkan kaki dan ingin segera pergi namun tangannya ditarik oleh Marcel hingga Oliv terhuyung ke pelukan Marcel.


"Kamu melarang aku pergi berarti kamu juga nggak boleh pergi" ujar Marcel tanpa melepaskan pelukannya


"Lepas kak, aku bisa mati" Oliv berusaha untuk melepaskan pelukan erat dari Marcel


"Oh ya?" Marcel segera melepas pelukannya namun


cuup


braaak

__ADS_1


Oliv membanting pintu utama apartemen karna tak bisa lagi menahan malu akibat ulah Marcel yang menyerangnya dua kali sampai bibirnya perih dan membengkak.


"Hahahaha" Marcel tertawa menggelegar. Hal yang sangat jarang ia lakukan.


"Ternyata mudah juga membuat kucing kelaparan itu diam. Aku akan menggunakan cara ini di hari-hari berikutnya" ujar Marcel pada dirinya sendiri sembari mengusap-usap bibirnya yang perih akibat gigitan Oliv


Sedangkan di dalam mobil Oliv segera merutuki kebodohannya karna bibirnya dengan mudahnya membalas ciuman Marcel.


"Oliv bodoh bodoh bodooooh" Oliv memukul-mukul kepalanya


ting


Satu pesan masuk ke ponsel Oliv dan nama Es Marcel tertera Disana


Es Marcel


"Sering-sering juga nggak papa. Jangan malu2. Manis kok, aku suka🤤"


Oliv membanting ponselnya ke kursi penumpang di sampingnya.


"Aaaaaaaaa kak Marcel mesuuuuum" teriak Oliv


"Tapi kamu juga suka kan?" tanya orang yang tiba-tiba ada di balik kaca pintu mobil Oliv yang terbuka.


bluuuushh


"Aku mau pulang!!" hardik Oliv pada pria yang tak lain adalah Marcel itu


"Sekali lagi juga nggak papa atau mau nginep??" goda Marcel


Oliv menyalakan mobil dan segera meninggalkan parkiran. Malu malu malu!!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Haduh Marcel😁😂


Author sangat mengapresiasi jejak readers ♥️

__ADS_1


__ADS_2