
Oliv terus-terusan menggerutu sembari melirik kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia mendengus kesal karena Marcel tak juga kunjung datang, padahal hari ini mereka harus melakukan fitting baju pengantin. Ya, hari ini tepat tiga Minggu setelah acara lamaran mereka dilaksanakan.
tin tinnn
Suara klakson mobil terdengar kemudian mobil itu terparkir tepat di depan Oliv. Oliv melangkah dengan lunglai sembari menyilangkan tangannya di perut. Mukanya sudah tertekuk dengan sempurna. Ia tak mengucapkan sepatah katapun sebagai bentuk protesnya.
"Ehem." Marcel berdeham namun Oliv malah membuang muka keluar, "Kamu kenapa?" tanya Marcel tanpa rasa bersalah.
hening
Oliv membisu dan Marcel pun tak bertanya lagi. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling bisu, Oliv sibuk dengan kekesalannya sedangkan Marcel acuh tak peka.
"Ayok," ajak Marcel saat mereka telah sampai ke Butik. "Liv..." Panggilnya lagi.
Oliv hanya melirik kemudian keluar dengan raut wajah yang masih kecewa. Marcel yang merasa terabaikan pun hanya bisa mengerutkan keningnya heran. Ia ikut keluar dari Mobil dengan langkah sedikit berlari.
grep
Marcel menangkap tubuh Oliv dari belakang.
"Kak Marcel..." Oliv mendengus kesal menyingkirkan tangan Marcel dari perutnya.
"Sini lihat aku." Marcel membawa bahu Oliv agar menghadap padanya. Oliv masih mode merajuk membuang muka sembari mengerucutkan bibirnya.
"Mau dicium di sini?" goda Marcel, Oliv hanya mendelik. "Beneran nih?" Marcel menyeringai kemudian mendekatkan wajahnya kearah wajah Oliv.
Hembusan nafas hangat menerpa wajah Oliv yang masih mematung. Ia seperti orang yang tengah dihipnotis. Namun seketika lamunannya buyar saat Marcel menyentil keningnya dengan cukup keras.
"Awwwwh. Apaan sih kak." kesal Oliv.
Marcel mendekatkan bibirnya ke telinga Oliv, "Ayok cepetan masuk. Pulangnya langsung mampir ke KUA ya. Aku udah nggak sabar mau nerkam kamu." Ia menggigit kecil telinga Oliv dengan gemas.
deg
Oliv seperti mendapat sengatan listrik dari Marcel. Tubuhnya meremang sempurna. Marcel memang paling ahli dalam membuatnya kalang kabut. Oliv menoleh kebelakang saat Marcel menoleh saat Marcel melaluinya. Ia melihat Marcel berjalan mendahului nya sembari menyelipkan tangannya di saku celana. Lagi-lagi Oliv menghela nafas saat menghadapi sikap Marcel yang tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.
"Cih, manisnya kalo ada maunya doang." gerutu Oliv. "Gandeng kek atau rangkul gitu, biar keliatan mesra."
Oliv ikut melangkah mengintil Marcel dari belakang dengan sumpah serapah yang terus keluar mendongkol dari dalam hatinya.
"Selamat datang di Aurora Boutique, Tuan Marcel." sapa para pegawai butik yang sudah berjejer rapi menyambut kedatangan mantan sekretaris perusahaan Baskara sekaligus sahabat dari CEO Baskara Group. "Selamat datang, Nona Oliv." sapa mereka pada Oliv yang berjalan di belakang Marcel.
"Dimana ruangannya?" tanya Marcel dingin dan tak ingin lama-lama basa-basi.
__ADS_1
"Mari ikut saya, Tuan, Nona." salah satu pegawai mempersilahkan mereka berdua.
Mereka berdua dibawa keruangan lantai dua yang terlihat sangat khusus untuk pelanggan VIP saja. Oliv menundukkan kepala sebagai ucapan terimakasih pada pegawai yang telah mengantarnya.
Marcel ikut duduk di sofa kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Oliv. Ia hirup aroma parfum Oliv yang selalu membuatnya terngiang saat sempat berpisah dengan Oliv waktu itu. Marcel mendekap tubuh Oliv dari samping dengan manja.
"Parfum kamu beli dimana, Liv?" tanya Marcel yang terus menguyel-uyel bahu Oliv.
"Nggak tau, Kak Dirga yang beliin."
"Besok kalo udah nikah nggak boleh manja lagi sama Dirga ya. " Marcel menumpukan dagunya di bahu Oliv sembari dengan posisi mendongak keatas.
"Terus mau manja sama siapa?" Oliv tak menoleh, karna posisi wajah Marcel yang sangat dekat dengan pipinya. Ia merasakan hembusan nafas hangat.
"Sama suami kamu aja. Nanti ada plus plus nya kok." Marcel tersenyum nakal. "Oke?" imbuhnya dengan jahil.
"Kalo suaminya nggak peka gimana?" Oliv melepaskan tangan Marcel yang memeluknya. "Nggak peka, nggak romantis, nggak bisa manjain." imbuhnya menyindir.
"Kamu nyindir aku?" Marcel menaikkan salah satu alisnya.
"Permisi, Tuan, Nona." suara seorang wanita menengahi percakapan Oliv dan Marcel.
"Merry..." teriak Oliv antusias menyambut wanita itu dengan pelukan. "Apa kabar elo? Tau-tau punya butik segini gedenya."
"Jangan terlalu memuji, Liv. Ini mah belum ada apa-apanya dari butik punya keluarga elo." Merry melepaskan pelukan Oliv. "By the way, gue tersanjung banget loh elo milih butik gue buat ngerancang baju untuk hari pernikahan kalian."
"Oke-oke, jadi yang mau diukur Tuan Marcel dulu atau Oliv?" tanya Merry.
"Apa kamu tidak punya pegawai laki-laki untuk mengukur tubuh saya?" angkuh Marcel.
"Eh, saya punya Tuan, tapi---"
"Cepat Panggil dia." Marcel memotong.
"Baik, Tuan." patuh Merry. "Bentar ya." bisiknya pada Oliv.
Setelah beberapa saat, Merry membawa pegawai laki-laki yang lebih menyerupai perempuan. Lenggak lenggok pria mirip wanita itu melebihi kementelan wanita tulen pada umumnya.
Oliv menganga. Ia menahan gelak tawanya setelah melirik wajah kekasihnya yang sudah menunjukkan raut tidak suka.
"Perkenalkan, ini pegawai saya. Namanya Hendri." Merry memperkenankan.
"Ralat ya, nama saya Helena." sahutnya sambil mengibaskan selendang di bahunya. "Mari kita mulai mengukur bajunya, Tuan." ucap Pria mirip wanita itu dengan suara khas menggoda.
__ADS_1
Dengan wajah yang sudah merah, akhirnya dengan terpaksa Marcel berdiri dari duduknya. Ia melirik kearah Oliv yang sedari tadi membekap mulutnya menahan tawa.
"Kita ukur tangannya dulu ya, Tuan." dengan sentuhan sangat lembut, Helena alias Hendri itu mengukur tubuh Marcel. Meski Helena tidak melakukan hal-hal buruk, tapi tetap saja Marcel merasa risih dan geli sendiri.
Hanya beberapa menit saja pengukuran selesai. Namun wajah Marcel seperti sudah seperti ingin memakan orang. Kini tatapan tajamnya tertuju pada Oliv yang terpingkal-pingkal tanpa suara. Ia semakin kesal karna merasa sedang dibully habis-habisan oleh kekasihnya.
"Oliv!!" Marcel memanggil dengan tegas. "Kita pulang."
gleg
Oliv tersenyum canggung saat baru menyadari tatapan Marcel yang sangat tidak bersahabat.
"Tapi Kak---"
"Atau pulang sendiri."
"Permisi Tuan, bukan saya mau ikut campur. Tapi saya dan Nona Oliv tadi sedang membahas pengalaman lucu kami dulu. Tolong jangan salah paham." Merry sedikit merinding walau Marcel tidak menatap kearahnya. "Hanya sebentar saja, saya akan mengukur tubuh Nona Oliv. Bukakah kalian ingin gaun pengantinnya pas dan sempurna?"
"Kak..." Oliv menghampiri Marcel dan menggandeng tangannya. "Kakak duduk dulu ya. Bentarrr aja, plisss. Pernikahan kita sebulan lagi, loh." bujuk Oliv.
Marcel hanya membuang nafas kasar kemudian mendudukkan dirinya lagi di atas sofa. Kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya dengan tangan bersedekap di perut.
"Oke kita mulai ya, hehe." Merry mulai mengukur tubuh Oliv dengan sedikit bergetar.
"Buseeeet!" kejut Merry. "Belum kawin aja dada elo udah segede ini Liv??"
blush
Marcel memejamkan matanya saat mendengar kata-kata itu. Wajah Oliv sudah merah padam menahan malu, ia melirik kearah Marcel yang memejamkan mata sembari mengigiti bibir bawahnya.
"Merryyyyyyy. Mulut elo arrrrrrrggghhh." teriak Oliv dalam hati.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tinggalkan jejak pemirsaaaa😁