Past For Future

Past For Future
Genk Absurd(rujak buah)


__ADS_3

...Selamat membaca para pejuang halu😂♥️...


.


.


.


.


.


.


.


Sore itu Bulan dan Oliv tengah cekikikan sembari mengupas buah.


"Kak Dirga emang pantes banget digituin kak. Biar kapok dia." mereka terbahak bersama.


"Kakak mau ngetes dia, seberapa kuat dia nahan diri untuk nggak nyentuh kakak." Bulan terkekeh.


"Kalo aku sih nggak yakin dia bakal tahan hahaha."


"Emang kakak kamu itu, aduh... entah deh. Tapi cinta." Bulan memeluk timun yang ia pegang. Tiba-tiba ia teringat Pino.


"Astaghfirullah!" Bulan melempar timun itu ke meja.


"Kenapa kak?" cemas Oliv.


"Eh, itu anu, nggak papa kok, Liv." Bulan menyengir canggung.


"Apaan sih, kak. Aneh ba banget. Ya udah kakak duduk aja ya. Biar Oliv yang selesain."


"Udah nggak papa, bareng-bareng aja. Oh iya, gimana kamu sama Marcel? udah punya rencana untuk kedepannya belum?" tanya Bulan yang membuat Oliv tertegun.


"Liv..." panggil Bulan membuyarkan lamunan Oliv.


"Eh, iya kak. Kakak doain aja ya, semoga hubungan kami berjalan lancar." Oliv tersenyum canggung.


"Aamiin. Kakak doain semoga hubungan kalian lancar tanpa ada hambatan apapun ya." Bulan menepuk bahu Oliv.


Sore ini Oliv dan Bulan menghabiskan waktunya untuk menonton Drakor dan membuat rujak buah untuk Dirga. Bulan yang awalnya murung berangsur rileks dan fresh dengan aktivitasnya dengan Oliv.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Oliv dan Ibunya Bulan pun sudah sibuk menata makanan di atas meja untuk menyambut kepulangan Dirga dan kedatangan sahabat-sahabat Bulan.


Sedangkan di halaman rumah sudah ada mobil Dirga yang baru saja datang, tak lama kemudian mobil berwarna biru laut ikut memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


brakk


Dirga menutup pintu mobil sembari melepaskan kacamata hitamnya. Ia menatap tajam mobil biru laut yang terparkir di belakangnya. Ia mengerutkan keningnya saat David keluar dari kemudi.


"Vid, tolongin gue keluar dong!!" teriak Bayu dari dalam mobil


"Ya elah entong, elo tu emang nyusahin aja!" Sandra yang juga sudah keluar pun berkacak pinggang di depan Bayu.


"Ya maap. Abisnya ini belanjaan banyak banget." keluh Bayu.


"Salah elo sediri bawa-bawa belanjaan segitu banyaknya. Mentang-mentang orang tua elo tajir!" Sulut David yang ikut berkacak pinggang.


"Kalo kalian ngomel terus kapan gue turunnya, Pasutri gaje!!" hardik Bayu.

__ADS_1


Sandra membuka pintu, kemudian menjewer telinga Bayu hingga Bayu terpaksa turun dari mobil.


"Aduhhhh sakit Ndraaa." protes Bayu.


"Elo bilang ngejek gue sama Sandra lagi mampus elo." ancam David.


"Iya iya, yaelah elu bedua ngapa tiba-tiba jadi pasangan sangar gitu sih." ceplos Bayu sembari mengelus-elus telinganya.


"Sekali lagi...


"Oke-oke, gue salah. Elo nggak kasian apa sama badan gue yang elo cubitin terus. Kalo kempes gimana." Bayu memanyunkan bibirnya.


"Alhamdulillah...." ujar David dan Sandra bersamaan.


Dirga yang masih setia menyimak percakapan absurd mereka pun hanya menyerngitkan dahinya. Saat salah satu dari mereka menyadari keberadaan Dirga, Dirga dengan cepat mengalihkan perhatiannya dan melanjutkan jalannya.


"Itu laki nya si Bulan kan?" tanya David dengan nada berbisik.


"Gue langsung merinding, njir." Bayu mengusap-usap lengannya.


"Buset, makin gagah aja boss gua." Sandra memandang takjub ke arah Dirga


"Kalian tau nggak, sebelum Bulan nikah sama Tuan Dirga, gue itu termasuk kedalam kategori penggemar berat Tuan Dirga. Lihat aja noh, matanya tajem, hidungnya mancung, kumis tipis, awww." Sandra kegirangan, Bayu dan David saling pandang kemudian menggidikkan bahunya.


"Kalo menurut kalian Tuan Dirga ganteng nggak?" tanya Sandra namun tak ada satupun sahutan.


Sandra melihat ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah lalu muter-muter namun tak menemukan batang hidung Bayu dan David.


"BAYUUUU DAVIIIID!!!!" teriak Sandra menggelegar sembari menghentak-hentakkan kakinya.


Dengan terpaksa Sandra membopong semua belanjaan untuk Bulan dengan kesal. Sepanjang perjalanan ia terus menggerutu menyumpahi kedua sahabat prianya itu.


"Assalamualaikum..."


"Oke Mbak. Tolong ya." Sandra menyerahkan belanjaan itu pada pelayan "Yang ini nggak usah. Martabak nya mau dimakan sama Bulan."


"Siap Nona, silahkan masuk." pelayan itu mempersilahkan Sandra masuk.


Sandra menatap seluruh isi rumah itu dengan detail. Rumah yang besar nan agung. Desain mewah sangat terpancar sejak Sandra tiba di rumah ini. 'Luar biasa' hanya itu yang Sandra katakan melihat rumah CEO Dirga Baskara.


"Dra... Siniiiii. teriak Bulan dari ruang keluarga yang tak jauh dari ruang tamu.


"Bumiiiilll elo apa kabarrr." Sandra berlari menghampiri Bulan kemudian memeluknya erat.


"Gue baik,. Ndra." Bulan menepuk-nepuk punggung Sandra.


"Ehem. Maaf nona, tolong jangan berlebihan memeluk istri saya, itu akan berdampak buruk pada kandungannya." tegas Dirga sembari melepaskan pelukan mereka.


"Ma... ma maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Sandra menundukkan kepalanya bersalah.


"Udah-udah, kita makan dulu yuk. Makanannya udah siap." ajak Bulan


Merekapun meng-iya kan ajakan Bulan, kemudian mereka makan bersama dengan gugup. Bagaimana tidak? melihat Dirga makan saja Mereka bertiga sudah bergidik ngeri. Ketiga sahabat Bulan nampak makan dengan sangat hati-hati tanpa mengeluarkan suara.


"Makan yang banyak, Ndra. Biar gemukan dikit." Bulan memecahkan kecanggungan mereka.


"Eh, i... iya Lan." gugup Sandra.


"Kalo makan jangan bersuara." ucap Dirga datar namun terasa menyeramkan bagi tiga manusia absurd itu.


Sandra, David, dan Bayu hanya saling senggol-senggolan kaki di bawah meja sembari melanjutkan makannya dengan canggung.

__ADS_1


Setelah melewati makan sore bersama keluarga Dirga, mereka akhirnya bisa bernafas lega seperti telah melewati rintangan yang sangat berat.


Kini mereka kembali dihadapkan dengan kecanggungan sekaligus merinding ngeri saat tuan rumah mempersilahkan untuk duduk di ruang keluarga.


"Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya. Mas mau ganti baju." ujar Dirga dengan sangat lembut.


gleg


Bayu, Sandra, dan David meneguk saliva nya masing-masing saat menyaksikan kelembutan Dirga pada Bulan yang terlihat ngeri di mata mereka.


"Kalian kenapa sih?" tanya Bulan saat Dirga telah beranjak pergi.


"Eh, nggak papa kok Lan. Santai." jawab David dengan cengir gugupnya.


"Iya, Lan. Gimana kabar baby elo?" tanya Sandra antusias.


"Emmm baby nya pengen peluk Bayu..." rengek Bulan sembari mendekat ke arah Bayu.


"Eh.... jangan deket-deket Lan." Bayu melambaikan tangannya agar Bulan tetap di tempat.


"iiihh, tapi aku kan mau peluuuk." Bulan mencebikkan bibirnya sambil memeluk Bayu dengan erat.


"Iya, tapi nanti....


"Elo tenang aja, monster elo itu nggak akan marah." Bulan semakin menguyel-uyel wajahnya di dada berlemak Bayu "Elo montok banget sih mbul." Bulan mereemas remas dada Bayu yang montok.


"Eh buset, ngidam apaan sih elo Lan. Jadi ngeri gueee." cemas Bayu sambil celingukan untuk memastikan Tuan Dirga tidak melihat.


"Permisi Nyonya. Ini rujaknya." seorang pelayan membawa nampan berisikan rujak lalu meletakkan nya di meja.


"Waaahhh rujak buah." Sandra mencomot buah itu


"JANGAN DIMAKAAAN!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hati-hati ada macan ngamuk, Ndra.


See You Next Episode guys

__ADS_1


Jejak nya jangan lupa🥺


__ADS_2