Past For Future

Past For Future
Launching new novel "Gembira Fajarini"


__ADS_3

Hallo semuanya apa kabar?🤗


Author punya kabar gembira untuk kalian semua. Hari ini karya terbaru Author launching dengan judul "Gembira Fajarini"


Langsung mampir ya guys. Jangan lupa untuk dukung terus karya author NoerHBJ 🤗


Salam sayang untuk sahabat-sahabat ku ❤️❤️



Lihatlah, langit biru dengan gumpalan awan putih bak kapas terlihat indah. Serombongan burung camar melenguh di kejauhan. Air laut nampak berkilau memantulkan cahaya satelit bumi. Deretan mangrove tertanam rapi membuat setiap orang merasa dalam dunianya sendiri saat sepi.


Aku kembali menekan-nekan pasir yang ku padatkan membentuk sebuah rumah-rumahan. Aku bersenandung sembari membayangkan betapa bahagianya aku saat membangun rumah yang tak akan runtuh diterjang ombak. Lima belas menit berlalu, aku sungguh menikmati waktuku. Enggan beranjak sejak senja tenggelam. Padahal aku hanya ingin menikmati empat puluh tujuh detik indahnya cinta langit untuk senja, tapi malah nyangkut.


Aku menoleh, ada seseorang yang melempar ku dengan kelapa kecil. Tapi tidak keras, tidak juga sakit. Hanya saja membuatku sedikit terkejut. Aku memasang wajah sangar, bersiap untuk mengejar si pelempar. Aku berlari-lari kecil di atas hamparan pasir. Tanpa alas kaki sensasinya menyenangkan. Hanya orang bodoh yang memakai sendal di atas pasir yang nyaman ini. Aku tertawa riang sambil membawa sendal yang sudah disiapkan untuk melempar pria itu.


Tegar mengisyaratkan tangannya agar aku berhenti mengejar. Aku masih menghabiskan sisa-sisa tawaku sebelum Tegar memegangi dadanya. Ya Tuhan, jangan sekarang. Doa itu yang selalu ku ucap saat Tegar seperti ini.


"Are you okay?" tanya ku. Tegar hanya mengangguk tanda ia baik-baik saja.


Dia Tegar. Tegar Mahameru. Pria yang sebelas terakhir selalu menjadi rindu kasihku, menjadi fajar senjaku, dan menjadi gembira-tegar ku. Tegar yang membuatku terus tegar. Aku tidak akan tegar tanpa Tegar. Catat itu.


"Ra papah, ya." Tegar menggeleng kemudian menggandeng tanganku. Ini kelemahannya. Tegar memiliki kelainan jantung sejak lahir. Tidak ada jalan lain selain transplantasi jantung. Selain sulit, ia juga terus menolak. Transplantasi tidak menjamin seratus persen ia akan sembuh. Untuk itu ia memilih untuk tetap dengan kondisi seperti ini. Yang terpenting aku selalu berada di sampingnya, itu katanya.

__ADS_1


"Kita pulang, Ra. Udah malem." Aku mengangguk sambil tersenyum. Hampir setiap hari aku bersama Tegar walau kadang hanya sempat melihat beberapa detik pesona senja. Tegar selalu protes saat aku merengek ingin ke pantai untuk melihat senja. "Harusnya nama kamu itu Gembira Senjani, buka Gembira Fajarini. Emang pernah lihat fajar?" Aku terkekeh karna saat ini kalimat itu kembali terucap dari mulut Tegar.


"Sampe rumah langsung mandi ya, Ra." Tegar melepas gandengannya. Aku menyambar tas yang tergeletak di atas pasir setelahnya aku tergelak menanggapi Tegar.


drrrrt drrrrt


Ponselku berdering menampilkan nama Sukma di layar ponsel. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. Aku sering begini, gugup saat Sukma menghubungi aku tiba-tiba. Dia juga sahabatku dan Tegar. Bedanya Sukma menjadi sahabat kami saat telah duduk di bangku kuliah. Sedangkan aku dan Tegar sudah jauh sebelumnya. Sekarang Sukma sedang menempuh S2 nya di luar kota, biar tambah pinter katanya.


"Halo!!" Aku menyapa.


"Apa kabar, Ra?" Sukma tampak riang dari seberang sana.


"Aku sama Tegar baik. Gimana S2 kamu?" Aku sedikit lega saat Sukma hanya menanyakan kabar.


"Mas Kukuh mulu!!" Sukma terdengar tertawa riang menanggapi protes ku.


"Jadi gini, Ra...."


"Tolong lihatin Mas Kukuh pulang jam berapa, pulang sama siapa, intip dia lagi apa, jangan lupa juga untuk ambilin laundry-an nya, mastiin Mas Kukuh badannya tetep sama, nggak terlalu gendut dan juga nggak terlalu kurus, dan ingetin Mas Kukuh untuk ngabarin Sukma. Karna Ra adalah tetangga dari calon suami Sukma, sahabatnya Ra." Aku sudah hafal di luar kepala tentang betapa posesif nya Sukma pada Mas Kukuh.


Aku mengakhiri panggilan. Kembali berjalan bersama Tegar. Mobil terparkir 30 meter dari tempatku duduk tadi. Tegar tidak suka merangkul bahuku seperti pasangan-pasangan lainnya saat berjalan. Hanya sebatas menggandeng tangan. Tidak berlebihan. Tapi mungkin orang lain yang mengira kami berlebihan. Karena hampir setiap hari kami bersama, sejak sebelas tahun yang lalu.


"Cukup dipantau aja ya, Ra. Nggak usah deket-deket banget. Jangan ganjen juga."

__ADS_1


"Ra cuma melihat Tegar di dunia ini. Yang lainnya cuma figuran. Ra sayang sama Toy." Tegar mencubit pipiku gemas.


"Aku juga sayang, Ra."


Tegar menekan pedal gas dan bersiap membelah hiruk pikuk kota. Aku memandangnya dalam keremangan malam. Cahaya-cahaya lampu yang menelisik sekilas menyorot wajahnya yang sangat melekat dalam ingatanku. Aku menoleh keluar jendela, tak lupa aku berandai-andai. Andai Tegar mengungkap cinta di antara kami, andai aku tak mengalami nasib buruk kala itu, andai, dan andai. Masih banyak lagi aku berandai-andai.


"Sampe depan lift atau sampe depan pintu?" tanya Tegar saat telah sampai di basemen. Aku menggeleng. Cukup sampai di sini. Tegar tersenyum kemudian turun dan membukakan pintu mobil untukku. Seperti tuan putri. Selalu begitu. Dan ku harap Tegar lah pangeran ku.


"Ra ke atas dulu, Tuan Toy." Tegar mengangguk kemudian mengecup pucuk kepalaku. Seperti biasanya. Hanya saja setahun ini aku merasa sangat berdosa.


Mobil Tegar melesat meninggalkan aku. Aku melambai. Baru beberapa langkah aku sedikit terkejut saat melihat pria yang juga baru keluar dari mobil. Aku tersenyum, pria itu juga. Aku memilih berjalan mendahuluinya. Sudah satu tahun. Menyimpan rahasia besar yang entah kapan waktunya pasti akan terungkap. Aku masih bungkam. Memilih untuk diam karna aku tak tau bagaimana harus menyikapi semua. Sudah aku bilang. Aku adalah Gembira yang juga punya masalah hidup seperti manusia lainnya.


Ku ayunkan langkah kakiku menuju apartemenku yang berada di lantai enam. Aku tegar bersama Tegar. Dan sekarang aku harus kukuh memikul tanggung jawab dan masalah hidupku. Aku pernah bertanya kapan semua akan berakhir? tapi malah berakhir tragis. Neo, ikan kesayanganku tak sengaja tersenggol dan terpijak oleh pria yang baru saja ku sapa dengan senyuman.


Remang-remang malam. Cahaya menelisik di sela-sela. Satelit bumi sedang menunjukkan pesonanya pada dunia. Seolah menunjukkan bahwa ialah yang paling terang malam ini, paling menawan, dan juga paling setia menemani orang-orang yang larut dalam lamunan, dalam keromansaan, dan masih banyak lagi.


"Dek, ini Mas bawain martabak sama kecap." Aku menoleh dan dengan antusias aku menerima bungkusan martabak dan ada kecap cap burung pinguin juga dalam plastik itu. Makanan favoritku yang tak akan aku lewatkan.


"Makasih, Mas."


"Jangan tidur malam-malam." Aku mengangguk menanggapi titahnya.


Aku akan membawa kalian menyelami ceritaku yang sangat amburadul dan penuh dengan keegoisan. Semua orang pasti akan menyalahkan aku dan menganggap ku sebagai seorang wanita yang egois dan mau menang sendiri. Sebenarnya tidak, hanya saja aku belum bisa mengatakan kebenarannya sekarang.

__ADS_1


Malam beranjak larut. Semoga esok saat matahari pagi terbit, saat cahayanya menjejak ujung-ujung pinus kaca kota ini, semoga semua masalah berkurang sedikit. Tidak muluk-muluk, sedikit saja.


__ADS_2