
~Kamu tidak akan pernah bisa berlari dari takdir. Rizki, jodoh, maut sudah Tuhan yang menentukan
Pukul 14.25
"Cepet panggilin dokter baaang" teriak Bulan dari dalam ruangan. Karna Alyssa tiba-tiba kejang-kejang.
"Permisi, saya periksa dulu. Silahkan keluarga tunggu di luar" ujar dokter saat telah datang
Tangis ibu Bulan pecah. Ayah bulan pun sudah mulai menampilkan air matanya, disampingnya sudah ada sang istri yang menemaninya. Dirga sibuk menelefon seseorang di depan sana. Semua orang mengucap doa masing-masing. Bulan dan Bang Wisnu memeluk ibu mencoba untuk menenangkan. Bulan sendiri masih menahan diri agar tetap bisa menguatkan keluarganya.
"Bulan" Dirga menghampiri Bulan lalu memegang bahu Bulan. Bulan menoleh
"Sekarang" ujar Dirga
Bulan hanya mengangguk pasrah menyetujui.
Tak lama kemudian datang seorang berpakaian jas rapi yang di ikuti orang berpeci di belakangnya dengan berkas-berkas di tangannya. Kemudian di susul pasangan paruh baya yang tengah ter buru-buru.
"Dirga, sekarang?" tanya pria paruh baya itu
"Tunggu dokter keluar dulu pah" jawab Dirga
*beberapa menit kemudian
cklekkk*
"Keluarga nona Alyssa" ucap dokter itu
"benar dok"
"Nona Alyssa meminta kalian untuk segera melangsungkan pernikahan tuan Dirga dan nona Bulan" lanjut dokter itu
Semua saling tatap satu sama lain seraya mengangguk
"Bisa kami lakukan di dalam dok?" tanya Dirga
"Tidak masalah tuan. Silahkan" Dokter mempersilahkan
Kini Dirga sudah di hadapkan dengan ayah Leo dan penghulu. Dan di sampingnya sudah ada Bulan. Pernikahan dadakan yang hanya di hadiri keluarga inti serta beberapa tenaga medis yang menjadi saksi pernikahan sakral mereka. Setelah melakukan doa sebelum ijab kini Dirga sudah menjabat tangan ayah Leo.
"Saya nikah dan kawinkan engkau Dirga Surya Baskara Bin Tomi Baskara dengan anak saya Bulan Leo Putri Binti Leo Putra dengan mahar uang tunai sebesar 100 juta dan seperangkat alat sholat tunaai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Bulan Leo Putri Binti Leo Putra dengan mahar tersebut tunaai"
"sah"
"sah"
"sah"
Bulan menyematkan cincin ke jari manis Dirga dan begitupun sebaliknya. Setelah itu mereka melakukan sesi foto sekedar untuk formalitas saja. Bahkan Bulan hanya memakai kebaya ala kadarnya dan Dirga hanya menyematkan peci di kepalanya yang telah disiapkan orang suruhannya. Pandangan mereka kini beralih pada Alyssa yang tengah tersenyum menatap mereka.
__ADS_1
"Kak. Maafin adek" Bulan menggenggam tangan Alyssa dan menciuminya.
"Kakak bahagia dek. Semoga pernikahan kalian bahagia selamanya." ucap Alyssa dengan nada berat
"Mas Dirga. jaga Bulan baik-baik. Jangan sakiti dia uhuk uhuk" lanjutnya dengan terbatuk-batuk
"Mas janji. Tapi kamu harus sembuh ya" Dirga membelai wajah pucat Alyssa
Nafas Alyssa mulai tersengal-sengal. Mereka semua panik. Dokter segera memeriksa kondisi Alyssa. Semua orang sekarang sudah keluar dan mulai panik.
cklekk
"Bagaimana kondisi putri saya dok?" Ayah Leo
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami sudah melakukan yang terbaik. Namun Nona Alyssa sudah di ambil Sang Maha Kuasa" Dokter itu memberikan pernyataan
Sudah tak bisa di bendung lagi. Semua tangis pecah dalam duka saat memasuki ruangan dimana kakaknya ditempatkan. Ibu sudah pingsan, bang Wisnu dan istrinya sudah berada di sisi ibu. Bulan masih terpaku tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Hingga ia mendengar suara tangis pria yang begitu memilukan. Bulan mendekat dan mengusap punggung nya
"Bulan" Pria yang tak lain adalah ayah bulan segera menghambur ke pelukan Bulan.
Bulan menangis namun sebisa mungkin ia tidak bersuara. Pria yang sudah berstatus suaminya pun kini tengah menangis pilu. Semua orang terpukul dengan kepergian kak Alyssa
…
Malam hari setelah pemakaman selesai, mereka semua duduk di ruang tamu dengan lamunan masing-masing. Bulan membawakan sepiring nasi untuk ibunya. Karna sedari siang ibunya sama sekali belum menyentuh makanan.
"Buk, ibuk makan dulu ya. Bulan suapin" bulan berjongkok di depan ibunya
Ibu menggeleng dan kembali menangis. Bulan memeluknya sayang
"Ibuk sayang kan sama kakak?? kalo ibuk sayang berarti ibuk nggak boleh sedih. Kasian kakak Disana nanti ikut nangis. Ibuk makan ya" Ibu akhirnya mengangguk dan makan beberapa suap. Setelah itu membiarkan ibunya istirahat di kamar
Setelah selesai dengan ibunya, Bulan menghampiri pak tua yang sudah berstatus kan suaminya itu tegah melamun di taman
"Tuan, anda makan dulu ya. Sudah saya siapkan makanannya" ujar Bulan
"Saya nggak laper" ketus Dirga
"Sedikit saja. Biar anda tidak sakit" bujuk Bulan
"Kalo saya bilang nggak laper ya nggak laper" Bentak Dirga pada istrinya lalu beranjak meninggalkan Bulan
"Badai pasti berlalu Bulan. Kamu nggak boleh lemah di depan mereka" Bulan menyemangati dirinya sendiri. Setelah keluarga bang Wisnu dan orang tua Dirgs berpamitan, Bulan pun beranjak menuju kamar tamu yang kini akan ia tempati dengan Dirga.
ceklekk
Bulan menyapu sekeliling kamar dan mendapati Dirga tengah tertidur di atas sofa. Bulan mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Dirga. Ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Matanya kini sudah berlinang. Ia menyelimuti tubuhnya. Ia menangis sesenggukan di balik selimut. Dan itu semua tak luput dari perhatian Dirga yang sebenarnya belum tidur dari tadi. Dirga memilih acuh dan melanjutkan lamunannya.
"Kenapa kamu nempatin posisi yang sulit untuk aku Al" Gumam Dirga di hati
__ADS_1
…
Pagi hari yang masih dalam keadaan duka. Bulan bangun pagi-pagi dan memasak sendiri karna Bik Yun masih dalam keadaan duka juga. Jadi mau tidak mau Bulan harus memperkebal dirinya. Padahal rasanya ia masih mengantuk karna baru tertidur jam tiga subuh.
Kini ia membawakan sepiring nasi dan minumnya untuk ibu. Setelah selesai menyuapi ibunya, Bulan segera membangunkan suaminya yang masih terlihat lelap dengan tidurnya.
"Tuan bangun. Ayo sarapan" Yang di bangunkan tak bergeming
"Tuan bangun" Bulan mulai mengguncang bahu Dirga
"Hmmm" Dirga memicingkan mata dan langsung terduduk
"Mandilah tuan, setelah itu sarapan di bawah" ujar Bulan
Dirga diam tak menanggapi perkataan Bulan dan segera beranjak menuju kamar mandi. Bulan hanya menatap nanar pada Dirga. Segera ia tepis rasa sedihnya dan cepat-cepat merapikan selimut dan menyiapkan pakaian untuk Dirga
Cklekk
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan tubuh Dirga yang hanya di lilit handuk. Bulan menundukkan kepalanya dan segera keluar kamar. Dirga hanya acuh
"Tuan, silahkan di makan. Bik Yun, makan yang banyak ya." ucap Bulan setelah mengambilkan makanan untuk suaminya
"Bik, kok cuma di aduk-aduk sih. Bulan udah capek-capek loh masak nya. Di makan ya" Bik Yun hanya mengangguk dan makan beberapa suap
"Tuan. Pliiiis" Bulan memohon pada suaminya untuk makan. Karna sedari tadi pria itu hanya melamun.
Dirga hanya melirik saat Bulan berbicara dengannya.
"Ya udah saya suapin aja ya. Buka mulutnya tuan" Bulan menyuapkan nasi ke dalam mulut Dirga. Dirga hanya cuek dan mulai mengunyah makanannya.
Setelah selesai dengan kedua orang itu, kini giliran Bulan yang menyuapkan nasi ke mulutnya. Baru dua sendok Bulan makan
Pyarrrr
Suara benda pecah berasal dari kamar ibunya. Segera ia berlari menghampirinya.
"Ya Allah ibuuuukkk"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kuat-kuat ya Bulan🥺
Jangan lupa tinggalkan jejak sobat 🤗🤗