Past For Future

Past For Future
Bintang


__ADS_3

"Kur*ng ajr!!" umpat Dita. Saat ia telah diborgol dan berdiri ia berkata


Bintang segera melepaskan ikatan di tangan dan kaki bulan lalu memeluk erat wanita yang sangat ia sayangi itu.


"Dan kau Bulan. Jangan pernah berharap di cintai oleh Dirga. Karna Dirga hanya menjalankan amanah dari kakakmu. Selamanya hanya seperti itu!!! Jadi kembali saja pada Bima dan lepaskan Dirga untukku atau kau juga boleh-boleh saja dengan laki-laki yang kau peluk itu" hardik Dita


"Tutup mulutmu wanita gila!!" teriak seorang pria yang baru datang.


Semua orang menatap ke arah pria itu yang tak lain adalah Dirga. Pandangan mata Dirga terpaku pada istrinya yang di peluk pria lain.


"Bul, lepas ya. Suami kamu udah dateng" Bintang mencoba melepaskan pelukan dari Bulan namun Bulan semakin mengeratkan pelukannya


"Jangan dilepas Bintang. Aku mau pulang!! Aku mau pulang sama kamu" Isak Bulan dalam pelukan Bintang


"Bawa mereka berdua. Tinggalkan kami bertiga disini!" perintah Bintang pada anak buahnya


Mata Dirga sudah berair. Dia tak menyangka apa yang dilihat oleh matanya tepat didepan nya.


"Mahes ka..mu" ucap Dirga terbata


"Maafin aku nggak pernah cerita sama kak Dirga" ujar Bintang. Bulan yang ikut terkejut dengan mereka berdua pun melepaskan pelukannya


"Jadi kamu adalah Bintang yang selama ini Bulan cintai? Mahes adik sepupu ku sediri??" ujar Dirga tak percaya


"Bin. Aku mau pulang. Bawa aku pergi dari laki-laki jahat itu" Bulan berbicara dengan isak tangis sembari menunjuk pada Dirga


"Bul, tapi kamu harus pulang sama kak Dirga. okee" Bintang mencoba membujuk Bulan


"Sayang. Kita pulang ya. Kamu salah paham sama semua ini. Mas bisa jelasin semua. Mas cinta sama kamu sayang" ujar Dirga dengan langkah mulai mendekati istrinya


"Berhenti disana!! Nggak ada yang perlu dijelaskan. Saya kecewa sama kamu mas!! pergi!!!" teriak Bulan pada suaminya


"Bul..." Bintang mencoba menenangkan Bulan


"Aku mau pulang Bin. Aku mau pulang sama kamu" pinta Bulan pada Bintang


"Kak, sebaiknya kita bahas lagi nanti di rumah. Kita selesaikan masalah kita sama-sama" ujar Bintang pada Dirga


"Sayang. Kamu pulang sama mas ya" bujuk Dirga namun hanya dibalas gelengan kepala marah oleh Bulan


"Tapi kamu harus pulang Bulan. Kamu istri saya!! Saya berhak atas kamu" ujar Dirga dengan nada yang tinggi


Bulan mulai tidak bisa mengontrol diri. Ia menutup telinga dan menutup matanya di atas lutut yang sudah ia tekuk


"Ampun ayah. Jangan pukul lagi" Trauma Bulan mulai kambuh akibat keadaan yang mendesaknya sedari tadi.


"Kak, pliss. Kita selesaikan masalah ini di rumah" ucap Bintang

__ADS_1


Bintang menggendong Bulan dan segera membawanya keluar dari rumah tua itu.


"Sedalam itu cinta kalian berdua?? Bahkan kamu sama sekali nggak berontak saat di dekat Bintang, Lan" lirih Dirga. Hatinya nyeri dan sangat sakit melihat istri yang dicintainya masih mencintai masa lalunya.


Sesampainya di rumah ibu, Bintang mendudukkan Bulan di tepi ranjang lalu berjongkok di hadapan Bulan yang masih dengan tatapan kosongnya.


"Nak, gimana bisa Bulan diculik. Dan kalian bisa bertemu" tanya ibu dengan nada cemas.


Seandainya Bintang datang sebelum Bulan menikah maka ibu akan sangat bahagia. Namun sekarang Bintang datang disaat Bulan bukan lagi seorang gadis. Pikiran ibu sudah sangat jauh tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Buk, nanti kita ngobrol ya. Sekarang Bulan lagi butuh waktu. Biar Bintang yang jaga Bulan sebentar aja" pinta Bintang pada ibu


"Ibuk percaya sama kamu nak" Ibu pergi tanpa mengatakan kecemasannya. Yang terpenting sekarang adalah putrinya sadar dulu.


Bintang memegangi bahu Bulan dan menatapnya dengan tatapan teduh.


"Hai Bulan, apa Bulan kangen sama Bin?" tanya Bintang dengan lembut namun tak ada respon dari Bulan


"Bulan sendiri bukan yang berjanji untuk melawan ketakutan dalam diri kamu??" Bintang membelai rambut Bulan


"Dan Bin pernah bilang kalo Bulan harus jadi wanita yang kuat. Nggak boleh cengeng. Bintang nggak mau punya sahabat yang cengeng. Bul pasti bisa melawan ketakutan dari dalam diri Bul. Bul harus janji sama Bintang. Jangan jadi wanita lemah. Atau Bintang nggak akan mau ketemu lagi sama Bul" Ucap Bintang yang membuat Bulan langsung mengedipkan mata dan menangis


"Bul udah janji sama Bin jadi jangan diingkari okeee" ujar Bintang langsung duduk disamping Bulan dan memeluknya erat


"Bintaaang" Bulan membalas pelukan hangat Bintang dan menangis tersedu-sedu


"Kenapa kamu ninggalin aku gitu aja Bin? kenapa??" tanya Bulan dengan Isak tangisnya


"Karna kamu berhak bahagia Bul" Bintang tersenyum dan mengusap air mata Bulan.


"Tapi bahagiaku di kamu Bin" Bulan memeluk Bintang lagi tanpa bisa menahan isak tangisnya


Sedangkan di bawah Dirga baru saja sampai dan hendak melangkah menuju kamar namun dicegah oleh ibu


"Nak Dirga jangan ke atas dulu" Cegah ibu


"Tapi Dirga mau susulin istri Dirga buk" ucap Dirga


"Tolong nak. Ibu tau ini salah, tapi tolong jangan ganggu Bulan dulu sebentar" pinta ibu


"Tapi Bulan di atas sama laki-laki lain buk. Dirga nggak bisa biarin itu" ujar Dirga. Ia hendak melangkah lagi namun ibu bersimpuh di kaki Dirga


"Buuuk" Dirga segera berjongkok mensejajarkan diri dengan ibu lalu meminta ibu berdiri


"Ibuk mohon jangan marah nak. Tolong jangan nambah beban pikiran Bulan. Ibu mohon kali ini aja. Cuma Bintang yang bisa membuat Bulan keluar dari traumanya nak. Tolong beri mereka waktu nak. Bintang cuma ngobrol sama Bulan nggak macem-macem. Maafin ibuk nak maaf" ibu mengatupkan kedua tangannya memohon pada Dirga


"Buk, tolong jangan kayak gini. Oke kalo itu yang ibuk mau. Tapi Dirga cuma mau memastikan Bulan baik-baik aja buk. Pliis Dirga nggak akan ngapa-ngapain" ujar Dirga

__ADS_1


"Terimakasih nak. Sekarang kita ke atas ya" ajak ibu pada Dirga


Mereka menaiki tangga dan menuju kamar pribadi Bulan yang belum pernah Dirga masuki. Dirga mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Yang terdengar suara obrolan Bulan dan Bintang


"Kita nggak akan pernah bisa bersama Bul. Aku nggak bisa menjamin kebahagiaan apapun untuk kamu" ujar Bintang


"Tapi kamu nggak pernah ngejelasin ke aku apa alasan kamu pergi Bin" jawab Bulan


"Kamu akan tau nanti Bul" Bintang tersenyum pada Bulan


"Bintang aku mohon jangan pergi lagi" pinta Bulan


nyesss Hati Dirga nyeri saat mendengar penuturan Bulan.


"Aku nggak akan melepaskan kamu Bulan. Aku akan menjaga kamu seumur hidupku. Karna aku tau sekeras apapun kamu meminta Bintang untuk tetap disisi kamu itu nggak akan merubah takdir." gumam Dirga dalam hati


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sulit bukan menghapus rasa pada orang yang telah hadir dan membebaskan kita dari trauma dan keterpurukan?? Ya, tentu!! Namun sebesar apapun ia berpengaruh dalam hidupmu, bila ia tak ditakdirkan untuk mu maka berlapang dada lah agar sisa hidupmu tak berselimutkan rasa kecewa.


See you next episode guys ♥️

__ADS_1


Memberikan jejak itu gratis kok. Jangan jadi pembaca bayangan ya😂🤗


__ADS_2