
Suasana kian menegang, tak ada seorangpun yang berani berbicara. Hanya ada tatapan-tatapan serigala yang bersiap untuk menerkam mangsanya.
"Dirga, batalkan pernikahan Oliv dan Marcel!!"
Oliv mendelik tak percaya pada apa yang baru saja Papa nya ucapkan. Air matanya lolos begitu saja tanpa permisi. Pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi harus dibatalkan. Ia tak sanggup untuk kembali terluka, cintanya pada Marcel tak bisa lagi dibantah. Ia harus segera mengambil tindakan.
"Nggak, Pa. Oliv akan tetep nikah sama Kak Marcel!" seru Oliv dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Oliv!!!" hardik Papa yang menggelegar ke seluruh ruangan.
"Pa, tolong jangan ambil keputusan sepihak. Papa ngertiin aku sedikit aja, tolong Pa." Oliv berbicara dengan nada yang bergetar.
"Tapi kamu harus nikah sama pria yang meniduri kamu, Dek." Dirga ikut bersuara.
"Ini semua kecelakaan, Kak. Oliv tau, Oliv pasti dijebak sama orang yang nggak suka sama hubungan Oliv dan Marcel. Jadi tolong, jangan batalin pernikahan Kami, Pa. Oliv akan bicara baik-baik sama Marcel. Tapi tolong, kasih Oliv waktu. Oliv akan tetep melanjutkan pernikahan Oliv sama Marcel. Pliiiis Ma, Pa." Oliv memohon, tapi tak ada satupun yang memandangnya untuk memberi belas kasihan.
"Oliv, kamu jangan gitu dong. Kamu udah melakukan kesalahan, jadi kamu harus tanggung jawab. Kamu tega mempermalukan keluarga Baskara?" Dirga menghampiri Oliv dan mengusap bahu adiknya.
"Kak," Oliv meraih tangan Dirga untuk digenggam. "Kakak tau kan kalau Oliv cuma mau nikah sama Kak Marcel. Lagian Kak Gema nggak akan mau nikahin aku kan?" Oliv menoleh kearah Gema yang sedari tadi hanya diam tak bergeming.
"Papa sama Mama udah gagal mendidik kamu, Liv." Papa beranjak dari duduknya dan hendak berlalu.
"Tunggu, Tuan." Gema akhirnya angkat bicara, "Saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Saya akan menikahi Oliv."
Jedeeerrr
Oliv menatap tak percaya pada apa yang baru saja diucapkan oleh Gema. Oliv menggelengkan kepalanya kemudian berdiri dari duduknya.
"Gue nggak mau nikah sama Elo, dan nggak akan pernah!!" Suara Oliv kian meninggi.
Oliv menghentakkan kakinya kelantai kemudian berlari meninggalkan ruangan keluarga. Dirga hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata sangat sulit untuk mengatur adiknya yang sangat pembangkang. Mama dan Bulan yang hanya jadi penonton dari tadi hanya bisa menghela nafas.
Ayah menoleh pada Gema, "Silahkan berusaha sendiri, Nak. Dirga sudah mempermudahkan langkahmu." ujar Papa kemudian meninggalkan ruangan keluarga.
"Saya ingin bicara dengan anda empat mata, Tuan."
"E-eeem, maaf aku tidak punya waktu. Aku harus ke kantor hari ini, aku ada meeting. Next time, okee." Dirga menjawab dengan gugup.
"Jangan menghindar, Tuan. Saya tunggu di ruang pribadi kita." Gema berjalan mendahului Dirga dengan tangan yang ia selipkan di saku celana.
"Aaaargh. Papa aja udah bisa nebak perbuatan aku. Apalagi Genius. Dirga bodoh!!" Dirga mengutuk perbuatannya sendiri.
__ADS_1
Kini Dirga dan Gema telah berada di sebuah ruangan yang sempat disebut 'ruangan kita' oleh Gema tadi. Gema duduk di hadapan Dirga sembari menatap Dirga tajam. Dirga akhirnya menyerah, karna ia sedari tadi menahan nafas karna tatapan Gema.
"Huuuh, Oke-oke. Semua rencana ku." Gema masih diam untuk menyimak ucapan Dirga selanjutnya. "Tapi aku hebat kan?? Kamu harus banyak berterimakasih sama aku. Karna aku mempermudahkan langkahmu." Dirga tersenyum menang.
"Tapi cara anda salah, Tuan. Anda telah menyeburkan kami ke dalam jurang yang sangat hina. Dan harus anda ketahui, anda telah mencoreng nama baik saya di hadapan Oliv."
"Ayolah, aku tidak melakukan lebih untuk membuat kalian rugi."
"Maksud anda?" tanya Gema.
"Baiklah, begini ceritanya..."
Flashback on
"Bawa mereka alamat yang saya kirim ke ponsel kalian!!" seru Bulan yang baru keluar dari mobil. Lebih tepatnya yang membekap Oliv dengan obat bius tadi.
"Baik, Nyonya." patuh mereka.
"Good job, Nyonya." Salah satu penjahat tadi melepas topengnya dan menghampiri wanita yang ia panggilnya 'Nyonya' tak lain ialah Dirga.
"Ini mereka nggak papa?" tanya Bulan.
"Tenang, masih ada rencana selanjutnya." Dirga tersenyum sinis.
"Apapun untuk anda, Nyonya." senyum Bulan sudah mengembang dengan sempurna. "Tapi nanti kalo urusan mereka berdua udah kelar ya." Dirga mengacak-acak rambut Bulan.
Para pria suruhan tadi membawa Oliv dan Gema ke sebuah hotel kelas bawah yang sudah Dirga pesan sebelum menjalankan aksinya. Dirga dan Bulan mengikuti di belakang mereka. Para pegawai hotel tak berani berbicara apapun, karna itu akan membahayakan hidup mereka bila berurusan dengan Baskara.
Di depan kamar, sudah ada seorang dokter wanita yang mengenakan pakaian biasa yang menunggu untuk menjalankan tugas dari Tuannya. Dokter itu membungkuk hormat pada Dirga dan Bulan sebagai bentuk hormatnya.
"Sudah kamu bawa?" tanya Dirga pada Dokter itu.
"Sudah, Tuan. Baiklah, saya akan meminta bantuan Nyonya Bulan untuk melepas pakaian Nona Oliv."
"Dengan senang hati, mari." Bulan dan Dokter masuk kedalam kamar hotel.
Bulan menatap Oliv yang masih belum sadarkan diri. Sebenarnya ia sangat kasihan dengan adik iparnya itu. Namun ia harus cepat bertindak untuk menyelamatkan Oliv dari pernikahannya dan Marcel.
Bulan memulai untuk membuka satu persatu pakaian Oliv. Berulang kali Bulan mengucap kata maaf dengan lirih. Baginya ini adalah tindakan konyol yang tak akan ia lupa sepanjang hidupnya.
"Saya akan menyuntik Nona Oliv dulu, Nyonya." Bulan tersenyum kemudian mempersilahkan Dokter itu.
__ADS_1
"Tapi itu aman kan disuntikkan di situ, Dok?" Bulan menggigiti jari nya cemas.
"Tenang saja, Nyonya. Saya melakukan ini sesuai dengan prosedur medis."
"Oke, lanjutkan. Setelah itu darahnya tumpahkan saja di bawah Oliv."
Dokter melakukan apa yang Bulan instruksikan. Setelah mereka berdua selesai, kini saatnya Dirga melakukan tugasnya untuk Gema. Sama seperti Oliv, pakaian Gema pun dilucuti habis.
Flashback off
Gema menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Baru saja Dirga menceritakan semua perbuatannya dan istri. Sungguh perbuatan yang sangat konyol. Ia tak tau lagi harus menjawab apa. Semuanya sudah terlanjur. Ia harus bisa membujuk Oliv agar memaafkannya dan menikah dengannya.
"Kau hanya perlu berjuang sedikit lagi, Genius." Dirga menyunggingkan senyum kemenangan.
"Tuan-"
"Kau sekarang mandilah! bau mu sudah seperti terasi goreng. Setelah itu temui Oliv dan bujuk dia!" Dirga menutup hidungnya rapat-rapat.
"Permisi, Tuan." pamit Genius alias Gema pada Dirga. Dirga hanya mengibas-ngibaskan tangannya mengusir serta satu tangan yang masih setia menutup rapat hidungnya.
"Esok kau akan berterima kasih padaku, Genius!!" Seru Dirga mengantar kepergian Gema.
"Maaf, Dek. Cuma ini jalan satu-satunya untuk menyatukan kamu dan Genius. Kakak nggak mau kamu melangkah terlalu jauh bersama Marcel. Semoga kamu mengerti apa yang Kakak cemaskan."
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih banyak teman-teman, sudah setia dengan Past For Future hingga episode 80♥️
__ADS_1
See you next episode guys 😉