Past For Future

Past For Future
Rencana Alyssa dan Ciuman kedua


__ADS_3

~Sebesar apapun kamu membenci. Mungkin sebesar itu pula kesempatan untuk bersama. Karna Benci dan Cinta hanya selisih seujung kuku saja.


...Kediaman keluarga Bulan...


drrrrttt drrrrttt


Pagi buta suara hp Bulan telah mengusik tidur nyenyak nya.


"Ck. Siapa sih," Bulan meraba-raba nakas mencari hp nya. Ia sedikit memincing kan matanya untuk melihat siapa yang menelfon nya.


"Halo dek." suara wanita dari sebrang sana .


"Apaan sih kak. Ganggu orang tidur aja." Jawab Bulan dengan suara parau nya.


Tumben-tumbennnya kakaknya menelfon lagi karna 2 hari yang lalu kakaknya sudah memberi kabar.


"iiiiiih anak gadis jam segini masih molor. Kakak mau minta tolong nih."


"Ngomong aja kak." jawabnya dengan nada malas.


"Besok kakak pulang!!" seru Alyssa yang langsung membuat Bulan beranjak dari tidur tengkurap nya


"Serius dok?? Udah bilang ibuk belum?? Alhamdulillah akhirnya kakak pulang." Bulan berbicara dengan semangat 45. Ia merasa lega akhirnya ia tak perlu lagi susah-susah menghubungi kakaknya karna perintah dari pak tua sinting itu.


"Kakak udah bilang kok. Besok kakak di jemput sama pak Maman aja. Dan satu lagi dek!! Kakak minta tolong kamu rahasia in kabar kepulangan kakak sama mas Dirga ya. Kakak mau buat surprise untuk mas Dirga" lanjut Alyssa penuh semangat.


"Hmmm iya deh iyaaa. Apa sih yang nggak untuk buk dokter cantik. By the way ntar adek ikut pak Maman ya. pengen jalan-jalan ke Bandara." tawar Bulan.


"No no no!! pokoknya kamu di rumah aja sambil awasin dan jagain mas Dirga. Jangan sampe lecet. okeeee." tolak Alyssa dan menambah tugas untuk Bulan.


"Siap buk boss. Tapi cuma sampe habis jam kerja aja ya. Inget nggak gratis!! Beliin buku novel dari penulis favorit adek ya buk dokter cantik..."


"Oke deh. Udah dulu ya, kakak harus ke puskes ngurus berkas kepulangan. Kemungkinan besok nyampe rumah malem. Byee Assalamualaikum" pamit Alyssa yang langsung menutup telepon.


Bulan merebahkan tubuhnya ke kasur lagi dan menghela nafas.


"Huuffft. Kenapa aku kangen banget sama kakak ya," Bulan berbicara sendiri. " Perasaan kemarin aku nggak pulang 3 tahun rasanya nggak sekangen ini." Bulan yang bingung dengan perasaannya sendiri pun segera beranjak untuk mandi.


Ting


Satu pesan masuk ke ponsel Bulan


"Bulan sabit ntar nongkrong ber empat di cafe X2 yuk. Ajak temen cewek elo kalo ada. Biar gue ada kenalan๐Ÿ˜๐Ÿ˜ jam 3 sore yups"


Sebuah pesan dari salah satu sahabat absurd nya, David. Bulan pun meng-iyakan tanda setuju. Karna emang hari ini weekend. Ia pun segera mengirim pesan pada Sandra untuk ikut nongkrong dan tentu Sandra Sangat antusias menyetujui.


โ€ฆ


tin tinnn


"Buk, Bulan berangkat dulu ya. udah di jemput sama anak-anak." pamit Bulan.


"Ya udah ibuk anter sampe depan yuk."


Setelah sampai teras Bima ternyata telah berdiri di sana.


"Eh, Tante. Kami pamit dulu ya tan. Minjem Bulan nya sebentar." Bima meminta izin pada ibu Bulan.


"Ya udah hati-hati. Jangan sampe lecet ya Bulan nya. Pulang nya juga jangan sore banget." pesan ibu yang mengizinkan.


"Siap tante cantik. Assalamualaikum." Bima meraih tangan ibu bulan dan mengecupnya.


"Waalaikumsalam"


Ibu Bulan tenang-tenang saja menitipkan Bulan pada mereka. Karna Bima anak yang Sholeh dan baik. Dia selalu berjamaah di masjid dan itulah yang jadi nilai plus di mata ibu Bulan.


eeeh buk... ibuk nggak tau aja kalo Bima waktu itu nyium kening Bulan tanpa permisi ๐Ÿ˜†


***

__ADS_1


"Mana temen elo Lan sabit. Kok belum muncul-muncul. Emang siapa sih??" tanya David yang sudah tak sabaran dari tadi.


"Sabar dulu. Ntar juga elo tau." Bulan hanya geleng-geleng kepala.


"Lan. elo kok kalo lagi nongkrong nggak pernah mau cerita tentang pengalaman elo selama di kota S sih. Terus sih siapa itu bintang-bintang itu apa kabarnya?" tanya Bayu yang langsung membuat Bulan tersedak minumannya.


"uhuk uhuk." Bulan memegangi lehernya yang terasa sakit.


"Pelan-pelan dong sayang." Bima menyodorkan air mineral pada Bulan.


Ini lah yang Bulan tidak suka. Kehidupannya di kota S ia habiskan hanya dengan nenek dan sahabat sekaligus pujaan hatinya Bintang. Apa yang harus dibahas?? Itu hanya akan membuat hati Bulan ngilu. Jadi Bulan selama ini lebih memilih menutup diri dan menghindari cerita kenangannya di depan orang-orang. Karna itu akan membuatnya menampilkan sisi rapuhnya.


"elo sih. udah nggak usah di bahas." kesal Bima pada Bayu


"eh itu temen gua," Bulan mengalihkan perhatian teman-temannya. "Sandraaaa disini." Bulan melambaikan tangan nya.


"Sandra??" David yang langsung menoleh ke arah yang Bulan tuju.


"Hai semua. Maaf ya telat." Sandra pun langsung menarik kursi di sebelah David.


"Eh elo ngapain kesini. Itu bukan bangku buat elo." Omel David agak sedikit kencang yang membuat para pelanggan lainnya menoleh ke arah mereka.


"Santai kali vid ngomongnya." Bayu mencubit lengan David yang membuat sang empunya meringis kesakitan.


"David?? elo lagi elo lagi!! Bosen tau nggak gue!" Sandra mencebik kesal karna memang dari SD sampai SMA mereka tak pernah akur.


"Eh. Gue juga eneg banget sama elo. Dih mimpi apa gue semalem sampe ketemu elo disini." nyinyir David yang tak mau kalah.


"Udah-udah. Kalian ini udah tua. Malu dikit dong berantem di tempat umum. Awas jodoh." ledek Bulan pada mereka berdua.


"Diiih amiiit amiiiit." elak mereka berdua bersamaan


"Tuh kan baru aja di bilang. Kalian emang cocok. Couple Goals." Bayu ikutan menggoda.


"Gue nggak sudi kelezz. Lihat bodi nya aja rata kayak begitu. Nggak ada hot-hot nya." Ceplos David tanpa disaring.


"Gue juga ogah kalik sama tampang pas-pasan kayak elu."


...Gedung Perusahaan Baskara Group...


"Kamu ke ruangan saya sekarang." titah Dirga pada bulan memalui sambungan telepon.


tok tok


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Apa hari ini kamu dapat kabar dari Alyssa?" Dirga to the poin.


Pertanyaan sekaligus perintah untuk Bulan hampir setiap harinya. Terkecuali hari-hari setelah mendapat kabar.


"Bukankah 3 hari yang lalu kakak saya telah memberi kabar tuan."


"Saya cemas dengannya. Sekarang kamu cepat kamu hubungi dia sampe berhasil." Dirga tak ingin lagi di bantah.


Bulan pun tak kehilangan akal liciknya,


"Tapi saya butuh tempat inspirasi agar mendapatkan ide tuan. Supaya saya bisa menghubungi kakak saya."


"Oke. Tempat mana yang kamu mau. Saya siapkan sekarang asal jangan jauh-jauh." Dirga tak merasa bahwa dirinya telah di bodoh-bodohi Bulan. Yaaa dia memang sudah di buat bodoh oleh cinta pertamanya itu.


"Tidak jauh tuan. Saya butuh kasur. Yaaa kasur adalah sumber inspirasi bagi saya. Bisakah anda menyewakan hotel yang murah-murah saja." Bulan terkekeh dalam hati dengan kelakuannya sendiri.


"Tidak perlu. Kamu pakai saja kamar pribadi saya di pintu itu." ujar Dirga.


Bulan sedikit terkejut. Pasalnya kamar itu benar-benar privasi tuannya. Dan tidak ada yang boleh memasuki nya selain dirinya.


"Baik tuan. Tapi tuan, berkas-berkas di meja saya banyak yang belum di periksa dan saya kerjakan." Bulan sedikit cemas kalau dirinya nanti malah lembur.


"Masuklah ke kamar. Itu biar jadi urusan Marcel."

__ADS_1


" Baik." Bulan pun berlalu menuju kamar tuannya.


"hihihi maafkan aku Marcel, sebenarnya kepala ku memang sedikit pusing dari tadi malam. Jadi aku manfaatkan saja kesempatan sekarang ini."


Setelah Bulan masuk kedalam kamar, Dirga langsung memanggil Marcel keruangan nya untuk memberikan tugas tambahan.


"Anda memanggil saya tuan?" tanya Marcel sopan.


"Hmm kau kerjakan berkas-berkas di meja Bulan. Bulan sedang dapat tugas lain dari ku."


Marcel yang sudah hafal dengan bossnya pun langsung meng-iyakan, "Dengan senang hati tuan."


"Oke mode normal bro," Dirga mengkode untuk berbicara sesama sahabat.


"Yes. what's up bro?" jawab Marcel yang langsung tahu arah bicara boss sekaligus sahabatnya.


"Gue tau elo suka sama Bulan." Dirga memulai percakapan. Yang hanya di balas dengan senyuman manis Marcel.


"Gue kira elo belok. Baru kali ini gua lihat elo beda memperlakukan cewek." ucap Dirga di iringi candaan


"Buset. ya nggak lah bro. Gue baru kali ini aja nemu cewek yang nggak tertarik sama pesona gue. Dan Bulan itu misterius bagi gue. Irit banget bicaranya. Dan dia juga belum pernah cerita apa-apa tentang dirinya. Itu sebenernya yang jadi daya tarik bagi gue untuk cari tau tentang dia. Dan entah sejak kapan gue naruh perasaan ke dia. She is unique and mysterious. I like." Marcel terang-terangan mengatakan perasaannya.


"Gue nggak peduli sama cerita elo. Yang terpenting elo jaga dia baik-baik. Karna mau gimana pun juga dia calon adik ipar gue. And semoga elo segera meresmikan hubungan elo, Walaupun kayaknya agak susah hahaha. Lanjutkan pekerjaanmu tuan Marcel."


"Siap boss" mereka berdua terkekeh bersama.


***


cklekk


"Bagaimana?" suara pria mengejutkan Bulan yang tengah asik gelimpungan di atas kasur empuk itu.


"Ehhhh sama sekali tidak berhasil tuan." Bulan merubah posisinya menjadi duduk.


"Tapi aku tadi melihat mu sedang mengetik-ngetik ponsel. Kau sedang tidak mengerjaiku kan?" Dirga mendekat dan semakin mendekat, "Perlihatkan ponsel mu."


Bulan semakin mundur, mundur dan akhirnya.


grep


Dirga meraih tubuh bulan dan ia malah ikut terhuyung hingga berada di atas Bulan dan


cuuup


1 detik. 2 detik. 3 detik. 4 detik. 5 detik. Bulan segera mengumpulkan kesadarannya saat getaran di tubuhnya mulai berbeda. Bulan mendorong Dirga dengan sekuat tenaga


"Huuuh Huuh." pipinya merah padam menahan marah dan malu. "Sial. Ini ciuman kedua kami. Dan sekarang dalam kondisi sadar. Apa yang ada di Fikiran pak tua sinting ini kenapa dia suka sekali nyosor"


Mereka berdua masih diam membisu dengan fikiran masing-masing.


"kenapa aku tidak bisa menahan diri. Bibirnya membuat aku candu dan ingin terus mencicipinya." gumam Dirga di hatinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hayooo malah nyosor calon adik ipar. Duh duuuh


Jejaknya jangan lupa coy. Biar author Malin semriwing cari inspirasi


__ADS_2