
~Meski mungkin tak ada lagi cinta, tapi aku masih takut kehilanganmu untuk yang kedua kalinya
.
.
.
.
Malam hari di kediaman keluarga Bulan(22.30)
Sepulang dari rumah sakit dan memastikan bahwa Bintang sudah membaik, Dirga segera pulang untuk memastikan kondisi Bulan.
cklekk
Dirga menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan kamar pribadi Bulan. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di kamar ini.
Dirga tersenyum kecut pada foto-foto yang tertempel di dinding. Sungguh terlalu banyak kenangan Bulan dan Bintang yang membuatnya sedikit menciut.
"Aku hanya orang baru di kehidupan Bulan. Tapi aku selalu berusaha untuk tetap disisi kamu apapun yang terjadi" Dirga melirik ke arah Bulan sembari tersenyum
"Dan aku juga sangat berharap yang aku tanam akan tumbuh di rahim kamu" Pikiran Dirga melayang saat dimana dirinya dan Bulan bersatu.
Dirga meneliti foto-foto kecil berukuran 2r. Lalu matanya tertuju pada foto berukuran sangat besar berada di sudut ruangan dekat jendela.
"Aku harap masih ada kesempatan besar" Dirga mengelus foto pernikahannya dan Bulan yang saat itu dilaksanakan di rumah sakit
"Makasih Al, kamu udah nitipin Bulan untukku. Bulan akan selalu bersinar di hatiku" Dirga berbicara sendiri sembari mengecup wajah Bulan di foto itu
"Sial. Kenapa jadi nyium foto nya sih. Jelas-jelas yang asli ada di depan mata" Dirga terkekeh sendiri Dena kelakuannya.
Dirga melangkah menuju Bulan dan duduk di tepi ranjang. Ia mengelus sayang kepala Bulan lalu mengecup kening dan pipi istrinya itu.
"Jangan lama-lama marahnya ya sayang. Kamu kalo cemburu serem juga ternyata." Dirga tersenyum melihat wajah ayu nan manis istrinya.
"Gemes. Pengen makan kamu. Tapi kayaknya harus puasa lama dulu. Ini gara-gara wanita gila itu. Tapi kamu tenang sayang, dia udah mendekam di penjara sekarang" Dirga mengelus lembut pipi Bulan.
Tak ingin kebablasan, ia segera merebahkan diri di sofa karna takut ada singa ngamuk pagi nanti kalau ia tidur di samping Bulan dan pastinya karna ia tak mampu menahan diri.
…
Pagi harinya
"Eeeuggh" Bulan menggeliat saat alarm dari dalam dirinya sudah berbunyi otomatis setiap paginya.
Bulan meraba sampingnya berharap ada tubuh yang biasa memeluknya dari belakang. Namun kosong tak ada siapapun
"Eh" Bulan memutar tubuhnya dan melihat suaminya tidur di sofa dalam keadaan bertelanjang dada
Bulan segera mengumpulkan nyawanya dan mengingat bahwa dirinya masih marah dengan suaminya karna kejadian kemarin.
"Sayang udah bangun" Ujar Dirga yang baru membuka matanya
Bulan segera mengalihkan pandangannya dari tubuh Dirga yang terekspos. Ia pun segera beranjak ke kamar mandi agar pipi merahnya tak terlihat oleh suaminya.
Saat telah selesai membersihkan diri, Bulan baru sadar bahwa ia tak membawa handuk ataupun baju ganti. Ia pun membuka pintu dan mengintip untuk memastikan Dirga sudah keluar kamar. Namun naas Dirga sedang bergelimpungan di kasur sambil memainkan ponselnya. Bulan urung untuk keluar karna gengsi untuk meminta bantuan.
20 menit kemudian
tok tok tok
"Sayang. Kamu lama banget sih." teriak Dirga dari luar kamar mandi namun tak ada sahutan dari dalam
"Aku buka ya" Dirga meraih handle pintu namun pintu terbuka dari dalam
cklekk
"Keluar" ujar Bulan datar
"Why? plis jangan kayak gini dong sayang. Kita bicarakan baik-baik" jawab Dirga
__ADS_1
Bulan mendelik kan matanya. Padahal maksudnya bukan untuk seperti itu.
"Saya lupa nggak bawa handuk. Tolong keluar dulu" pinta Bulan
"Hahahaha" Dirga tertawa lepas melihat tingkah istrinya
"Cepet keluar" Pipi Bulan sudah seperti kepiting rebus karna merasa ter ejek oleh suaminya.
"Kan mas udah pernah lihat dengan jelas sayang" Dirga menaik-turunkan alisnya
Bulan sudah jengah dengan kelakuan suaminya yang sangat hobi menggodanya.
Seketika pikiran licik di kepala Dirga terlintas untuk mengerjai istrinya yang sedang dilanda cemburu ini.
"Sayang awas di atas kepala kamu ada cicak" teriak Dirga.
Bulan langsung membuka pintu dan segera memeluk suaminya tanpa memikirkan harga dirinya yang sedang marah.
"Usir usir... haaaaa buang cicaknya mas" teriak Bulan sembari mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dirga
"Hussss hussss" Dirga pura-pura memukul tembok untuk mengusir cicak yang sebenarnya tidak ada.
"Udah mas usir. Kamu jangan takut ya" Dirga menahan tawa.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, ia pun mengelus-elus punggung polos istrinya yang memeluknya dengan intim.
"Beneran udah pergi" Bulan mendongak menatap ke arah suaminya
"Iya udah" Dirga membelai rambut Bulan sayang
"eh" Bulan terkejut saat merasakan sesuatu yang terasa mengeras di bawah sana
bluuuushh
"Bulan bodooooh bodoh bodoh" Bulan memejamkan matanya menyesali perbuatannya
"Mas tutup mata sekarang" perintah Bulan tanpa melepaskan pelukannya.
"Cepetan. Atau saya buat bengkok adiknya mas sekarang" ancam Bulan
"Oke-oke udah ini" Dirga menutup matanya pasrah untuk menyelamatkan masa depannya.
"Sekarang hadap belakang!" perintah Bulan yang segera dilakukan oleh Dirga tanpa bantahan
Bulan segera berlari mengambil handuk dan baju ganti lalu kembali ke kamar mandi
braaak
Bulan membanting pintu dengan keras. Ia kesal, malu, dan marah pada dirinya sendiri. Dirga terlonjak kaget dengan suara pintu yang di banting keras oleh Bulan.
"Kamu yang sabar ya Pino. Sementara kita puasa dulu" Dirga terkekeh sendiri
Setelah selesai dengan urusan mereka, kini mereka sudah menuruni tangga untuk menunaikan sarapan. (Jalannya sendiri-sendiri tanpa gandengan ya. Kan lagi marahan hihihi)
"Auntiiii unclee..." teriak bocah pria yang tak lain adalah keponakannya, Rafa
"Hei anak ganteng kesini nya sama siapa??" tanya Bulan lalu berjongkok mensejajarkan diri dengan Rafa
"Hai Bulan jelek" sapa pria yang baru datang bersama istrinya
"Biarin aja jelek. Yang penting anak ganteng satu ini sayang kan sama aunti" Bulan mencubit gemas pipi Rafa dan hendak menggendongnya namun di cegah oleh Dirga.
"Eh. Jangan sayang Rafa berat. Nanti perut kamu kenapa-kenapa" cemas Dirga yang membuat mereka semua terkejut
"Kamu hamil dek?" tanya Bang Wisnu
"eh" Bulan yang juga terkejut bingung harus menjawab apa
"Kamu beneran hamil dek?" tanya kak Lika istri Bang Wisnu lalu menghampiri Bulan dan memeluknya erat
"Selamat ya dek. Nggak nyangka kamu bakalan punya utun" ucap kak Lika
__ADS_1
"Ada apa ini kok peluk-peluk an?" tanya ibu yang baru datang
"Ibuk selamat ya. Sebentar lagi ibuk bakal punya cucu" ujar bang Wisnu dengan memegangi kedua tangan ibu
"Lika hamil lagi nu?" tanya ibu lagi yang masih bingung
"Bukan Lika buk. Tapi Bulan" timpal kak Lika
Bulan hanya melotot lalu menatap sinis pria di sampingnya seolah mengatakan "Ini gara-gara kamu"
"Nak, kamu hamil?? Alhamdulillah ya Allah" Ibu memeluk Bulan dan meneteskan air matanya harunya di pundak Bulan
Bulan semakin gemetar dan mematung lalu menoleh ke arah suaminya yang meringis kuda sambil mengangkat kedua tangannya seolah mengisyaratkan "I'm sorry hehehe"
Bulan melepaskan pelukan ibunya
"Buk, ibuk Kenapa nangis?" tanya Bulan yang melihat mata ibunya banjir air mata
"Ibuk bahagia nak hiks. Akhirnya ibuk bakal punya cucu dari kamu. Selamat ya nak. Kamu jaga janin kamu baik-baik" ujar ibu seraya mengelus perut rata Bulan
"OMG gue harus apa. Arrrrrrrggghhh" teriak Bulan dalam hati
"Buk, kak, Bang. Kalian salah paham" mau tak mau Bulan mengatakan terus terang
"Salah paham gimana maksud kamu nak?" ibu mengerutkan keningnya.
Mereka semua memandang ke arah Bulan menunggu jawaban. Bang Wisnu yang sudah paham pun hanya bisa menahan tawa nya. Jangan tanya bagaimana ekspresi Dirga saat ini, wajahnya sudah merah dan tersenyum kecut menahan malu.
"Bulan sebenernya nggak hamil. Kalian semua salah paham" Bulan menundukkan kepalanya menahan perasaan yang campur aduk.
Praaang
Mereka semua menoleh ke arah Bik Yun yang ternyata ikut menguping pembicaraan mereka. Dan mungkin sangking terkejutnya sampai panci yang dibawanya terjatuh ke lantai.
brukk
"Ibuuuk" teriak semua orang saat melihat ibunya ambruk dan pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hadeh Dirga semua ini gara-gara koe.
Next episode??
__ADS_1
Like dan komen GRATIS kok. Yuk lah buat author makin semangat nulis🤗