
Hari ini tepat seminggu setelah Oliv memutuskan untuk mendaki bersama teman-temannya. Ia bersenandung ria sembari menyiapkan barang-barang dalam tas carrier- nya. Karna ini pengalaman pertamanya untuk mendaki, ia sedikit bingung apa saja yang perlu ia bawa.
Oliv berkacak pinggang. "Jangan banyak-banyak deh, nanti gue nggak kuat nyampe atas lagi." gumamnya.
Ia membawa baju dan perlengkapan yang menurutnya sedikit, namun nyatanya dua tas penuh. Bukan Oliv namanya kalau ia tak bermanja ria. Ia memanggil para pelayan pria untuk membawa tas Carrier yang tak ringan itu.
Oliv menuruni anak tangga dengan langkah yang cetas dan gembira bak anak usia paud. Senandung yang keluar dari mulutnya seolah mengajaknya untuk terus bersemangat.
"Hai semua...." sapa Oliv pada orang-orang yang tengah menunggunya di bawah.
"Elo serius mau bawa barang segitu banyaknya, Liv?" tanya Nia salah satu teman Oliv.
"Kebanyakan ya?" Oliv menggaruk tengkuknya.
"Nak, kamu nggak usah berangkat deh. Tiba-tiba firasat Mama nggak enak." Papa dan Mama menghampiri Oliv dan teman-teman nya.
"Kok Mama jadi ngelarang lagi, sih. Ini temen-temen udah pada dateng, masa aku nya nggak ikut." Ia memanyunkan bibirnya.
"Kamu yakin, Liv?" cemas Papa.
"Kalian apa-apaan sih," timpal Dirga yang baru datang kemudian merangkul bahu adiknya. "Oliv juga butuh refreshing otak dong. Bentar lagi kan Oliv nikah, kapan lagi coba dia punya waktu untuk sendiri, ya kan dek." Dirga tersenyum ke arah Oliv.
"Kak Dirga kok tiba-tiba bela aku. Kemarin kayaknya masih marah." batin Oliv.
"Eh, iya bener banget, Kak."
"Tuh kan. Mama sama Papa tenang aja, Oliv pasti baik-baik kok," Dirga mengeratkan rangkulannya. "Hei coy, elo bisa kan jagain adek gue." Dirga mengedipkan sebelah matanya.
"Bisa dong, saya akan menjaga Oliv sampai pulang lagi, Tuan." sahut teman pria Oliv bernama Adam.
"Ya udah, sana berangkat. Nanti ketinggalan kereta loh."
"Ya udah, Kak. Oliv sama Adam sama Nia berangkat dulu, ya," pamit Oliv sumringah. "Mama, Papa. Oliv pamit, mohon doanya ya Ma, Pa." Oliv memeluk kedua orangtuanya.
"Yaelah banyak banget drama, sih. Udah sana berangkat." Dirga menarik Oliv dan membawanya keluar Mansion.
"Kami pamit, Tuan, Nyonya. Permisi." pamit Adam.
Seperginya Oliv, Dirga tampak bersedekap seraya tersenyum miring. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan, Dirga seolah memiliki rencana licik yang akan ia jerat untuk adiknya sendiri.
***
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju stasiun Oliv tampak riang, mulai dari karaoke hingga joget-joget Tok Tik bersama Nia dan Adam.
Perjalanan menuju stasiun sebenarnya cukup jauh, namun semua tak terasa karna mereka sangat antusias dalam perjalanan kali ini.
Ting
Satu pesan masuk dalam ponsel Oliv. Dengan cepat ia membuka dan membaca pesan singkat yang kekasihnya kirim itu.
Marcel
"Sayang, maaf ya aku nggak bisa nganter kamu. Aku ada klien penting untuk perusahaan baru kita. Semoga harimu menyenangkan, hati-hati di jalan. I Love you, Nyonya Pradigta."
Oliv tersenyum saat membaca pesan singkat Marcel. Baginya tak ada yang bisa menggetarkan hatinya kecuali kata-kata dan perilaku Marcel padanya. Kini matanya terpejam, ia memasang earphone ketelinga nya agar lebih rileks.
Dua jam perjalanan menuju Stasiun, kini mereka telah sampai dan bersiap untuk menaiki kendaraan selanjutnya.
"Dam, kita cuma bertiga aja nih?" tanya Oliv.
"Nggak kok, kita nanti ber-empat. Nanti temen gue ada yang nunggu di tempat." Oliv hanya ber-oh ria menanggapi ucapan Adam.
"Oke guys. Siapkan amunisi kita, karna perjalanan kita bakalan panjang banget. Oliv, semangat!!" Nia menyemangati Oliv.
"Tas elo satu aja, Liv." Adam menggelengkan kepalanya.
Oliv hanya cengengesan menanggapi ucapan Adam. Mereka bertiga menuju ke Peron untuk menunggu giliran kereta mereka. Adam dan Nia yang notabenenya sudah sering mendaki, tampak biasa saja. Berbeda dengan Oliv yang baru akan melewati pengalaman pertamanya.
Menurut info,kereta mereka akan sampai setelah 16 jam perjalanan. Yang pasti perjalanan ini adalah perjalanan terlama yang akan Oliv tempuh. Karna selama ini ia hanya memakai jasa penerbangan untuk menuju tempat yang lumayan jauh. Kenapa tidak lebih lama dari 19 jam? Tentu saja karna ia adalah Nona Baskara yang harus dijaga ketat meski jarang memakai jasa body guard.
Mata Oliv tertuju pada pemandangan luar jendela. Hamparan sawah nan luas memiliki kesan alami dan yang pasti tidak pernah ia temui di Kota. Tak hanya sawah, kereta yang ia tumpangi pun melewati hutan lebat yang tak m meninggalkan kesan seram.
"Liv," Nia yang duduk di samping Oliv menepuk bahu Oliv. "Mabuk nggak?" tanya Nia cemas, karna sedari tadi Oliv hanya diam.
"Nggak kok, Ni. Tadi kan udah kamu kasih obat." Oliv tersenyum.
"Pada ngomongin apa?" Adam menoleh kebelakang arah bangku yang Oliv dan Nia duduki.
"Apaan sih elo, kepo banget." seloroh Oliv.
"Ya elah. Gimana?? Capek nggak?" tanya Adam pada Oliv, Oliv hanya menggeleng dan tersenyum menandakan ia baik-baik saja.
"Nanti kalo keretanya udah berhenti, kita masih nempuh perjalanan 3 jam lagi pake mobil. Habis itu kita istirahat ke basecamp sekalian ntar elo gue kenalin ke temen gue." ucap Adam. Oliv hanya mengangguk paham.
__ADS_1
"Nanti di sana kita berapa hari, Dam?" Oliv akhirnya bertanya.
"Mungkin dua hari tiga malem, itu kalo kita nggak berhenti-berhenti terus. Tapi slow, Liv. Ntar kalo elo ngerasa capek, langsung bilang ya. Jangan ditahan." Adam memberi instruksi. "Oh iya, btw nggak kerasa 2 jam lagi keretanya berhenti. Kalo mau tiduran dulu juga nggak papa kok." imbuhnya sembari melirik kearah jam tangannya.
Oliv tak juga tertidur, suara bising kereta dan para pemuda yang tengah asik bermusik dengan gitar membuatnya enggan memejamkan mata. Ia terus memandangi luar, karna kini mereka tengah melewati jalan raya. Terlihat sepertinya banyak kendaraan bermotor dan mobil berhenti. Tak sedikit pula sepertinya yang membunyikan klakson karna mereka benar-benar dikejar waktu.
Matanya kini tertuju pada gedung menjulang tinggi yang ia lewati, ia mengamati terus gedung itu meskipun telah terlewat. Ia tersenyum, karna itu adalah gedung milik keluarganya yang terpampang nyata berlebel "Baskara Group".
Tak terasa, perjalanan sudah mencapai 2 jam seperti yang Adam katakan tadi. Oliv yang tak sengaja tertidur pun langsung terlonjak tatkala para penumpang tampak ramai dan berebut untuk keluar dari kapsul kereta yang mereka tumpangi.
"Ayok, Liv, Ni." ajak Adam.
"Ayok. Awas nanti ada yang ketinggalan." Nia memperingati.
Dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan mobil, mereka kembali menempuh perjalanan selama 3 jam untuk sampai ke basecamp dekat gunung yang Adam maksud kan tadi.
Setelah mereka sampai, mereka dibuat terpesona pada pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Gunung yang menjulang tinggi seolah menantang untuk ditaklukkan. Sejenak mereka menikmati udara sejuk yang menyeruak ke rongga hidung mereka.
"Selamat datang di alam kebebasan, Oliv." gumam Oliv dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku mencium aroma rencana licik dari Dirga. Kira-kira apa ya? Apa Dirga masih kukuh mau misahin Oliv dan Marcel??
Ikuti terus kelanjutan cerita Past For Future. See you next episode guys 😉
__ADS_1