
Sebelum membaca budayakan like terlebih dahulu 🤗
.
.
.
.
.
.
Hari ini tepat seminggu setelah pertemuan Oliv dan Verta malam itu. Oliv yang akhir-akhir ini sangat sulit dihubungi, membuat Marcel kalang kabut sendiri. Perasaannya sudah tidak enak, Marcel mengira bahwa Oliv telah mengetahui bangkai yang ia sembunyikan.
Berkali-kali Marcel melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, berharap acara penerimaan raport putranya segera berakhir. Marcel terus larut dalam lamunannya seraya mencibubiti dagunya. Yang ada dipikirannya hanyalah Oliv, Oliv, dan Oliv. Ada perasaan yang mengganjal dalam diri Marcel saat Oliv menghilang tanpa kabar.
"Wali murid dari Boy Cristian silahkan maju untuk mengambil raport." ini yang kedua kalinya wali murid Boy memanggil, namun Marcel sibuk dengan pikirannya sendiri.
Verta menghela nafas kemudian mencubit lengan Marcel yang membuat sang empunya meringis "Kenapa?" tanya Marcel tanpa suara.
"Wali murid Boy Cristian bisa maju ke depan." ujar wali murid untuk yang ketiga kalinya.
Boy berdiri di depan papan tulis sebagai pertanda ialah peraih juara kelas semester ini. Namun wajah Boy tidak menampilkan raut bahagia, ia terlihat murung semenjak kejadian seminggu yang lalu saat Marcel memilih untuk pura-pura tidak mengenalinya.
Marcel berjalan ke depan sebagai tanda ialah wali dari Boy Cristian. Semua wali murid yang ada di ruangan itu turut bertepuk tangan dengan meriah saat Marcel berjalan dengan gagahnya untuk menerima raport Boy.
"Selamat Pak, putra anda kembali meraih juara pertama semester ini. Boleh sekali lagi kita beri tepuk tangan....."
prok prok prok prok
"Congratulation Boy," Marcel menepuk bahu Boy.
"Thanks." singkat Boy.
Acara telah usai, namun Marcel masih terus sibuk dengan ponselnya. Boy dan Verta yang jalan mendahului, hanya menatap jengah pada Marcel. Boy benar-benar sudah kecewa. Langkah Boy dan Verta berhenti tatkala mendengar tawaan meriah dari anak-anak. Verta mengedarkan pandangan untuk mencari pusat yang menjadi bahan tertawaan mereka.
Verta melotot kemudian berlari menghampiri Marcel yang jatuh tersungkur akibat berbenturan dengan tembok.
"Cel, kamu nggak papa?" panik Verta.
"Aku nggak papa sshhhh." Marcel buru-buru berdiri sambil meringis kesakitan.
"Ya udah, ayok jalan pelan-pelan." Verta menuntun Marcel dengan telaten.
brakk
Marcel membanting pintu mobil dengan kuat.
"Nak, kamu tunggu di luar dulu ya. Mommy mau bicara dulu sama uncle Cel." ujar Verta pada Boy.
"Oke." jawab Boy dengan malas.
"Lebih baik secepatnya kamu jujur sama Oliv, Cel." saran Verta.
"Tapi aku harus mulai dari mana Ta?? Aku takut Oliv bakal ninggalin aku." kata-kata Marcel penuh penekanan.
Verta tersenyum tipis "Sampai tahun depan pun kamu akan tetep kayak gini kalau kamu nggak cepet-cepet ambil langkah, Cel. Cepat atau lambat Oliv akan tau semuanya. Jadi sebaiknya kamu ngomong baik-baik sama Oliv, aku yang akan nemenin kamu ngomong." Marcel menatap Verta seraya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kamu serius Ta? Tapi...
"Berkat kamu aku bisa mengangkat derajat keluarga aku, Cel. Aku bisa hidup layak, aku nggak bisa mengembalikan semua yang kamu beri dalam bentuk materi. Untuk itu, biar aku yang membantu kamu untuk memperjuangkan kebahagiaan kamu." Verta tersenyum.
"Tapi Ta...
Verta meletakkan telunjuknya di bibir Marcel "Aku bisa lihat cinta yang mulai tumbuh dari hati kamu, Cel. Mata kamu nggak bisa bohong. Kamu cinta sama Oliv, dan kalian saling mencintai. Aku akan dukung kalian untuk bersatu." Verta menepuk pundak Marcel.
"Makasih, Ta. Makasih, tapi satu hal yang perlu kamu ingat, Ta. Setelah aku dan Oliv bersama, aku nggak akan membiarkan kamu dan Boy menderita. Aku akan selalu di sisi kalian juga." Marcel membawa tangan Verta kedalam dekapan dadanya "Makasih udah jadi sahabat terbaik dalam hidupku. Terimakasih ibu dari anakku. Kamu wanita hebat." Marcel tersenyum merekah.
***
Sementara di tempat lain, dua orang wanita tengah asik berbelanja kebutuhan mereka di salah satu Mega Mall besar di kota. Tak lupa pula dua orang body guard yang selalu mengawal kemanapun Nyonya Dirga itu pergi.
"Kak, di toko itu aja deh." Oliv menunjuk salah satu toko.
"Iiih, nggak mau. Itukan tokonya Mama."
"Nggak papa dong, kan gratis." Oliv cengengesan.
"Pokoknya nggak mau. Hari ini kakak mau habisin duit kakak kamu yang sok kecakepan itu." cetus Bulan.
"Ceileeeh. Coba aja kalo bisa ngehabisin. Untuk beli seisi Mall aja masih sisa banyak. Hahaha."
gleg
"Tapi setau kakak, bukannya keluarga Baskara cuma punya dua anak cabang perusahaan ya?" tanya Bulan dengan heran.
"Yang di Negara ini cuma dua anak cabang. Terus perusahaan-perusahaan yang di luar Negeri nggak kakak hitung? hahahaha." Oliv merasa lucu dengan kakak iparnya yang minim pengetahuan tentang kekayaan keluarga Baskara.
"What??? Kalian bener-bener crazy rich?" Bulan masih tak percaya.
"Itu belum semua, Kak. Kakak tanya aja deh sama Kak Dirga." Oliv sudah mode santai.
"Minta jatah??? Hahahahaha..." tawa Oliv semakin pecah yang membuat para pengunjung lain berbisik-bisik menggunjing tingkah Oliv.
"Ssssttt..." Bulan menyenggol Oliv sembari celingukan dengan wajah yang sudah sangat menahan malu "Oliv, pelan-pelan. Malu banyak orang."
"Ehem... Haha maaf." Oliv mulai mengatur nafasnya untuk tenang.
"Emang Kak Dirga mintanya sampe berapa ronde?" bisik Oliv yang mendapat cubitan dari Bulan.
"Apaan sih." Bulan mendelik malu.
drttt drttt
Ponsel Oliv kembali bergetar menandakan bahwa ia kembali mendapat panggilan dari seseorang. Namun bukannya menjawab, Oliv malah merubahnya menjadi mode silent.
"Dari tadi bunyi terus. Angkat dulu siapa tau penting." saran Bulan.
"Nggak penting kok Kak." Oliv tersenyum canggung.
"Gimana mau nyari restu kalo kalian malah nggak akur gitu."
"Bukan karna itu kak. Tapi aku lagi diposisi terancam. Aku nggak tau siapa yang lagi mata-matai aku. Kak Dirga pun nggak bakalan ngasih pertolongan untuk aku." resah Oliv dalam hati.
"Kok malah bengong sih."
"Eh, iya kak. Ya udah, aku angkat telepon dulu ya." Oliv sedikit menjauh dari posisi Bulan.
__ADS_1
"Halo, Liv. Kamu kemana aja sih. Kalo aku ada salah bilang dong, jangan main ngilang gitu aja. Kamu nggak mikirin aku apa? Aku cemas banget sama kamu Liv. Kamu nggak papa kan?? Kamu nggak lagi dihukum sama Dirga kan??" ujar Marcel panjang kali lebar dari seberang telepon.
"Halo Kak, iya maaf. Aku baik-baik aja kok." jawab Oliv sambil celingukan.
"Syukurlah. Tapi kamu sehat kan Liv?? Kita ketemu ya. Sore ini aku jemput."
Oliv menyerngitkan dahinya "Kak Marcel kesambet apa sih? Kita jangan ketemu di luar ya. Kak Marcel ke rumah aja." tutur Oliv dengan nada yang sangat pelan.
"Jangan Liv. Gimana kalo di apartemen aku aja? ada yang mau ketemu sama kamu."
"Siapa?" tanya Oliv heran.
"*Kamu kenal sama dia. Nanti kamu tau kok. Ya udah, nanti sore jam setengah empat aku jemput kamu ya, Sayang."
blush*
Hati Oliv berbunga-bunga saat Marcel manggilnya dengan sayang. Perasaannya seperti dibuat melayang oleh kekasih yang amat ia cintai. Oliv mendekap ponsel kedalam pelukannya. Rasa hati tak sabar untuk bertemu dengan Marcel sang pujaan hati.
Bulan duduk di salah satu bangku yang diberikan oleh penjaga butik milik Mama mertuanya. Tentu ia tidak sendiri, beberapa wanita nampak menemaninya karna ia tak mau untuk diajak masuk kedalam butik.
"Hai, Bulan." sapa seorang wanita yang baru saja datang. Tiba-tiba wajah Bulan menjadi pucat pasi, cepat-cepat ia mengontrol nafasnya.
"Kalian masuk dulu ya. Saya mau bicara sama mbak ini." titah Bulan pada wanita-wanita yang menemaninya.
"Baik, Nyonya Dirga." patuh mereka.
prok prok prok prok
Wanita itu bertepuk tangan sembari menampilkan senyum sinis nya. Ia memutari kursi yang Bulan duduki.
"Luar biasa, NYO-NYA-DIR-GA." wanita itu mengeja.
"Apa mau mu." sinis Bulan.
"Tentu kamu tau apa mau ku," wanita itu sedikit membungkuk untuk menatap Bulan.
Wanita itu mencengkeram tangan Bulan sebelum melanjutkan ucapannya "DIMANA BINTANG!!!!"
deg
.
.
.
.
.
.
.
Tinggalkan jejak sebanyak-banyaknya ya🥰
Sambil nungguin Past For Future update, aku rekomendasikan untuk kalian judul novel yang kece badai. Siap-siap untuk baper ya.
Judul Novel : Camelia Chen
__ADS_1
Penulis : Zain Wushi