Past For Future

Past For Future
Membongkar Rahasia


__ADS_3

"Luar biasa, NYO-NYA-DIR-GA." wanita itu mengeja.


"Apa mau mu." sinis Bulan.


"Tentu kamu tau apa mau ku," wanita itu sedikit membungkuk untuk menatap Bulan.


Ia mencengkeram tangan Bulan sebelum melanjutkan ucapannya "DIMANA BINTANG!!!!"


grep


Dua bodyguard yang menjaga Bulan menarik paksa tubuh wanita itu agar tidak menyakiti Nyonya mereka. Wanita yang tak lain ialah Lisa, saudari tiri Bulan itu tersenyum tipis. Ia menaikkan sebelah alisnya dengan sinis.


"Cih, rupanya menikah dengan pria kaya membuatmu semakin manja."


"Itu bukan urusanmu, cepat pergilah dari sini." tegas Bulan.


"Jangan dekati Nyonya kami, mari ikut saya." Salah seorang bodyguard menyeret Lissa dari hadapan Bulan.


"Hei, anak pelakor!! Dendam ku masih ada untukmu. Ingat itu!!" teriak Lissa.


Bulan menghela nafasnya berat. Ia mereemas dress yang ia kenakan. Bertemu dengan hantu masa lalu sungguh mencabik luka lamanya. Ada rasa gemuruh dalam diri Bulan yang terus ia tahan. Ia harus melawan traumanya yang susah payah Bintang obati semasa hidup.


Lalu lalang makhluk tuhan dihadapannya tak pula membuyarkan lamunannya. Bulan masih sibuk bergelut dengan pikirannya. Yang ia pikirkan bukanlah dirinya sendiri, namun janin yang ada dalam kandungannya. Ia yakin saudari tiri nya itu tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang.


"Ingat janjiku untuk selalu melindungi mu, Bulan ku." ucap seorang pria yang berada di belakang Bulan. Bulan menoleh sembari tersenyum ke arah suaminya yang tiba-tiba datang.


"Kok Mas di sini?" tanya Bulan seraya meraih tangan suaminya.


"Kebetulan Mas baru selesai meeting di bawah tadi." Dirga mengusap wajah ayu Bulan "Kita pulang aja ya." imbuh Dirga dengan nada yang sangat lembut. Bulan mengangguk tanda setuju.


"Eh, tapi Oliv?" Bulan menghentikan langkahnya.


"Udah, nggak usah dipikirin, Yukk." Dirga merangkul mesra bahu istrinya.


***


Sebuah cermin memantulkan rona indah nan menawan. Pantulan tatapan teduh dan senyum yang lembut menghiasi layar cermin yang tengah dihadapkan dengan wanita cantik, sangat cantik dan menarik.


Ia menarik senyumnya lagi menampilkan diri bahwa ia adalah wanita yang kuat dan tegar. Namun perlahan senyumnya redup tatkala seonggok hati yang ada pada dirinya merasa nyeri. Wanita itu menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nya dengan lembut. Ia harus kuat, ia harus bisa melawan keinginannya sendiri demi kebahagiaan orang lain.


tok tok tok


"Ta, aku masuk ya."


Verta menoleh kearah pintu kemudian kembali tersenyum untuk menyambut kedatangan ayah dari anaknya. Tiba-tiba ia merasa grogi, entah apa yang ia rasakan saat ini. Yang pasti hari ini ialah hari di mana kebenaran akan terungkap.


"Duduk," Verta mempersilahkan Marcel duduk di sofa kamar tamu, apartemen Marcel.


"Gimana sama Boy?" tanya Verta.


"Dia sempet diem nggak memperdulikan aku, tapi setelah aku bujuk akhirnya dia mau maafin aku." jawab Marcel sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Syukurlah, maaf ya Cel. Boy itu anak yang sensitif. Aku harap kamu ngerti."


"Semua salah aku, Ta. Se-mua-nya."


"Cel...


"Aku bukan ayah yang baik buat anak aku. Aku gagal dalam menjalin ikatan bersama putra ku." Marcel memejamkan matanya dengan alis yang berkerut.


"Kalo kamu terus nyalahin diri kamu sendiri, aku mau pulang." ancam Verta hendak berdiri namun tiba-tiba oleng.

__ADS_1


brukk


Verta memendelik kan matanya saat tubuhnya menimpa tubuh Marcel. Seperkian detik Verta menatap pria yang menyandang gelar sebagai ayah dari anaknya itu. Tubuhnya seketika menghangat.


gleg


Verta menelan saliva dengan kasar saat merasakan sesuatu di bawahnya ada yang bergerak. Dada Marcel yang menyentuh bagian berharga dari Verta hanya bisa memejamkan matanya dan semakin merasa sesak di bawah sana.


"KAK MARCEL DI MANA SIH??" Teriak seorang wanita dari luar kamar.


Cepat-cepat Verta bangkit dari tubuh Marcel sembari menutup mulutnya. Marcel ikut berdiri dengan raut wajah meringis menahan sesuatu.


"Makanya kamu jangan main tarik-tarik dong." cerca Verta.


"Nggak sengaja." Marcel melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


"Liv..." panggil Marcel setelah keluar dari kamar Verta.


"Dari mana aja?" Oliv mendekat.


"Aku.. a..aku di kamar." jawab Marcel dengan canggung


"Terus kenapa nggak nyahutin dipanggil? Katanya tadi mau jemput ke rumah." protes Oliv.


"Maaf Liv, aku ketiduran." Marcel menggaruk tengkuknya "Ya udah yuk, duduk dulu." Marcel mempersilahkan Oliv duduk di sofa. Ia membuntuti Oliv dari belakang dengan jalan yang ia buat agak menunduk agar sesuatu yang sedang on tidak terlihat oleh Oliv.


"Kak Marcel sakit?" cemas Oliv saat melihat nafas Marcel sedikit tersengal dan wajah yang pucat.


"Em, nggak kok. Kamu tunggu di sini dulu ya. Aku mau mandi dulu. Aku panggilin orang yang mau ketemu sama kamu."


"Siapa sih?" Oliv semakin merasa penasaran.


"Bentar, ya." Marcel berdiri dengan posisi membungkuk dan juga jalan yang sama. Oliv mengerutkan keningnya melihat keanehan kekasihnya itu


"Eh, foto cowok gue." gumam Oliv sembari terkekeh.


Ia hendak menegakkan bingkai foto itu lagi, namun ia melihat sebuah tulisan di balik foto itu. Oliv mengerutkan keningnya saat membaca tulisan itu.


"Marcel Cristian Pradigta?" Oliv membolak-balik kan bingkai foto itu "Kok aku nggak tau kalo nama Kak Marcel ada Cristian nya?"


"Hai, Oliv." sapa Verta.


"Kak Verta kan??" Oliv meletakkan kembali bingkai foto itu kemudian meneliti Verta dari atas sampai bawah.


"Iya, aku Verta."


"Kok Kak Verta ada di sini? Kak Verta siapa nya Kak Marcel?" heran Oliv.


"Kita duduk dulu yuk. Santai aja, ayok duduk dulu." Verta mempersilahkan Oliv duduk.


Oliv hanya patuh dengan perintah Verta. Namun kepalanya masih menyimpan banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan.


"Aku saudara nya Marcel." Verta terpaksa berbohong saat melihat ekspresi Oliv yang sudah tidak biasa.


"Saudara??" tanya Oliv lagi.


"Ini Marcel pake acara on lagi. Gimana kalo gue ngomong sekarang terus Oliv ngamuk."


"Eh by the way, kamu udah lama pacaran sama Marcel? Aku nggak nyangka loh, ternyata calon istri Marcel secantik kamu." Verta mengalihkan pembicaraan.


"Em, iya Kak hehe. Belum lama sih." Oliv seperti belum puas dengan kata-kata 'saudara' tadi.

__ADS_1


"Kamu mau minum apa? biar aku buatin." tawar Verta.


"Nanti aku ambil sendiri aja Kak." tolak Oliv.


"Oh, hehe. Oke deh."


Verta membuka ponselnya kemudian mengirim pesan pada kontak yang ia beri nama 'Uncle Cel'


Verta send message


"Kenapa lama bngt? 🤨"


Marcel reply


"BB belum tidur😭"


Verta reply


"Banyakin lagi sabun nya. Lebih cepet!!!"


Oliv berdeham yang membuat Verta meletakkan ponselnya. Verta tersenyum canggung pada Oliv.


"Boy nya nggak diajak Kak? tanya Oliv.


"Itu...


"Hai semua." sapa Marcel yang tampil lebih segar dari sebelumnya.


"Kenapa lama banget sih." protes Oliv.


"Maaf ya." Marcel duduk di samping Oliv kemudian merangkul bahu Oliv.


Marcel melirik Verta dan Verta pun menganggukkan kepalanya.


"Kami mau ngomong sesuatu sama kamu, Liv." ujar Marcel serius.


"Ngomong aja, aku udah nungguin dari tadi."


"Sebenernya...


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Hai temen-temen PFF. Semoga suka sama ceritanya. See you next episode guys ♥️


Aku bawa lagi judul novel yang keren dan recommend banget untuk kalian. Jadi sambil nunggu Past For Future update, kalian bisa berkunjung ke novel di bawah ini ya 🤗


__ADS_1


Selamat membaca guys🤗🤗


__ADS_2