Past For Future

Past For Future
Selaput Dara


__ADS_3

"Euuuughh,"


Seorang wanita melenguh dari tidurnya. Suasana yang begitu dingin membuatnya enggan untuk membuka mata. Ia menarik selimutnya hingga batas leher, mendekap guling hangat yang terasa begitu nyaman untuk ia peluk.


Mungkin karna ia terlalu merindukan kekasihnya sampai-sampai ia mengira bahwa dirinya tengah memeluk sang kekasih dalam alam bawah sadarnya. Tapi Sebentar, hangat ini sedikit berbeda, terasa seperti skin to skin. Apakah ini nyata?


Oliv mulai mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan diri dari lampu yang menyorot. Ia hendak menggerakkan tubuhnya namun terasa begitu sesak, seperti berada pada pelukan seseorang.


"Kok?" Oliv mengerutkan keningnya saat melihat ada tangan berbulu khas pria yang memeluk tubuhnya.


"Eugghh,"


Suara lenguhan pria membuat Oliv langsung melotot dan mengumpulkan kesadaran penuhnya. ia menoleh kearah sumber suara yang ada di sampingnya. Nafas hangat terasah menerpa wajahnya, ternyata


gleg


"Aaaaaaaaaaa..." Teriak Oliv sembari mendudukkan dirinya. "Woy Biawak gila, bangun elo!!!" pekik Oliv yang membuat pria itu terbangun.


"Apaan sih," pria itu menarik selimut lebih tinggi. "Ganggu aja." gerutunya.


"Bangun nggak lo, atau gue cekik sampe hiiiiih."


bug


bug


bug


Oliv memukuli pria itu dengan guling yang ada di dekatnya. Rasanya kaget, marah pun pasti.


"Hei, hei, ada apa sih, berisik banget." Gema terduduk dari tidurnya.


"Ada apa, ada apa kepala lu amblek," Mata Oliv mulai berkaca-kaca. "Lihat, kita sekarang dimana?" tanya Oliv setelah suara serak nya.


Gema mengucek matanya dan melihat sekelilingnya. Kamar yang lebih mirip dengan hotel? Kenapa ia bersama Oliv di satu ranjang yang sama.


"Sekarang lihat kondisi kita!!" Oliv mulai terisak dan mendekap selimutnya lebih erat.


Gema melihat kondisi dirinya yang tak mengenakan pakaian sama sekali, kemudian memandang Oliv dengan bahu yang telanjang tampak tak mengenakan apapun juga sama seperti dirinya. Gema memejamkan matanya sembari mengusap wajahnya kasar.


"Liv, tapi saya nggak ngelakuin apa-apa sama kamu." Gema mulai membuka suara.


"Cih," Oliv mengusap air matanya, "Terus sekarang kita ada di satu ranjang yang sama, tanpa berbusana, dan elo masih mau ngelak kalo elo nggak ngelakuin apa-apa." Suara rendah menjadi sedikit meninggi keluar dari bibir Oliv.


"Siaaal, pasti ada dalang di balik semua ini."


"Liv-"


"Bahkan gue nggak kenal sama elo sama sekali," Oliv memotong ucapan Gema. "Dan elo dengan lancangnya nidurin gue yang sebentar lagi akan jadi istri orang. Apa elo nggak punya sedikit aja rasa kemanusiaan ha? Kenapa harus gue??" Oliv menunjuk-nunjuk dada Gema dengan tangis yang sudah pecah.

__ADS_1


"Sumpah, saya nggak inget tentang-"


"Elo tu jahat tau nggak!" geram Oliv seraya menggertak kan giginya.


Oliv beringsut turun dari ranjang dengan membungkus dirinya dengan selimut. Ia mengaduh saat merasakan ngilu di bagian sensitifnya. Namun gengsinya lebih tinggi dan melanjutkan langkahnya dengan tertatih.


Gema yang melihat selimut mulai melorot pun dengan segera menutupi bagian menonjol nya dengan bantal. Ia mendengus kesal, bagaimana hal hina ini bisa terjadi.


"Darah?" kejut Gema saat melihat darah di sprai putih yang ia dan Oliv tiduri tadi. "Jadi aku bener-bener udah ngelakuin itu sama Oliv? dan aku udah merenggut dara Oliv."


Cukup lama Oliv berada di kamar mandi, yang membuat Gema semakin risau. Kini ia hanya memakai celana boxer yang tadi tergeletak di lantai. Bukan hanya itu yang membuat Gema cemas, pasalnya ia dan Oliv terkurung di kamar ini tanpa tahu dimana keberadaan kuncinya.


door door dorr


"Oliiiivvv!!" panggil Gema dari luar kamar mandi. "Oliv, cepet buka pintunya!"


cklekk


Pintu terbuka dan menampilkan wajah Oliv yang sudah tertekuk dengan sempurna, bahkan mata yang sembab kini terlihat dengan jelas bahwa dirinya telah menghabiskan banyak air mata.


Oliv menggeser tubuh Gema yang menghalangi jalannya. Oliv berjalan melewati Gema yang terpaku dengan langkah yang sedikit mengangkang. Rasanya ngilu, tapi rasa itu tak sebanding dengan perasaannya yang hancur. Bagaimana tidak, bahkan ia harus menelan pil pahit dengan mendapati dirinya yang tak lagi suci, sedangkan pernikahannya akan dilaksanakan sebentar lagi.


Oliv membuka lemari dan laci guna mencari baju yang bisa ia kenakan, namun ia tak menemukan apapun. Dirinya kini hanya menggunakan kimono yang ia dapat dari kamar mandi. Ia kemudian menuju ranjang, dan berharap ada baju yang tertinggal untuk bisa dikenakan.


Dua langkah sebelum menuju ranjang, matanya terpaku pada satu objek. Matanya kembali berlinang melihat noda merah itu. Oliv mendudukkan dirinya di tepi ranjang sembari menutup wajahnya.


"Saya berani bersumpah, Liv. Saya nggak sadar, saya nggak inget apapun tentang kejadian semalam." Gema mendekati Oliv dan duduk di samping wanita itu.


"Oke-oke, tolong katakan apa yang bisa saya lakukan untuk menebus dosa saya? Saya janji akan menikahi kamu." Gema semakin merasa bersalah pada Oliv.


"Gue mau pulang." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Oliv.


"Oliv, plis." Gema berjongkok dihadapan kaki Oliv dan meraih tangan wanita itu. "Maafin saya. Saya nggak bermaksud berbuat sehina ini sama kamu. Bahkan saya nggak mengingat apapun tentang kita semalam kecuali penjahat-penjahat itu."


"Penjahat??" Oliv mulai me-reka ulang adegan yang ia lalui semalaman.


"Kita dijebak, Liv." Gema mencoba menjelaskan pada Oliv.


Oliv melirik kearah sprai putih yang terdapat banyak darah yang mulai mengering. Bahkan area sensitifnya masih terasa ngilu hingga saat ini. Bagaimana mereka tidak melakukan apapun? Masih segar dalam ingatan Oliv saat dirinya dan Gema yang sama-sama polos dan hanya dalam balutan selimut.


"Penjahat? Ck," Oliv menyunggingkan senyumnya. "Penjahat itu suruhan elo hmm?" Gema melepaskan genggamannya dari tangan Oliv.


Gema berdiri dari jongkok nya. "Liv, apa maksud kamu nuduh saya seperti itu?"


"Udah, nggak usah sandiwara. Sekarang bilang, apa motif elo menghancurkan gue kayak gini ha? Elo haus naafsu kan?" Oliv mengusap sisa-sisa air matanya. "Gue mau pulang, minggir." Oliv mendorong tubuh Gema dari hadapannya.


Oliv menuju pintu, namun ia sama sekali tak bisa membukanya.


cklekk, cklekk cklekk

__ADS_1


"Percuma, kamu nggak akan bisa keluar dari sini. Kita terjebak di kamar ini."


"Elo pasti nyembunyiin kuncinya kan? Bawa sini cepet!" ketus Oliv.


"Udah saya bilang, kita terjebak disini. Kamu nggak akan bisa keluar sebelum ada orang yang buka pintunya dari luar." Gema mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Tubuh Oliv perlahan melorot kelantai, ia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lutut. Air matanya kembali mengalir, sesak di dadanya seketika menyeruak kembali yang membuat tubuhnya bergetar. Oliv menangis tanpa suara, hanya ada isak yang menandakan dirinya benar-benar terpukul saat ini.


"Kenapa elo jahat banget sama gue, apa salah gue sama elo? hiks." Oliv mengatur nafasnya yang tersengal. "Gue capek, selama ini gue nggak pernah bebas dari masalah. Kenapa elo hadir dan menambah beban besar di hidup gue?? Kenapa elo tega ngelakuin ini semua?" Oliv meluapkan emosinya dengan nada seraknya. Gema hanya diam dengan rasa sesal dalam dirinya.


"Marcel sayang, maafin aku. Maaf, hiks. Harusnya aku nurut sama kamu, aku nggak seharusnya membebaskan diriku di waktu-waktu terdekat pernikahan kita."


Sudah satu jam Oliv tak bergerak dari posisinya. Gema akhirnya menghampiri Oliv yang meringkuk bak anak kecil yang tengah menangis karna telah terluka. Namun kali ini kasusnya berbeda, lebih berat dari sekedar jatuh dari sepeda. Oliv kehilangan dara nya yang selama ini ia jaga dengan baik.


Gema membopong tubuh Oliv karena ternyata Oliv menangis hingga tertidur. Sebenarnya hati Gema sangat sakit melihat Oliv saat ini. Bukan rencana ini yang ia susun untuk mendapatkan Oliv.


"Maafin aku. Aku bahkan nggak mengingat kejadian semalam saat aku melakukan itu sama kamu. Aku akan menikahi kamu, aku janji." Gema mengecup pucuk kepala Oliv cukup lama.


brakk


Pintu kamar terbuka dengan paksa, menampilkan wajah-wajah marah dari pria dan wanita paruh baya. Gema yang terkejut langsung meraih bantal dan menutupi dadanya yang tak mengenakan baju.


"Tu-tuan,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Satu bab untuk malam ini

__ADS_1


See you bye bye 🙌


__ADS_2