
Happy reading PFF Lover ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dirga tampak mondar-mandir sambil menggigiti jari nya. Pasalnya sudah dua jam dokter tak juga keluar dari ruangan. Perasaannya sudah kacau balau semenjak Bulan masuk kedalam ruangan UGD.
"Maafin mas, sayang..." lirih Dirga sambil mengacak-acak rambutnya kasar.
Dirga terduduk di kursi sembari mengucap doa. Air matanya yang dari tadi sudah mengalir pun kian deras.
"Nak..." wanita paruh baya menepuk pundak Dirga.
Dirga mendongak dan menatap wanita itu.
"Bunda,"
"Bunda lihat sepertinya tadi kamu buru-buru nak. Siapa yang sakit?" tanya Bunda
"Bulan Bun." lirih Dirga
"Bulan sakit apa nak?" tanya bunda terkejut.
"Ini salah Dirga Bun." Dirga memejamkan matanya penuh sesal.
"Maksud kamu?? terus ini kenapa baju kamu ada banyak darahnya?" panik Bunda
"Dirga memaksa Bulan berhubungan Bun. Dirga nggak mau dengerin teriakan dan tangisan Bulan yang kesakitan Bun."
"Ya ampun Nak. Jangan-jangan Bulan hamil." ujar bunda
"Hamil??" kejut Dirga
"Apa kalian nggak tau kalo Bulan lagi hamil?" tanya Bunda
"Nggak Bun. Kami nggak tau." pikiran Dirga semakin kalang kabut.
"Semoga Bulan nggak papa ya nak." Bunda menepuk pundak Dirga untuk menguatkan.
Sejenak mereka hening larut dalam pikirannya masing-masing.
"Bunda sama Bintang bukannya kemarin udah pulang?" tanya Dirga memecah keheningan
"Bintang koma nak. hiks"
"Koma??" Dirga terkejut
"Tadi Bintang lagi main piano nak, tiba-tiba dia pingsan. Hidungnya ngeluarin banyak darah. hiks hiks hiks" bunda sudah terisak di pelukan Dirga
Dirga terdiam sejenak untuk mencerna ucapan Bunda. Dirga mengelus punggung Bunda untuk menguatkan.
"Apa yang udah kamu lakukan Dirga. Bodoh. Bulan pasti benci banget sama kamu habis ini. Maafin Mas sayang, mas terlalu posesif sama kamu." gumam Dirga dalam hati
"Nak..." Bunda melepaskan pelukannya saat merasakan punggungnya basah.
"Kamu tenang ya. Kita doakan semoga Bulan dan Bintang baik-baik aja ya." bunda tersenyum pada Dirga
"Makasih Bunda." Dirga membalas senyuman bunda untuk menguatkan diri.
__ADS_1
cklekk
Pintu ruangan di buka, menampilkan para suster dan yang terakhir dokter. Dirga segera berdiri menghampiri dokter itu.
"Gimana kondisi istri gue Ra?" tanya Dirga pada dokter sekaligus temannya itu.
"Bisa kita bicarakan di ruangan saya" jawab dokter itu bijak
"Bunda, Dirga tinggal dulu ya." pamit Dirga yang hanya di balas anggukan kepala Bunda.
…
"Lo apain istri lo??" tanya dokter Vera sinis
"Gimana kondisi istri gue. Jangan basa-basi."
"Istri elo keguguran." ujar dokter Vera datar
"Apaa???" kejut Dirga
"Salah satu janin di rahim istri elo gugur. Vanishing Twin Syndrome (VTS). Hal ini terjadi pada sekitar 20 hingga 30 persen kehamilan kembar. Memang dalam kehamilan kembar dikenal risiko keguguran pada salah satu embrio." jelas dokter Vera
"Jadi calon anak gue kembar?" tanya Dirga lagi
"Ya. Untung aja elo cepet bawa istri elo kesini. Kalo nggak, bisa jadi calon anak elo nggak selamat dua-duanya."
"Gue nggak sengaja." Dirga mengusap wajahnya kasar.
"Tapi seenggaknya masih ada satu janin yang bertahan Ga. Gue harap elo bisa jaga baik-baik istri dan calon anak elo." nasihat dokter Vera
"Iya gue janji bakalan jaga istri gue Ra."
"Apa penyakit posesif elo masih ada Ga?" tanya dokter Vera sinis. Ia tahu betul bahwa temannya ini sangat posesif saat Dirga masih bersama Almarhumah Alyssa dulu.
"Gue nggak bisa nahan cemburu gue Ra." keluh Dirga
"Gue saranin elo kurangi Ga. Posesif boleh, tapi jangan keterlaluan. Itu nggak baik buat hubungan elo sama pasangan elo." nasihat dokter Vera
"Gue juga cewek Ga. Gue udah punya suami dan punya anak. Gue pernah se posesif elo. Tapi akhirnya hubungan gue sama mantan gue nggak bertahan lama.Gue harap elo ngerti Ga, sebelum semua terlambat." imbuh dokter Vera menasihati
"Thanks untuk nasehat nya Ra. Gue akan berusaha jadi yang terbaik untuk istri gue. Tapi gimana waktu dia sadar nanti dia malah marah sama gue Ra?"
Dirga hanya tersenyum kecut menanggapi. Bukan itu yang ia pikirkan saat ini, namun apakah Bulan mau memaafkan perbuatannya nanti.
"Apa gue bisa nemuin istri gue sekarang?" tanya Dirga
"Boleh. Tapi mungkin besok pagi dia baru sadar. Sekarang dia masih dalam pengaruh obat bius." ujar dokter Vera
"Oke Ra. Gue pamit dulu."
"Eh tunggu Ga." cegah dokter Vera
"Apa lagi Ra?"
"Gue mau nanya sama elo." ujar dokter Vera yang membuat Dirga mengerutkan keningnya
"Emmm maaf sebelumnya. Apa istri elo punya trauma sama kekerasan?" tanya dokter Vera
Dirga mengangguk tanda meng iya-kan ucapan dokter Vera.
Dokter Vera menghela nafas "udah gue duga dari awal. Apa elo nggak mikir dulu waktu mau bertindak kayak gitu sama istri elo? Gue kalo jadi dia nggak bakalan maafin elo Ga. Elo keterlaluan banget."
"Kok elo malah nakut-nakutin gue sih Ra." kesal Dirga
"Abisnya elo keterlaluan banget Ga. Kalo istri elo sadar nanti gue nggak menjamin dia... hufft" ucap dokter Vera ambigu.
"Menjamin apa sih Ra?"
"Elo ngerti maksud gue Ga. Elo lihat aja nanti kalo istri elo sadar. Semoga aja nggak seperti yang gue cemasin." lanjut dokter Vera
"Gue harap itu nggak terjadi Ra. Gue pamit dulu. Thanks ya." pamit Dirga dengan nada yang tak bersemangat
…
"Hai sayang. Maafin mas ya. Mas terlalu posesif sama kamu." lirih Dirga saat ia telah berada di ruang rawat sang istri.
__ADS_1
Dirga mengusap lembut kepala Bulan dengan sayang. Sesekali ia mengecupi kening dan tangan Bulan.
"Gue bener-bener jahat. Gue emang nggak pantes untuk dimaafkan. Walau janin itu gugur karna kelainan, tapi gue hampir aja melenyapkan nyawa anak gue. Maafin papa ya nak." gumam Dirga dalam hati sembari mengelus perut rata Bulan.
tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dirga segera menyeka sisa air matanya. Pintu terbuka menampilkan seorang pria bertubuh tinggi kekar. Wajahnya tertutupi masker dan topi yang bertengger di kepalanya.
"Permisi Tuan" sapa pria itu
"Kita bicara di luar saja." perintah Dirga
Merekapun melangkah keluar ruangan dan duduk di kursi tunggu rumah sakit.
"Maaf aku memintamu untuk kemari genius. Tapi kau harus memantau langsung gerak-gerik musuh kita." ujar Dirga
"Tidak masalah tuan. Saya siap melaksanakan tugas." patuh pria itu.
"Bagaimana restoran mu?" tanya Dirga basa-basi
"Semua baik tuan. Termasuk server kita."
"Selama disini kau pantau perusahaan dan tangan kananku. Aku akan fokus pada istriku dulu." perintah Dirga
"Baik tuan." patuh pria itu
"Lalu bagaimana dengan mereka berdua?" tanya Dirga lagi yang langsung pria itu mengerti.
"Mereka terlihat dari sore tidak ada tanda-tanda akan keluar dari apartemen tuan."
"Tapi mereka tidak macam-macam kan?" cemas Dirga
"Anda tenang saja tuan. Saya sudah memasang kamera di setiap sudut ruangan apartemen."
"Bagus. Aku percayakan semua padamu genius."
"Baik tuan, saya permisi dulu." pamit pria itu
"Tunggu genius." cegah Dirga
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" sopan nya
"Apakah kau masih mencintai gadis nakal itu?" tanya Dirga sembari tersenyum miring
"Maaf saya lancang tuan."
"Haha aku akan membantumu. Aku akan mengirimnya untuk mu suatu saat nanti. Saat ini kau bersabarlah, gadismu itu hatinya sedang buta." ujar Dirga seraya menepuk pundak genius.
"Saya menunggu hari itu tuan." Genius tersenyum di balik masker yang ia pakai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mau curhat dikit nih. Tadi author udah nulis 1 bab tapi malah kehapus dan nggak sengaja ke log out 😭😭 Terpaksa ngulang ngetik lagi dari awal.
__ADS_1
Tapi nggak papa. Author jadi semangat karna sahabat PFF masih setia nunggu up 🤗🤗
see you next episode ♥️