
Happy reading PFF Lover♥️
.
.
.
.
.
.
"Udah kenyang?" tanya Oliv saat mereka telah duduk di sofa
"Hmm," Marcel hanya berdeham sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kak..." panggil Oliv
"Hmm,"
Oliv menyandarkan tubuhnya di dada Marcel sembari membuat pola-pola abstrak di dada Marcel. Kalau saja orang lain yang berada di posisi Oliv, mungkin mereka akan lebih memilih memberi pelajaran atau bahkan mundur. Tapi tidak dengan Oliv. Rasa cintanya telanjur besar. Rasa kecewanya seolah sudah tertutupi rasa cinta.
"Kenapa?" ketus Marcel
"Aku boleh nggak keluar sebentaaaar aja." rayu Oliv yang masih setia dengan aktivitasnya
"Nggak." tegas Marcel sembari menghentikan jari Oliv yang menyentuh dadanya
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapi an. Kamu kan udah janji nggak bakalan naik motor lagi." ujar Marcel datar sambil menyandarkan tubuhnya lagi di sofa
Oliv mencebikkan bibir nya kesal. Ia menyusupkan wajahnya di dada Marcel dengan posisi memeluk. Nyaman. Itulah yang dirasakan Oliv.
"Kak Marcel pake parfum apa sih. Enak banget wanginya." tanya Oliv dengan nada bergumam di dada Marcel
"Apa aja." singkat Marcel
Oliv mencubit perut sixpack Marcel geram yang membuat empunya meringis kesakitan.
"Sssshhhh Apa sih Liv." kesal Marcel
"Kak Marcel nggak ada romantis-romantisnya banget sih. Pacarnya tu dirayu kek apa kek. Kaku banget." kesal Oliv balik sambil melepaskan pelukannya
"Salah siapa cinta." goda Marcel
"Iya aku emang selalu salah di mata kak Marcel." Oliv cemberut seraya menyilang kan tangannya di perut
"Heiii..." Marcel menarik hidung kecil mancung Oliv
"Iiiih sakitt." keluh Oliv karna memang Marcel menekannya dengan kuat
"Aku nggak bisa romantis, maaf." ujar Marcel sembari mengacak-acak rambut Oliv gemas
"Tapi giliran minta jatah aja manisnya melebihi kolak pisang." cibir Oliv
"Kolak pisang??" pikiran Marcel sudah traveling kemana-mana
"Kamu mau kolak pisang??" tanya Marcel lagi yang membuat Oliv mengerutkan keningnya
"Mana?" tanya Oliv polos
"Tuh..." Marcel membawa pandangan Oliv menuju ke bawah perutnya
"Iiiiiih dasar me*sum!!!" teriak Oliv sambil memukuli Marcel dengan bantal sofa
"Hahahaha tinggal ngeluarin santannya aja nih." imbuh Marcel yang membuat Oliv tambah kesal
"Buka pintunya. Aku mau pulang." teriak Oliv yang masih memukuli Marcel
bruuuk
Mereka berdua terjatuh dari sofa dengan posisi Oliv di atas Marcel. Seperkian detik mereka saling pandang. Posisi wajah yang sangat dekat membuat Marcel semakin terfokus pada bibir merah Oliv yang masih sedikit membengkak akibat ulahnya tadi. Saat Marcel hendak meraih bibir itu, tiba-tiba Oliv menonyor dahi Marcel agar tak bertindak lebih.
"Kebiasaan!" ujar Oliv sambil mencubit bibir Marcel
"Kok dicubit sih. Digigit aja nggak papa. Abang rela sayang." ucap Marcel genit sambil mengedipkan sebelah matanya
__ADS_1
"Lepasin adek, bang. Pegel nih."
"Kan adek yang di atas." Marcel menaik-turunkan alisnya
blush
"Oliv bodooooh"
Oliv segera beranjak dari tubuh Marcel namun Marcel menahannya. Rasanya enggan untuk melepaskan pelukan Oliv dari tubuhnya. Ada rasa nyaman yang menyelimuti mereka berdua.
"Gini dulu bentar aja." ucap Marcel sambil mengelus-elus rambut Oliv
Oliv hanya pasrah. Ia juga menikmati pelukan nyaman pria yang dicintainya itu. Setelah puas berpelukan, Marcel melepaskan pelukannya.
"Udah." ucap Marcel namun tak mendapat respon dari Oliv
"Liv..." panggil Marcel namun hanya dengkuran halus yang terdengar yang menandakan Oliv tertidur.
"Nyaman banget kayaknya." gumam Marcel sembari merapikan rambut Oliv yang berantakan.
…
...Di kediaman Dirga dan Bulan...
tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari luar kamar. Bulan segera bergegas untuk membukakan pintu. Terlihat seorang paruh baya sedang menunggu pintu terbuka.
"Ada apa bik?" tanya Bulan
"Itu nyonya, ada telepon dari ibunya nyonya." jawab pelayan itu sopan
"Oh, oke bik. Makasih ya, saya angkat teleponnya dulu." Bulan berjalan menuju telepon rumah
"Halo Assalamualaikum buk." sapa Bulan
"Waalaikumsalam nak. Hp kamu dari tadi ibuk telepon kok nggak aktif sih nak." ujar Ibu dari sebrang sana
"Emmm itu buk. Hp Bulan jatuh." Bulan terpaksa bohong dengan ibunya
"Kamu cepetan ke rumah sakit nak. Bintang sekarang koma." cemas ibu
"Cepetan kamu ajak Dirga nak. Dari tadi ponsel Dirga juga nggak bisa dihubungi."
"Iya buk. Bulan kesana sekarang juga."
Bulan menutup telepon lalu berlari menuju kamarnya untuk mengambil tasnya. Dengan tergesa-gesa Bulan menuruni anak tangga. Ia lupa bahwa ia harus mengajak suaminya. Pikirannya sudah kacau saat mendengar pernyataan dari sang ibu yang menyatakan bahwa sahabatnya Bintang koma.
"Mau kemana kamu???" teriak pria dari atas yang sangat menggelegar
Bulan menelan ludahnya kasar. Bisa-bisanya ia melupakan suaminya. Bulan membalik badan dan menundukkan kepalanya.
tap tap tap
Pria itu mendekat pada Bulan dengan langkah yang sangat cepat.
"Mau kemana?? kabur??" hardik Dirga yang membuat tubuh Bulan bergetar
"Mas, Bintang..."
"Ikut aku!!" perintah Dirga sambil mencengkram tangan Bulan kasar
"Mas tapi Bintang..." belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Dirga sudah memotongnya lagi.
"Jangan bahas laki-laki lain lagi di hadapan suami Bulaaan" Dirga sudah mengeraskan rahangnya. Tampak sekali tengah diselimuti marah dan cemburu.
Bulan diseret oleh Dirga hingga mereka sampai di kamar. Bulan sudah sangat terisak. Untuk berbicara saja sudah tidak bisa karna Dirga selalu menyela nya. Dirga membanting Bulan di atas ranjang dengan kasar.
"Layani aku sekarang!!" perintah Dirga dengan nada yang tinggi
"Massss..." ucap Bulan disela isak tangisnya.
Tak memberikan celah untuk Bulan, Dirga segera menyambar bibir Bulan agar tak lagi berbicara. Bulan memukuli punggung Dirga dengan kuat hingga membuat Dirga melepaskan pelukannya.
"Aku nggak mau mas. Tolong Bintang..."
Belum selesai lagi dengan ucapannya, Dirga sudah menyambar lagi bibir Bulan dengan kasar.
"Awwwwwww." teriak Bulan saat Dirga memaksa menerobos masuk.
__ADS_1
Dirga tak menghiraukan lagi teriakan dan tangisan sang istri. Dirinya sudah terlanjur terselimuti emosi dan cemburu.
Dirga mengecup kening Bulan saat telah menyelesaikan hasratnya.
"Maaf." ucap Dirga lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap di samping Bulan.
"hiks hiks" Hati Bulan sudah terasah sangat hancur. Bagaimana bisa suaminya tak mau mendengarkan ucapannya dan malah memperkosanya.
"kenapa sekarang sangat sulit untuk membuat kamu mengerti mas. Aku kecewa sama kamu mas."
"Tidurlah sayang. Jangan menyesali karna udah melayani suamimu sendiri." ujar Marcel dengan suara serak dan mata yang masih terpejam.
Bulan hanya diam tak merespon ucapan suaminya. Ia meremas selimutnya untuk menahan perasaan sakitnya. Bulan hendak bangkit namun perutnya tiba-tiba sakit.
"Awwwwwww..." rintih Bulan
"Mas ada darahhh!!" teriak Bulan yang membuat Dirga bangun dan bangkit
"Mana???" tanya Dirga yang menatap Bulan meringis kesakitan.
"Mas. Perut aku sakit!!" teriak Bulan sambil meremas perutnya
Dirga menyibakkan selimut Bulan dan melihat banyak darah keluar dari bagian inti istrinya yang membengkak.
"Ya ampun Bulan..." teriak Dirga histeris
Dengan segera ia memakai baju dan memakaikan baju Bulan lalu menggendongnya. Dirga tergesa-gesa menuruni tangga.
"Pak woooo pak wooooo!!" teriak Dirga menggelar
Semua pelayan di sana langsung berlarian mendekat ke sumber suara.
"Siapkan mobil pak wo cepat!!" teriak Dirga
"Siap Tuan." patuh sopir itu lalu berlari menuju garasi mobil
"Sakiiitt. hiks." rintih Bulan kesakitan
"Tunggu sebentar ya sayang. Maafin mas." ujar Dirga dengan suara gemetar
"Aku nggak kuat mas. Sakiiittt!!!" teriak Bulan sambil meremas kuat perutnya saat mereka telah masuk kedalam mobil.
"Kamu harus kuat sayang. Kamu harus bertahan. Maafin mas ya." Dirga menciumi tangan dan kening Bulan untuk menguatkan.
"Aaaaaaaaa sakiiiit." teriak Bulan lagi dengan nafas yang tersengal.
Tak kuat lagi menahan sakit, Bulan akhirnya tak sadarkan diri.
"Sayang... sayang..." Dirga menepuk-nepuk pipi Bulan
"Sayang kamu harus bertahan. Maafin mas sayang." teriak Dirga pilu. Air mata Dirga semakin deras. Ia menangis pilu saat melihat istrinya tak berdaya akibat perbuatannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku ingin dirimu singgah. Namun sikapku membuat dirimu selalu terluka. Maafkan aku, cinta.
Next nggak nih?
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya sahabat setia PFF🤗