
selamat membaca para masyarakat Indonesia 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
Sore telah tiba, senja pun mulai menyapa. Seorang gadis cantik nan menawan tengah bernyanyi bersama anak-anak pengamen. Seperti tak membedakan kasta, gadis itu sangat tulus menghibur para anak-anak jalanan itu.
Seorang pria yang baru sampai pun dibuat terkagum-kagum oleh Oliv yang sibuk bercanda ria bersama anak-anak pengamen. Marcel tersenyum tipis melihat sang Putri Raja Baskara menampilkan sisi malaikatnya. Marcel mengenal Oliv sudah sangat lama, dan inilah sikap Oliv yang memiliki nilai plus di mata Marcel.
"Hai, semua." sapa Marcel yang kemudian mendekat ke arah mereka.
"Eh, kak Marcel." Oliv berdiri sembari menampilkan senyum manisnya.
"Udah lama nunggunya?" tanya Marcel.
"Nggak kok," bohong Oliv "Anak-anak, kalian sekarang pulang ya. Udah sore, nanti ibuk kalian nyariin."
"Iya kak Oliv, makasih ya. Kami seneng banget bisa ketemu sama kak Oliv." ketiga bocah itu saling menyalami Oliv dengan gembira.
Terlihat jelas raut bahagia dari wajah anak-anak jalanan itu. Mereka berlarian kecil sambil bercandaan ria. Uang merah yang mereka kantongi sungguh membuat hati mereka larut dalam kebahagiaan.
Pandangan Oliv mengantar kepergian mereka. Marcel hanya diam sembari memandangi wajah cantik Oliv yang diterpa sinar jingga. Mereka saling diam hingga beberapa saat, hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kak..." panggil Oliv lembut.
"Hmm" Marcel meletakkan tangannya di sandaran kursi seraya menyilang kan kakinya.
Oliv menyandarkan kepalanya di bahu Marcel yang membuat Marcel menegapkan tubuhnya.
"Anteng ngapa sih." protes Oliv dengan nada rendah.
"Iya-iya. Kenapa Liv?" Marcel mengusap kepala Oliv.
"So sweeeeeet." Oliv terkekeh sembari memeluk Marcel dari samping.
"Emang nggak boleh so sweet sama pacar sendiri." gumam Marcel yang masih didengar oleh Oliv.
"Eh?" Oliv mengendurkan pelukannya dan mendongak kearah Marcel "Tumben banget sih." Oliv kesemsem.
"Nggak usah mancing-mancing di tempat umum." Marcel mencubit bibir Oliv.
"Iiiiiihhh, sakiiit." manja Oliv sembari menyusupkan wajahnya di dada bidang Marcel.
"Ngapa sih, manja banget." Marcel ikut membalas pelukan Oliv dengan hangat.
"Pengen nikah..." rengek Oliv.
"Kamu sabar ya. Secepatnya aku akan lamar kamu. Semoga orang tua kamu bisa merestui hubungan kita." ujar Marcel lembut, sangat lembut yang membuat hati Oliv menghangat.
"Aku tunggu hari itu kak." girang Oliv dalam pelukan Marcel.
"Aku mau boleh ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Marcel. Oliv melepaskan pelukannya.
"Ngomong aja." Oliv menggenggam tangan Marcel.
"Kalo misalnya aku punya rahasia besar dan rahasia itu bisa buat kamu kecewa, gimana kira-kira?"
__ADS_1
Oliv menyipitkan matanya "Oooooh, kak Marcel punya selingkuhan ya." tuduh Oliv seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Bukan it...
"Kak Marcel selingkuh sama siapa?" Oliv mengintrogasi.
"Liv, de...
"Selingkuhan kak Marcel lebih cantik dari aku ya??? Kok diem, jangan-jangan bener kan dugaan aku selama ini." Suara Oliv mulai meninggi.
"Kumat." gumam Marcel.
"Kenapa kak Marcel jahat banget sih sama aku. Aku sampe di usir dari rumah karna bela-belain biar bisa nikah sama kakak loh. Apa kak Marcel nggak mikirin gimana perasaan aku???" mata Oliv sudah mulai berkaca-kaca.
"Nggak Liv." tegas Marcel.
"Terus apa lagi...
*cupp
"Eeemppphhh*."
Oliv memukuli dada Marcel yang menyosor nya secara tiba-tiba.
"Haaahh... hahhh... Kak Marcel mau bunuh aku ya. Biar bisa nikah sama selingkuhan kak Marcel!!" bentak Oliv dengan tangannya yang sibuk mengelap bibir dan pipinya yang basah.
"Kamu nuduh aku sekali lagi...
"Apa?? kak Marcel mau ngancem a...
cupp
Marcel semakin memperdalam ciumannya agar Oliv diam. Oliv tak bisa bohong, ia merindukan kekasihnya yang sudah seminggu ini menghilang. Oliv memejamkan matanya untuk menikmati ciuman hangat yang Marcel berikan.
Suara decapan bibir semakin merdu terdengar membuat mereka lupa bahwa mereka tengah berada di tempat umum.
"Woiiiiiiiii. Jangan mesum di tempat umum woiii!!!!" teriak salah satu pengunjung yang membuat mereka berdua gelagapan.
"Kamu sih..." bisik Marcel.
Oliv menyikut perut Marcel "Kok aku sih." Oliv melotot.
"Udah lihai banget lidah kamu. Liarrrrr," bisik Marcel tepat di telinga Oliv "Aku makin suka." imbuh Marcel.
"Aaaaaaaa Marcel gila. Kamu yang mulaiiiii." teriak Oliv dalam hati.
"Aku mau ke mobil aja." Oliv beranjak dari duduknya kemudian berlari kecil sembari menundukkan kepalanya malu.
"Liiiiv..."
brakk
Oliv masuk ke dalam mobil kemudian disusul oleh Marcel.
"Jangan marah-marah dong sayang." goda Marcel yang membuat wajah Oliv semakin merah.
"Liv, muka kamu...
"Nih, makan." Oliv menyerahkan sebuah bungkusan dari dalam Tote bag nya.
"Apa ini?" Marcel membuka bungkusan itu kemudian membulatkan matanya "Jagung bakar??" Oliv mengangguk.
"Kak Marcel suka kan? Makanya aku beliin. Tadi yang tiga aku kasihin ke anak-anak. Maaf ya tinggal satu." Oliv menyengir kuda.
"Huuuh, untung inget jagung. Kalo nggak aku bisa kaku gara-gara malu."
Marcel menelan ludahnya kasar menatap jagung bakar itu. Bagaimana tidak? ia tadi sudah menghabiskan tiga jagung bakar bersama Verta dan Boy, sekarang ia harus memakan jagung yang dibeli Oliv juga.
"Maaf ya, udah dingin. Habisnya aku nungguin kak Marcel lama banget tadi. Cepetan dimakan."
__ADS_1
Marcel menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum memakan jagung bakar itu. Yang benar saja, empat jagung bakar masuk kedalam perutnya di saat perutnya sudah terisi nasi sebelumnya.
***
Malam hari telah tiba. Menandakan waktu istirahat akan segera dimulai. Di sebuah rumah mewah Bulan dan Dirga, nampak sepasang suami istri itu tengah bersiap juga untuk beristirahat.
Dirga merebahkan dirinya sambil memunggungi Bulan. Bulan hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan suaminya yang semakin hari semakin seperti anak berusia lima tahun. Hanya karna perkara rujak yang dicomot Sandra, Dirga betah mendiamkan Bulan.
Bulan memiringkan badannya menghadap Dirga "Mas..." panggil Bulan namun tak ada sahutan dari suaminya.
"Sayang..."
"Hmmm." Dirga hanya menyahut dengan deheman.
"Mas, Mas nggak mau buka puasa?" tanya Bulan dengan senyum tipisnya "Padahal aku udah siap-siap loh." imbuh Bulan sembari membuka kancing-kancing bajunya.
Dirga diam tak menanggapi rayuan Bulan karna ia sudah sangat mengantuk. Bulan tak putus arang, ia memeluk suaminya dari belakang dan tangannya yang sudah menyusup di dalam celana Dirga.
"Aaaargh." Dirga mengeraang kemudian membalikkan badannya untuk menghadap ke arah istrinya.
Dirga menatap istrinya yang sudah sangat menggoda dengan nafas tersengal.
"Mas..." Bulan menggambar pola-pola abstrak di dada suaminya.
"Jangan sentuh lagi." Dirga memegang tangan Bulan yang nakal.
"Aku lagi pengen." Bulan memanyunkan bibirnya.
"Tapi kita harus puasa sembilan bulan, sayang." ujar Dirga dengan suara serak nya.
Bulan membawa tangan suaminya untuk menyentuh dadanya "Kata Dokter nggak papa, asal pelan-pelan." Bulan mengedipkan sebelah matanya.
"Beneran??" girang Dirga. Bulan mengangguk.
"Oke kalo itu yang kamu mau, ayo kita mulai, honey." Dirga beranjak dari rebahan nya, kemudian melucuti pakaiannya sendiri.
Ia memulai pemanasan yang sangat panas bersama Bulan. Dirga seperti orang yang rakus saat berkali-kali menghisap bagian-bagian sensitif Bulan. Bulan yang berada di bawah kungkungan Dirga hanya bisa pasrah menerima semua sentuhan Dirga padanya.
Bulan menggeliat tak karuan saat Dirga bermain indah di bagian inti Pina. Dirga kembali ke bibir Bulan sebelum memulai penyatuan mereka.
"Setengah atau full?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah berpuasa, akhirnya Pina dan Pino bisa kembali menyatu.
Part ini mau dilanjutkan ke episode selanjutnya nggak nih?? Biar makin greget grrrr
Oh, iya. Sambil menunggu keseruan Past For Future, boleh banget nih kalian mampir di karya di bawah ini. Happy reading guys ♥️
__ADS_1