Past For Future

Past For Future
Minta jatah


__ADS_3

Pagi ini sepasang Suami-istri itu tengah bersiap untuk berangkat ke Kantor. Bulan kini tengah menyiapkan makanan untuk sang suami.


"Morning my wife" Sapa Dirga


"Morning" Jawab Bulan untuk sebisa mungkin menahan rona malu nya


"Kayaknya enak" ucap Dirga "Kamu sering masak di rumah?" lanjutnya bertanya


"Saya jarang banget masak di rumah sebenernya mas" jawab Bulan


"Tapi kok masakan kamu bisa enak? Rasanya pas banget di lidah saya"


"Dulu waktu tinggal di rumah nenek saya di ajar keras sama nenek. Katanya cewek itu harus pinter masak dan ngurus suami biar suaminya betah di rumah." tutur Bulan


"Kamu nggak perlu masak juga nggak papa. Yang penting kamu urus saya aja di kamar" Dirga menaik-turunkan alisnya


Pipi Bulan memerah


"Loh pipi kamu kenapa? hahaha" entah mengapa menggoda Bulan sudah menjadi hobi nya saat ini


"Mas Dirga apaan sih" Bulan berkata datar walau sebenarnya gugup


"Saya ngomong apa adanya kok. Tugas kamu itu nyiapin baju suami, nyiapin air untuk mandi suami, jadi pendengar yang baik untuk suami, dan juga jadi gulingnya suami."


"Hmmm oke. Tapi harus bayar ya" pinta Bulan


"Nanti saya kasih kamu 3 kartu lagi gimana" tawar Dirga yang di balas gelengan kepala Bulan


"No money." jawab Bulan


"Terus apa?" tanya Dirga


"Nanti deh saya pikirin dulu" ucap Bulan "Ya udah yuk makan dulu" ajak Bulan


"Nanti ada ART yang dateng ke rumah kita" ujar Dirga


"Ooh iya deh. Saya juga nggak mampu kalo suruh bersihin rumah ini sendiri" Bulan cengengesan


"Tenang aja saya nggak akan jadiin kamu pembantu di rumah ini. Cukup jadi Ratu yang selalu di samping saya aja" Dirga tersenyum pada Bulan yang juga hanya di tanggapi senyum oleh Bulan


"Nanti kita ke Mansion orang tua saya ya" Ucap Dirga


"Iya mas. Saya juga belum sempat nyapa mereka kemarin" Dirga hanya menganggukkan kepala



...Gedung Perusahaan Baskara Group...


"Hai Bulan. Kita lunch yuk" ajak Marcel


"Ayuk Cel. Aku juga udah laper gara-gara klien kita tadi" Bulan menerima ajakan Marcel


"Emang klien kita kenapa?" tanya Marcel


"Tatapannya kayak mau makan orang" jawab Bulan yang membuat Marcel terkekeh


"Mau makan dimana?"


"Di kantin aja yuk" ajak Bulan


"Oke" Marcel meng-iyakan


Setelah sampai di kantin kantor mereka menjadi pusat perhatian banyak karyawan.


"*Enak ya jadi Buk Bulan. Boss sama asistennya di gebet"

__ADS_1


"jangan-jangan mereka pacaran"


"Tumben banget pak Marcel makan di sini. Sama cewek pula"


"Kayaknya bentar lagi jadi berita besar nih"


"Buset. pake pelet apa buk Bulan ya*"


Mereka saling bisik saat melihat pemandangan Bulan dan Marcel makan siang bersama


"Jangan kamu dengerin ocehan mereka. Cepet di makan" Marcel menenangkan


Sebenarnya Bulan acuh dengan gosip mereka, karna Bulan dulu sudah sering di bully sebab penampilan buruk rupa nya. Namun ia jadi tidak enak dengan Marcel yang ikut terseret.


Ting . Satu pesan masuk ke ponsel Bulan


Tuan Dirga


"Dimana? "


Bulan membalas


"Di kantin "


Tuan Dirga


"sama siapa 🤨"


Bulan membalas


"Marcel"


Pesan tak di balas lagi hanya tanda centang biru. Seketika Bulan ingat bahwa suaminya itu sangat tidak suka dirinya berdekatan dengan orang lain. Bahkan temannya sendiri


"Eh nggak papa kok Cel" Bulan tersenyum canggung.


"Tadi tuan Dirga kemana Cel? Kok setelah meeting nggak kelihatan" tanya Bulan


"Ohh. Tuan Dirga tadi jenguk sepupunya di rumah sakit. Terus katanya mau ke makam Alyssa. Kenapa Lan?"


"Sepupunya sakit kok nggak ngajak sih. Ke makam kak Alyssa juga nggak bilang-bilang" gumam Bulan pelan


"Apa??" tanya Marcel yang tak mendengar gumaman Bulan


"eee..nggak kok Cel" jawab Bulan gugup


"Bulan, sebenernya ada yang ingin aku Sampe in ke kamu. Kalo aku..." Belum sempat melanjutkan perkataannya tiba-tiba ada suara deheman yang mengejutkan mereka.


"Ehem. Boleh gabung?" Dirga datang langsung mengambil posisi duduk di hadapan Bulan dengan raut wajah mengintrogasi


"Kok kalian diam?" tanya Dirga lagi


"Eh. iya tuan. silahkan" Bulan mencoba menormalkan ekspresinya di hadapan Dirga walau sebenarnya dia takut dengan tatapan elang itu


hening


Hanya ada dentingan sendok saat ini. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.


ting


Suara ponsel Marcel yang menandakan ada yang mengirim pesan untuknya.


"Saya permisi dulu Tuan Dirga, Bulan." pamit Marcel yang hanya di jawab anggukan kepala


"Maaf" Bukan Bulan yang bersuara, namun Dirga

__ADS_1


"Maaf untuk apa?" tanya Bulan


"Maaf karna tadi saya nggak ngajak kamu. Saya tadi buru-buru karna sepupu saya koma" ujar Dirga


"Koma?" Pikiran Bulan melayang dimana saat kakaknya terbaring lemah di rumah sakit.


"Kanker otak stadium akhir" Dirga menunduk


"Bisa ajak saya kesana next time?"


"Boleh. Kalo saya nggak lupa"Dirga terkekeh


Bulan merasa lega karna Dirga tidak membahas tentang makan siangnya dengan Marcel tadi


"Saya belum maafin kamu sama Marcel tadi" ujar Dirga yang membuat menghentikan aktivitas makannya dan mendelik


"Saya minta jatah nanti malam untuk menembus kesalahan kamu. Dan nggak ada bantahan"


gleg


Bulan menelan saliva nya dengan kasar. Bulan hanya diam dan melanjutkan makannya yang sudah terasa hambar.



"Assalamualaikum ma pa. Dirga datang" Dirga melenggang masuk ke dalam rumah bak istana itu di ikuti oleh Bulan di belakangnya


"Loh. Tuan muda akhirnya pulang. Saya Panggil kan tuan dan nyonya dulu. Permisi Tuan muda, nyonya Dirga" ujar wanita paruh baya yang menjabat kepala pelayan itu. Dirga hanya mengangguk


"Nyonya Dirga??" Bulan terkekeh geli dalam hati


"Apa anda hanya ingin berdiri di situ nyonya Dirga?" ucap Dirga membuyarkan lamunan Bulan


"Ayo" Dirga merangkul bahu Bulan. Ada desiran aneh saat Dirga memegang bahunya


"Santai aja. Anggep aja rumah sendiri nyonya" Dirga mencoba menggoda istrinya lagi


"Mas apaan sih" Bulan malu dan salah tingkah. Tak sadar ia malah menyembunyikan wajahnya di dada Dirga


"Ya ampun Dirgaaaa. Kalo kamu udah nggak tahan langsung ke atas aja. Nggak perlu manggil mama sama papa. Bikin iri aja" ujar mama yang membuat Bulan cepat-cepat melepaskan pelukannya


blush. Bulan bodooooh.


"Ma pa. Jangan goda Dirga dong. Nanti Dirga nggak tahan beneran lo. Kasian istri Dirga nanti nggak bisa jalan" Dirga bicara tak kalah vulgarnya


Bulan mendelik dan mencubit perut kekar suaminya.


"Awwwwwww" Dirga pura-pura kesakitan


"Hai tuan, nyonya. Apa kabar" Bulan mengalami mertuanya satu persatu


"Kok tuan sih nak. Kamu sekarang juga anak kami. Jadi panggil kami seperti Dirga memanggil kami." Papa Dirga memberi senyum ramah pada Bulan


"Baik pa, ma. Senang bisa bertemu kalian" ujar Bulan


"Jangan terlalu formal nak. Santai aja. Kalian naik dulu mandi bersih-bersih. Kalo mau mau plus-plus juga nggak papa. Biar mama sama papa cepet dapet cucu" ucap mama sama tanpa di filter


"Mama sabar dong. Masih proses nih" Dirga merangkul bahu Bulan


Bulan hanya diam menahan malu. Keluarga ini sungguh di luar dugaan. Bulan dan Dirga segera ke atas menuju kamar Dirga


"Saya mandi dulu. Siapin diri kamu untuk nanti malam sayang." Dirga membisik di telinga Bulan lalu menggigitnya.


Grrrrrrrr. Buru kuduk Bulan berdiri merinding


"Masssssss" teriak Bulan. Dirga hanya terkekeh dan berlari menuju kamar mandi

__ADS_1


__ADS_2