
Selamat membaca teman-teman 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam itu, masih di mansion keluarga Baskara, Dirga sudah menghubungi dokter dan juga memanggil Genius untuk datang. Amarahnya sudah sangat memuncak saat ini. Dan Dirga bukanlah tipe orang yang mudah memaafkan. Masalah kali ini sungguh fatal, ia tak terima adik yang selama ini dijaga dengan ketat masih bisa kecolongan berbuat keji. Ini yang akan menjadi tantangan terberat untuk Oliv dan Marcel kedepannya.
"Gimana bisa kamu kecolongan haa??" hardik Dirga pada Genius "Aku sudah memberi kepercayaan lebih sama kamu. Tapi kamu malah lengah!!" Dirga masih dengan nada yang berapi-api.
"Maaf, Tuan."
"Apa kau tau akibatnya untukmu kedepannya ha?? Bagaimana bisa kau tidak menjaganya dengan benar, GENIUS!!" Dirga mengeraskan rahangnya.
"Dengarkan aku baik-baik," Dirga menarik kerah baju Genius "Kau ataupun Marcel tidak akan pernah ku izinkan untuk memiliki Oliv. AKU TIDAK SUDI!!" Teriak Dirga tepat di depan wajah Genius.
"Pergilah dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi di depan ku!!" Dirga mendorong kuat tubuh Genius, namun Genius bisa menahan tubuhnya sendiri.
"Anda mengusir saya sama saja anda akan menghilangkan fakta yang ada." ujar Genius datar dengan senyum tipisnya.
"Jangan bertele-tele, Genius!!" nafas Dirga masih nampak naik turun.
"Tenangkan diri anda dulu, Tuan. Saya juga akan mengatakan kebenarannya pada Tuan Besar."
"Baiklah, aku tak punya waktu yang banyak. Duduklah dulu, aku akan memanggil Papa."
"Baik, Tuan." Genius pun mendudukkan dirinya di bangku taman. Ia menyeringai tipis.
"Kamu sedang bermain api, Olivia. Aku akan membongkar semua tentang Marcel sebelum kamu menikahinya."
Genius mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja sembari menunggu Tuan nya datang. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu, sangat misterius dengan masker dan topi yang selalu bertengger.
Ia terus merancang rencana demi rencana untuk menguak semua. Ia harus bisa mendapatkan Oliv tanpa paksaan. Oliv yang sangat keras kepala dan teguh ingin menikahi Marcel, tentu akan menjadi perjuangan keras tersendiri untuk Genius.
"Katakan apa yang akan kamu katakan, Nak." Pria paruh baya itu mendudukkan dirinya di samping Genius.
"Oliv masih gadis." to the poin Genius.
"Apa kamu yakin?" antusias Dirga
"Anda mengenal saya bukan hanya setahun dua tahun, Tuan." Genius mengisyaratkan bahwa yang ia katakan memang benar.
"Lalu bagaimana bisa Oliv mengatakan bahwa ia takut hamil?" tanya Papa tak kalah antusias.
Genius tersenyum tipis "Itu hanya taktik yang digunakan Oliv agar kalian merestui hubungan mereka."
Dirga dan Papa hanya diam untuk menyimak ucapan Genius selanjutnya.
__ADS_1
"Meskipun Oliv nakal, tapi ia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Ia masih menjaga aturan dari Tuhan untuk tidak melakukan hal itu sebelum menikah." Ujar Genius sembari membuka masker yang ia kenakan.
"Apa kamu yakin?" tanya Dirga lagi.
"Saya akan menjamin nya dengan tubuh saya." jawab Genius seolah mengatakan bahwa ia lebih tau seluk beluk Oliv ketimbang keluarganya sendiri.
"Papa percaya sama kamu, nak. Tapi maaf kalau suatu hari nanti Oliv lebih memilih ego nya dan tetap bersama pria itu." Papa menepuk pundak Genius.
"Saya yakin Oliv tidak akan gegabah saat telah mengetahui semuanya nanti, Tuan."
"Terimakasih. Kamu bisa kembali lagi kesana. Aku yang akan mulai mengurus perusahaan mulai besok." ujar Dirga yang menyuruh Genius untuk kembali ke tempat persembunyian.
"Baik Tuan. Saya pamit Tuan, Tuan Besar." Genius berdiri dan membungkukkan badannya hormat.
***
"Assalamualaikum..." Oliv sudah berada di depan pintu masuk rumah Bulan Dirga.
"Waalaikumsalam... Eh, Non Oliv sama Tuan Marcel. Silahkan masuk." seorang pelayan mempersilahkan mereka masuk.
"Makasih, Bik."
Marcel ikut masuk kedalam. Ada desiran aneh saat melangkahkan kakinya lebih dalam ke rumah ini. Ia mengarahkan pandangannya pada wanita hamil yang tengah tertawa ria bersama seorang paruh baya.
"Tidak, kau harus membuang perasaan ini jauh-jauh, Marcel. Kau sudah berjanji akan belajar mencintai Oliv."
"Kak Bulan." sapa Oliv yang membuat Bulan mamandang ke arah sumber suara.
"Loh, Liv, kamu kesini?" tanya Bulan.
"Iya kak, Oliv boleh ya nginep di sini sementara?" tanya Oliv.
"Hehe, makasih ya kak."
"Ya udah, nanti kakak tunjukkin kamar kamu ya." ujar Bulan "Sini duduk dulu. Marcel, duduk dulu." Bulan menggeser tubuhnya agar Oliv duduk di sampingnya.
"Kok malem-malem kesini nya?" tanya Bulan saat Oliv telah mendudukkan dirinya masing-masing.
"Iiii...Iya kak, sengaja. Ka... Kak Dirga yang nyuruh." Oliv terbata lalu tersenyum kecut.
"Oh, gitu. Kirain ada apa gitu hehe."
"Oh iya, kakak kenapa belum tidur?" tanya Oliv.
"Kakak nungguin mas Dirga dari tadi nggak pulang-pulang, katanya cuma sebentar." Bulan memanyunkan bibirnya. Oliv hanya ber-oh ria menanggapi ucapan Bulan.
"Assalamualaikum..." salam kak Dirga yang baru datang.
"Waalaikumsalam..."
Seperkian detik pandangan Dirga dan Oliv bertemu. Cepat-cepat Oliv menundukkan kepalanya takut.
"Em, Oliv, Nyonya Bulan, Tuan. Saya pamit dulu. Ini sudah hampir tengah malam. Permisi." pamit Dirga pada semua orang.
Oliv kembali tersenyum kecut "Eh, Kak, kalo gitu Oliv juga pamit ke kamar ya. Biar Bibik aja yang ngasih tau kamarnya." ujar Oliv dengan pelan.
"Ya udah, langsung istirahat ya." Oliv mengangguk dengan kepala yang terus menunduk.
"Oliv kenapa sih mas?" tanya Bulan saat Oliv telah meninggalkan mereka.
"Nggak tau sayang. Gimana kabar baby kita hari ini? rewel nggak?" Dirga memeluk Bulan dari samping.
__ADS_1
"Dia baik-baik aja."
Dirga mendongak "Sayang besok buatin mas rujak buah ya. Kayaknya seger." pinta Dirga
"Mas tau kan aku sekarang mager banget. Minta buatin Oliv aja ya."
"Tapi mas maunya kamu yang bikin. Pliiiis." rayu Dirga
"Hmmm"
"Ke kamar yuk." ajak Dirga.
"Mau ngapain?" tanya Bulan sinis.
"Emang si Pina nggak kangen sama Pino?" tanya Dirga dengan suara manjanya.
"Dokter bilang wanita hamil itu nggak boleh berhubungan sama suaminya dulu." ujar Bulan sambil menahan tawa.
"What?? Jadi mas harus puasa sembilan bulan??" Dirga melepaskan pelukannya.
"Demi anak kita mas. Emang mas nggak bisa sabar demi anak kita?" Bulan memasang raut wajah pura-pura sedih.
"Ya, bukan gitu, mas cuma takut kalo Pino nggak kuat lihatin Pina, Al."
"Al???" Bulan mengerutkan keningnya.
"Eh?" Dirga menutup mulutnya.
"Ohhhh." Bulan mengangguk-angguk.
"Sayang, mas nggak sengaja." Dirga menggenggam tangan Bulan namun di tepis.
"Jadi mas selama ini anggap aku kak Alyssa??" Bulan menjauhkan diri dari Dirga.
"Sayang, bukan gitu. Mas bener-bener nggak sengaja. Kamu jangan suudzon dong."
"Aku kecewa sama mas." Bulan berlalu meninggalkan Dirga seorang diri.
"Ya ampun Dirgaaa. Baru juga akur arrrrrrrggghhh." Dirga mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kenapa aku bisa nyebut Al sih." Dirga memejamkan matanya sembari memijat pelipisnya.
"Al, maaf. Aku nggak bermaksud untuk mengungkit kamu lagi." Dirga mengusap wajahnya kasar.
.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode ♥️
__ADS_1