Past For Future

Past For Future
Sebelum menyesal


__ADS_3

"Sebaiknya kamu izin sama suami kamu dulu ya nak." saran ibu


"Buk, Bulan nggak kemana-mana. Bintang ada di rumah sakit ini. Bulan mau nemuin sahabat Bulan buk." ujar Bulan


Bunda hanya diam sambil berpikir keras.


"Cuma untuk sahabat buk." imbuh Bulan meyakinkan


"Temui lah sahabatmu," sahut seorang pria yang tengah berdiri di pintu.


Bulan dan ibu menoleh kearah sumber suara. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan paras yang sangat tampan. Siapa lagi kalau bukan Dirga, hot husband dari Bulan.


Pria itu mendekat ke arah Bulan dan ibu. Bulan membuang muka acuh.


"Temui lah dia kalau itu bisa membuatmu memaafkan mas." ujar Dirga


Bulan hanya diam tak bergeming. Bulan merasa bahwa suaminya hanya menyesali perbuatannya tanpa berniat tulus untuk meminta maaf.


"Mas bantu duduk di kursi roda ya."


Dirga pun segera menyiapkan kursi roda untuk istrinya lalu membantunya untuk duduk.


"Buk, ibuk pulang aja nggak papa. Ibuk istirahat aja di rumah." ucap Dirga


"Hmm ya udah kamu cepet-cepet sembuh ya nak. Ibuk pulang dulu. Kalau ada apa-apa langsung minta tolong sama suami kamu ya nak."


"Iya buk..." jawab Bulan meng iya-kan dengan berat hati.


Dirga mengantar Bulan sampai ke depan pintu masuk ruangan Bintang dirawat. Bulan hanya diam. Ia tak menjawab ucapan-ucapan Dirga yang sedari tadi mengajaknya ngobrol.


"Kamu bisa kan masuk sendiri? Mas tunggu di sini ya." ujar Dirga pelan dan lembut


Bulan masih diam tak merespon saat Dirga telah membuka pintu ruangan di mana Bintang dirawat. Mata Bulan terfokus pada Bintang yang terbaring tak berdaya dengan selang infus dan alat-alat bantu medis yang melekat ditubuhnya.


Bulan tak segera menjalankan kursi rodanya. Ia menatap suaminya sejenak untuk memastikan bahwa suaminya tidak keberatan. Dirga mengangguk tanda meyakinkan Bulan. Namun Bulan segera menggelengkan kepalanya takut sembari menitikkan air matanya yang pilu.


"Kenapa? kamu takut? mas nggak bakalan marah sama kamu. Maafin perbuatan mas ya." Dirga meyakinkan


"Sekarang kamu masuk untuk temui Bintang. Oke..."


Bulan mengangguk seraya menunduk karna masih takut dengan tatapan suaminya. Ia tak mampu menatap Dirga karna takut ia akan luruh dengan mata Dirga yang selalu ia cintai.


Akhirnya Dirga mendorong kursi roda Bulan hingga masuk kedalam ruangan Bintang. Ia merasa sedikit nyeri dengan kondisi sepupunya yang terbaring lemah tak berdaya. Dirga menyesali perbuatan bodohnya pada malam itu. Hampir saja ia membunuh calon anaknya. Dirga beringsut mundur dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Bulan dan Bintang berdua.


Bulan tak menoleh untuk mengantar kepergian suaminya. Ia hanya memastikan bahwa suaminya telah keluar dari ruangan. Bulan membawa kursi rodanya untuk lebih mendekat dengan Bintang. Ia tatap wajah pucat yang dulu pernah sangat ia cintai, yang membuat ia terpaku akan cintanya, dan merangkul bahu Bulan untuk tetap berjalan.


"Bin-bin..." lirih Bulan sembari menggenggam tangan Bintang


Cukup lama Bulan memandangi wajah Bintang, berharap akan ada keajaiban dari Tuhan. Air matanya tak bisa lagi terbendung. Sesekali ia terisak.


"Maafin aku yang dengan mudahnya berpaling Bin hiks."


" Harusnya waktu itu aku tau tentang permasalahan hidup kamu, supaya aku tetap disisi kamu saat kamu berada di titik duka. Maaf Bin. Maaf..."


"Tapi kepergian kamu membuat aku terluka, sangat terluka hiks"


"Aku cuma mau ada di bagian kelebihan dan kekurangan mu. Tapi kamu hadir lagi di saat hati ini telah dimiliki. Maaf..."


Bulan menggenggam erat tangan sahabatnya itu dengan air mata yang masih sangat deras. Bulan segera mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Aku memang mencintai mas Dirga. Tapi bolehkah kamu jangan pergi? bolehkah kamu tetap di sini? menjadi sahabatku selamanya, menjadi teman bercerita, dan menjadi paman untuk anak ku nanti." tutur Bulan sembari mengusap punggung tangan Bintang


"Kamu sangat berarti di hidupku. get well soon Bin."


Sedangkan di balik pintu, Dirga tengah memandangi istrinya dari kaca pintu. Berkali-kali ia menghela nafasnya. Kali ini ia benar-benar harus menahan rasa cemburu demi keselamatan hubungannya.


"Apapun yang terjadi aku nggak akan melepas kamu sayang. Karna kamu cuma punya ku" gumam Dirga

__ADS_1


"Permisi Tuan." sapa pria bermasker. Sebut saja 'Mr. G"


Dirga menoleh kearah sumber suara "Ada apa genius?" tanya Dirga


"Saya membawa ini, tuan" Mr. G menyodorkan beberapa lembar foto


Dirga menerima foto-foto itu dari tangan Mr. G. Dirga tersenyum miring sembari menggelengkan kepala.


"Apa sudah kamu selidiki?" tanya Dirga lagi


"Sudah tuan. Anda bisa memeriksanya sendiri di e-mail yang saya kirim."


"Ck. Bukannya ini kesempatan untukmu?"


"Saya ingin gadis nakal itu mengetahuinya sendiri, tuan." jawab Mr. G


"Mungkin akan lama untukmu genius."


"Tidak masalah tuan."


"Jadi, apa kau datang hanya untuk informasi ini?" goda Dirga


"Maaf saya mengganggu waktu anda tuan." ujar Mr. G sopan dan datar.


"Aku takut kau akan kebagian bekas." Dirga terkekeh sendiri


"Tidak masalah tuan." Mr. G masih dengan keformalan nya


"Aku akan membantumu, tapi aku tidak berjanji. Kau tau bukan gadismu itu sangat keras kepala."


"Saya yakin akan takdir Tuhan, tuan."


" Kau sangat mencintainya meski kau harus terluka. Terimakasih telah menjaganya selama ini." Dirga menepuk pundak Mr. G


"Itu sudah tugas saya tuan."


"Adik dari tuan Wisnu akan datang dari luar negeri lusa, tuan. Yang saya dengar ia sangat membenci nona Bulan." lapor Mr. G


Dirga diam untuk mencerna ucapan Mr. G. Adik bang Wisnu berarti saudara tiri dari Bulan. Setelah ini ia akan dihadapkan pada situasi yang tak kalah sulit tentunya.


"Awasi terus gerak-geriknya. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Bulan. Jangan biarkan ia menyentuh Bulan sedikitpun." perintah Dirga


"Baik tuan" patuh Mr. G


"Pergilah."


"Permisi Tuan." pamit Mr. G pada Dirga


"Hmmm"


Dua hari sebelumnya


"Kak. Lihat ini bagus nggak?" Oliv memperlihatkan sepasang baju Couple pria-wanita


"Jelek." Ketus Marcel


"Tapi ini lucu. Kita beli ya." rayu Oliv


"Kamu pake aja sendiri."


"iiiih nyebelin banget sih." Oliv menghentakkan kakinya di lantai Mall kemudian berlalu menuju kasir.


Oliv menyerahkan sepasang baju Couple untuk dirinya dan Marcel ke kasir.


"Berapa mbak?" tanya Oliv


"Nggak jadi beli mbak." sahut pria bermasker di samping Oliv.

__ADS_1


Oliv melirik ke arah pria itu untuk memastikan bahwa bukan belanjaannya yang dimaksud.


"Jadi berapa mbak?" tanya Oliv lagi


"Nggak perlu dibeli." ketus pria bermasker itu menahan Oliv yang hendak mengeluarkan isi dompetnya.


"Hei. Anda siapa? Apa maksud anda?" kesal Oliv


"Jelas-jelas pacar anda tidak ingin baju alay itu. Untuk apa anda memaksa." ujar pria penuh penekanan.


"Suka-suka saya. Apa hak anda melarang saya?" kesal Oliv dengan sengit


"Seharusnya anda tau diri nona


Sebelum anda menyesal. " Ujar pria bermasker itu tak kalah sengit.


"Maaf nona, totalnya 950.000," timpal sang kasir


"Oke mbak." Oliv mengeluarkan isi dompetnya namun terlebih dahulu pria bermasker itu menyodorkan kartu nya.


"Hei. Saya masih mampu untuk beli sendiri." Oliv semakin kesal dengan pria di sampingnya.


"Baiklah anda bisa menggantinya, nona." ujar pria itu sembari menerima paper bag dari penjaga kasir.


"Berikan itu padaku." ketus Oliv


Pria bermasker itu mengambil salah satu baju dari paper bag itu lalu memberikannya pada Oliv. Di balik maskernya ia menyeringai.


"Hei. kenapa anda..."


"Heiiiii pria gila sinting!!!" teriak Oliv saat pria itu pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bernafas lega untuk satu chapter hari ini


See you next episode guys ♥️

__ADS_1


__ADS_2