Past For Future

Past For Future
Ngidam itu


__ADS_3

Happy reading PFF Lover ♥️


.


.


.


.


.


Oliv keluar dari mobil Marcel kemudian berlari sambil menyeka air matanya. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri untuk mencari taksi. Beruntung, ada taksi yang baru saja berhenti di dekatnya. Ia segera membuka pintu taksi itu


bruukk


Ia menutup pintu mobil.


"Ke perumahan pondok xxxx ya pak." perintah Oliv


"Maaf mbak, tapi saya lagi bawa penumpang." ujar sopir itu sopan.


Oliv menatap ke samping dan ternyata ada penumpang lain selain dirinya.


"Oh, ya udah. Maaf pak, saya turun aja kalo gitu."


"Nggak perlu." timpal penumpang di sampingnya sembari menahan tangan Oliv.


"Eh, nggak papa kok mas. Saya turun aja." tutur Oliv sopan.


"Jalan pak." titah pria itu pada sopir.


"Tapi nanti mas nya gimana?"


Pria itu hanya diam tak menanggapi pertanyaan Oliv. Oliv pun hanya bisa menghela nafas. Terserah lah yang penting sekarang ia ingin segera pulang untuk mengambil motor gedenya. Setelah itu entah ia akan kemana. Yang jelas ia hanya ingin melampiaskan amarahnya dengan gas motornya.


"Nih." Pria itu menyerahkan sapu tangannya tanpa menoleh ke arah Oliv.


"Eh?" Oliv terkejut.


"Masih bersih." ucap pria itu cuek.


"Makasih." Oliv menerima sapu tangan itu kemudian menghapus air matanya.


"Kayaknya aku kenal orang ini sih. Perasaan aku ketemu terus sama cowok yang pake masker sama topi. Apa mereka orang yang sama?" heran Oliv dalam hati.


"Maaf mas. Apa mas ini orang yang nyelamatin saya waktu itu?" tanya Oliv


"Bukan." singkat pria bermasker itu.


"Oh, maaf saya salah orang. Soalnya suaranya mirip." Oliv kemudian menyandarkan tubuhnya dan memandangi keluar kaca mobil.


"Kenapa sih urusan percintaan gue nggak pernah mulus. Dulu ditinggal nikah sama Stef, sekarang sama Marcel bertepuk sebelah tangan. Ya ampun Liv Liv, kurang apa sih. Cantik udah, bohay udah, pinter masak iya." Oliv terus ngedumel dalam hatinya dan kembali menitikkan air matanya.


"Lembek banget sih." gumam pria di samping Oliv.


"Eh, maaf mas. Ngomong apa tadi?" Oliv mendekatkan telinganya ke arah pria itu.


"Lembek banget." ujar pria itu lagi dengan nada datar.


"Mas nya kalo nggak tau apa-apa mending diem deh. Mas tu nggak tau permasalahan hidup saya." Oliv mulai nyolot.


"Saya tau."


"Apaaaa??" suara melengking Oliv mulai memekak kan telinga.


Pria itu menutup telinganya "Suara anda sangat tidak enak di dengar, nona."


"Ck, anda sungguh menyebalkan." Oliv menyilang kan kedua tangannya di perut.

__ADS_1


"Hati-hati loh, nanti mbak sama mas nya jodoh." sopir taxi itu terkikik geli


"Haduh jangan deh pak. Merinding saya kalo berjodoh sama dia." Oliv berbicara dengan nada yang pelan namun masih terdengar oleh pria bermasker itu.


"Hati-hati dengan ucapan anda nona." pria itu memberi peringatan.


"Nyenyenye." Oliv hanya menye-menye menanggapi ucapan pria itu.


Mereka berdua pun akhirnya saling membisu sampai di depan persimpangan Oliv meminta sopir untuk berhenti.


"Berhenti di simpang aja ya pak."


"Baik mbak."


"Ini ya pak. Lebihnya ambil aja." Oliv memberikan tiga lembar uang merah pada sopir itu.


"Terimakasih banyak ya mbak." sopir itu menundukkan kepalanya sopan.


"Dan ini untuk mas nya." Oliv menyodorkan dua lembar uang merah pada pria itu "Untuk ganti sapu tangan anda. Soalnya saya nggak berharap kita bertemu lagi untuk mengembalikannya." imbuh Oliv


"Baik, saya taruh di sini ya. Terimakasih sebelumnya mas. Permisi." Oliv menaruh uang itu di samping pria itu kemudian keluar dari taksi.


Baru beberapa langkah, pria itu memanggil Oliv dari dalam taksi.


"Nona Oliv," teriak pria itu. Oliv memutar lagi tubuhnya menghadap pria itu.


"Iya?"


"Ini ambil saja uang anda. Belajarlah untuk tidak menghargai semua dengan uang." pria itu melempar dua lembar uang itu ke dada Oliv.


"Jalan pak." titah pria itu pada sopir.


"Woiiiii.... Jangan songong jadi orang!!!" teriak Oliv namun tak digubris.


"Hiiiiih nyebelin banget sih. Gue sumpahin jodoh elo kayak emak rempong!!" Oliv menghentakkan kakinya kesal.


...


Sedangkan di sebuah kamar pasutri Bulan dan Dirga, tampak mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bulan sibuk cekikikan dengan ponselnya, sedangkan Dirga tengah fokus dengan pekerjaan di laptopnya.


"Mas..." panggil Bulan manja sambil bergelimpungan di kasur.


Dirga yang seperti mendapat panggilan manja pun langsung mendongakkan kepalanya tersenyum sumringah.


"Eh, iya sayang. Ada apa?" tanya Dirga antusias.


"Aku boleh minta sesuatu nggak?" Bulan memanyunkan bibirnya.


"Boleh dong sayang. Kamu mau apa aja mas turutin." ujar Dirga sambil berjalan mendekati istrinya "Mau apa hmm??" Dirga ikut merebahkan diri dan menompang kepalanya agar dapat melihat wajah ayu istrinya dengan jelas.


"Yuhuuu. Nggak sia-sia kamu puasa, Pino. Sebentar lagi si Pina bakalan ngucapin welcome atas kunjungan kamu." sorak Dirga dalam hati.


"Aku ngidam." Bulan memainkan kedua jarinya.


"Dengan senang hati sayang. Pino akan masuk dengan pelan kok."


"Ngidam apa? Mau Pino hmm? Mas juga kayaknya ngidam si Pina." Dirga ngeres.


"Nggak." ketus Bulan sembari menatap tajam suami mesuum nya.


"Eh?" Dirga menyerngitkan dahinya "Terus??"


"Tapi janji jangan marah?" Bulan menjentikkan kelingkingnya.


"Gara-gara kamu, Pino, si Pina jadi bengkak kesakitan. Sekarang dia merajuk panjang deh. Dasar nggak ada akhlak kamu Pino. Gagal buka puasa." gerutu Dirga


"Kok diem sih. Mas nggak mau nurutin ngidam aku?"


"Eh, iya mau kok sayang. Kamu mau apa aja mas turutin. Mau perhiasan, mobil, atau pulau juga bakalan mas beliin."

__ADS_1


"Tenang Dirga. Mumpung istri kamu nggak marah, jangan bikin masalah lagi."


"Aku... Aku pengen-- pengen peluk Bayu gembul." ucap Bulan terbata


"Apa???" kejut Dirga yang langsung terduduk.


"Nggak boleh ya?" Bulan menundukkan kepalanya sedih sembari mengelus-elus perutnya "Sabar ya nak. Maaf kalo lahir, kamu nya ileran." imbuh Bulan dengan mode pura-pura sedihnya.


"Eh, jangan ileran dong. Emang kamu nggak pengen yang lainnya sayang? Harus pacar absurd kamu itu?" tanya Dirga yang masih tak percaya dengan keinginan istrinya.


"Mau peluk Bayu..." rengek Bulan.


"Oke-oke. Tapi jangan lama-lama ya. Besok dia suruh kesini aja. Tapi janji jangan lama-lama." Bulan mengangguk hore dengan keputusan Dirga.


"Boleh bawa David sama Sandra kan?" Bulan merangkul tangan Dirga untuk merayu.


"Ya ampun, ngelunjak!"


"Iya nggak papa, suruh aja temen-temen kamu satu angkatan ke sini semua." Dirga tersenyum kecut seraya mengelus rambut istrinya.


"Yeayyy. Beneran yaaa." Bulan memeluk pinggang Dirga.


"Iya tapi ada syaratnya."


"Jangan, Pina nya masih sakit. Rasanya kayak orang habis lahiran." ucap Bulan yang membuat Dirga tertegun


"Oh iya. Dasar Dirga bodoh! Bulan kan habis keguguran. Bisa gawat kalo Pino masuk sekarang."


"Enggak kok. Mas cuma mau ngobatin Pina aja." ujar Dirga "Mas ambilin obatnya dulu."


"Tapi aku olesin sendiri aja deh Mas." tawar Bulan


"Jangan. Nanti nggak rata loh."


"Tapi--


"Buka kakinya." perintah Dirga namun Bulan malah merapatkan kakinya.


"Aku sendiri aja." tolak Bulan


"Tapi Bayu nggak jadi ya." ancam Dirga


Dengan segala keterpaksaan akhirnya Bulan membuka kakinya dengan malu serta takut kalau Pino mengajak Pina anu-anuan lagi. Bulan memejamkan mata saat Dirga melepas celana dal*m nya dan mengoleskan sesuatu pada Pina nya.


Bulan menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara gila nya. Ia mencengkram seprai dengan erat saat Dirga dengan sengaja berlama-lama mengusap dan memainkan Pina dengan tangannya.


"Akhhhh..." akhirnya satu suara gila lolos dari mulut Bulan.


"Mas udah!!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Apa? Hehehew


Jangan jadi pembaca bayangan kalo suka part ini. wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2