
...Setiap momen akan tertata rapi dalam rak kenangan. Melodi indah itu akan selalu jadi alunan yang bergetar dalam hati....
...Bintang, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali, izinkan aku mencintaimu untuk hari ini....
...Terimakasih untukmu, untuk jasamu, untuk cintamu. Bintang, aku mencintaimu untuk hari....
.
.
.
.
.
.
.
Setelah memberi nasihat pada Bulan malam itu, Bintang ambruk tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur deras dari hidungnya. Bulan, Dirga, dan Bunda tampak begitu cemas menunggu di depan ruangan UGD.
Bulan menggigiti jari nya sedari tadi dengan air mata yang sudah mengalir deras, begitu juga dengan Bunda. Dirga tampak mondar-mandir di depan pintu dengan perasaan cemas.
Sudah dua jam setengah, namun dokter tak kunjung membuka pintu.
"Aku mohon, Bin. Jangan pergi. Jangan tinggalin aku, Bin. Ya Allah, selamatkan lah sahabat hamba."
cklekk
Pintu dibuka menampilkan dokter dan para suster di belakangnya.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" tanya Bunda antusias
"Kanker nya sudah menjalar ke seluruh tubuh pasien. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kondisi pasien sudah sangat parah. Dan maaf, pasien telah diambil oleh Yang Maha Kuasa."
"Jangan bercanda dok!! putra saya masih hidup!" hardik Bunda dengan isak tangisnya
Dirga meraih bahu Bunda untuk menenangkannya lalu mengajaknya untuk duduk. Bulan yang terkejut dengan pernyataan dari dokter, langsung menangis meraung sembari menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Ini nggak mungkin!" teriak Bulan pilu
Bulan segera menjalankan kursi rodanya menuju kedalam ruangan itu. Ia terus memutarkan rodanya hingga sampai dihadapan jenazah Bintang yang sudah diselimuti kain putih. Bulan memaksakan diri untuk berdiri dan membuka kain yang menyelimuti Bintang.
"Bintang bangun....!!!" teriak Bulan "Kamu nggak boleh pergi Bin. Aku nggak ngizinin kamu pergi!!" teriak Bulan sembari mengguncang tubuh kaku Bintang.
"Kenapa Tuhan ambil nyawa kamu secepat ini?? Kenapa??" Bulan meraung
"Sayang," panggil pria yang baru saja datang bersama Bunda.
Bulan tak menggubris panggilan suaminya. Ia masih meraung seraya menepuk-nepuk pipi Bintang. Bunda pun ikut menangis tak kalah haru nya saat melihat tubuh putranya terbujur kaku.
__ADS_1
"Bintang, jangan pergi. Aku mohon. hiks." Bulan memeluk jenazah Bintang.
"Nak, bangunlah nak. Jangan tinggalin Bunda sendiri."
"Sayang, tolong tenanglah." ujar Dirga sembari membawa pundak Bulan untuk berdiri.
"Jangan sentuh aku!!" Bulan menepis tangan Dirga dari pundaknya "Jangan sok peduli sama aku. Aku benci sama kamu mas!" bentak Bulan
Dada Dirga sangat nyeri saat Bulan membentaknya, namun dengan segera ia menepis perasaannya. "Sayang, bunda, jangan kayak gini. Kita harus ikhlasin Bintang. Bintang udah tenang di sisi Allah." bujuk Dirga namun tak dihiraukan mereka berdua.
Jenazah Bintang dipulangkan di rumah duka. Semua kerabat keluarga ikut hadir untuk turut berdukacita atas meninggalnya Bintang. Meskipun hari telah larut malam, namun rumah duka tampak begitu ramai.
Sekarang Bulan. Bulan duduk di sudut ruangan dengan lamunan dan mata yang sudah sangat membengkak. Ia menatap jenazah Bintang dikerubungi banyak orang yang tengah membacakannya doa.
"Bintang, bangunlah. Izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali, izinkan aku mencintaimu untuk hari ini. Tolong bangun, Bin." Bulan kembali terisak namun dengan air mata yang tertahan.
Rencana jenazah Bintang akan dikebumikan esok pagi. Para pelayat yang datang tampak membubarkan diri dan pulang. Namun Bulan masih berdiam diri sendiri, di pojokan ruang. Ia masih setia memandangi tubuh yang sudah dikafani itu.
Dirga menghampiri Bulan "Sayang, kita pulang dulu ya. Besok pagi kita kesini lagi." bujuk nya, namun Bulan menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
Dirga menghela nafas "Ya udah, kita istirahat di kamar tamu aja ya. Kamu harus istirahat, inget kondisi anak kita yang harus dijaga." Bulan hanya diam tak merespon.
Dirga pun akhirnya mendorong kursi roda Bulan hingga ke kamar tamu. Ia memapah tubuh Bulan untuk berbaring keranjang.
"Kamu istirahat dulu ya. Jangan terlalu membebani pikiran kamu, kasian dia juga pasti akan tertekan." ujar Dirga sembari mengelus lembut perut rata Bulan
Bulan hanya mengangguk pasrah. Toh, dia tidak bisa egois. Tuhan telah mengambil nyawa sahabatnya. Untuk itu ia juga tak bisa membahayakan calon anaknya karna terlalu banyak pikiran.
"Ikhlaskan semuanya. Tuhan lebih sayang sama Bintang. Tuhan nggak mau Bintang menahan sakit lebih lama, untuk itu Tuhan mengambil nyawa Bintang lebih cepat. Sekarang Bintang udah bahagia di surga, dia udah nggak sakit lagi." bujuk Dirga agar Bulan lebih tenang.
Dirga terus mengelus perut Bulan dari belakang. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Bulan. Dirga mengecup kening Bulan dari samping kemudian merapikan rambut Bulan yang berantakan.
"Dulu saat Alyssa meninggal kamu nggak serapuh ini, Bulan. Bahkan kamu menunjukkan ketegaran kamu di hadapan banyak orang. Tapi sekarang, saat Bintang meninggal kamu bahkan menunjukkan sisi itu pada semua orang. Kamu menunjukkan bahwa kamu sangat kehilangan Bintang. Bulan, aku nggak akan menggantikan nama Bintang di hati kamu. Tapi aku akan belajar dari Bintang untuk membahagiakan kamu. I'm promise."
Mereka berdua larut dalam mimpi hingga pagi menjelang. Bulan mengerjapkan matanya saat silau matahari mulai menerobos masuk kedalam kamar. Ia merubah posisinya dan terduduk. Ia masih menyapu ke seluruh sudut ruangan sembari mengumpulkan nyawanya. Namun ia tak mendapati siapapun ada di dalam kamarnya.
Saat kesadaran telah terkumpul, ia mengusap wajahnya kasar kemudian berlari menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tak lama-lama, ia segera keluar dari kamar.
Ia menyapu ke seluruh ruangan namun tak mendapati satu orang pun. Rumah nampak sepi. Ia kemudian menghampiri seorang wanita yang tak sengaja lewat dari arah dapur.
"Mbak, tunggu." Bulan mencegah wanita itu.
"Iya, Mbak. Ada apa ya?" tanya wanita itu.
"Kemana semua orang?" tanya Bulan dengan tergesa.
"Ohh, itu di depan, Mbak. Lagi siap-siap untuk berangkat ke kuburan." jawab wanita itu.
"Oh, makasih ya mbak." Bulan segera berjalan tergesa-gesa untuk keluar. Ia terus memegangi perutnya dan berbicara pada anaknya dalam hati agar anaknya kuat.
Ia keluar dari rumah dan menuju halaman. Ratusan orang tengah mengerubungi ambulans yang akan membawa jenazah Bintang. Ingin sekali Bulan menerobos banyaknya orang di depannya, namun ia masih memikirkan calon anaknya bila ia nekad.
__ADS_1
"Bintang.... Tunggu aku!!!" teriak Bulan dengan tangis yang mulai terisak.
"Bintang, kamu nggak boleh pergi. Jangan tinggalin aku!!" teriak Bulan lagi namun tak ada yang mendengarnya.
"Bulan," seorang pria menghampiri Bulan. Bulan langsung mendekap pria itu dalam pelukannya.
"Bang, tolongin Bulan. Bintang nggak boleh pergi bang. Tolong cegat dia. Huuuuu." mohon nya pada bang Wisnu.
"Bulan, kamu harus kuat, ya." Bang Wisnu mengelus punggung Bulan untuk memenangkan.
"Bulan nggak bisa kayak gini, Bang. Tolong cegat Bintang. Bintang nggak boleh pergi lagi dari hidup Bulan, Bang." Bulan semakin meraung dalam pelukan Bang Wisnu.
Bang Wisnu melepaskan pelukannya "Bulan, tatap mata Abang." merangkup wajah Bulan.
"Bang... hiks."
"Kamu nggak boleh kayak gini. Bintang udah bahagia di sana. Kalo kamu di sini nangis, Bintang juga akan nangis di sana. Kamu adalah wanita yang kuat. Bintang nggak suka kamu lemah kayak gini. Jangan nangis lagi, Bintang nggak akan suka itu." Bang Wisnu mencoba untuk menasihati Bulan "Kamu sayang kan sama sahabat kamu?" tanya Bang Wisnu dengan menatap mata Bulan intens.
Bulan menganggukkan kepala
"Kalau gitu kita urus pemakaman Bintang bareng-bareng. Kalo kamu sayang sama Bintang, kamu nggak boleh nangis. Kamu harus kuat. Oke??"
"Sekarang kita berangkat ya. Jangan sedih." ujar Bang Wisnu kala sirine Ambulans berbunyi dan melaju.
Bulan menatap nanar kepergian mobil itu kemudian mengangguk pada Bang Wisnu.
"Aku mencintaimu, Bintang. Aku mencintaimu hari ini, untuk yang terakhir kalinya. Maafkan aku yang nggak bisa menemani kamu kala kamu berada di titik terapuh."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat jalan Binatang 🤍