
"Eh mau ngapain?" kejut Bulan saat Dirga melepas pakaiannya dan ikut masuk kedalam bathtub
"Mandiin kamu lah sayang. Sini aku pakein sabun." ucap Dirga dengan santai
Muka Bulan sudah semakin merah padam. Rasa malu serta kesal semakin jadi saat Dirga dengan sengaja bermain di bagian sensitifnya.
Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara sexiii nya. Bulan memejamkan matanya saat sesuatu yang keras menyentuh punggungnya.
"Aaaaaaaaaaaaaa...." Dirga berteriak saat Pino nya di pukul dengan keras oleh Bulan
"Sayanggg augghhh," Dirga menahan sakit "Ini masa depan kamu arrrghh." Dirga meringis kesakitan lalu beranjak menuju shower.
Sama sekali tak merasa bersalah, Bulan malah semakin kesal dengan suaminya yang bermain solo di depannya. Bulan menghela nafas berkali-kali sembari menggelengkan kepala saat melihat suaminya mantap-mantapan dengan sabun mandi.
"Kamu besok jangan kaya ayahmu yang nyebelin itu ya nak."
"Sayang..." panggil Dirga saat telah selesai dengan urusannya. Ia pun sudah memakai jubah mandinya.
"Hmmm"
"Udah yuk. Dingin." ujar Dirga yang dibalas anggukan kepala Bulan
" Gue juga udah menggigil dari tadi pak tua gila." gerutu Bulan
Dirga akhirnya memakaikan Bulan jubah mandi lalu menggendongnya menuju brankar. Dengan segera ia menelfon seseorang untuk mengantarkan baju ganti untuk mereka berdua.
tok tok tok
Pintu diketuk dari luar saat Dirga baru saja selesai menelfon. Dirga menyelimuti Bulan hingga batas leher untuk menghindari hal yang tak ia inginkan.
cklekk
"Permisi Tuan." sapa orang yang baru masuk
"Ada apa Cel?" tanya Dirga sembari mendudukkan dirinya di sofa "Duduk." Dirga mempersilahkan Marcel untuk duduk di sofa.
Marcel sesekali melirik kearah Bulan yang terbungkus selimut. Bulan tampak acuh dan memilih memainkan ponselnya.
"Ehem." Dirga berdeham dengan keras
"Em maaf mengganggu waktu anda Tuan. Ini berkas-berkas yang harus anda tandatangani." Marcel menyerahkan beberapa map pada Dirga.
"Apakah perusahaan Maxi sudah mengajukan permohonan kerjasama pada perusahaan kita?" tanya Dirga namun tak dihiraukan oleh Marcel yang sibuk memperhatikan Bulan.
Dirga menghela nafas berat untuk menenangkan dirinya. Andai saja Bulan tidak sakit mungkin saat ini ia sudah memberikan Marcel bogeman mentah karna sudah berani menatap istrinya.
"Marcel sebaiknya kau kembali ke perusahaan saja. Aku sudah menandatangani semua. Untuk urusan lainnya bisa kau kirim melalui E-mail." perintah Dirga dengan suara yang dibuat lantang.
"Eh ba..baik tuan." Marcel menjawab dengan glagapan
"Kalau begitu saya permisi." pamit Marcel sopan
"Dasar hidung belang. Untung sahabatku, kalau tidak sudah ku cincang tubuhmu itu." geram Dirga saat Marcel telah keluar.
"Heleh lebay." gumam Bulan sambil menye-menye kan mulutnya
__ADS_1
"Apa sayang??" tanya Dirga yang mendengar gumaman Bulan. Bulan tak menjawab Dirga. Ia tetap asik dengan ponsel barunya.
"Heiii..." Dirga menarik ponsel Bulan kemudian menaruhnya di atas nakas. Bulan menatap suaminya dengan kesal kemudian membelakangi Dirga dan sedikit meninggikan selimutnya.
"Jangan gitu dong." bujuk Dirga lalu ikut berbaring di atas brankar
"Hei..." Dirga menoel-noel punggung Bulan
"Sempit." ketus Bulan
"Ya makanya sini mepet." Dirga menggeser tubuh Bulan untuk mendekat. Bulan hanya diam saja tak menerima ataupun menolak.
"Sayang..." bisik Dirga tepat di telinga Bulan
Tak kunjung mendapat respon, Dirga menyibak rambut Bulan lalu mengusel-usel di cenguk Bulan. Sesekali ia menghisapnya lembut.
"Dasar muncung. Otaknya ngeres terus." gerutu Bulan kesal
tok tok tok
Pintu kembali diketuk. Dirga turun dari brankar kemudian membuka pintu yang ternyata adalah orang suruhan Dirga untuk membawakan baju.
Dirga menuntun Bulan ke kamar mandi untuk memakai baju. Bulan tidak lagi malu saat tak mengenakan baju di depan suaminya, toh tiap hari juga dilihat. Setelah selesai mereka kembali berbaring di brankar.
"Kamu wangi banget sih sayang." Dirga terus menguyel-uyel cenguk Bulan manja. Bulan yang kesal pun langsung menyikut perut Dirga.
"Aaaauuwhh Sayang kamu kenapa sih." keluh Dirga yang meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Turun!" ketus Bulan
"Sa.."
"Iya-iya." pasrah Dirga kemudian turun dari brankar
"Apa?" Bulan melotot judes menatap suaminya yang juga memandangnya
"Kenapa sih yank." Dirga memasang wajah memelas
"Kenapa-kenapa. Tadi kamu bilang aku bauk. Sekarang udah wangi malah keenakan meluk-meluk. Aku masih marah sama kamu, inget itu. Sana kamu temuin aja selingkuhan kamu." Sulut Bulan berapi-api. Bulan membelakangi Dirga lagi sembari menitikkan air matanya.
"Selingkuhan?" Dirga mencerna ucapan Bulan "Selingkuhan apa sih?" Dirga masih kebingungan dan mencoba mencernanya lagi ucapan Bulan. Cukup lama Dirga berfikir. Saat telah ingat sesuatu, Dirga menepuk jidatnya.
"Sayang. Mas nggak selingkuh. Kamu tu salah paham. Waktu itu mas emang makan siang sama sekertaris mas, tapi itu nggak sengaja sayang. Waktu itu kami selesai meeting jadi sekalian makan siang." Dirga mencoba menjelaskan pada Bulan
Bulan terduduk lalu melempar Dirga dengan bantal. "Tuh kan mas selingkuh beneran. Sana pergi jauh-jauh. Mas jahat banget. Aku mau pisah! Aku benci sama mas" teriak Bulan berapi-api sambil terisak
"Eh. Sayang kamu ngomong apa sih. Jangan gitu."
"Sana pergi. Keluar!!" teriak Bulan
"Sayang kamu tu salah paham. Kamu tenang dulu ya." Dirga mencoba untuk mendekati Bulan namun ia kembali mendapat lemparan bantal.
"Aku bilang pergi!!" teriak Bulan lagi
"Oke-oke. Tapi kamu dengerin penjelasan mas dulu sayang. Nggak mungkin mas suka sama cewek lain kalo istri mas secantik ini. Sedangkan sekertaris mas aja culun begitu." Dirga mencoba membujuk Bulan lagi
__ADS_1
"Tapi mas suka kan kalo mas nyicipin perawan lagi. Iya kan?" Ujar Bulan masih dengan nada yang tinggi
"Ya ampun sayang kamu ngomong apa lagi sih?" Dirga semakin bingung menghadapi istrinya yang tengah marah.
"Udah sana mas pergi aja. Mas mau celap-celup terserah aku nggak peduli!!"
"Tapi mas maunya celap-celup sama kamu sayang." bujuk Dirga dengan kata-kata ngeres
"Mas tu nggak sayang sama aku. Mas sukanya main kasar. Mas tu jahaaattt!!" rengek Bulan
"Sayang plis jangan kayak gini."
"Keluar atau aku yang keluar." ancam Bulan
"Oke mas keluar. Tapi jangan fitnah mas lagi sayang dan jangan pernah bilang tentang perpisahan, mas nggak sanggup." tutur Dirga memohon
Bulan hanya melengos tak menanggapi ucapan Dirga lagi. Tak ingin istrinya marah lagi, akhirnya Dirga memutuskan untuk keluar dari ruangan Bulan dengan perasaan yang campur aduk.
Dirga duduk di kursi lalu mengusap wajahnya kasar. Sesekali ia memukuli kepalanya sendiri.
"Aaarrrrgggghhh. Kenapa jadi seribet ini."
"Kamu pikir cuma kamu yang cemburu. Aku juga cemburu. Bintang, Marcel, belum lagi yang ngelirik-ngelirik kamu di luaran sana." ucap Dirga dengan kesal
"Sekarang malah nuduh-nuduh aku celap-celup nyicipin perawan lagi. Ya ampun Bulaaaan punya satu kayak kamu aja udah buat stress. Aaarghh." Dirga mengacak-acak rambutnya frustasi
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa ya? hehe
__ADS_1
Pokoknya like, komen, vote dan jangan lupa tambahkan ke rak kalian yah🤗
See you next episode PFF Lover ♥️