Past For Future

Past For Future
Lamaran?


__ADS_3

Oliv mengecup kening Marcel dengan air mata yang sudah meleleh. Cukup lama Oliv menempelkan bibirnya di dahi Marcel sembari mengusap kepalanya. Berat. Rasanya sungguh tidak mampu menghadapi semua. Rasa yang tertanam telah berhasil tumbuh dengan sempurna, namun kali ini harus terpangkas habis. Dan kali ini ia harus menginjak mati setiap rasa yang kembali tumbuh. Sesak. Namun ia tak mampu lagi untuk kembali terluka. sudah cukup.


Oliv melepaskan ciumannya, "I love you," lirihnya.


Oliv mengusap wajah Marcel dengan sayang sebelum akhirnya ia hendak beranjak pergi. Baru sempat Oliv membalikkan tubuhnya namun tangannya ditahan oleh Marcel yang telah siuman.


Oliv memejamkan mata, "Cepet sembuh, aku mau pulang." ujar Oliv tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku juga cinta sama kamu, Liv. I love you more." ucap Marcel dengan suara lemahnya.


"Lepasin tanganku. Aku masih banyak urusan." cetus Oliv sembari membalikkan badannya ke arah Marcel namun tiba-tiba tangannya ditarik dengan kuat oleh Marcel.


brukk


Oliv ambruk di dada Marcel. Seperkian detik pandangan mereka bertemu. Sisa air mata tadi yang belum kering, kini membasahi lagi pipi Oliv. Ia tak ingin terus-terusan berada di posisi ini. Mencintai namun tak bisa memiliki.


"Aku pamit." Oliv bangkit dari dada Marcel.


"5 menit, Liv. Aku cuma butuh 5 menit. Pliiis, izinin aku bicara sama kamu." memelas Marcel.


"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, Kak. Mungkin kita memang nggak ditakdirkan untuk bersama. Jadi kembali lagi kayak awal, kamu cuma aku anggep sebagai kakak. Begitupun sebaliknya." Oliv tersenyum kecut.


"Tapi bukan hubungan itu yang aku mau, Liv. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua." Marcel memaksakan diri untuk duduk, dengan berat hati Oliv pun membantunya.


"Nggak ada yang perlu diperbaiki. Semuanya udah terlanjur. Jangan memaksakan diri untuk mencintai aku, Kak. Aku anggap hubungan kita nggak pernah terjalin, jadi Kak Marcel bisa anggap aku seperti adik, kayak dulu."


"Tapi Liv....,"


"Aku pamit, ya. Assalamualaikum." pamit Oliv memotong ucapan Marcel.


"Aku akan melamar kamu di depan keluarga kamu, Liv!!!" teriak Marcel saat Oliv membuka pintu.


Oliv kembali menoleh, "Pikiran nasib anak kamu, Kak. Dia pantas mendapatkan cinta dari kedua orangtuanya."


"Kalau gitu, hiduplah bersama aku dan Boy."


Oliv tertegun, pikirannya kembali pada kedua orangtuanya. Dengan barat hati, Oliv melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ucapan terakhir Marcel.


"Liv," sapa Verta.


"Jagain Kak Marcel, ya." Oliv tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Verta.


"Pikirkan keputusan kamu baik-baik, Liv." Verta sedikit berteriak, namun Oliv tetap mantap untuk melanjutkan langkahnya.


***


Sedangkan di sebuah Mansion keluarga Baskara, kedua orangtuanya Dirga baru sampai dari luar kota. Bulan dan Dirga pun ikut serta untuk menyambut kepulangan Papa dan Mama.


"Gimana, Ga?" tanya Papa seraya mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga.


"Oliv udah mengakhirinya." jawab Dirga.


"Terus di mana adik kamu sekarang?" timpal Mama.


"Jenguk Marcel, habis kecelakaan." Dirga menjawab malas.

__ADS_1


"Kecelakaan?" Mereka mengerutkan keningnya.


"Kok kamu nggak bilang sama aku sih, Mas?" protes Bulan.


"Kok bisa, Ga?" Mama ikut antusias.


"Yaa, gara-gara ngejar Oliv tadi malem."


Mereka semua terdiam untuk mencerna reka kejadian. Papa memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing, sedangkan Mama memegangi dadanya dengan iba.


Mereka semua menoleh saat suara salam seseorang terdengar. Oliv berlari kemudian berlutut di hadapan kaki kedua orangtuanya. Suara isak tangisnya terdengar memilukan yang membuat semua orang tersentuh.


"Mama, Papa. Maafin Oliv." mohon Oliv dengan pilu.


Mama dan Papa saling menggenggam. Kemudian Papa membawa bahu Oliv agar berdiri. Ditatapnya wajah Oliv yang sudah sangat berantakan, terlihat sekali bahwa putri mereka sedang terluka sangat dalam.


"Ma, Pa...." Oliv menghambur ke pelukan kedua orangtuanya. Isak tangis tanpa suara itu menambah kesan pilu yang Oliv sedang rasakan.


Cukup lama Oliv larut dalam pelukan hangat kedua orangtuanya, hingga ia merasa tenang.


"Nak...," Papa mengusap kepala Oliv lembut. Mama masih ikut larut dalam kesedihan yang putrinya rasakan.


"Oliv kangeeennn.... Huwaaa." tangis Oliv semakin meraung.


"Oke-oke, dengerin Papa dulu." Papa Tomi merangkup wajah putrinya, "Apa kabar, sayang?" tanya Papa lembut.


"Oliv baik, Ma Pa." jawab Oliv bohong, namun matanya menampilkan kejujuran bahwa ia tengah terluka.


"Sini duduk dulu, Sayang." Mama memberi ruang agar Oliv duduk di tengah mereka.


"Ke... kenapa, Kak?" gugup Oliv.


"Ka...,"


"Nak, kamu udah makan?" Mama memotong ucapan Dirga.


"Em, belum, Ma." jawab Oliv sembari melirik kearah Kakaknya.


"Apa yang membuat kamu lupa untuk makan, Liv? Apa karna laki-laki berengseek itu ha??" tatapan Dirga sudah sangat tajam.


"Dirga..." Papa menggelengkan kepalanya kearah Dirga. "Nak," Papa menepuk pundak Oliv.


"Iya, Pa."


"Kita makan dulu ya." Oliv mengangguk setuju.


Hari berganti hari hingga minggu ke minggu, kini Oliv lebih sedikit berinteraksi. Ia lebih suka mengurung dirinya di dalam kamar. Ada perasaan yang mengganggu dirinya. Lebih tepatnya susah move on.


Kini ia tengah memandangi langit sore yang tertutup mendung hitam. Ia menyentuh kaca jendela seraya membayangkan wajah yang selalu ia rindukan. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Entah sudah berapa banyak air mata yang terkuras. Ia ingin segera menghentikan ini semua, namun hatinya begitu lemah. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin mencintai tanpa menimbulkan benci di antara keluarga nya.


"Boy..." lirih Oliv.


"Nggak, aku nggak boleh kayak gini terus. Aku harus melangkah lagi." Oliv mengusap air matanya.


tok tok tok

__ADS_1


Pintu kamar diketuk dari luar. Oliv segera melangkah dan membukakan pintu.


cklekk


"Ada apa?" tanya Oliv pada pelayan.


"Di bawah ada tamu, Nona. Tuan meminta Nona untuk turun kebawah." ujar pelayan sopan.


"Oke."


Oliv membersihkan wajahnya terlebih dahulu untuk membersihkan sisa-sisa air mataku kemudian berjalan menyusuri tangga.


deg


Matanya terpaku saat melihat seorang pria yang terduduk di kursi roda tersenyum padanya. Oliv memandangi satu persatu orang yang teramat asing baginya. Kini matanya tertuju pada sang Mama dan Papa yang juga sudah stay di sofa ruang tamu.


Oliv melangkah mendekat pada orangtuanya. Perasaannya tiba-tiba mulai tidak nyaman. Ia yakin akan ada masalah besar setelah ini.


"Ma, Pa..." tubuh Oliv bergetar di hadapan orang tuanya.


"Duduk." perintah Papa tanpa menatap Oliv.


Oliv mengangguk patuh, pikirannya mulai kalut. Tubuhnya semakin bergetar. Oliv melirik pada orang-orang asing di depannya yang Oliv yakini ialah keluarga pria yang tengah duduk di kursi roda itu.


"Karna Oliv sudah datang, maka perkenankan kami untuk menyampaikan maksud kedatangan kami kemari." ujar salah satu di antara mereka.


"Maaf, i... ini maksudnya apa?" Oliv semakin panik saat para pelayan membawa banyak bingkisan masuk.


"Kedatangan kami tak lain ialah untuk melamar putri dari Tuan dan Nyonya Baskara, Olivia."


deg


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang ngelamar hayoo


Ikuti terus kelanjutan cerita Past For Future guys 🤗


Woyyyy like nya woyy

__ADS_1


__ADS_2