Past For Future

Past For Future
Ssssstt


__ADS_3

Harap bijak dalam memilih bacaan, bab ini hanya untuk usia 21 tahun keatas ya😁


.


.


.


.


.


.


.


.


"Setengah atau full?"


"Full...!!" jawab Bulan.


Dirga tersenyum menang saat sang istri dengan antusiasnya mengajak permainan malam ini. Andaikan ia mengonsultasikan nya terlebih dahulu pada Dokter, mungkin bukan Bulan yang meminta namun Dirga yang menyerangnya lebih dulu.


"Mas, awas baby nya nanti kecepit...!!!"


"Nggak kok, Mas udah hati-hati arrrghh."


Dirga merebahkan dirinya di samping istrinya. Setelah merasa nafasnya mulai beraturan, Dirga mengusap perut Bulan sembari menciumi nya.


"Kamu sehat-sehat ya nak. Papah akan selalu jenguk kamu kok."


"Hiiih, dua Minggu sekali aja ya Pah." ujar Bulan dengan suara dibuat seperti anak kecil.


"Kok dua Minggu sekali sih." Dirga mendongak seraya memanyunkan bibirnya.


"Atau nggak sama sekali." Bulan menarik selimutnya kemudian memunggungi suaminya.


"Sayang, gimana kalo tiga hari sekali aja." rayu Dirga.


"Nggak." cetus Bulan.


"Ya udah, lima hari sekali deh." tawar Dirga lagi.


"No."


"Kamu mau minta apa aja mas turutin deh, yang penting jangan dua Minggu. Kelamaan tauk." Dirga menoel-noel punggung istrinya.


"Serius apa aja?" Bulan fokus dengan ucapan Dirga yang akan menuruti semua permintaannya.


"Apa aja untuk Mamah." Dirga memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.


"Balikin lagi Sandra ke kantor pusat. Kalo nggak, silahkan puasa sampe sembilan bulan."


"Eh? kok cewek itu lagi sih yang kamu bahas." Dirga mengerutkan keningnya.


"Jadi Mas nggak mau nurutin?" suara Bulan sudah mulai meninggi "Apa Mas nggak mikirin keluarga Sandra yang di sini? Dia itu cuma punya ibu. Dan Mas malah mindahin dia ke kantor cabang yang jauh banget cuma gara-gara rujak. Mas tu jahaaattt..." mata Bulan sudah berlinang.


"Yesss akting ikan terbang ku berhasilll!!!" sorak Bulan dalam hati.


"Eh, iya-iya. Maafin Mas ya. Jangan nangis lagi dong." Dirga mengusap wajahnya Bulan yang basah.


"Iya aku nggak nangis lagi. Tapi janji balikin Sandra kesini lagi ya." rengek Bulan.


"Oke, tapi ada syaratnya." Dirga tersenyum tipis.


"Syarat??" Bulan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Iya." ujar Dirga sambil membawa tangan Bulan ke arah Pino nya yang membuat Bulan mendelik.


"Kamu yang di atas ya. Pino masih mau jenguk baby lagi." Dirga mengedipkan sebelah matanya. Lagi-lagi Bulan hanya melongo tak percaya.


"Tapi, aku nggak tau caranya Mas." Bulan mencoba untuk ngeles.


"Caranya kayak yang pernah kamu tonton di hp waktu itu."


blush


"Buset, ketahuan." Bulan merutuki kebodohannya.


"Yok." Dirga duduk dan membopong tubuh istrinya ke pangkuannya.


" Aku nggak bisa Mas." Bulan menggelengkan kepalanya saat Dirga telah membawanya ke pangkuan.


"Udah, nanti Mas ajarin."


Bulan menutup mulutnya agar tak suara gilanya tidak keluar. Dirga pun memejamkan matanya menikmati sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Dengan gerakan perlahan namun pasti, mereka berdua baru menyelesaikan urusannya setelah memasuki waktu subuh.


***


Oliv terbangun dari tidurnya saat suara notifikasi dari ponselnya terus berbunyi. Ia meraba nakas mencari ponselnya, seketika ia mendelik saat melihat spam pesan yang mencapai 500 pesan.


"Siapa sih, nggak jelas banget." Oliv melempar ponselnya ke sembarang tempat.


ting


Satu pesan lagi masuk ke ponsel Oliv. Oliv mengerutkan keningnya saat tak mendengar notifikasi lagi. Ia meraba tempat di mana ia melemparkan ponselnya.


0218566xxxx send message


"Bangun."


Oliv reply


0218566xxxx send reply


"Bukannya saya sudah berpesan untuk menjaga diri kamu."


Oliv menyipitkan matanya kemudian duduk dengan terheran-heran.


"Siapa sih, nggak jelas banget. Kenal juga nggak." gumam Oliv


Oliv reply


"Maaf, saya tidak mengenal anda."


0218566xxxx send reply


"Saya ingatkan kamu untuk menjaga diri. Kamu adalah wanita yang seharusnya menjaga marwah keluarga. Percuma pendidikan tinggi kalau kamu tidak memiliki adab. "


Oliv mendelik tak percaya saat membaca pesan itu. Dengan segera ia menelpon nomor yang tidak ia kenal itu bersiap untuk memaki orang itu. Namun nihil, nomor yang baru saja mengirimkan pesan untuk Oliv itu tiba-tiba tidak aktif. Oliv terus mengulanginya lagi namun sama sekali tidak dapat dihubungi.


"Ini siapa sih, nggak jelas banget. Tau apa tentang hidup gue!!!" kesal Oliv


"Tapi bentar, pesan ini kok sama kayak yang kata-kata cowok yang nolongin gue itu ya. Atau jangan-jangan cowok yang mata-matai gue tadi malem?" Oliv menggigiti kukunya.


"Atau jangan-jangan." bulu kuduk Oliv langsung berdiri semua "Oh my God, Genius!!" Oliv menutup mulutnya tak percaya.


"Genius ada di kota ini?" Oliv kembali menggigiti kukunya "Gawat, ini gawat banget. Jangan-jangan Genius lihat gue ciuman sama Marcel. Kalo Genius nekad ngirim gue ke ujung dunia gara-gara mempermalukan keluarga Baskara gimana?? ya ampun jangan deh jangaaaaan."


"Tapi bentar," Oliv kembali berfikir "Seinget gue badan Genius itu gemuk. Nggak mungkin itu Genius kan. Bisa jadi cowok yang pake masker itu penggemar rahasia gue. Setara gue kan cantik body aduhai." Oliv melenggak-lenggok kan tubuhnya sendiri walau akhirnya kembali dihantui bayangan seram Genius yang sangat misterius dan sangat dijaga privasinya oleh keluarganya.


"Ya Allah, semoga itu bukan Genius. Kak Dirga aja pernah bilang kalo Genius itu lebih kejam dari kak Dirga." Oliv mulai merinding lagi.

__ADS_1


"Tapi gue masih penasaran sama 'Tuan' yang dimaksud cowok itu tadi malem." Oliv terus menerka-nerka semuanya.


***


Kedua insan yang habis memadu kasih nampak masih bergelimpungan di kasur karna kelelahan.


"Mas..." panggil Bulan dengan suara serak nya "Mas, banguuun." Bulan menggoyangkan lengan suaminya.


"Mas ngantuk, sayang. Nanti malem lagi ya." jawab Dirga dengan malas.


"Mas, baby nya laper." rengek Bulan.


"Baby??" Dirga beranjak dari tidur tengkurap nya "Baby nya laper?" Dirga menyibak selimut yang menutupi tubuh polos istrinya.


"Anak papah laper ya?" Dirga mengelus perut Bulan namun satu tangannya lagi sibuk bermain dengan mainan favoritnya.


"Hei pak tua!! minggir!!" Bulan menepis tangan Dirga.


"Hei gadis gila. Kenapa kau berteriak!"


"Bisakah anda berhenti untuk mesuum dulu, Tuan. Saya lapar." Bulan menatap Dirga dengan sengit.


"Baiklah Nona, ayo kita mandi dulu." Dirga membopong tubuh polos Bulan menuju kamar mandi.


"Sebentar, saya siapkan airnya dulu Nona." Dirga mendudukkan Bulan di atas closet.


Bulan meneguk saliva nya dengan kasar saat melihat tubuh suaminya tepat di depannya. Matanya terus terfokus pada satu titik yang selalu membuatnya mabuk. Tanpa Bulan sadari, Dirga mengawasi tatapan nakal istrinya itu.


"Mari kita mandi, Nona." Dirga membopong tubuh istrinya ke dalam bathtub.


"Eh, kok ikut masuk. Aku mau mandi sendiri aja Mas."


"Kamu kecapean, Mas mandiin aja ya." Dirga tersenyum licik.


"Tapi ahhhhh..." satu suara gila dari mulut Bulan keluar saat Dirga memulai kenakalannya lagi.


"Kamu suka sama dia nggak?" tanya Dirga sembari membawa tangan Bulan untuk meraba bagian-bagian tubuhnya.


"Masss..." wajah Bulan sudah seperti tomat matang menahan malu. Tiba-tiba Bulan memejamkan matanya sembari menutup mulutnya rapat-rapat.


"Mas, kok dimasukin sih?" protes Bulan pada Dirga yang ada di belakangnya.


"Biar kamu makin kagum sama aku." bisik Dirga tepat di telinga Bulan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys


Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak biar author tambah semangat up 😘😘


Nah, sambil nungguin Past For Future update, kalian wajib banget mampir di karya yang keren di bawah iniπŸ˜‰ Bye bye guys 😍

__ADS_1



__ADS_2