
"Semudah itu kamu minta maaf. Selama ini aku terus memaafkan kamu, tapi kamu nggak pernah mau belajar dari kesalahan kamu. Kamu terus-terusan nyakitin hati aku, Kak. Terlihat mudah, namun ternyata kamu sangat sulit untuk digapai. Aku nggak bisa ngorbanin perasaan aku terus menerus kalau akhirnya kamu memang nggak ditakdirkan untuk aku. hiks hiks." Oliv memukuli dadanya "Sakit. Rasanya sakit." lirih Oliv dan terus memukuli dadanya.
Marcel mendekap tubuh Oliv dengan tangis yang sudah pecah sedari tadi. Ia menyesali perbuatannya, namun semua telah terjadi. Perasaan Oliv sudah tak tau bagaimana sekarang. Sakit hati karna ketidak jujuran ialah titik awal sebuah kehancuran dalam suatu hubungan.
Pov Oliv
Nafasku sudah tak beraturan. Tentu sebagian orang pernah merasakan bagaimana rasa sesak dan sakit hati dalam diri. Rapuh. Aku benar-benar rapuh di pelukan pria yang kucintai sekaligus ku benci. Isak ku kian menjadi, sungguh menyakitkan di posisi ini. Tuhan, kenapa harus aku yang menjalani kenyataan pahit ini.
"Lepasin aku, tolong." gumam ku di telinga Marcel "Lihat anakmu. Lihat dia." aku merangkup wajah Marcel agar melepaskan pelukannya.
Ku tatap wajahnya yang berantakan, pipi yang basah, dan mata yang membengkak. Aku tahu ia menyesali perbuatannya, tapi kecewa telah menguasai diriku. Aku tak ingin larut lagi dalam cinta yang semu. Sudah cukup kurasa, tak perlu lagi menunggu lama. Aku menyerah.
"Lihat anak istrimu. Lihaaattt." pekik ku dengan suara tertahan.
"Nggak, dia bukan istriku Sayang. Kami nggak pernah menikah. Cuma kamu yang akan jadi istri ku Liv. Cuma kamu." Marcel merangkup pipiku. Dengan cepat ku tepis, emosi ku mulai memuncak lagi.
Aku berdiri dengan nafas yang kembali tersengal. Ku lirik seorang wanita yang memeluk putranya berlesehan di lantai. Sungguh ngilu aku melihat pemandangan itu. Bagaimana bisa seorang anak tumbuh tanpa ikatan kedua orangtuanya? Dan bagaimana aku bisa menjalani hidup bahagia di atas penderitaan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya? Aku kembali menatap Marcel yang juga menatapku sendu.
plakk
Tubuhku bergetar hebat, panas dalam diriku seolah memintaku untuk menghabisi nyawa pria di hadapan ku. Aku menarik kerah Marcel dengan emosi. Tak puas rasanya bila hanya menampar pria pengecut sepertinya.
"Coba bilang sekali lagi sama aku." ucap ku pelan dengan senyum sinis ku .
"Cih, kamu nggak lebih dari seorang sampah." Ia menatapku dengan tatapan tajam. Namun kali ini tatapan itu tak membuatku tunduk. Aku malah semakin tertantang untuk memaki nya.
"Pengecut,"
"Pembohong,"
"Pengkhianat." Aku menekan-nekan kan telunjuk ku di dadanya sebanyak kata yang ucap.
"Sayang, To...
"Berhenti memanggil aku dengan panggilan menjijikkan itu." Aku memotong ucapan Marcel.
"Bagaimana bisa seorang pengecut sepertimu bisa menjadi ayah? Hah," Kata-kata sinis ku bertolak belakang dengan hati ku yang meminta mata untuk tetap mengeluarkan air matanya.
"Jaga anakmu dan ibu dari anakmu dengan baik. Jangan mencari ku lagi, permisi."
"Boy, jangan menangis lagi. Ayahmu akan segera mempertanggung jawabkan semua. Maafin Tante ya." ucapku pada Boy sebelum melangkahkan kakiku keluar.
"Jaga diri baik-baik." Aku menepuk pundak Marcel sembari mengusap sisa-sisa air mataku.
Kakiku membawa tubuhku keluar dari dalam apartemen Marcel. Kepalaku sudah seperti berada di roaller coaster. Mungkin karna kejadian tadi sungguh menguras tenagaku hingga tekanan darahku naik.
"Aaaaaaaargghh"
Ku dengar teriakan frustasi Marcel dari dalam apartemen. Hati ku kian nyeri. Aku terus mengusap air mataku yang sedari tadi tiada henti mengalir. Aku berlari kencang agar cepat-cepat meninggalkan gedung ini.
__ADS_1
Langkahku mulai lunglai tatkala telah sampai di lobby. Aku memejam-mejamkan mataku sembari mengetuk-ngetuk kepalaku yang terasa berat. Batinku pun masih terasa sesak yang membuatku semakin ingin mati sebentar saja untuk melupakan semua. Ku lihat mobilku yang berada di sebrang jalan. Aku segera mengalahkan rasa sakit di kepalaku. Aku berjalan tertatih tanpa melihat kanan kiri sebelum berjalan. Mata ku melotot sempurna saat mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arahku.
Tin tinnn
"Aaaaaaa"
grep
1 detik
2 detik
3 detik
Apakah aku telah tiada? Kurasa ini akhir dari perjalanan hidupku. Batinku sudah hancur, mungkin saat ini tubuhku juga sudah hancur. Aku merasakan tubuhku melayang di udara. Apakah benar ruh ku sudah di ambil oleh Yang Maha Kuasa? Mataku sangat berat untuk dibuka. Mungkin benar bahwa aku telah tiada. Aku telah meninggalkan dunia ini.
Aku mengerutkan keningku. Kenapa aku tiba-tiba mencium aromaterapi? Dan kenapa aku merasa masih bisa bernafas. Apakah ini rasanya bernafas di alam lain? aromanya seperti aromaterapi. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menepuk-nepuk pipi ku. Terlintas pertanyaan di benakku 'apakah ini saatnya malaikat menjalankan tugasnya untuk menanyaiku di alam kubur? Berarti prosesi pemakaman ku telah usai.'
"Hei, bangunlah." Suara seorang pria terdengar di telingaku.
"Maaf, malaikat. Aku tidak pernah sholat subuh. Tolong jangan pukul aku." aku ketakutan dan enggan membuka mataku.
"Jika engkau tidak membuka matamu, maka akan ku congkel bola matamu itu."
Aku terkejut langsung berlonjak namun,
dug
"Ah, sial."
Aku membuka mataku lebar-lebar lalu melihat wajah seorang pria di atas ku. Ia seperti kesakitan akibat berbenturan dengan kepalaku. Aku mengerutkan dahi. Aku berbaring di paha nya malaikat? Tapi kenapa di dalam mobil bukannya di dalam kubur?
"Malaikat Munkar atau Nakir?" tanyaku.
"Duduk sendiri. Minggir."
Akupun patuh pada Malaikat itu. Aku mendudukkan diriku di sampingnya namun dengan posisi tubuh menghadap padanya. Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba gatal sembari bersiap untuk diberi pertanyaan dari Malaikat.
"Saya sudah siap, Malaikat." ucapku pada Malaikat di hadapanku.
Malaikat itu mengerutkan keningnya, dan akupun meniru ekspresinya saat tangannya ia sodorkan di kening ku.
"Panas, pantesan otaknya agak geser."
Aku melototkan mata saat mendengar penuturan dari Malaikat itu.
"Tapi sebentar, kenapa kalau malaikatnya nggak punya sayap ya??" Aku terus berfikir keras kemudian mencubit tangan ku dan menepuk-nepuk pipiku.
"Eh??" Sekejap aku melongo kemudian menoleh lagi pada pria yang ku anggap malaikat tadi "Tuan, apakah anda manusia?" tanyaku sedikit nyeleneh.
__ADS_1
"Ya." ketus pria itu.
"Jadi, apakah anda yang menyelamatkan saya??" tanya ku lagi dengan nyolot.
"Hmm."
Aku memendelik kan mata. Aku menggigit bibir bawahku dengan nafas yang Kembali naik turun dengan kasar. Melihat wajah pria itu seperti tidak punya salah apa-apa semakin membuatku kesal.
"Kenapa anda menyelamatkan saya? Kenapa????" aku memukuli tubuh pria itu dengan kesal.
"Hei hei. Apa maksud mu Nona. Hentikan!!" pria itu menangkap kedua tanganku yang sibuk memukulinya
"Lepaskan. Kenapa anda menyelamatkan saya???" aku terus meronta, namun tanganku di cengkraman kuat.
"Kenapa anda tidak membiarkan saya mati saja. KENAPA???" teriakku pada pria itu. Rasa sesak kembali memenuhi dadaku, ingatan tentang pernyataan tentang Marcel tadi kembali membuatku merasa remuk.
"Tapi kamu harus hidup!!" pria itu ngotot.
"Untuk apa aku hidup. Keluargaku membenciku, dia juga membohongi aku. Hisk hiks."
Pikiranku mulai kalut. Tangisan bocah pria dan ibunya masih terngiang di kepalaku. Wajah pengecut itu, masih saja memenuhi otakku. Tiba-tiba tubuhku menghangat, aku tidak sadar bahwa pria di hadapanku mendekap ku dalam pelukannya. Aku tak bisa menolaknya, yang aku butuhkan saat ini memanglah sebuah bahu untuk bersandar sejenak.
"Kenapa ini terjadi? kenapa?? Aku nyerah, aku nggak kuat. Kenapa sesakit iniii..." aku mengeratkan pelukanku pada tubuh pria itu dengan tangis yang pecah.
"Kamu bisa melewati ini. Suatu saat akan ada pria yang mencintai kamu lebih dari dia. Jangan gegabah, kamu akan bertemu pria itu suatu saat nanti."
"Dadaku sakit. Sakiiitt.. huaaaaa." aku meraung di bahu pria asing itu. Rasanya aku sudah tidak punya malu. Rasa sakit hati, remuk, dan rapuh ku menggumpal menjadi satu.
Pov Oliv end
Pria yang itu masih setia memeluk Oliv sembari mengusap lembut kepala Oliv. Ia ikut merasakan apa yang Oliv rasakan. Rasanya tidak rela melihat gadis ini menangis karna pria lain. Tapi mungkin ini jalan terbaik agar Oliv tidak lagi buta dalam mencintai seseorang.
"Melihatmu menangis saja sudah membuat hatiku hancur. Setelah ini kamu pantas bahagia, sayang. Aku akan selalu menjagamu meski tak terjangkau dari pandanganmu, aku mencintaimu, gadis nakal ku. I'll never say goodbye.*" pria itu mencuri kecupan di dahi Oliv.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ket : *I'll never say goodbye \= aku tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal
Selamat membaca sahabat PFF tersayang, terimakasih ya, sudah setia membaca hingga di episode kali ini. Maaf ya kalo sering buat kalian emosi lewat ceritanya. Tenang ya, Author sudah merancang jalan ceritanya agar tidak mengecewakan kalian. See you next episode guys ♥️🤗🤗