Past For Future

Past For Future
Rencana Dirga


__ADS_3

...Selamat membaca guys...


.


.


.


.


.


.


.


"Sssshh perih, Kak. Pelan-pelan." protes Oliv.


"Tahan dikit."


"Perih bangeeet." rengek Oliv. "Gara-gara Kak Marcel sih agresif banget jadi orang." imbuhnya dengan kesal.


"Ssst, diem dulu. Merem aja, jangan dilihatin." Marcel menyingkirkan cermin dari tangan Oliv.


"Awww pelan-pelan Kaaaak." teriak Oliv.


"Ini belum apa-apa loh, Liv. Kamu dari tadi teriak-teriak terus, gimana mau selesai cobak?" Marcel menatap tajam Oliv.


"Ish, minggir. Nggak usah diobatin." Oliv beranjak.


"Kok malah ngambek sih. Itu bibir kamu masih berdarah Liv." Marcel menyusul Oliv yang berpindah tempat.


"Ya salah Kak Marcel, ngapain digigit sih bibir aku. Nyebelin banget." Oliv mendekap tangan seraya memanyunkan bibirnya.


Marcel hanya menghela nafas. Entah mengapa ia sangat tidak suka kalau wanitanya dilirik orang lain, apalagi disapa. Ia diam beberapa saat hingga akhirnya mulai bersuara lagi.


"Ya udah, maaf." Marcel merangkul bahu Oliv, namun Oliv masih membuang muka dan enggan untuk merespon. "Maaf, aku udah cemburu sama kamu. Maaf ya sayang." ucap Marcel lembut.


"Kak Marcel cemburu?" Oliv melirik.


"I'm sorry." Marcel mengusap punggung Oliv.


"Cemburu boleh, tapi jangan kelewatan dong Kak. Kalo tadi kita kebablasan gimana? Aku nggak mau ya kalo sampe hamil di luar nikah."


"Nggak, nggak akan. Aku nggak akan menyentuh kamu sebelum kita nikah, aku janji. Maaf ya." Marcel menyandarkan kepalanya di bahu Oliv.


"Boy gimana kabarnya, Kak?" tanya Oliv setelah beberapa detik membisu.


"Kenapa tiba-tiba nanyain Boy?" Marcel mendongak.


"Apa salahnya? Boy kan anak Kak Marcel, itu berarti Boy juga anak aku dong." tutur Oliv yang membuat Marcel tersenyum lebar.


"Makasih,"


"Untuk?"

__ADS_1


"Makasih kamu udah mau terima aku apa adanya, kamu udah maafin kesalahan masa lalu aku, dan kamu udah terima Boy sebagai anak kamu. Makasih, sayang. I Love you, always love you." Marcel kembali mendekap tubuh Oliv dengan sayang.


"Kak, kalo misalnya nanti menuju pernikahan kita ada masalah gimana? atau ada hambatan gitu?"


deg


Marcel melepaskan pelukannya dari Oliv, karna merasa ucapan Oliv seperti akan menyerangnya. Marcel mengusap wajahnya kelain arah. Ia tak tau harus mulai dari mana untuk bicara pada Oliv. Rasanya sungguh kelu untuk diucapkan, ia takut Oliv akan pergi dari hidupnya.


"Kak Marcel kenapa?" Oliv menepuk bahu Marcel, Marcel hanya menggeleng. "Kata-kata aku salah ya? Maaf, aku nggak bermaksud untuk--"


"Udah, nggak usah dibahas. Aku percaya kamu nggak akan ninggalin aku, Liv." Marcel mengusap wajah Oliv dengan ibu jarinya.


Oliv hanya tersenyum, ia menatap wajah Marcel yang menunjukkan raut kekhawatiran mendalam. Oliv beranggapan bahwa Marcel memang benar-benar takut kehilangan dirinya. Untuk itu Marcel begitu shok dengan ucapannya tadi.


Oliv merangkup wajah tampan sang kekasih. Menyibak beberapa helai rambut yang menutupi matanya.


"Kak Marcel nggak perlu khawatir, asal kita punya satu keyakinan, aku yakin Tuhan akan mempermudah jalan kita berdua."


Marcel tercengang, ia melepaskan tangan Oliv dari Wajahnya. Dengan segera ia membuang muka.


"Kenapa lagi sih, Kak. Aku salah ngomong lagi?" Oliv menggandeng lengan Marcel.


"Nggak kok, Liv. Aku cuma terharu aja sama kata-kata kamu. Makasih ya sayang." Marcel mengecup jari-jari Oliv.


"Sama-sama Honey," Oliv tersenyum riang pada Marcel. "Oh, iya Kak. Aku mau izin boleh nggak?"


"Izin apa?" Marcel mengerutkan keningnya.


"Minggu depan aku boleh ya daki gunung sama temen-temen. Plisss."


"What?? Kamu gila Liv? Pernikahan kita tinggal sebulan lagi dan kamu malah mau daki gunung?" pekik Marcel. "Nggak, aku nggak akan izinin kamu!!"


"Ya udah, kita pergi nanti pas kita udah nikah aja ya. Biar aku bisa awasin kamu langsung."


"Kak, bukannya aku nggak mau pergi sama Kak Marcel, tapi aku pengen banget naik gunung sama temen-temen. Untuk yang terakhir kalinya aku sebagai gadis, Kak. Plisss." Oliv memeluk Marcel dari samping.


Marcel melepaskan tangan Oliv dari tubuhnya, ia beranjak meninggalkan Oliv. Oliv tak tinggal diam, ia mengintil Marcel dari belakang.


"Kak...," panggil Oliv saat mereka telah berada di balkon kamar. "Ya udah, maaf." Oliv menundukkan kepalanya.


Sedangkan Marcel masih diam tak bergeming. Akhirnya ia menyalakan sebatang rokok yang sempat ia ambil dari kamarnya tadi. Ia menghisap kuat-kuat kemudian menghembuskan nya kelain arah agar tak mengenai Oliv.


"*Sejak kapan Kak Marcel ngerokok?" batin Oliv.


"Kenapa kamu buat aku semakin nggak karuan, Liv. Aku masih berfikir keras untuk menyelamatkan hubungan kita, tapi kenapa kamu malah semakin buat aku cemas." gumam Marcel dalam hati*.


"Kak...," panggil Oliv lagi. "Maaf ya, aku sebenernya cuma pengen refresh otak. Aku cuma pengen ngehabisin sisa-sisa masa gadisku. Setelah itu, aku milik kamu seutuhnya, Kak. Tapi kalo kakak nggak izinin, aku nggak akan berangkat kok. Maafin aku ya." Oliv menundukkan kepalanya kecewa.


"Boleh, tapi ada syaratnya." Marcel mematikan putung rokoknya sembari menghempaskan asap terakhir dari mulutnya.


"Syarat? Syarat apa Kak?" wajah Oliv langsung bersinar.


Marcel tersenyum miring seraya menggelengkan kepalanya ringan. "Harus pulang dengan selamat dan---" Marcel memotong ucapannya kemudian menyibak rambut Oliv dan berbisik di telinganya, "Harus masih dalam kondisi gadis." bisiknya lalu menggigit telinga Oliv gemas.


Tubuh Oliv meremang, hembusan nafas Marcel serta gigitan itu seolah menjadi rangsangan yang membuatnya sedikit tersengat.

__ADS_1


"Promise?" Marcel mengusap rambut Oliv.


"Pro..mise." Oliv tersenyum canggung.


Marcel menepuk pucuk kepala Oliv, "Good girl."


***


Sementara di dalam kamar, Dirga tampak mondar-mandir sembari mencubiti dagu nya. Ia tampak tengah berfikir keras. Bulan yang tengah fokus pada buku yang ia baca pun akhirnya geram sendiri dengan tingkat suaminya.


"Kenapa sih, Pak Dirga?." tanya Bulan sambil melirik sekilas.


"Lagi nyari cara." jawab Dirga sembari menggaruk kepalanya.


"Cara apa? Cara buat anak lagi? Kan udah pinter." ceplos Bulan tak tahu malu.


"Aku paling genius kalo masalah itu, bahkan buat kamu mau lagi dan lagi." Bulan melempar Dirga menggunakan bantal.


"Kok ngamuk sih. Emang bener kan kamu selalu minta lagi, padahal udah 4 ronde. Hahahaha." seloroh Dirga yang membuat Bulan semakin merah malu.


"Nggak berhenti ketawa, berarti puasa dua bulan." kesal Bulan yang langsung membuat Dirga kincep.


"Sayang, jangan dong. Mas nggak ngetawain kamu kok." bujuk Dirga mendekat pada Bulan. "Mas ngetawain cicak, Yank. Masak nganu nya di dinding. Kan lucu, makanya Mas ketawa." Dirga memeluk Bulan dari samping.


"Mas tadi mikirin apa sampe mondar-mandir gitu?" tanya Bulan ketus.


"Cari cara buat gagalin pernikahan Oliv." jawab Dirga tanpa sadar.


"What?????" pekik Bulan yang membuat Dirga terlonjak kaget. "Are you crazy??" imbuhnya tanpa menurunkan intonasi suara.


"Em... mak... bukan gitu, Sayang. Dengerin dulu." Dirga menggaruk tengkuknya.


"Emang Mas nggak ada kerjaan lain apa? Ya ampun Mas, udah deh kamu tu. Oliv sama Marcel itu berjodoh, jangan kamu ganggu lagi. Lagian Marcel udah tulus minta maaf sama kamu waktu itu kan. Semua orang punya masalalu, termasuk kita. So, jangan cari-cari penyakit lagi Mas."


"Sayang---,"


"Oliv itu adik kandung Mas loh, Mas tega lihat Oliv menderita? Mas mau lihat Oliv sedih?" Bulan memotong ucapan Dirga.


"Justru yang Mas lakuin ini untuk kebahagiaan Oliv kedepannya, Sayaaang." tutur Dirga lembut. "Sini Mas bisikin." Dirga membisikkan sesuatu ke telinga Bulan yang membuat Bulan melotot tak percaya.


"Haaah?? Serius??"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Satu bab untuk kalian sahabat-sahabat ku❤️


terimakasih sudah bersedia singgah di novel ini🤗


__ADS_2