Past For Future

Past For Future
Dimandiin


__ADS_3

"Hei. Saya masih mampu untuk beli sendiri." Oliv semakin kesal dengan pria di sampingnya.


"Baiklah anda bisa menggantinya, nona." ujar pria itu sembari menerima paper bag dari penjaga kasir.


"Berikan itu padaku." ketus Oliv


Pria bermasker itu mengambil salah satu baju dari paper bag itu lalu memberikannya pada Oliv. Di balik maskernya ia menyeringai.


"Hei. kenapa anda..." ucapan Oliv terpotong


"Heiiiii pria gila sinting kembalikan baju itu!!!" teriak Oliv saat pria itu pergi.


Oliv semakin jengkel akhirnya mengejar pria itu. Ia berlari dengan ritme seperti orang kesetanan. Saat ia hampir meraih pundak pria itu tiba-tiba...


"Aaaaaaa..." teriak Oliv saat kakinya tersandung dengan tali sepatunya sendiri. Oliv memejamkan matanya dan bersiap untuk jatuh. Namun entah mengapa tubuhnya tak juga menyentuh lantai. Perlahan ia membuka matanya dengan kening yang berkerut. Pria bertubuh tinggi kekar dengan mata yang cenderung sipit serta wajah yang sengaja ditutupi oleh masker ditatap dalam oleh Oliv. Mereka berdua saling menatap tanpa memperdulikan pandangan orang sekitar.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Empat detik...


Oliv segera mengumpulkan kesadarannya dan melepaskan tubuhnya dari pria itu.


"Ehemm." Oliv berdeham pelan untuk menormalkan raut wajahnya yang gugup


"Jangan pernah memakai sepatu seperti itu bila kau tidak bisa menali nya nona." tutur pria itu datar lalu berjongkok di depan kaki Oliv.


"Ehhh. Apa yang anda lakukan tuan?" Oliv yang terkejut langsung memundurkan langkahnya.


"Saya hanya akan menali sepatu anda."


Oliv celingak-celinguk memandang orang-orang disekitarnya saat pria itu menahan kakinya untuk tidak bergerak. Sesekali Oliv menunduk ke bawah memandang tak percaya pada pria yang sedang menali sepatunya.


"Tuan, berdirilah ku mohon." bujuk Oliv


"Ini sudah selesai." pria bermasker itu berdiri setelah menyelesaikan tugasnya.


Oliv hanya diam tak merespon. Ia menggigiti bibirnya sambil melirik sana-sini. Ia sudah terlanjur malu dengan tatapan orang-orang yang melintas dan berbisik-bisik mengatainya. Yang lebih ia gugupkan lagi ialah pandangan dari mata pria itu dan perlakuannya yang terbilang manis untuk kalangan pasangan muda.


"Baiklah permisi." Pria itu melangkah meninggalkan Oliv yang masih terpaku.


"Tunggu tuan!!" cegah Oliv


"Te... emm terimakasih kasih." ucap Oliv dengan terbata


Pria bermasker itu melangkah begitu saja tak menanggapi ucapan terimakasih Oliv. Oliv menatap punggung pria itu hingga menjauh dari pandangannya.


"Loh. Tapi bajunya kak Marcel?" Oliv kembali teringat dengan baju Marcel yang digondol pria itu


"Eh ya ampun. Oliv goblok." Oliv menepuk keningnya berulang untuk menyesali perbuatannya.


"Tapi aku kaya kenal sama mata itu. Tapi di mana ya?" gumam Oliv bertanya sendiri pada dirinya sendiri.


"Liv..." seseorang menepuk pundaknya


"Eh," Oliv menoleh kebelakang "Kak Marcel ngapain disini?" tanya Oliv polos


Marcel mengerutkan keningnya "Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu ninggalin aku di toko itu tadi?" kesal Marcel

__ADS_1


"Em itu..." Oliv bingung sendiri "Itu anu tadi ada copet." ujar Oliv asal


"Oh... Copetnya baikan sama yang dicopet ya?" tanya Marcel sinis


"Eh, ma... maksudnya?" tanya Oliv gugup


Marcel mendekatkan wajahnya ke telinga Oliv "Gimana rasanya pelukan sama copet hmm?" ucap Marcel yang membuat Oliv merinding ngeri.


"Habis itu tali sepatu kamu dibenerin." imbuh Marcel di depan telinga Oliv


"Bu.. bukan gitu kak." Oliv segera mengelak perkataan Marcel


"Kenapa nggak sekalian ciuman di tempat umum hmm?" Marcel menyibakkan rambut Oliv ke belakang telinga


Oliv diam tak berkutik. Sebenarnya walaupun bar-bar, tapi Oliv sangat takut jika Marcel marah. Ia tak mau ada kesalahpahaman yang akan mengorbankan hatinya nanti. Tapi ia juga tak bisa berbicara lagi. Lidahnya seolah tak bisa diajak kerjasama untuk memberi penjelasan.


"Kamu naik taksi." tutur Marcel datar lalu melangkahkan kaki untuk pergi


"Kaaak..."panggil Oliv namun tak dihiraukan Marcel


Sedangkan Marcel tersenyum licik dihatinya. Meski ia tak suka perjanjian di ingkari, namun ia cukup lega dengan kejadian hari ini.


"Akhirnya aku bisa bebas dari Oliv. Setidaknya untuk sementara. Sebenarnya aku tidak cemburu, tapi aku benar-benar pusing untuk menuruti semua keinginannya yang kekanakan." gumam Marcel dalam hati saat meninggalkan Oliv.


Kembali ke hari ini


Genius melangkah meninggalkan rumah sakit. Ia menenggerkan kacamata hitam kemudian membenarkan posisi topi dan maskernya. Ia segera menuju parkiran untuk mengambil mobil.


"Huuuuft..." 'Mr. G' mendudukkan bokongnya di jog mobil sembari menghela nafas. Mr. G merogoh kantongnya dan membuka galeri ponselnya.


"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bertemu denganmu secara langsung. Maaf aku hanya bisa menjagamu dari jauh. Aku selalu mencintaimu gadis kecilku." ujarnya pada foto lawas yang menampilkan foto dirinya dan gadisnya saat masih kanak-kanak.


"Suatu hari nanti, aku ingin selalu di sampingmu juga memilikimu seutuhnya. I love you baby girl" Mr. G mengusap lembut foto itu.


"Udah? kamu nggak papa sayang?" tanya Dirga saat istrinya keluar dari ruangan Bintang


"Hmm.."


"Kita balik keruang rawat kamu ya." Dirga mendekat untuk mendorong kursi roda Bulan


hoeeek


Tiba-tiba perut Dirga bergejolak saat hendak mendekati Bulan.


"Sayang kamu belum mandi?" tanya Dirga yang hanya dibalas gelengan kepala Bulan tanpa menoleh kearahnya


"Sempet-sempetnya pak tua ini nanya gitu. Ya jelaslah belum mandi. Jalan aja susah. Semua gara-gara anakonda rakus punya kamu itu." kesal Bulan dalam hati


"Sayang kamu jalanin kursi rodanya sendiri ya. Mas mual banget. *h*oek" Dirga berbicara tanpa disaring dan semakin menjauhkan diri yang membuat Bulan semakin kesal.


Tanpa ba-bi-bu Bulan langsung menjalankan kursi rodanya sendiri tanpa berniat menganggapi ucapan suaminya. Dirga mengekor Bulan dari jarak kira-kira 4 meter dari Bulan untuk menghindari aroma tubuh Bulan yang belum mandi.


Bulan terus menggerutu dalam hatinya. Sesekali ia mengumpat kesal pada suaminya tanpa memperdulikan ia sedang hamil. Ia sudah terlanjur sangat kesal dengan suami gila nya itu.


cklekk


Pintu dibuka oleh Dirga sembari menutup hidungnya rapat-rapat. Ia mendorong kursi roda Bulan dengan satu tangan dan satu tangannya lagi masih setia mengapit hidungnya. Dirga menjalankan kursi roda yang diduduki Bulan menuju kamar mandi.


"Aku nggak mau pipis." ketus Bulan


"Tapi kamu harus mandi sayang." ujar Dirga dengan suara bindeng nya.

__ADS_1


"Apa kamu nggak lihat aku lagi sakit?" tanya Bulan dengan datar


"Udah kamu diem aja. Mas mandiin ya. Daripada bauk kayak gitu." ucap Dirga lagi yang membuat Bulan semakin semakin ingin menyumpal mulut suaminya dengan sendal yang ia pakai.


"Nggak mau. Aku mau istirahat aja." Bulan hendak memutar kursi rodanya namun dicegah oleh Dirga. Dengan segera Dirga membawa Bulan masuk kedalam kamar mandi.


"Aku nggak mau mandi. Dingiiin!" teriak Bulan dengan nada tertahan


"Pake air anget kok. Kamu diem di situ dulu." Dirga menyiapkan air hangat dalam bathtub. *catatan : Ya jelas lah ada bathtub nya. Orang rumah sakit punya dia hihihi


Bulan hanya memandang suaminya dengan jengah. Padahal Bulan masih marah, tapi suaminya itu bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Eh, mau ngapain?" Bulan mengerutkan keningnya saat satu tangan Dirga memegang kancing bajunya dan satu tangannya masih setia mengapit hidungnya.


"Mandiin kamu lah."


"Nggak usah aku bisa sendiri." ketus Bulan


"Bisa sendiri gimana? punya kamu aja masih bengkak. Emang bisa jalan?" ujar Dirga kesal


Bulan hanya menghela nafas. Ia tak ingin lagi berdebat dengan suaminya. Ia membiarkan suaminya melucuti habis pakaiannya kemudian menggendongnya ke dalam bathtub.


"Eh mau ngapain?" kejut Bulan saat Dirga melepas pakaiannya dan ikut masuk kedalam bathtub


"Mandiin kamu lah sayang. Sini aku pakein sabun." ucap Dirga dengan santai


Muka Bulan sudah semakin merah padam. Rasa malu serta kesal semakin jadi saat Dirga dengan sengaja bermain di bagian sensitifnya.


Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara **** nya. Bulan memejamkan matanya saat sesuatu yang keras menyentuh punggungnya.


"Aaaaaaaaaaaaaa...."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Omegat piton kelaparan jangan berulah lagi ya. Bulan lagi marah loh hihihi

__ADS_1


See you next episode guys


Jejakmu adalah angin sumringah untuk authorπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2