Past For Future

Past For Future
Puncak (Hantu Gunung)


__ADS_3

"Go go go!! Ayok sepuluh meter lagi sampe. Semangat!!" Adam yang berada pada formasi paling depan memberi support pada tim nya.


Perjalanan sangatlah panjang, namun semua belum ada apa-apanya dibandingkan rasa bahagia yang diraih dari perjuangan yang besar. Mereka berempat terus mendaki menuju puncak dengan formasi Adam yang menjadi pemimpin, kemudian Nia, dan diikuti Oliv serta Gema yang menjaga di formasi paling akhir.


Keringat bercucuran, hawa dingin semakin menyeruak hingga ke tulang. Tinggal beberapa langkah lagi, namun tiba-tiba,


sraaak


Oliv tergelincir hingga posisinya terlentang dan merosot kebawah yang membuat mereka semua melotot.


"Oliiiivvv!!!"


Beruntung ada bongkahan batu besar yang menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh jauh kebawah. Mereka bertiga langsung menghampiri Oliv yang tampak sudah bercucuran darah, entah dari mana asalnya, yang pasti mereka semua tampak cemas akan terjadi sesuatu pada Oliv.


"Oliv, sadar, Liv." Nia menepuk-nepuk pipi Oliv yang tampak berdebu nan pucat.


Gema dengan gercep membawa kepala Oliv dalam pangkuannya. Berulang kali ia memeriksa nafas Oliv untuk memastikan keadaannya. Namun tubuh Gema tiba-tiba bergetar saat kembali memeriksa nafas Oliv yang tidak berhembus.


"Oliv, jangan pergi, Liv!!!" teriak Gema dengan suara bergetar.


"Kak Gema?" Nia menutup mulutnya karna terkejut. Adam pun mengusap kepalanya dengan kasar.


"Kamu harus bertahan, jangan tinggalin aku, Liv." air mata Gema bercucuran membasahi pipinya.


Gema terus menekan-nekan dada Oliv untuk memberikan pertolongan pertama, namu sepertinya tak berpengaruh apapun pada kondisi Oliv. Tak putus arang, Gema mendekatkan wajahnya pada Oliv kemudian mempertemukan bibirnya dan bibir Oliv untuk memberi nafas buatan.


"Liv," mereka menggelengkan kepala tak percaya.


"Kamu nggak boleh pergi, ini belum berakhir, Liv. Tolong bangun!!" Gema terus menepuk dan menekan dada Oliv.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun." ucap Nia dan Adam bersamaan.


Gema menggelengkan kepalanya tak percaya, "OLIIIIIIIIIIIIIIV!!!!!!!!" teriak Gema menggelegar.


uhuk uhuk uhuk


Oliv terbatuk-batuk dan mengeluarkan pasir dari dalam mulutnya.


"Oliv?" Gema langsung membawa Oliv dalam pelukannya.


"Oliv, elo masih hidup." Vera ikut menghambur memeluk Oliv diikuti oleh Adam. "Gua kira elo udah nggak ada, huwaa" Nia menangis tersedu-sedu.


"Woy, lepasin. Bengek tauk." protes Oliv dan merekapun melepaskan pelukannya. "Siapa yang teriak-teriak tadi? Buuset mekak banget." tanya Oliv dengan suara serak nya.


Adam dan Nia yang sempat sedih hanya saling pandang sambil menahan tawa melihat ekspresi Gema yang tampak memandang kesal kearah Oliv.

__ADS_1


"Kamu nggak tau apa? Kita semua udah cemas tau nggak?? Makanya kalo bercanda tu nggak usah berlebihan!!" bentak Gema.


"Siapa yang bercanda sih. Orang sini pingsan kok." Oliv menoleh pada Gema, "Lagian tadi aku makan pasir nih. Bengek tauk."


"Tapi-"


"Eh bentar," Oliv memotong kata-kata Gema. "Kak Gema nangis?" kejut Oliv saat mendapati pipi Gema yang masih basah.


"Nangis? Cihh," Gema beranjak dari duduknya, "Kenal aja enggak. Ayo lanjut, matahari udah mau terbit." ajak Gema pada timnya.


Adam dan Nia hanya menahan gelak tawanya melihat kelakuan Gema yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Curi-curi tatapan yang Gema layangkan pada Oliv menambah pengalaman luar biasa untuk Adam dan Vera.


Mereka pun akhirnya melanjutkan pendakian menuju puncak yang sebenarnya tinggal beberapa langkah lagi. Namun karna tragedi tadi, mereka terpaksa mengulang agak sedikit jauh lagi dari awal.


"Ayok Liv, dilit lagi." Nia menyemangati Oliv dari atas.


tap


"Yessssss yuhuuu, akhirnya gua sampe puncaaakkkk!!" Oliv menghambur memeluk Nia dan Adam dengan erat. Kini rasa lelah dan sakit tergantikan oleh rasa bahagia yang diraih dengan perjuangan keras.


Nia melepaskan Oliv kemudian memberi isyarat pada Oliv untuk menoleh kearah pria di belakang Oliv.


"Dia yang udah nyelamatin hidup elo, peluk dong, bilang makasih." bisik Nia pada Oliv.


Oliv menoleh kebelakang menatap pria tinggi dengan wajah bak pria dalam K-drama namun dalam versi Negara nya. Paras tampan khas dengan kumis tipis yang tampak maskulin serta raut yang terlihat selalu tenang. Meski dengan malu-malu, akhirnya Oliv menghampiri Gema dan memeluknya dengan erat.


"Sama-sama." balas Gema singkat.


Oliv melepaskan pelukannya yang tidak terbalas oleh Gema. Ia tersenyum kemudian kembali menghampiri Nia yang melakukan beberapa pemotretan bersama Adam.


"Gilak, keren banget!!" sorak Oliv saat melihat pemandangan indah di atas gunung saat matahari terbit.


"Eh Liv, cepet-cepet. Gue fotoin." titah Adam. "Gema ikutan cepet, mumpung pemandangannya bagus." Oliv tersenyum canggung saat Gema berdiri tanpa jarak di sampingnya.


"Satu, dua, tiga, okeee." jemari Adam ikut berhitung. "Sekarang gaya rangkulan." perintah Adam yang langsung dituruti oleh Gema. Oliv tersenyum canggung kearah kamera karna lengan Gema tepat merangkul erat bahunya.


Setelah berfoto ria, tak lupa para pendaki melakukan doa bersama dan beberapa kegiatan menikmati alam bersama pendaki lainnya.


Oliv menatap awan-awan yang kini tampak berada dibawahnya. Ia merentangkan kedua tangannya sembari menghirup udara sejuk yang memenuhi rongga pernafasannya. Udara bebas tanpa beban hati dan pikiran, bebas dari problema dunia yang fana.


"Gue Olivia Ratu Baskara, hari ini gue buktiin kalo gue bukan cewek yang lemah yang cuma mengandalkan kekayaan keluarga gue," Oliv menjeda gumamannya. "Hari ini, gue berdiri disini, di atas awan yang indah bersama rasa bangga dan mandiri gue. I'm free."


"I Love you," bisik seseorang yang memeluk Oliv dari belakang.


"I Love you more," jawab Oliv yang masih memejamkan mata menikmati alam kebebasan.

__ADS_1


deg


Oliv mulai tersadar saat pelukan itu sudah tidak melingkar lagi di perutnya. Ia menelan saliva dengan kasar tatkala melihat para pendaki lain sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lalu siapa yang memeluknya barusan? Ia bergidik ngeri pada suasana ramai yang terasa mencekam baginya.


Hari mulai terik, Oliv dan kawan-kawan memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Bukan tanpa sebab, karna mereka harus benar-benar menjaga Oliv dan Nia sebagai Wanita.


Perjalanan kembali ditempuh, namun kali ini terasa lebih cepat dari keberangkatan. Seperti kata pepatah 'Berangkat macam siput, pulang macam kuda.'


"Oke guys, kita harus bermalam dulu disini. Untuk tetep jaga tubuh kita biar nggak terlalu capek." Adam memberi instruksi untuk menghentikan perjalanan.


"Em, Dam. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Oliv dengan ragu-ragu.


"Tanya-jawab nya besok aja ya setelah keluar dari area gunung." Adam tersenyum pada Oliv.


"Tuh kan, firasat gue emang bener kayaknya. Terus yang nyium gue waktu pingsan siapa? Habis itu yang meluk? Oh my God, jangan-jangan hantu di gunung ini naksir sama gue lagi!!"


Cletak


"Aaaaaaaaa..." teriak Oliv kemudian berlari memeluk dada bidang yang ia dapatkan lebih cepat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ya udah segitu dulu, next episode ada bonus adegan uwuw untuk kalian tapi.... pantengin terus ya😆


__ADS_2