
Wajar dalam hubungan
Cinta kadang memang naik-turun
Hati yang punya peranan
Untuk lebih saling pengertian
Kalau kamu bosan, jangan menghilang
Kalau kamu bosan, kamu bisa bilang
Tapi kalau bosan, jangan kamu cari peluang
Ku di sini takut kamu hilang
Ikuti saja alurnya
Bila jenuh, tak ada salahnya
Ingat kenangan berdua
Tawa, luka, kita hadapi bersama
Kalau kamu bosan, jangan menghilang
Kalau kamu bosan, kamu bisa bilang
Tapi kalau bosan, jangan kamu cari peluang
Ku di sini takut kamu hilang
Kalau kamu bosan, jangan menghilang
Kalau kamu bosan, kamu bisa bilang
Tapi kalau bosan, jangan kamu cari peluang
Ku di sini takut kamu hilang
Ku di sini masih ada sayang
Kalau kamu bosan, jangan menghilang
Lyodra - Kalau Bosan
…
Senja di ufuk barat mulai memancarkan rona nya. Menyorot seluruh bagian kota dengan sinar jingganya. Menghanyutkan banyak orang yang terpesona akan keindahannya. Sinarnya menyapu wajah seorang wanita yang masih setia dengan lamunannya.
"Aku sampai di posisi ini karna takdir Tuhan. Tapi kenapa begitu sulit untuk menjalani posisi ini. Apakah ada orang di luaran sana yang sama denganku? Menginginkan dua orang untuk tetap tinggal tanpa adanya perpisahan? Salahkan aku memikirkan lelaki lain? Dosa kah aku? Tapi aku memikirkannya bukan untuk kembali padanya, melainkan hanya ingin membantunya dalam masa-masa sulit seperti halnya ia membantu ku berdiri kala itu." Batin wanita itu dalam lamunannya.
Ia menyadari ada langkah yang mendekatinya. Namun ia enggan untuk menoleh atau hanya sekedar bertegur sapa. Tangan kekar melingkar erat di perutnya. Menyembunyikan wajah di balik tenguknya. Ia dapat merasakan hangatnya nafas dan nyamannya pelukan itu. Namun ia tetap diam tak merespon apapun.
"Awwww." rintih nya saat pria itu menggigit lehernya
Ia segera menepiskan tangan itu dari perutnya. Namun dengan sigap pria itu menahannya dan kembali memeluknya erat.
"Aku belum maafin kamu. Nggak usah gr. Tapi mau peluk bentar aja." gumam pria itu
Bulan mencebikkan bibir nya kesal. Bagaimana tidak? suaminya semakin hari semakin tak ia kenali. Sikap nya yang aneh terkadang membuat Bulan merasa bahwa itu bukan suaminya.
"Aku mau mandi." tegas Bulan
"Ya udah sana sana. Emang susah ya ngomong sama cewek!" Kesal Dirga dengan sedikit mendorong istrinya menjauh.
Bulan masuk kedalam kamar dan bergegas menuju kamar mandi. Ia merasakan sesak yang teramat sangat dalam hatinya. Ia tak tau apa yang membuat suaminya itu berubah.
"Apa aku nggak cantik lagi?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil menatap cermin.
"hiks. Kenapa aku sekarang cengeng banget sih. Kuat Bulan, kamu harus kuat. Inget kata Bintang kamu nggak boleh lemah." Bulan berusaha mengatur nafasnya agar kembali tenang
__ADS_1
…
Sedangkan di sebuah apartemen mewah, ada seorang gadis yang tengah asik dengan tidurnya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah di bibirnya. Entah mengapa itu terasah seperti mimpi. Ia memilih larut dalam ciuman mimpi itu dan enggan membuka matanya. Namun ia merasa ingin muntah saat ada sesuatu yang menerobos kedalam mulutnya.
"Euuuughh" gadis itu melenguh dan mengerjapkan matanya
Seketika matanya terbuka lebar saat ia melihat ada seorang pria di hadapannya yang sibuk bermain dengan bibirnya. Ia terdiam sejenak untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi. Saat nyawanya telah 90% terkumpul, ia segera menggigit bibir pria itu dengan sangat kuat.
"Awwwww." rintih pria itu saat telah melepaskan bibirnya.
"Kak Marcel??" kejut gadis itu yang tak lain ialah Oliv
"Brengs*k!!" umpat Oliv. Ia sangat kesusahan saat ia hendak melayang kan tangannya.
"Lepasin tanganku pria bodoh!!" teriak Oliv
"Santai dong. Kamu itu selain bar-bar ternyata agresif juga." Marcel menyeringai
"B***t. Lepasin tanganku!" teriak Oliv lagi
"Oke. Besok pagi bakal aku lepasin kamu kok sayang." Marcel tersenyum licik
"Cihhh dasar gilaaa." ejek Oliv
"Iya aku memang gila. Apa kamu mau melayani kegilaan ku?" goda Marcel
"Kau memang hidung belang Marcel." Oliv tersenyum sinis dan memandang jijik pria yang dicintainya itu.
"Ya benar. Apa kau mau mencobanya sayang?" goda Marcel lagi sembari mengelus lembut pipi Oliv.
"Singkirkan tangan lak*nat mu itu bodoh!" Oliv menoleh kesamping untuk menghindari sentuhan Marcel
"Ayolah. Bukankah kau akan wisuda sebentar lagi? Kau bilang ingin menikah denganku bukan? Mari kita coba dulu sekarang." ujar Marcel yang membuat jantung Oliv berdetak tak karuan.
"Hentikan ocehan gila mu itu!" ucap Oliv penuh penekanan
"Baiklah akan ku hentikan. Tapi aku mau imbalan darimu." Marcel tersenyum licik
"Hahaha." Marcel tertawa yang membuat bulu kuduk Oliv berdiri. Semua orang tertawa karna ada sesuatu yang lucu. Tapi tidak dengan Marcel yang tertawa di saat yang menegangkan.
"Baiklah nona. Aku hanya minta satu hal darimu." Marcel menatap Oliv tajam
"Katakan."
"Kembalilah padaku. Jangan pernah memutuskan hubungan secara sepihak lagi." ujar Marcel sembari menyelipkan rambut Oliv di belakang telinganya.
"Cuih. Gue nggak sudi sama cowok pengecut kayak elo." hardik Oliv yang membuat Marcel menatapnya tajam
"Baiklah nona. Bersiaplah untuk bertahan di sini sampai bulan depan. Dan jangan harap aku akan memberimu makan." ancam Marcel lalu beranjak untuk meninggalkan Oliv yang terduduk di sofa dengan tangan terikat.
Oliv terdiam saat mendengar ancaman dari Marcel. Bagaimana ia bisa tidak makan sedangkan saat ini saja perutnya sudah konser minta diisi.
"Tunggu." cegah Oliv yang menghentikan langkah Marcel
"Baiklah kalau itu yang kak Marcel mau. Aku mau." ucap Oliv dengan nada pasrah
Marcel kembali menghadap ke arah Oliv lalu berjalan menghampiri Oliv lagi. Dalam hatinya ia merasa menang. Ia memang tidak mencintai Oliv, tapi ia telah terbiasa dengan kehadiran dan suara cerewet Oliv serta masakan Oliv yang selalu membuat lidahnya candu. Andai gengsinya tidak tinggi, mungkin ia akan jujur pada Oliv bahwa ia merasa kehilangan belakang ini. Namun Marcel tetaplah Marcel yang suka memanfaatkan keadaan. Ia memilih menggertak Oliv daripada harus mengakui perasaannya. Perlu digarisbawahi, bukan perasaan cinta, hanya perasaan kehilangan.
Marcel berjongkok di hadapan Oliv dan menatapnya dalam. Ia bisa melihat jelas tatapan cinta yang tulus dari mata Oliv. Namun entah mengapa ia belum bisa membalasnya hingga sekarang.
"Kita mulai dari awal. Nggak adaa lagi yang namanya pacaran di atas kesepakatan. Aku nggak mau ada luka dalam hubungan kita. Do you want to come back to me again?" tanya Marcel dengan nada lembut
"Yes, I want." jawab Oliv terpaksa
"Untuk kejadian waktu itu aku nggak sengaja Liv. Semua terjadi karna naluri. Mau bagaimanapun aku cuma pria dewasa normal. Tapi aku janji nggak akan melakukan itu lagi. Kamu percaya kan?" Marcel mencoba untuk meyakinkan Oliv
"Promise?" tanya Oliv
"Promise." jawab Marcel
Marcel membawa Oliv kedalam pelukannya. Ia mendekap erat wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya itu. Entahlah, sampai sekarang ia masih belum percaya bahwa gadis nakal itu sekarang menjadi kekasih yang tak dicintainya.
__ADS_1
"Kak Marcel aku nggak bisa nafas." keluh Oliv
"Oh maaf. Apa kamu lapar?" tanya Marcel sembari melepaskan pelukannya. Oliv mengangguk malu untuk menjawab pertanyaan Marcel.
"Pantesan dari tadi kayak ada suara cicak ketawa, ternyata perut kamu." Ledek Marcel memecahkan kecanggungan
"Iiih kok disamain kaya suara cicak sih," Oliv mengerucutkan bibirnya "Lepasin dong, udah pegel nih." imbuh Oliv
"Oh iya lupa." Marcel terkekeh
"Mau makan apa?" tanya Marcel saat telah membuka tali yang mengikat Oliv
"Lagi pengen sea food nih." jawab Oliv
"Kebetulan ada udang sama cumi-cumi di kulkas. Kamu masak aja."
"Loh. Kok aku yang disuruh masak sih?" protes Oliv
"Mau makan apa nggak?" tanya Marcel balik
"Ck, apa kau sedang krisis uang sampai tidak mampu membeli makanan tuan Marcel?" cibir Oliv
"Jangan protes. Cepat masak sana." perintah Marcel
"Ooh aku tau. Pasti kak Marcel kangen sama masakan aku kan?? iya kaan..." desak Oliv yang membuat Marcel gugup
"Semakin lama kamu ngoceh, semakin lama juga kita makan."
"Huff oke lah. Sebagai tanda cinta akan saya lakukan pak." ucap Oliv tanpa sadar
"Do you love me?" Marcel menaik-turunkan alisnya
"Eh." Oliv menutup mulutnya. Pipinya bersemu merah setelah sadar akan pengakuan cinta yang keluar dari mulutnya untuk kedua kalinya.
"Udah minggir, aku mau masak!" Oliv segera bergegas menuju dapur sembari berjalan cepat. Jangan ditanya bagaimana malunya ia kini. Pipinya sudah seperti kebakaran.
Marcel terkekeh menatap kepergian Oliv. Itulah yang ia rindukan kan saat Oliv tak ada. Kelakuan bar-bar dan polos Oliv seolah menjadi hiburan tersendiri untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan cuma dijadikan hiburan dong Marcel. Kamu mah jahat banget.
**Oke guys. Jangan lupa like, komen and vote yah. Author maksa niiihh. Pokoknya harus kasih jejak!! titik nggak pake koma😑😂😂
__ADS_1
See you next episode sahabat PFF♥️♥️**