Past For Future

Past For Future
Pantai


__ADS_3

happy reading


.


.


.


.


.


.


.


"Morning my hot wife." goda Dirga saat istrinya mengerjapkan matanya.


"Nggak usah pake hot!!" Bulan mencebikkan bibirnya.


"Tapi kamu memang hot loh sayang." Dirga mengedipkan sebelah matanya genit.


"Pak tua sinting!" ujar Bulan lalu beranjak bangun.


"Hei. Dosa mengejek suami sendiri." ucap Dirga tak terima.


"sssssh bodoh amat." jawab Bulan sambil meringis menahan perih di bawah akibat ulah suaminya.


Dirga tak tinggal diam, ia segera menggendong hot wife nya ala bridal style menuju kamar mandi.


"Udah turun disini aja." pinta Bulan saat telah berada di dalam kamar mandi


"Nggak mau dimandiin??" tanya Dirga


"Keburu habis subuh nya. Kalo mandi bareng makin lama" jawab Bulan sinis


"Hehehe ya udah cepetan mas tungguin, kita jamaah" Dirga pun segera keluar tanpa menggoda istrinya lagi.


Setelah selesai dengan urusan mereka, kini mereka tengah bersiap untuk berangkat menuju rumah sakit dimana Bintang dirawat.


"Udah?? yuk" ajak Dirga pada Bulan


"Mas kok nggak bawa tas kerja?" tanya Bulan balik


"Hari ini kamu sama Bintang mau ke rumah Ayah kan?"


"Iya. Kok mas Dirga tau"


"Tau dong. Ya udah yuk cepetan." Dirga menggandeng tangan Bulan menuju mobil.


"Ke rumah sakit Pelita ya pak" perintah Dirga pada sopirnya.


"Siap Tuan" jawab sopir itu sopan


"Habis dari rumah ayah mau kemana lagi?" tanya Dirga sambil bersandar di bahu Bulan


"Pengen ke pantai" jawab Bulan


"Kemarin diajak ke pantai nggak mau"


"Ya sekarang lagi pengen aja" jawab Bulan gugup yang hanya di jawab deheman oleh Dirga.


"Karna di pantai adalah tempat yang paling berkesan untuk aku dan Bintang. Hari ini aku bersama Bintang untuk mengenang kesan itu dan hari ini aku akan menciptakan kesan baru bersama kamu, suamiku" gumam Bulan dalam hati


Setelah menjemput Bintang, kini mereka telah berada di pelataran rumah ayah Leo.


Bulan menatap rumah itu. Rumah yang belum pernah ia kunjungi sama sekali.


"Ayok kita turun." ajak Bintang yang membuyarkan lamunan Bulan


"Eh iya." Bulan segera turun bersama kedua pria itu.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan paruh baya yang mereka yakini adalah asisten rumah tangga disana.


"Kami ingin bertemu dengan ayah mertua saya" jawab Dirga


"Baiklah mari tunggu di ruang tamu tuan, nona" Pelayan itu mempersilahkan

__ADS_1


Kaki Bulan bergetar saat melangkahkan kaki ke dalam rumah itu. Ia berulang kali menghembuskan nafas panjangnya untuk menahan rasa takut dalam dirinya.


"Sayang, ayo duduk." Dirga membawa bahu Bulan untuk duduk.


Bintang tahu Bulan sedang gugup. Refleks ia menggenggam tangan Bulan untuk menguatkan. Dan tentu itu tak luput dari pandangan Dirga.


"Kamu jangan gugup. Ada kami disini." Bintang tersenyum pada Bulan untuk menenangkan.


Dirga berdeham yang membuat Bintang melepaskan genggamannya.


"Are you okay?" Dirga merangkul bahu Bulan dengan sayang.


"I'm okay" jawab Bulan dengan senyum tipisnya


"Assalamualaikum" sapa pria paruh baya yang baru saja datang bersama istrinya.


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.


"Nak..." Ayah hendak memeluk putrinya namun urung, karna Bulan hanya diam di tempat.


"Ayah. Sini duduk dulu." Dirga mempersilahkan ayah Leo duduk di sebelah Bulan.


"A...ayah" sapa Bulan dengan terbata dan kepala menunduk.


"Gimana kabar kamu nak?" tanya ayah Leo


"Baik" jawab Bulan singkat.


"Maaf..." lirih ayah Leo


Bulan mendongak menatap ayahnya.


"Maaf ayah nggak berani untuk menemui kamu setelah ayah dengar kamu masih mengalami trauma nak." ucap ayah Leo penuh penyesalan sembari menepuk pundak Bulan


Tubuh Bulan bergetar hebat saat tangan ayahnya menyentuh bahunya. Bulan mulai terisak tanpa mengeluarkan suara.


Dirga yang duduk di seberang hendak menghampiri Bulan namun tangannya ditahan oleh Bintang. Bintang menggelengkan kepala mengisyaratkan agar Dirga tak mengganggu ayah dan anak itu.


"Ayah tau ayah salah nak. Ayah menyesal. Kalaupun kamu mau membalaskan semua, pukul saja ayah nak, pukul" Ayah Leo meraih tangan Bulan agar memukulnya.


"Ayahhhh" Bulan menggeleng lalu melepaskan tangannya.


"Maaf nak. Maafin ayah" ayah menangkup kan kedua tangannya memohon pada Bulan.


Ayah pun langsung memeluk Bulan dan ikut terisak.


"Maafin kebodohan ayah nak" ayah mengeratkan pelukannya pada putrinya itu.


Tante santi ikut menitikkan air matanya haru. Bagaimanapun ia ikut berperan dalam kesedihan Bulan dahulu. Dirga dan Bintang tersenyum bahagia melihat Bulan dan ayahnya.


Menjelang sore setelah menghabiskan waktu di rumah ayah Leo, kini mereka bertiga tengah dalam perjalanan menuju pantai.


"Mas, aku ajak Oliv sama Marcel ya" izin Bulan pada suaminya.


"Boleh" jawab Dirga sambil menyelipkan rambut Bulan yang terurai.


"Bin. Mau beli rujak dulu nggak? bentar lagi ngelewatin tempat orang yang jualan rujak nih" tawar Bulan pada Bintang yang sangat suka dengan rujak saat berkunjung ke pantai.


"Boleh. Aku juga udah lama banget nggak makan rujak"


"Ya udah, pak kita mampir di perempatan depan ya" ujar Bulan


"Siap nyonya" jawab sopir itu sopan


Sesampainya di pantai, mereka segera turun. Bulan mendorong kursi roda Bintang, sedangkan Dirga membawa kantong plastik besar berisi rujak buah.


"Susah ya dorongnya Bul?" tanya Bintang


"Nggak juga kok." bohong Bulan. Padahal ia sangat kesulitan mendorong kursi roda itu di atas pasir.


"Kakak tuntun aja Bin. Kita duduk di bawah pohon kelapa itu" ujar Dirga


"Ya udah nggak papa kak." jawab Bintang


Mereka duduk dibawah pohon kelapa menikmati ombak yang bergulung sembari menunggu sang senja datang.


"Nih. makan dulu rujaknya." Bulan menyodorkan suapan rujak buah pada Bintang


"Makasih" Bintang tersenyum sambil menerima suapan dari wanita yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Dirga hanya diam. Ia tak ingin merusak suasana, bagaimanapun Bintang hanya ingin menghabiskan sisa-sisa umurnya bersama Bulan. Hanya untuk sementara, Dirga harus sedikit menahan hatinya agar tidak sakit.


"Mas..." panggil Bulan yang membuyarkan lamunan suaminya


"Kenapa sayang?" tanya Dirga


"Nggak papa" Bulan tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dirga


Dirga mengelus lembut kepala Bulan lalu menciumnya. Dirga melirik ke arah Bintang yang tersenyum ke arahnya.


"Makasih Bintang." gumamnya dalam hati


"Hai... haiii" teriak Oliv yang baru datang bersama Marcel.


"Hai dek. Kok lama banget?" tanya Dirga pada mereka berdua.


"Oliv juga nungguin jemputan nya lama banget tadi di rumah kak" Oliv menyindir Marcel


Oliv hendak mendekati Bintang namun


brukk


"Aduuuuuh." teriak Bintang saat Oliv tak sengaja jatuh menimpa tubuhnya.


"Eh sorry tang. Gue kesandung" Oliv segera bangkit dan menolong Bintang untuk duduk lagi.


"Cih. modus terus sama cowok. Dia sendiri yang buat janji, dia sendiri yang genit sama cowok terus" geram Marcel dalam hati


"Bintang, apa kabar?" tanya Oliv lalu menghampiri Bintang dan memeluknya.


"Gue baik. Gimana elo dan kuliah elo?" tanya Bintang balik.


"Aman. Mingu depan gue sidang" jawab Oliv sembari melepaskan pelukannya.


"Lulus kuliah merid katanya." timpal Bulan


"Serius? sama siapa?" tanya Bintang lagi


"Tuuuh." Oliv menunjuk Marcel menggunakan dagu nya. "Kalo nggak ada kendala tapi yaa" lanjut Oliv dengan kekehannya


"Ehem" Marcel berdeham karna ucapan Oliv.


"Ya udah nih pada makan rujak yuk. Aku beli banyak ini" Bulan menyodorkan satu persatu rujak itu pada mereka.


Di bungkusan rujak terakhir Bulan memberikannya pada Marcel. Dengan kesengajaan Marcel, tangan Bulan sengaja ia tahan hingga tatapan mereka bertemu.


"Masih sama Lan. Rasa ini terasa semakin kuat saat di dekat kamu" Marcel terus menatap Bulan.


"uhuk uhuk" Dirga terbatuk-batuk


Bulan segera melepaskan tangannya dari Marcel.


"Aaaaaaaargghh" teriak Dirga dengan keras yang membuat mereka semua terkejut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Marcel kamu nggak boleh suka sama bini orang ye. Bedosa banget!!


Hai readers setia Past for future!! Jejak nya jangan lupa😉😉


__ADS_2