Past For Future

Past For Future
Amanah dari Bintang


__ADS_3

"Kak jangan aku mohon, hiks." mohon Oliv namun tak digubris oleh Marcel.


Marcel terus melanjutkan aktivitasnya. Ia menyes*ap kuat leher Oliv, lalu kembali lagi ke bibir ranum Oliv. Bibir Oliv sudah luka-luka akibat gigitan Marcel. Cengkraman tangan Marcel yang kuat benar-benar membuat Oliv tak bisa melawan.


"Tolong jangan....!!!" teriak Oliv saat Marcel mulai mengecupi dadanya dan hendak menyentuh kedua aset berharganya.


braaaaaakkk


Pintu kamar didobrak seseorang dari luar. Marcel yang memang sedang setengah sadar tak menghiraukan dan tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Tolong aku...!" teriak Oliv dengan isak tangisnya


Tanpa banyak basa-basi, pria yang baru saja datang itu menarik tubuh Marcel dari atas Oliv.


buggg


Satu bogeman mentah mendarat di pipi Marcel. Pria itu memijak dada Marcel dan kembali lagi membogem Marcel. Hanya beberapa pukulan saja, Marcel sudah terkulai lemas tak berdaya karna pada dasarnya ia sudah mabuk berat.


hiks hiks hiks


Oliv mendekap tubuhnya dengan selimut sembari terisak. Penampilan sudah sangat acak-acakan, rambut berantakan, mata sembab, dan jangan lupakan bibirnya yang membengkak dan berdarah.


"Pake ini." Pria bermasker itu memberikan jaket pada Oliv


Oliv meraih jaket itu namun tak kunjung ia pakai.


"Kenapa tidak kau pakai?" heran pria bermasker itu


"Itu, tolong jangan lihat saya." ujar Oliv sambil menundukkan kepalanya


"Bodohnya aku." rutuk pria itu dalam hati


"Cepat pakai, saya tunggu di depan." tutur pria itu dengan datar


Dengan segera Oliv memakai jaket pemberian pria itu. Sesekali ia melirik ke arah Marcel untuk memasang bahwa Marcel benar-benar tak sadarkan diri. Ia keluar dari kamar itu dengan hati-hati karna takut Marcel akan kembali sadar saat mendengar langkah kakinya.


Oliv berjalan keluar mencari keberadaan pria yang sudah menolongnya. Langkah Oliv berhenti saat mendapati pria itu tengah duduk di sofa dengan tangan menyilang di dada.


"Tuan, saya tidak mengenal anda. Tapi Terimakasih telah menyelamatkan saya." ujar Oliv dengan menundukkan kepalanya malu. Ya, jelas malu, ia tertangkap basah tengah setengah bertelanjang bersama seorang pria.


"Hmm." pria itu berdiri lalu menyelipkan tangannya di kantong dengan gaya yang cool.


"Bisakah anda melepas masker anda, Tuan? Barangkali saya mengenal anda."


"Tidak." jawab pria itu singkat dan datar


"Em. Baiklah, terimakasih sekali lagi, Tuan."


Pria itu tak merespon ucapan Oliv. Ia melangkah keluar dengan langkah yang tegap. Namun ia berhenti saat telah sampai di pintu.


"Saya ingatkan kamu untuk menjaga diri. Kamu adalah wanita yang seharusnya menjaga marwah keluarga. Percuma pendidikan tinggi kalau kamu tidak memiliki adab. "ujar pria itu ketus yang langsung menancap di hati Oliv


Pria itu kembali melanjutkan langkahnya hingga hilang dari pandangan Oliv. Oliv masih terpaku di tempat. Kata-kata pria itu tadi sangat dalam untuknya. Bagaimana bisa ia dikatai tidak memiliki adab.


"Sebegitu buruknya kah aku?" gumam Oliv dalam hati


Oliv menoleh kebelakang. Cepat-cepat ia berlari keluar sebelum Marcel sadar dan mengincarnya kembali.


"hufft"


Oliv menghempaskan tubuhnya di jog mobil.


"Aku bener-bener nggak habis pikir sama kak Marcel. Aaarrrghh, tapi aku nggak bisa benci sama dia. Lagian dia mabuk kan." Oliv dengan pikiran kacaunya


"Jantungku." Oliv memegangi dadanya yang berdebar "Kayak mau copot sumpah, kak Marcel liar banget brrrrr."


"Tapi bentar, cowok itu tadi kok bisa masuk kedalam ya?" tanyanya pada dirinya sendiri


"Sial aku nggak bisa lihat mukanya. Apa dia orang suruhannya papa ya?" Oliv terus berpikir " Enggak-enggak. Bodyguard selalu pake seragam hitam. Lah dia pake masker, pake topi, matanya sengaja nggak mau di tatap lagi. Siapa sih?" Oliv terus menebak pria misterius itu.

__ADS_1


Sedangkan di dalam sebuah mobil, pria bermasker itu melepas masker dan topi yang ia kenakan. Ia menyandarkan kepalanya


"Nggak ada yang boleh nyentuh kamu selain aku." ia menyeringai


"Sekeras apapun kamu menginginkan Marcel, itu akan sia-sia karna kamu harus menjadi milikku seutuhnya." gumam pria itu sembari menatap kepergian mobil Oliv



Disebuah ruangan bercat biru menggema, melantunkan melodi-melodi indah, menghanyutkan setiap detak jantung yang ikut menari menghayati romantisnya kedua insan yang tengah duduk bersandingan.


Tuhan tolonglah, hapus dia dari hatiku


Kini semua percuma, takkan mungkin terjadi


Kisah cinta yang selalu aku banggakan


Kauhempas semua rasa yang tercipta untukmu


Tanpa pernah melihat betapa ku mencoba


Jadi yang terbaik untuk dirimu


Oh mengapa, tak bisa dirimu


Yang mencintaiku tulus dan apa adanya


Aku memang bukan manusia sempurna


Tapi ku layak dicinta kar'na ketulusan


Kini biarlah waktu yang jawab semua


Tanya hatiku


Pasto - Tanya Hati


prok prok prok prok


"Keren banget sayang." puji Ibu


"Makasih, Buk." Bulan tersenyum


"Ya udah gimana kalo sekarang kita makan dulu. Kakak dorong kursi rodanya ya dek." tawar Kak Lika


"Em, Kalian duluan aja ya. Bulan sama Bintang mau ngobrol sebentar." pinta Bulan pada ketiga wanita itu


"Ya udah jangan lama-lama ya." jawab Kak Lika yang dibalas anggukan kepala Bulan


Setelah ketiga wanita itu keluar, Bulan menatap Bintang dengan tatapan sulit diartikan. Bintang yang dalam kondisi memprihatinkan, kepala yang diperban, mata sayu dengan wajah yang sangat pucat, serta tangan yang membengkak akibat infus. Mereka berdua sama-sama duduk di kursi roda. Bulan menghela nafas untuk memulai percakapan.


"Ngomong aja, Bul. Aku udah siap-siap dari tadi mau dengerinnya, hehehe." canda Bintang dengan suara lemahnya


"Aku lupa mau ngomong apa, Bin." Bulan nyengir kuda


"Yaelah dasar Lan sabit." seloroh Bintang


"Kamu tau?"


"Nggak." jawab Bulan


"Bentar dulu aku belum ngomong." Bintang mencubit gemas hidung Bulan


"Oke-oke, silahkan dilanjutkan tuan Bin-bin." Bulan menompang dagunya bersiap mendengarkan


"Bul, gimana kalau besok aku udah nggak ada di dunia ini?" tanya Bintang dengan suara lemahnya


"Kamu ngomong apa sih Bin." Bulan meraih tangan lemah Bintang "Kamu pasti sembuh kok. Emang kamu nggak mau lihat anak aku nanti lahir?" tanya Bulan


"Aku doain anak kamu nanti sehat ya, Bul. Aku cuma bisa berdoa yang terbaik untuk keluarga kamu. Kalau nanti aku udah nggak ada lagi di dunia ini, aku mohon, kamu tepatin janji kamu waktu itu. Berbahagialah." tutur Bintang sembari mengeratkan genggamannya dan tersenyum sayu.

__ADS_1


Bulan melepaskan tangannya dari genggaman Bintang. Ia membuang wajah nya seraya memejamkan mata. Bulan sudah berjanji kala itu, tapi mengingat perlakuan Dirga yang sangat posesif dan menyelingkuhi nya seolah sedikit merubah tekad Bulan untuk tetap bersama Dirga suaminya.


"Kamu udah janji Bul."


"Tapi mas Dirga udah keterlaluan, Bin." keluh Bulan dengan air mata yang mulai mengalir


"Ini semua gara-gara aku, Bul. Ini salah aku yang udah hadir dalam hidup kalian. Maaf." lirih Bintang


"Ini sama sekali bukan salah kamu, Bin. Berhenti nyalahin diri kamu sendiri."


"Tapi kamu harus nepatin janji kamu, Bul. Demi kebahagiaan kamu, demi anak kamu juga. Yang kamu lihat belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan. Tolong jangan gegabah." Bintang yang sebelumnya sudah tau masalah Bulan dan Dirga dari cerita Dirga saat sedang di rumah sakit berusaha keras untuk membujuk dan meyakinkan Bulan


"Tapi mas Dirga punya selingkuhan, Bin. hiks."


"Kamu tau darimana hmm? Bahkan kamu nggak kalah cemburuan nya sama kak Dirga." Bintang menyelipkan rambut Bulan ke belakang telinga "Kak Dirga tipe orang yang setia sama pasangan. Kamu nggak usah ragu lagi untuk itu. Yang kamu perlu sekarang cuma saling percaya aja. Aku yakin kalian saling mencintai. Jangan pernah mengorbankan perasaan dan anak kalian dengan adanya perpisahan. Oke, kamu tetep mau nepatin janji kamu kan?" Bintang merangkup wajah Bulan untuk meyakinkan.


"Tatap mata aku, Bul." Bulan menatap manik mata sahabatnya itu kemudian mengangguk tanda setuju.


"Ya udah jangan nangis lagi dong." Bintang mengusap air mata Bulan "Sekarang kamu lihat kebelakang dan peluk dia." titah Bintang seraya menoleh kearah belakang mereka.


Bulan mengikuti arah pandang Bintang dan menatap pria yang berdiri tegap di pintu. Pria itu tersenyum menyambut tatapan Bulan. Bulan mengalihkan tatapannya ke arah Bintang. Bintang hanya mengangguk lemah dengan mata yang sudah sangat sayu.


"Bintaaaang...!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tak ding tak ding dung


Next Thor semangat 💪🔥


Ah, nyemangatin diri sendiri emang diperlukan.

__ADS_1


Tapi aku juga menunggu support darimu. See you next again guys🤗


__ADS_2