Past For Future

Past For Future
You are my life


__ADS_3

Setelah berdebat dengan keluarganya, Oliv memutuskan untuk membersihkan diri dan bergegas untuk menemui calon suaminya secepatnya. Perasaan kacau masih menyelimutinya saat ini. Satu-satunya jalan ialah mengatakan sejujurnya pada Marcel sebelum semuanya terlambat.


tap


tap


tap


"Oliv, tunggu. Kamu mau kemana?" Gema mencekal lengan Oliv.


"Elo masih di sini? Lepasin!! Gue mau nemuin calon suami Gue!!"


"Tapi calon suami kamu itu saya, Liv."


"Heh!! sampe kapanpun Gue nggak mau nikah sama Elo. Jangan ngimpi deh!" hardik Oliv sembari menghempaskan tangan Gema yang mencekal nya.


"Oke-oke, kalau itu yang kamu mau. Saya yang akan anterin kamu."


"Cihh, Elo mau cari muka kan sama Gue. Thanks! nggak perlu, Gue bisa naik motor sendiri." Oliv hendak melangkah, namun Gema mencegahnya melalui kata-kata.


"Mobil kamu disita. Kamu nggak akan bisa keluar dari mansion tanpa saya di sisi kamu."


Oliv mengepalkan tangannya kesal. Pria yang baru semalam merenggut mahkotanya itu seolah menunjukkan bahwa seorang Oliv berada di bawah kendali pria itu.


"Pak!!" Oliv memanggil Pak Gun yang kebetulan lewat. "Anterin Oliv keluar, yuk."


"Maaf Nona, tapi Tuan besar melarang anda keluar dari mansion sampai waktu yang tidak ditentukan."


Oliv menghela nafas, "Ya udah Pak Gun, makasih ya." Pak Gun mengangguk dan berlalu meninggalkan Oliv dan Gema. "Cepat siapkan mobilmu!" ketus Oliv tanpa menoleh.


"Saya bukan sopirmu." jawab Gema datar kemudian berlalu meninggalkan Oliv juga.


"Mau Elo apa sih." gumam Oliv seraya menggertak kan giginya.


"Kak Gema!!" panggil Oliv yang membuat Gema menghentikan langkahnya. "Tolong anterin Gue. Gue mohon sama Elo, sekali ini aja. Plisss." mohon Oliv.


"Sudah saya bilang, saya bukan sopir kamu."


"Bukan, bukan kok. Kak Gema bukan sopir Gue. Anterin Gue sebagai sesama manusia yang saling membutuhkan, oke. Pliiiis." mohon Oliv, namun Gema masih diam tak bergeming. "Elo boleh minta imbalan berapapun yang Elo mau."


"Cepat!" Gema memutar arah jalannya.


"Yesss. Ternyata dia mata duitan juga. Jangan-jangan cowok ini muncul di kehidupan gue cuma mau meras harta keluarga Gue. Coba aja kalo bisa! Genius akan lebih dulu bakal nebas leher elo. Xixixixi."

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Gema saat mereka telah berada di mobil.


"Jalan aja belok kanan. Nanti Gue kasih tau arah-arah nya."


Dalam perjalanan, Oliv dan Gema saling diam tanpa berniat mengeluarkan suara. Sama seperti kemarin sebelum kejadian itu terjadi. Mereka sama-sama enggan untuk mengobrol atau sekedar basa-basi.


Mobil terparkir di depan sebuah gedung apartemen. Gema sudah tahu bahwa Oliv akan menemui Marcel. Tapi yang menjadi masalah ialah Oliv berdua bersama Marcel di dalam satu apartemen yang sama. Dan Gema sangat tak menyukai perilaku Oliv yang satu ini.


"Thanks ya. Gue nanti bisa kok pulang sendiri." ucap Oliv sembari membuka sealbet nya. "Oh iya, setelah ini Elo boleh pulang dan kembali sama keluarga Elo. Dan jangan pernah kembali lagi." Oliv mengucapkan kata-kata yang seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya.


brukkk


Gema memandang kepergian Oliv dengan tatapan sulit diartikan. Ia harus segera menyusun rencana agar Oliv tidak berbuat nekad untuk menikah dengan Marcel. Bagaimanapun Dirga sudah membantunya untuk mendapatkan Oliv, dan ia tak ingin semuanya gagal begitu saja.


***


tok tok tok


"Kemana orangnya, sih?" Oliv memandangi jam di tangannya. "Bodo amat deh. Langsung masuk aja." Akhirnya ia memakai access card yang pernah Marcel berikan padanya.


"Sayaaaaang, i'm cooming!!" tak ada sahutan, Oliv terus melangkah menuju kamar Marcel. Dan benar dugaannya, Marcel menghabiskan waktu weekend di dalam kamar bersama guling kesayangannya.


"Oke Oliv, rileks. Elo harus jujur sama Marcel. Marcel akan nerima Elo apa adanya, sama kayak Elo yang nerima dia dan masa lalunya."


"Sebentar lagi, Sayangku." Marcel merubah posisinya menjadi tengkurap.


"Nggak kangen sama aku nih?" tanya Oliv seraya membuka tirai jendela kamar Marcel.


Oliv memandang keluar jendela. Pemandangan kota dari atas sungguh indah meski tak seindah pemandangan alam bebas. Oliv keluar menuju balkon, ia menyapu luas pandangannya di bawah terik matahari.


grep


Seseorang memeluk Oliv dari belakang. Pelukan yang sangat ia rindukan selama tak bertemu. Pelukan sang kekasih yang begitu nyaman bagi dirinya. Oliv memejamkan mata saat merasakan nafas yang menerpa tenguknya. Mereka larut dalam pelukan rindu untuk beberapa saat.


"I miss you so much, Sayang."


"I miss you too, Marcelular." Oliv terkekeh saat Marcel menggigit pundaknya.


"Apa kamu menepati janjimu, Ratuku?" Oliv dibuat canggung oleh pertanyaan Marcel. "Kok diem hmm?" bisik Marcel di telinga Oliv.


"Ya- emm iya. Pasti Kak." jawab Oliv dengan gugup. "Ke dalam yuk. Kakak mandi, aku buatin sarapan ya." Marcel mengangguk dengan senyum terindahnya.


Oliv menunduk menutupi pipinya yang memerah akibat senyum kembang gula Marcel. Ia meninggalkan Marcel dan segera menuju ke dapur. Jantungnya sudah berdetak tak karuan akibat keromantisan yang Marcel tujukan padanya.

__ADS_1


"Ngomong nggak ya? Duh, Gue makin deg-degan aja. Kira-kira gimana respon Marcel ya? mana pernikahan kami tinggal 10 hari lagi."


Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk Oliv menyelesaikan satu menu sarapan alias makan siang untuk Marcel. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang. Perasaan grogi pun semakin menyelimutinya. Bagaimana tidak? ini tentang mahkotanya yang sudah direnggut oleh pria lain.


"Hmmm wanginya enak banget." Marcel menghampiri Oliv di dapur.


"Ya udah, Kak Marcel buruan makan ya." Oliv menyajikan makanan untuk Marcel di meja makan.


"Udah cocok banget jadi Nyonya Pradigta." Marcel menompang dagunya sembari memandangi gerak-gerik Oliv yang lihai menyajikan makanan untuknya.


"Apaan sih, Kak. Jangan lihatin kayak gitu. Aku malu. Cepetan dimakan!"


"Suapin dong,"


"Sini buka mulutnya." Oliv dengan telaten menyuapi pria yang sangat ia cintai. Dari sorot mata keduanya sudah tampak dengan jelas bahwa mereka tengah berada di fase bucin.


"Dari lidah, turun ke hati. Dirimu indah, sungguh memikat hati." Marcel mengedipkan sebelah matanya. Oliv hanya kesemsem dibuatnya. Perasaan grogi dan masalah yang hendak ia katakan pada Marcel tadi seolah hilang dari memori ingatan. Saat ini mereka sangat menikmati kasih sayang yang tercurahkan satu sama lain.


"Kamu tau, Sayang? yang ada di otakku selalu kamu. Kamu adalah segalanya untukku. Makasih udah menjadi bagian terpenting di hidupku. Aku janji akan selalu menjaga kamu apapun yang terjadi. I Love you so much, Honey." Marcel mengecup kening Oliv dengan sayang.


"Kamu juga bagian terpenting dalam hidupku, Kak. Aku harap kamu bisa menerima semua kekuranganku. Maaf, kalau aku nggak sesempurna yang kamu kira." lirih Oliv dengan air mata yang sudah berlinang.


Marcel membawa tubuh Oliv kedalam dekapannya, "Aku terima kekurangan dan kelebihan kamu seperti kamu menerima aku, jangan pernah berfikir untuk pergi. Aku nggak akan sanggup. Kita harus saling menerima satu sama lain. You are my life."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tunggu episode surprise selanjutnya oke 😎


__ADS_2