Past For Future

Past For Future
Mengganti mempelai pria


__ADS_3

Pov Olivia


Senyap. Hanya embusan udara dari pendingin yang mendesis pelan melalui lubang palka di ruangan tempat aku duduk sekarang. Jam digital bergerak detik demi detik tanpa suara. Lantai ruangan sepi. Cahaya redup matahari senja menelisik sela-selanya. Mataku sejak lima belas menit lalu tidak terlampau memperhatikan betapa sibuk jalanan di bawah sana. Orang-orang bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah seharian tenggelam dalam perkerjaan. Klakson mobil melenguh. Wajah-wajah lelah merindu lelap membungkus jalanan.


Mataku tak berkedip menatap layar ponsel yang tergeletak manis di atas meja rias. Lima belas menit lalu, aku menghubungi pria yang tengah jatuh ke dalam lubang sesal bersamaku. Kali ini amarah ku kian menjadi tatkala aku baru menyadari apa yang tengah terhadap padaku yang sebenarnya.


Di kamar hotel yang kini aku pesan, aku dapat meluapkan kekesalanku tanpa siapa pun yang tahu. Aku meremas kertas yang aku peroleh dari rumah sakit. Ternyata benar dugaan ku selama ini bahwa antara aku dan pria itu tak terjadi apa-apa.


tok tok tok


Dengan segera aku menyeka sudut mataku yang sedikit basah, saatnya untuk tenang untuk menyikapi ini. Kemudian aku beranjak untuk membukakan pintu yang aku yakini Gema lah yang datang.


"Hai, sini masuk," ajak ku pada pria yang mungkin cukup jauh lebih tua dari usiaku.


"Mau ngapain berdua di kamar hotel?" tanya nya ketus.


Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan pria itu. Aku menarik tangannya untuk masuk. Meski dengan gerakan patah-patah, Gema tetap melangkahkan kakinya ke dalam. Aku tersenyum dalam hati memaki. Dia hanya diam. Aku mengajaknya ke sofa yang ada di kamar ini.


"Mau minum apa? biar aku pesenin." Kali ini aku memakai bahasa aku-kamu.


"Nggak usah. Ada apa kamu ngajak saya ke hotel?" tanya nya lagi tanpa memasang wajah ramah. Sepertinya ia cukup tidak nyaman dengan posisi berdua seperti ini.


"Tentu untuk bersenang-senang, Sayang." Aku mendekat kearahnya dan membisik ke telinganya. "Kita nikmati hari ini..." bisik ku dengan nada manja.


"Kamu udah gila ha??" Dirinya yang terkejut langsung berdiri dari duduknya, menepis tanganku yang merangkul bahunya.


"Yes, i do. Aku gila, Sayang. Aku tergila-gila sama tubuh kamu. Gimana kalo kita coba lagi hari ini? Soalnya yang kemarin kurang berasa." Aku mengucapkannya dengan nada yang manja sembari mencolek dada nya yang tampak kekar berisi.


Ia menggertak kan giginya kesal.


"Aku lepas baju aku dulu ya," ucapku sambil mengedipkan sebelah mata. Perlahan aku membuka kancing kemeja yang aku kenakan. Namun Gema bergeming.


Aku menatap lekat mata pria itu yang sebenarnya sangat tampan. Tapi aku membencinya. Sangat. Dengan gerakan perlahan aku membuka kancing bagian atas.


Dan lihat dia!!

__ADS_1


Dia membuang muka. Aku tersenyum sinis. Sungguh pandai pria ini berakting di hadapanku. Padahal dengan cara licik dia mencari celah untuk meniduri ku dengan angan-angan ingin masuk ke dalam keluargaku yang kaya.


"Hei, lihat sini dong. Kemarin kamu nikmatin mereka loh," goda ku lagi meski kini dadaku mulai sesak menahan tangis.


"Berhenti, Liv. Apa mau kamu!!?" tanya nya dengan nada membentak.


"Mau aku??" Aku kembali mengancingkan baju ku.


Aku melangkah untuk mendekatinya dan berdiri tegap di hadapan Gema yang kini mendongakkan kepalanya ke atas. Kedua tangannya di pinggang. Aku yakin kini ia cemas dengan perlakuan ku saat ini.


"Kamu tanya apa mau aku, kan? Aku-" sengaja menggantung kalimat ku.


"Cepat katakan!!!"


"Wuiiiisssss...." Aku bertepuk tangan setelah mendapatkan bentakannya. Ia tampak mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Kenapa? kenapa dia yang frustasi? padahal aku belum sempat bicara apapun.


"Kamu mau tau apa mau ku hmmm??" Aku tak kalah bernada tinggi. "Berhenti untuk merayu Papa ku supaya kamu bisa menggantikan posisi Marcel di hari pernikahan kami!!!" Hardik ku.


"Saya nggak akan berhenti. Karna saya akan tetap bertanggung jawab untuk kamu, Liv. Apa kamu lupa apa yang udah terjadi sama kita? apa kamu lupa juga kalau kamu dan Marcel berbeda keyakinan? Dan otomatis pernikahan kalian dibatalkan. Tapi pernikahan kamu akan tetap dilangsungkan, dan mempelai prianya adalah saya."


"Terserah. Saya akan tetap nikahi kamu."


Aku mendengus kesal.


"Tulis berapapun nominal yang kamu mau. Aku transfer sekarang juga." Aku mulai gersang.


"Oh iya, pernikahan kita seminggu lagi. Kamu persiapkan diri kamu, ya. Undangan udah disebar. Dan kamu, sebagai putri Baskara pasti nggak mau ngecewain keluarga kamu kan?"


Aku semakin kehilangan akal. Kata-kata yang sedari tadi telah tersusun rapi kini buyar sudah dengan kekukuhan Gema. Lihat saja, bahkan jam dinding yang berdetak pun ikut mempertawakan aku.


Gema mendekat ke arahku yang telah teramat kesal padanya. Lalu berbisik,


"Jangan pernah bermimpi untuk menggagalkan semuanya. cup."


Mataku membulat dengan sempurna. Barusan saja bibir itu mengecup pipinya. Tubuhku seketika meremang, bagaimana tidak? itu ciuman yang aneh. Terkesan seperti ciuman ancaman. Aku menoleh ke belakang. Rupanya pria yang bercita-cita menjadikan aku istri itu telah meninggalkan kamar hotel.

__ADS_1


Aku mendudukkan diriku di atas sofa sembari meremat wajahku dengan kesal.


ting


Ponselku kembali menyuarakan notifikasi pesan dari seseorang. Entah yang ke berapa kalinya. Bahkan sejak Gema baru masuk tadi, ponselku terus berbunyi.


"Marcel??" kejut ku saat rentetan pesan yang sama dikirim dari nomor Marcel. Namun mataku tertuju pada pesan di akhir.


Marcel send message


"Sekali. Cuma sekali aja. Pliiis. Aku pengen kita ketemu sebagai bentuk perpisahan. Setelah itu aku janji nggak akan ganggu kamu lagi.


Aku tertegun sejenak. Namun tak lama aku menyambar tas ku dan sedikit berlari keluar dari dalam hotel.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya updatenya lama. Ikuti terus sampai penghujung episode ya♥️

__ADS_1


__ADS_2