
.
.
"Bulan Leo Putri. Will you marry me?" Marcel mengungkapkan perasaannya seraya menggenggam tangan Bulan
braakk
Dirga menggebrak meja di depannya yang membuat semua pengunjung memusatkan perhatiannya pada Dirga. Dirga berdiri dan menghampiri Marcel dan Bulan. Ia melepas masker dan melempar topinya.
"Apa maksud elo ngelamar istri gue haaa??" Dirga menarik kerah baju Marcel lalu memberinya bogeman mentah
buuug
Marcel yang kehilangan keseimbangan karna kaget langsung tersungkur.
"Maaaas" teriak Bulan
"Bulan, kamu jangan deket-deket. Biar aku urus laki-laki brengs*k ini. Lancang sekali dia" Hardik Dirga
Bulan mulai mundur satu langkah dan mulai ketakutan. Bila saja yang di hadapi adalah preman ia langsung maju. Tapi ini adalah orang-orang terdekatnya. Ia tak mampu menahan air matanya lagi. Semua mata memandang ke arah mereka tanpa berniat membantu.
Marcel segera berdiri
"Apa maksud elo bro?? Pacar elo udah meninggal. Ngapain elo ngaku-ngaku suaminya Bulan" Ucap Marcel masih dengan mode santai
"Apa urusan elo bang**t" ucap Dirga yang sudah benar-benar terbakar api cemburu
buugg. Satu bogeman lagi mendarat di pipi Marcel. Marcel yang tidak terima dengan ucapan Dirga hendak membalas Dirga
"Jangaaaaan" teriak Bulan
bugg. Semua orang yang berkerumun melotot karna yang terkena bogeman bukan Dirga melainkan Bulan. Bulan pun langsung tersungkur ke lantai.
"Bulaaaan" teriak Dirga
Bulan menekuk lututnya lalu menutup matanya sembari menggelengkan kepalanya
"Ampun ayaaah. Jangan pukul Bulan lagi. Ampun ayah" Bulan dengan raut wajah ketakutan dan menggelengkan kepalanya
"Sayang. Aku disini jangan takut" Dirga mencoba untuk memeluk Bulan namun Bulan mundur untuk menghindari. Marcel hanya berdiri terpaku
"Jangan ayah. Bulan janji nggak akan nakal lagi. Tapi jangan pukul Bulan sama ibuk yah. Maaf maaf maaf maaf" Bulan terus berbicara untuk meminta maaf. Namun ia sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Hanya ada tatapan kosong
"Urusan kita belum selesai Cel. Cepet pergi dari sini!!!" hardik Dirga
Marcel hanya diam dan mundur agak menjauh. Dirga segera menggendong tubuh istrinya untuk menuju parkiran.
"Lepasin yah. Maaf maaf. Jangan pukul Bulan lagi" Teriak Bulan meronta-ronta
Dengan langkah yang cepat Dirga segera membawa Bulan ke dalam mobil.
"Maaf...maaf... maaf...." hanya itu yang keluar dari mulut Bulan
"Bulan tatap mata saya" ucap Dirga saat sudah masuk ke dalam mobil. Bulan hanya menggeleng lalu menutup mata dengan tangan nya. Dirga meraih bahu Bulan agar mau menatap matanya
"Lihat saya" ucap Dirga yang langsung membawa kepala Bulan ke hadapannya
"Tatap mata saya. Saya nggak akan nyakitin kamu. Saya suami kamu" Dirga meyakinkan Bulan agar tenang
"hiks hiks hiks" Bulan mulai sadar dan langsung menangis melihat suaminya. Dirga pun segera membawa Bulan kedalam pelukannya
"Maafin saya ya. Maaf" Dirga mengecup kepala Bulan
"Kita pulang ya" ucap Dirga yang hanya di angguki kepala Bulan
Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Bik... Biiikk" teriak Dirga dengan masih merangkul bahu Bulan
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" Ucap pelayan itu
__ADS_1
"Tolong siapkan makanan. Nanti antar ke kamar kami" titah Dirga
"Baik tuan" pelayan itu pun segera melakukan tugasnya
Dirga pun membawa sang istri ke kamar. Lalu mendudukkan nya ke tepi ranjang.
"Mas" panggil Bulan
"Iya sayang. Kamu mau sesuatu?" tanya Dirga
Bulan menggeleng
"Jangan pergi" ucap Bulan
"Saya nggak akan pergi. saya ada disini untuk kamu" ujar Dirga lalu membawa Bulan kedalam pelukannya.
tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar kamar
"Masuk" perintah Dirga
"Permisi Tuan. Ini makanannya" pelayan itu meletakkan nampan di atas nakas
"Terimakasih Bik" ucap Bulan
"Permisi tuan nyonya" pamit pelayan itu
"Makan dulu ya. Saya suapin" ucap Dirga
"Saya makan sendiri aja mas. Mas tadi kan belum makan jadi makan juga ya" tolak Bulan
"Ya udah. Makan yang banyak ya" Dirga mengacak-acak rambut Bulan
drrrt drrrrtt. Ponsel Dirga berdering tanda ada yang menghubunginya
"Saya angkat telepon dulu. Kamu lanjut makan dulu" ujar Dirga yang hanya di angguki kepala Bulan
…
"Abang udah lihat berita di media sosial tadi. Apa Bulan sekarang baik-baik aja Ga??" Tanya bang Wisnu dari sebrang sana
"Bulan udah baik-baik aja bang. Sekarang dia lagi makan" ujar Dirga sambil menoleh ke arah Bulan di balik kaca
"Abang kira Bulan udah nggak bakal kumat lagi Ga. Apalagi waktu Bulan udah mau komunikasi sama ayah waktu itu. Tapi ternyata dugaan Abang salah" ucap bang Wisnu
"Abang tenang aja. Dirga akan segera membawa Bulan ke psikolog terbaik untuk Bulan" jawab Dirga
"Oke. Abang percaya sama kamu Ga. Dan pernikahan kamu sudah tersebar luas sekarang, Abang harap kamu segera melakukan kontroversi pers. Abang titip salam untuk Bulan ya"
"Pasti bang. Oke bang"
…
"Siapa mas?" tanya Bulan
"bang Wisnu. Dia titip salam untuk kamu" Jawab Dirga
"Kok bang Wisnu nggak mau ngomong sama saya sih"
"Bang Wisnu lagi sibuk katanya. Kamu udah selesai makannya?" Dirga mengalihkan pembicaraan
"Udah kok mas. Mas saya boleh tanya sama mas??" tanya Bulan yang hanya di angguki kepala oleh Dirga
"Apa saya tadi seperti orang gila?" tanya Bulan
"Kamu tanya apa sih sayang. Kamu nggak gila. Kamu cuma ketakutan aja" ujar Dirga seraya merapikan rambut Bulan ke belakang telinga
"Mas nggak malu punya istri gila kaya saya mas? pasti mas jijik kan?" Bulan menunduk kan kepalanya
"Kamu tatap saya." Dirga mengangkat dagu Bulan untuk menatapnya
__ADS_1
"Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan saya sangat bersyukur karna Tuhan memberikan kamu sebagai penyempurna hidup saya. Saya nggak pernah merasa jijik sama kamu. Karna saya udah tau semua tentang kamu dari awal" ucap Dirga yang tak henti menatap wajah ayu istrinya
"Mas tau darimana?" tanya Bulan lagi
"Itu nggak penting. Yang terpenting sekarang kamu tetep ada disisi saya dalam suka maupun duka. I love you Bulan" ucap Dirga
Bulan tak menjawab ucapan Dirga dan langsung memeluk tubuh kekar Dirga menangis terharu.
"Saya akan membantu kamu keluar dari penjara masalalu kamu. Kamu mau kan berjuang sama saya?" ujar Dirga dengan mengusap-usap punggung Bulan
Bulan melepas pelukannya dan mengangguk
"Makasih ya mas" Bulan segera mengusap air matanya " Ya udah saya mau mandi dulu. Mas lanjutin makannya ya"
"Ikuuut" Dirga menggoda istrinya dengan suara manja namun tak di hiraukan Bulan yang sudah malu dan keburu lari ke dalam kamar mandi. Dirga hanya terkekeh melihat istrinya
"Meski kamu belum bisa mencintai saya, Saya akan terus menunggu hari itu Bulan. Hari dimana kita akan menjadi orang yang saling mencintai dan menyayangi satu sama lain" gumam Dirga di hati
....
sedangkan di tempat lain
"Bagaimana?" Tanya seorang pria yang tengah duduk di kursi roda pada orang suruhannya
"Nona Bulan ternyata sudah menikah Tuan dengan kekasih dari almarhumah Nona Alyssa tuan." ujar pria berjaket hitam itu
Pria yang duduk di kursi roda itu tertegun sejenak. "Akhirnya sekarang ada menjaga kamu Bulan. Semoga kamu bahagia dan pria itu menerima kamu apa adanya"
"Lalu apa lagi?" lanjutnya bertanya
"Anda bisa lihat sendiri video ini tuan" Pria berjaket hitam itu menyerahkan ponselnya yang terdapat adegan tadi siang di Mall
"Sial. Siapa laki-laki itu" pria berkursi roda itu menunjuk Marcel
"Dia asisten dari suami Nona Bulan. Menurut keterangan para saksi, keributan tadi itu terjadi karna asisten itu melamar nona Bulan" jawab Pria berjaket hitam
"Apa dia tidak mengetahui status Bulan adalah istri atasannya?" tanyanya lagi
"Pernikahan itu sudah berjalan selama 3 bulan namun dirahasiakan oleh mereka. Menurut perkiraan saya, mereka menikah saat nona Alyssa meninggal tuan" pria berjaket hitam itu menjelaskan
"Baiklah. Ini bayaran mu hari ini" pria berkursi roda itu memberi amplop coklat pada pria berjaket hitam itu
"Terimakasih. permisi Tuan" pamitnya
"Apakah kak Alyssa yang meminta Bulan untuk menikahi kekasih kak Dirga. Dari yang aku lihat tadi sepertinya kak Dirga telah jatuh cinta pada Bulan. Terlihat jelas ia tak merasa jijik saat trauma Bulan kambuh dan cara menatap Bulan yang berbeda. Bul, seperti yang aku ucapkan di surat itu, kamu harus bisa mencintai pria itu. Berbahagialah" Pria berkursi roda itu tersenyum sembari menatap langit di sore hari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Next episode ya♥️