
Andai aku bisa egois, aku ingin meminta pada Tuhan agar Dirga tetap disisi ku tanpa membawa Bintangku pergi.
.
.
.
.
"uhuk uhuk" Dirga terbatuk-batuk
Bulan segera melepaskan tangannya dari Marcel.
"Aaaaaaaargghh pedeees" teriak Dirga dengan keras yang membuat mereka semua terkejut.
"Minum!! minumm" teriak Dirga
"Ya ampun kak. Nih" Oliv menyodorkan minum pada kakaknya.
"Kok pedes sih mas, kan aku tadi pesen yang nggak pedes untuk mas??" ujar Bulan mengusap-usap punggung suaminya.
"Nggak tau. Coba aja kamu cicipin."
Bulan mencicipi rujak yang dimakan suaminya tadi. Matanya melotot dan menahan tawa.
"Mas makan bagian punya aku?" tanya Bulan pada suaminya
"Huhaaah ya nggak tau kan kamu yang ngasih itu tadi haah" jawab Dirga disela kepedasannya.
"Yah maaf ya mas. Aku salah ngasihnya hehehe." Bulan cengengesan sembari mengusap punggung Dirga.
"Kalo orang salah harus dihukum kan?" tanya Dirga dengan menaik-turunkan alisnya.
"Mas mau hukum aku?" tanya Bulan balik.
"Nggak susah kok. Cuman nanti malem durasinya agak lama aja." Dirga mengedipkan sebelah matanya genit.
uhuk uhuk
Marcel tersedak rujak buahnnya yang sedang ia makan saat mendengar penuturan Dirga yang sangat vulgar.
"iiihh kak Dirga apaan sih vulgar banget. Lihat kan kak pacar jadi keselek." Oliv segera memberikan Marcel minum.
"Biarin dong. Kan punya istri. Sono buruan kalian nikah biar tau rasanya." ujar Dirga
"Udah-udah, kita disini mau seneng-seneng loh. Tuh senja nya mulai kelihatan." Bintang menengahi perdebatan mereka.
"Kak Marcel, kak Dirga, kak Bulan ayok main air!!" Oliv menarik tangan Marcel dan Dirga.
"Nanti aku nyusul." teriak Bulan pada mereka yang sudah diseret Oliv.
"Keindahan senja masih kalah sama keindahan yang kamu miliki Bul" Ujar Bintang yang membuat Bulan menoleh ke arahnya.
"Penyakit nge gombal kamu masih awet ternyata Bin." jawab Bulan yang membuat mereka terkekeh lalu sejenak terdiam.
"Apa kamu tau kalau aku sempet break kuliah satu tahun Bin?" tanya Bulan.
"Aku tau Bul" jawab Bintang
"Terus kenapa kamu nggak nemuin aku Bin?" tanya Bulan lagi
"Karna aku nggak mampu membahagiakan kamu lagi Bul." ujar Bintang yang membuat Bulan memejamkan matanya menahan sesak.
"Andai waktu itu kamu terus terang, aku akan menemani kamu Bin. Aku mau ikut berjuang sama kamu, mendampingi kamu suka dan duka." Bulan menghela nafasnya berat.
"Kamu milik kak Dirga Bul." Bintang memperingatkan Bulan
"Kamu tau persis gimana aku dan mas Dirga bisa bersama Bin. Semua bukan karna cinta." ucap Bulan
"Tapi Tuhan menakdirkan dia untuk menjadi pelengkap hidup kamu Bul" Bintang menatap Bulan dalam.
"Andai aku bisa egois, aku ingin meminta pada Tuhan agar mas Dirga tetap disisi aku tanpa membawa kamu pergi Bin" Bulan menundukkan kepalanya menahan perasaan yang campur aduk.
"Kamu adalah orang yang membuat jiwa aku hidup dari masalalu yang kelam Bin. Kamu juga yang membuat aku jadi Bulan yang sekarang." lanjut Bulan pada Bintang
"Apapun itu, kamu harus bisa menghadapi kenyataan hidup Bul. Kamu harus bahagia" Bintang tersenyum pada Bulan.
__ADS_1
"Gimana kalau bahagiaku ada di kamu Bin? Bulan menatap manik mata Bintang.
"Bahagia kamu jelas terlihat saat bersama kak Dirga Bul. Saat tugas ku nanti selesai di dunia ini, aku cuma minta satu hal sama kamu." Bintang menggenggam tangan Bulan.
"Ikhlaskan masalalu Bul. Kalau kenangan itu buruk, kamu harus terbiasa untuk kuat dan melawan rasa takut kamu. Kalau kenangan itu indah, kamu hanya perlu menyimpan rapi kenangan itu Bul. Lanjutkan langkah hidupmu dengan orang yang udah ditakdirkan untuk kamu. Kamu mencintai kak Dirga, begitupun sebaliknya." Bintang memberi pesan pada Bulan.
"Sayaaaangggg sini" teriak Dirga
"Sana gih. Mumpung belum gelap, main air dulu" ujar Bintang
"Kamu disini sendiri nggak papa?" tanya Bulan
"Emang disini ada hiu yang mau makan aku?" ledek Bintang
"Ya udah kamu tunggu disini dulu ya" Bulan segera berlari menuju suaminya.
Dirga menarik Bulan ke dalam pelukannya.
"Kangen" ucap Dirga di tenguk Bulan
"iiiih mas lebay banget sih sekarang" protes Bulan
"Biarin aja. Kan sama istri sendiri." Dirga mencium kening Bulan lalu memeluk Bulan dari belakang.
"Pejamin mata kamu sayang" titah Dirga
Bulan pun meng iyakan perkataan suaminya. Bulan memejamkan matanya sembari tersenyum.
"Kamu tarik nafas habis itu buang perlahan"
"Nikmati suara alam ini, dan kamu lepas semua beban di dalam diri kamu" ujar Dirga lagi tanpa melepaskan pelukannya.
Tanpa mereka sadari ada sorot mata tajam yang tengah terbakar api cemburu.
"Kak. Jangan duduk terus dong. Ayok berdiri." Oliv menarik tangan Marcel namun Marcel menariknya ganti.
bruukk
"Iiih kak. Apa...."
*cuuup
"Kak Marcel kebiasaan!" Oliv memukul dada Marcel lalu bangkit dan berlari.
"Oliv tunggu!!!" teriak Marcel namun tak membuat Oliv berhenti.
"Mau kemana Liv?" tanya Bintang saat Oliv mengambil tas di tempat duduknya tadi.
"Pulang" ketus Oliv lalu berlari lagi.
"Oliiiiv!!" teriak Marcel lagi namun tak dihiraukan.
Oliv berlari menuju tempat parkir sembari menangis. Ia merasa direndahkan saat Marcel sempat menyentuh bagian sensitifnya. Oliv menoleh kesana kemari berharap ada taksi yang lewat.
"Liv..." Marcel meraih tangan Oliv namun ditepis kasar oleh Oliv.
"Oliv dengerin aku dulu. Aku nggak sengaja." bujuk Marcel
"Ojekk" Oliv mencegat ojek yang kebetulan sedang lewat.
"Oliv naik mobil aja Liv!" Marcel mencegah Oliv yang hendak menaiki ojek
"Aku mau pulang. Lepas!!" teriak Oliv
"Pak jangan bawa istri saya. Ini saya bayar. Silahkan bapak pergi" Marcel memberi tukang ojek itu selembar uang.
"Wah. Maaf ya neng. Kalo lagi berantem jangan main kabur" ujar tukang ojek itu.
"Pak. Tolong anter saya pulang. Saya nggak mau pulang sama orang gila ini" Oliv meronta agar tangannya di lepas. Namun dengan segera Marcel membopong tubuh Oliv seperti membawa karung di pundaknya.
"Aaaaa turunin kak!!" teriak Oliv sambil meronta memukuli punggung Marcel.
Marcel memasukkan Oliv kedalam mobil.
"Diam disitu atau aku patahkan kaki mu!!" ancam Marcel lalu ikut masuk ke dalam mobil.
"Jangan kayak anak kecil yang apa-apa kabur." tegas Marcel pada Oliv dengan datar dan dingin saat telah duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
Oliv hanya diam dan menatap lurus ke depan.
"Bisa nggak kalo orang tua ngomong di dengerin Liv!!" ujar Marcel dengan kesal
"Apa yang mau didengerin?? Kak Marcel mau jelasin kalo kakak nyium aku karna cemburu sama kak Dirga dan kak Bulan??" kesal Oliv
"Apa maksud kamu Liv?" tanya Marcel dengan nada datar
Oliv menghela nafas menahan sesak di dadanya.
"Aku tau kak Marcel masih cinta sama kak Bulan, tapi seenggaknya jangan lampiaskan semua ke aku kak. Jangan buat aku merasa seolah-olah aku sedang dicintai sama kakak." Ujar Oliv dengan suara serak menahan tangis.
Marcel diam membisu untuk mendengarkan perkataan Oliv lagi.
"Lampiaskan semua sama para wanita penghibur yang siap melayani kakak kalau kak Marcel udah nggak bisa nahan na*su! Mereka siap buka kaki lebar-lebar untuk kak Marcel" ucap Oliv yang membuat Marcel menggebrak setir nya.
braaak
"Jaga ucapan kamu Liv!!" hardik Marcel
"Apa aku salah kak? Lebih baik kakak lakuin itu sama jal*ng yang jelas-jelas tanpa melibatkan perasaan! Kakak pasti puas sama servisan mereka dan kakak bisa lampiaskan kecemburuan kakak sama mereka!!" ucap Oliv tak mau kalah.
"Jangan keterlaluan kamu. Jaga bicaramu" Marcel mencengkeram kasar dagu.
"Apa kakak nggak pernah mikirin perasaan aku kak? Kalau sampe kakak lakuin itu, aku yang terluka kak!! Karna aku yang terlanjur cinta sama kakak duluan, dan kakak hanya melakukan itu karna na*su dan sakit hati sama kak Bulan!!" lirih Oliv dengan isak tangisnya.
Marcel melepaskan cengkramannya. Lidah Marcel terasa kelu untuk berkata-kata lagi. Baru saja Oliv mengungkapkan perasaannya.
"Aku nggak sanggup lagi kak. Maaf"
braaak
Oliv keluar lalu menutup pintu mobil dengan kuat. Oliv berlari sembari menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Aaaaaaaargghh" Teriak Marcel seraya memukul setirnya.
"Kenapa harus sekarang Liv!!"
"Marcel Bodohhhh" teriak Marcel frustasi sembari mengacak-acak rambutnya kasar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next episode??
__ADS_1
Like, komen, and vote biar author semangat up nya