Past For Future

Past For Future
Play solo


__ADS_3

~Sesuai yang kau ucapkan di surat itu, aku akan mencoba untuk mencintainya sepertiku mencintai mu, meski aku tidak yakin akan hal itu. Bulan


"Wah-wah pengantin baru udah stand by aja" Mama dan papa ikut bergabung di meja makan


"Kakaaaaak" teriak seorang gadis yang tengah setengah berlari


Dirga sudah merentangkan tangan dan siap untuk dipeluk.


"Aaaaa Oliv kangen banget sama kak Bulan." Oliv menghambur Bulan memeluknya erat


Semua orang tercengang kemudian melihat ke arah Dirga yang masih merentangkan tangan dan mematung


"Bwahahahaaha" tawa papa dan juga mama pecah


"Kok pada ketawa?? kenapa?" tanya Oliv


"Nggak papa. Cepetan duduk" ketus Dirga


"iiiiiihhh kok gitu sih kak. Oliv kan kangen" Oliv memeluk Dirga namun segera ditepis


"Kakaak. Sok jual mahal banget sih mentang-mentang udah nikah" protes Oliv


"Berisik. cepet Duduk makan!!" ketus Dirga


Semua orang menahan tawa melihat kelakuan mereka berdua. Oliv segera duduk seraya mencebik kan bibirnya


"Oh iya by the way, selamat ya untuk pernikahan kalian. Terutama kak Bulan


makasih banget udah buat kak Marcel sakit hati. Pasti habis ini Kak Marcel mau nerima cinta aku" ucap Oliv dengan mata berbinar


uhuuuk uhuuuukkk


Dirga tersedak makanannya sendiri.


"Mas Dirga pelan-pelan dong" Bulan segera memberikan suaminya minum


"Jadi Marcel suka sama Bulan dek? Wah mama baru denger ini kalo Marcel suka sama cewek" ujar mama


"Mama apa-apaan sih. Bulan itu istri Dirga. Gak boleh ada yang suka sama Bulan" tegas Dirga


"Kamu juga dek. Nggak usah nunggu lulus. Langsung aja nikahin Marcel biar Marcel nggak macem-macem sama istri kakak" ucap Dirga yang sudah emosi


"Udah-udah. Lanjutin makannya jangan pada ribut. Lagian kamu juga ga, cepet-cepet deh buat resepsi biar istri kamu ada cap stempel nya." nasihat mama


"Tapi Bu..." ucapan Dirga terpotong


"Bu apa sih. Mama Ga bukan Ibu"


"Maksud Dirga beberapa bulan lagi aja ma. Dirga mau siapin semuanya matang-matang dulu" ucap Dirga "Siapin diri Dirga untuk mencintai Bulan dan berusaha membuka hati Bulan yang masih jelas tertutup rapat" lanjutnya dalam hati


"Persiapan apa lagi sih Ga. Ya udah terserah kamu aja lah. Papa cuma bisa dukung kalian berdua"


"Makasih ya ma, pa" jawab Bulan dengan senyuman


Setelah selesai makan malam mereka menuju ruang keluarga dan berbincang-bincang. Bulan yang menjadi topik utama. Mama banyak menanyakan tentang masa lalunya di kota S yang membuat Bulan sedikit tidak nyaman.


"Ma, pa. Besok lagi ya ceritanya. Kami mau istirahat dulu." pamit Dirga yang tahu kalau Bulan mulai tidak nyaman


"Ya ampun Ga. Nggak sabaran banget kamu. Padahal mama masih mau ngobrol sama menantu mama lo. Ya udah sana ke atas. Semoga cepet jadi ya adonannya" ujar mama ceplas-ceplos


"Mama apaan sih. Dirga jadi malu. Ayok sayang kita ke kamar" ajak Dirga


"Permisi ma pa" pamit Bulan

__ADS_1


Bulan dan Dirga menyusuri anak tangga namun Bulan malah tersandung.


"aaaaa" teriak Bulan. Ia memejamkan matanya namun tak kunjung terjatuh. Tiba-tiba ia melayang ke udara


"Makanya jalan lihat-lihat. Jangan sibuk mikirin saya terus" ujar Dirga


"Apaan sih. Turunin saya mau jalan sendiri. malu" Bulan melirik ke bawah yang ternyata mertuanya tengah menatapnya dengan cekikikan


Dirga tak menghiraukan perkataan istrinya dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar mereka. Bulan hanya menyembunyikan wajahnya di tenguk suaminya


Dirga mendudukkan istrinya di tepi ranjang. Lalu berjongkok di hadapannya


"Mas duduk aja jangan jongkok" ucap Bulan


"Maafin kata-kata orang tua saya ya. Saya bicara seperti itu tadi biar mereka nggak curiga aja sama hubungan kita" Dirga memegangi kedua tangan istrinya lalu menciumnya


Perempuan mana yang tidak terharu di perlakukan seperti ini. Bulan memandangi wajah suaminya


"Saya nggak marah sama sekali kok mas. Malah saya yang merasa bersalah karna saya belum bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri" Bulan menunduk dan menahan air matanya


"Saya nggak masalah kok. Saya bisa nunggu kamu sampai siap. Kamu mau minta waktu seberapa banyak pun saya kasih. Karna saya mau ngelakuin itu nanti saat kita sudah sama-sama siap dan saling menerima, bukan karna nf**u. okee" Dirga mengangkat dagu Bulan agar menatapnya. Bulan mengangguk


"Kita sholat isya dulu yuk. Saya mau mulai sekarang kita jamaah, jangan sendiri-sendiri terus sholat nya kita kan suami istri." Bulan mengangguk. Dirga setengah berdiri lalu mencium kening istrinya.



Assalamualaikum warahmatullahi


Selesai sholat Dirga memimpin doa setelah itu menoleh kearah istrinya. Bulan mencium tangan Dirga


"Boleh saya cium kamu lagi?" tanya Dirga


"Tumben nanya dulu" jawab Bulan dengan senyum mengejek


cup cup cup cup cup


Dirga menyapu seluruh bagian di wajah istrinya dan berakhir di bibir. Dirga tersenyum melihat istrinya terpejam dan perlahan membuka matanya.


Mata keduanya saling tatap. Dirga menempelkan dahi mereka lalu merengkuh tubuh Bulan dalam pelukannya.


"Saya akan menjaga kamu seumur hidup saya Bulan. Saya berjanji akan melindungi kamu" ucap Dirga sambil mengusap-usap punggung istrinya


"Bagaimana kalau suatu saat saya pergi meninggalkan mas Dirga" ucap Dirga


Dirga langsung melepaskan pelukannya lalu menatap manik mata sang istri


"Saya yakin kamu bukan orang yang seperti itu. Saya akan membuat kamu mencintai saya dan saya nggak mau lagi kehilangan orang yang saya sayang lagi. Bukankah kamu sudah tau bagaimana rasanya ditinggal orang yang kita sayang?" Dirga mengusap wajah Bulan


"Saya akan berusaha mas walau saya tidak berjanji namun saya akan mencoba" Dirga memeluk Bulan lagi.


"Terimakasih sayang. Terimakasih sudah memberi peluang untuk saya. Saya beruntung punya kamu" Dirga menitikkan air matanya. "Bagi saya kehilangan Alyssa adalah hal yang paling menyakitkan. Untuk itu saya nggak mau kehilangan kamu juga. Itu akan lebih perih karna kamu adalah istri saya yang di titipkan Tuhan untuk saya. Orang yang pantas untuk mendapat cinta yang paling dalam seumur hidup saya"


Bulan pun sudah tak bisa lagi menahan isak tangisnya.


"Tuhan yang menakdirkan pernikahan ini ada. Bintang, sesuai dengan yang kamu ucapkan di surat itu, aku akan mencoba untuk mencintai mas Dirga seperti aku mencintaimu meski aku nggak yakin dengan itu" guman Bulan dalam hati


Ia melepas pelukan itu dan mecium kening suaminya.


"Kok di kening sih. Disini dong" Bulan menunjuk bibirnya dan tersenyum mes*m


"Ih. Mas Dirga mah ngerusak suasana aja" Bulan beranjak melepaskan mukenanya lalu menengkurapkan tubuhnya ke atas ranjang.


Dirga terkekeh sendiri lalu mengusap air matanya.

__ADS_1


"Nggak sopan tauk, suaminya di tinggal sendirian" Dirga menyusul istrinya ke ranjang lalu merebahkan diri


"Kamu itu lasak juga ya kalo tidurnya nggak saya peluk" ucap Dirga yang menghadap ke arah istrinya


"Saya nggak denger. Saya tidur"


"Oh ya??" Dirga menggelitiki Bulan hingga bulan menggeliat seperti cacing kepanasan


"Maaaas. Ampun geli hahahaha" Tanpa sengaja baju Bulan tersingkap ke atas hingga memperlihatkan perut mulusnya.


Cuuup.


Ciuman ini berbeda dari sebelumnya. Bulan dan Dirga saling menikmati. Hingga tangan nakal Dirga mengusap bagian tubuh Bulan yang terekspos


"Masssss" Lirih Bulan


Dirga segera menyadari perbuatannya lalu menutup tubuh Bulan dengan selimut


"Saya nggak sengaja" Dirga mengecup kening Bulan lalu tidur membelakangi Bulan


hening


"Mas marah sama saya?" tanya Bulan


"Kamu tidur aja Lan. Saya takut kebablasan. Saya itu juga laki-laki normal yang kapan aja bisa nyerang kamu." Lirih Dirga menahan gejolak pada dirinya


"Maafin saya mas" ucap Bulan. Bulan menatap punggung suaminya dengan iba


"Mas mau kemana?" tanya Bulan saat Dirga beranjak


"Main solo" Dirga segera berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya


"Maksudnya?" Bulan bertanya pada dirinya sendiri


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kasian mas Dirga hahaha. Maafin author ya mas


Jejakmu adalah angin sumringah untukku. See you next episode guys🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2