
"Ini semua gara-gara kamu mas!" ujar Bulan pada suaminya
"Ya maaf. Dokter bilang juga nggak papa kan" jawab Dirga dengan santai
"Huuuh" Bulan menghela nafas berat
"Kenapa?" tanya Dirga
"emmm" Bulan ragu dengan apa yang akan ditanyakan nya.
"Bintang?" tebak Dirga
Bulan mengangguk lalu menundukkan kepalanya.
"Ayo" Dirga menarik Bulan
"Kemana?" tanya Bulan
"Ikut aja" jawabnya
Bulan hanya diam. Kalaupun Dirga akan memarahinya ia pasrah.
"Kenapa diem aja" tanya Dirga saat mereka telah masuk ke dalam mobil
"Nggak" jawab Bulan dengan datar
"Udahan dong cemburunya. Jangan marah terus." bujuk Dirga
Bulan hanya diam. Pikirannya sudah melayang.
"Dia masih sempet-sempetnya bahas masalah cemburu. Apa dia sendiri nggak cemburu sama aku dan Bintang" gumam Bulan dalam hati
"Sayang" Dirga memegangi tangan Bulan lalu mengecupnya
"Eh" Bulan terkejut refleks menarik tangannya
"Udahan dong cemburunya. Mas sama wanita gila itu nggak ada apa-apa." Dirga mencoba memberi penjelasan
"Tapi enak kan ciuman dari pelakor?" tanya Bulan dengan judes
"Enak. Tapi lebih manisan punya kamu yank" goda Dirga dengan senyum mesumnya
bruuuk
Tas melayang tepat mengenai wajah Dirga yang membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Nggak sengaja" ucap Bulan cuek
"Ya udah marahnya jangan tanggung-tanggung dong. Nanti malam mas pasrah deh kamu mau nyerang mas gimanapun. Kamu yang di atas juga nggak papa" jawab Dirga yang masih sempat berkata mesum
"Udah cepet kita sebenernya mau kemana sih??" Bulan mengalihkan pembicaraan Dirga
Dirga tersenyum menang saat melihat wajah merah sang istri lalu menyalakan mobilnya dan melaju.
hening
Dua puluh menit kemudian mobil berhenti di depan rumah sakit.
"Kok ke rumah sakit?" tanya Bulan
"Kamu masuk aja. Bintang ada di dalam. Mas mau ke kantor dulu." ujar Dirga dengan santai tanpa ada raut wajah cemburu
"Saya nggak mau" jawab Bulan
"Why??"
"Suami saya nggak ikut" ucap Bulan yang membuat Dirga terkekeh
"Kok malah ketawa sih. Tuh kayaknya bener kalo selama ini mas Dirga nggak bener-bener cinta sama aku. Nggak ada cemburunya sama sekali" batin Bulan
"Kamu masuk aja. Nanti mas jemput kamu" ujar Dirga sembari mengusap kepala Bulan
"Emang siapa yang sakit?" lagi-lagi Bulan bertanya
"Nanti kamu tau sendiri. Udah sana cepet mas mau ke kantor" usir Dirga
"iiiiisss ngusir" gumam Bulan yang masih didengar oleh Dirga
Bulan pun hendak membuka pintu mobil namun dicegah oleh Dirga
__ADS_1
"Mau kemana?? nggak sopan banget sama suami" cegah Dirga
"Tadi katanya suruh cepet keluar" jawab Bulan dengan kesal
"Iya. Tapi kan belum salim" Dirga menyodorkan tangannya
Tak ingin lagi berdebat, Bulan segera meraih tangan Dirga dan menciumnya.
"Eh bentar dulu" cegah Dirga lagi saat Bulan hendak membuka pintu mobil
"Apa lagi sih mas" kesal Bulan
Dirga menunjuk-nunjuk pipinya mengisyaratkan minta dicium.
"Pak tua ini bener-bener ya. Untung suami, kalo bukan udah aku jadiin remahan rengginang dari tadi" umpat Bulan dalam hati
"Kamu atau mas yang cium?" Dirga menaik-turunkan alisnya
Bulan yang sudah jengah pun segera mempercepat urusannya dengan sang suami.
"Sini" ucap Bulan ketus
Dirga pun mendekatkan pipinya. Bukan Dirga namanya kalau ia tidak usil. Saat istrinya hendak mencium pipinya dengan cepat ia menoleh dan
cuuup
Bulan tak membalas ataupun menolak dengan kelakuan suaminya yang main sosor. Pasrah. Ya mau gimana lagi, nolak juga dosa.
"Lunas" ujar Dirga saat telah selesai dengan bibir istrinya
"Assalamualaikum" pamit Bulan lalu keluar dari mobil.
"Hei. ngaca dulu sayang. Lipstiknya belepotan!!" teriak Dirga dari dalam
Bulan tak menghiraukan ucapan suaminya. Ia hanya mengelap kasar bibirnya dan berlari menuju rumah sakit.
"Gemesss." ujar Dirga saat melihat istrinya berlari dengan malu.
…
cklekk
"Assalamualaikum" Bulan masuk ke dalam ruang rawat VIP.
"Bundaaaaa" Bulan segera menghampiri dan memeluk erat sang Bunda yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri.
"Bulan" Bunda mengeratkan pelukan Bulan sembari mengusap-usap punggung Bulan
"Bunda apa kabar" ujar Bulan dalam pelukan bunda
"Bunda baik nak. Kamu baik kan?" tanya bunda seraya melepaskan pelukannya
Bulan mengangguk lalu menoleh ke arah Bintang yang tengah duduk di ranjang dan tersenyum ke arahnya.
"Maafin Bunda ya Lan. Bunda pergi nggak pamit sama kamu. Semua ini permintaan Bintang" ujar bunda dengan raut wajah merasa bersalah.
"Bulan masih belum ngerti buk" jawab Bulan
"Biar Bintang yang jelasin ya." Bunda menuntun Bulan untuk berbicara dengan Bintang
"Bin"
"Bul. Maaf ya." Bintang meraih tangan Bulan lalu menggenggamnya.
Bulan hanya diam untuk menunggu penjelasan selanjutnya dari Bintang.
"Kanker otak stadium akhir" ujar Bintang lalu menundukkan kepalanya
Bulan menutup mulutnya sembari menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.
"Bin, kamu bercanda kan?" tanya Bulan tak percaya
"Aku nggak bercanda Bul. Dan dokter memvonis umur aku nggak bakalan lama lagi" tambah Bintang yang membuat Bulan meluruhkan air matanya.
"hiks hiks. Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku Bin??" kaki Bulan melemas dan terduduk di tepi brankar.
"Karna aku mau Bulan bahagia tanpa Bintang" Bintang mengusap air mata Bulan
"Apa kamu pikir dengan kepergian kamu aku bahagia Bin?? Apa kamu tau gimana gila nya aku waktu kamu pergi? hiks hiks" Bulan mencoba mengeluarkan uneg-uneg nya
__ADS_1
Bunda yang duduk di sofa pun juga ikut menangis tanpa bisa mengendalikan air matanya.
"Kamu harus bisa. Kamu harus terbiasa Bul. Kamu harus bahagia sama kak Dirga" ujar Bintang sembari menggenggam erat tangan Bulan.
Bulan tak dapat lagi menahan Isak tangisnya. Ia menghambur ke pelukan Bintang.
"Gimana kalo aku nggak bahagia sama mas Dirga, Bin? Apa kamu akan tetap disisi aku?" tanya Bulan yang sudah buntu dan shok dengan keadaan Bintang saat ini
"Kamu nggak bisa bohong Bul. Aku tau kamu udah buka hati untuk kak Dirga." Bintang melepas pelukannya dan memegangi wajah Bulan agar menatapnya
"Kak Dirga orang yang baik Bul. Dia juga sangat mencintai kamu" ucap Bintang meyakinkan
"Apa yang membuat kamu yakin dengan hubungan kami Bin??" tanya Bulan disela isak tangisnya
"Kamu tau alasan kak Dirga membawa kamu ke sini??" tanya Bintang balik yang hanya di jawab gelengan kepala Bulan
"Karna kak Dirga mau menyelamatkan hubungan kalian Bul. Dia memberi kita waktu untuk menyelesaikan masalah kita. Coba kamu ada di posisi kak Dirga, apa kamu mampu melihat orang yang kamu cintai bersama wanita lain??" Bintang menatap lekat mata Bulan yang terus mengeluarkan air matanya
"Kamu nggak akan sanggup Bul. Buktinya kamu marah dan cemburu kan waktu kak Dirga di jebak sama wanita itu?" tanya Bintang yang membuat Bulan menatapnya lekat
"Kak Dirga cinta sama kamu Bul. Dia mau mempertahankan istrinya walaupun aku hadir di antara kalian" lanjut Bintang
"Kamu mau kan maafin kesalahan kak Dirga. Kamu harus janji untuk mencintai dia selamanya. Seperti yang aku tuliskan di dalam surat itu, aku ikhlas Bul. Ikhlaskan masa lalu kita untuk masa depan kamu." Bintang terus memberi nasehat pada Bulan
"Dan satu hal lagi. Kamu harus janji sama aku untuk memperbaiki semua kesalahan-kesalahan dimasa lalu kamu. Kamu harus memaafkan ayah kamu agar hidup kamu nggak di penuhi rasa takut lagi. Ikhlaskan semua Lan, ikhlaskan. Will you promise me?" Bintang menjulurkan kelingkingnya.
Bulan sedikit menimbang-nimbang ucapan dan permintaan Bintang. Bintang menatapnya dan mengangguk tanda meyakinkan Bulan.
"Yes I promise" Bulan menautkan kelingkingnya ke kelingking Bintang.
"Bintang bahagia kalau Bulan bahagia." Bintang mencium kening Bulan lalu memeluknya erat
"Bunda, sini dong" ajak Bintang agar bundanya ikut berpelukan
"Cinta tak harus saling memiliki. Bulan ku sayang, aku pastikan kamu bahagia bersama orang yang tepat. Bunda, Bintang akan selalu ada di hati Bunda. Maafin Bintang yang nggak bisa bersama kalian lagi nanti" ujar Bintang dalam hati
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Doa yang paling menyakitkan adalah meminta pada Tuhan bukan untuk saling memiliki, namun untuk saling mengikhlaskan. -**Bintang Mahesha
Like, komen and vote ya sahabat setia Past for future ♥️♥️**