Past For Future

Past For Future
Keluarga kecil


__ADS_3

...Sungguh, aku ingin hubungan ini tetap ada meski harus mengorbankan hatiku sendiri....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dinding cat putih menghiasi ruangan dimana putra Marcel dan Verta dirawat. Ini sudah seminggu setelah hari itu. Kini mereka tengah bersiap untuk pulang ke rumah yang telah dirindukan. Boy nampak sehat bugar dan sangat ceria saat Uncle Cel nya menjanjikan akan membelikan nya sebuah motor mini.


"Uncle, nanti langsung ajarin Boy naik motornya ya." ujar Boy saat sedang dalam perjalanan pulang.


"Uncle bakal ajarin, tapi seminggu lagi, oke."


"Kok nunggu seminggu sih?" tanya Boy.


"Boy itu harus sembuh total dulu, setelah itu baru kita bisa belajar motor sampe puas. Okee." bujuk Marcel.


"Hmmm." Boy berfikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya "Oke deh. Tapi janji jangan lebih dari seminggu."


"Iya, Uncle janji. Mommy yang jadi saksi ya." Marcel menoleh ke arah Verta sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Oke siap." jawab Verta antusias.


"Cel, kita mampir di perempatan dulu nanti ya. Aku mau beli jagung bakar." pinta Verta.


"Okee."


Verta turun dari mobil sembari menyincing tas nya. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, ia selalu menampilkan rambut yang di ikat kebelakang dengan tinggi, body nya sungguh sempurna hingga ia sering disebut 'Hot Mom'. Karna tak ingin banyak orang yang mencuri pandang tubuhnya, Verta lebih sering menggunakan blazer atau cardigan.


brukk


Verta ditabrak seorang wanita yang tampak sangat tergesa-gesa. Untung saja ia bisa mengimbangi diri untuk tidak jatuh. Kalaupun itu terjadi pastinya mereka akan menjadi bahan pertontonan banyak mata.


"Aduh kak, maaf banget ya." wanita yang menabrak Verta meminta maaf. Verta menatap wanita itu.


*deg


"Oliv!!" kejutnya dalam hati*.


"Ya udah, nggak papa. Kamu nggak papa kan?" Verta berbicara dengan canggung.


"Iya kak, nggak papa. Maaf ya kak, tadi soalnya aku lihat mobil pacar aku lewat. Tapi kayaknya bukan deh." Olive menyengir kuda.


"Ya udah, lain kali hati-hati ya." Verta tersenyum canggung.


"Oh, iya kak. Namaku Olivia." Oliv menyodorkan tangan kanannya.


"Aku Verta." menjabat tangan Oliv.


"Oh iya, btw kakak mau kemana cantik-cantik blusukan di sini?" tanya Oliv.


"Eh, itu, aku mau beli jagung bakar." gugup Verta


"Jagung bakar? aku mau beli juga deh. Pacar aku suka banget jagung bakar." antusias Oliv.


"Oh ya?" Verta masih canggung.


"Tapi aku juga mau beli jagung bakar untuk Marcel, Liv."


"Ayok, barengan kesana." Oliv menarik tangan Verta hingga di depan penjual jagung bakar.


"Pak, jagung bakarnya sepuluh ya." pesan Oliv saat telah menanyakan jumlah yang akan dipesan Verta.


"Kalau boleh tau kakak umur berapa?" tanya Oliv.

__ADS_1


"Aku 28 tahun, Liv." jawab Verta.


"Hah? serius?? aku kira kakak tadi masih umur 23-an loh." Verta hanya cengengesan menanggapi Oliv.


"Kakak udah nikah?" tanya Oliv lagi yang membuat Verta diam sesaat.


"Udah punya anak." Verta tersenyum kecut.


"Oh, iya-iya. Kakak kesini nya sama suami kakak ya. Do sweet banget." puji Oliv.


"Em, iya Liv." Verta terus memaksakan senyumnya.


"Mbak, pesanannya sudah jadi." ujar seorang pria dewasa dengan khas medok nya.


"Kembaliannya ambil aja. Makasih ya pak." Oliv menerima jagung bakar itu.


"Ini untuk kak Verta." Oliv menyerahkan 6 bungkus jagung bakar.


"Banyak banget, Liv. Kan aku persennya tiga." Verta terheran.


"Udah nggak papa, aku yang traktir. Biar kalian bertiga makannya double."


"Ya ampun, makasih banget ya Liv."


"Mungkin ini salah satu alasan kenapa Marcel memilih kamu untuk jadi pendamping hidupnya. Kamu baik sama siapapun, Liv. Aku semakin merasa bersalah sama kamu"


brakk


Verta menutup pintu mobil setelah membungkus 6 jagung bakar.


"Udah Ta? kok banyak banget?" Marcel mengerutkan keningnya.


"Iya, hehe. Kamu sama Boy kan suka banget, jadi aku beli agak banyak." Verta beralasan. Marvel hanya ber-oh ria sembari mengangguk kan kepalanya.


Sepanjang perjalanan pulang Verta


hanya melamun, memikirkan tentang Oliv.


"Aku semakin merasa bersalah dan malu sama Oliv setelah foto ciumanku dan Marcel dilihat sama Oliv. Maaf Liv, aku nggak bermaksud untuk menghancurkan hati kamu." gumam Verta dalam hati."


"Ayok turun." ajak Marcel saat telah sampai di halaman rumah Verta.


"Oke. Yuk." Mereka bertiga pun turun dari mobil kemudian menuju pohon yang Boy maksud.


"Ya udah, Mommy ambil tikar dulu ya." ujar Verta yang diangguki kepala oleh Boy.


"Nenek ada di dalam, Boy?" tanya Marcel


"Nenek pulang kampung, Uncle. Katanya mau lihat kebun yang di sana gitu."


"Oooh, terus sekolah Boy gimana?" Marcel mensejajarkan dirinya dengan putranya.


"Oke-oke aja sih, Minggu depan Boy terima raport. Uncle datang ya sama Mommy." pinta Boy dengan girang.


"Tapi Uncle nggak janji ya." Marcel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Plissss. Sekali iniiii aja. Temen-temen Boy semuanya pada bawa orang tua mereka." Boy mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Terus Uncle dapet apa setelah itu?"


"Apapun yang Uncle minta pasti Boy kasih." ujar Boy antusias.


"Aku nggak tega melihat putra ku seperti ini terus. Aku juga pengen jadi ayah yang bisa memberikan kasih sayang untuk Boy setiap saat. Tapi maafin Daddy nak, Daddy nggak sanggup untuk membantah Mommy kamu yang selalu membatasi pertemuan kita. Mommy kamu sudah berjuang banyak sampai saat ini, Daddy nggak mau membuat luka baru."


"Cel, bantu aku gelar tikar nya dong."


"Sini,"


Mereka menghabiskan waktu sore mereka dengan bersenda gurau di bawah pohon mangga yang rimbun. Berkali-kali Verta dan Boy dibuat terpingkal dengan tingkah Marcel yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.


Mungkin orang mengira mereka bertiga ialah keluarga yang sangat bahagia. Padahal mereka hanya terikat karna hubungan yang buruk di masa silam.


"Boy, sekarang giliran kamu fotoin Uncle sama Mommy dong." Marcel merangkul bahu Verta dengan erat.


"Oke-oke. Siap-siap ya. satu... dua... ckrekk." Boy memfoto Mommy dan Uncle nya.


Setelah foto diambil, Verta segera melepaskan rangkulan Marcel. Kemudian memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.

__ADS_1


"Jangan terlalu dekat denganku, Cel. Itu akan kembali membuka luka lama ku." batin Verta.


Verta yang sedari tadi melirik Marcel memainkan ponselnya sembunyi-sembunyi pun akhirnya angkat bicara karna ia tiba-tiba teringat Oliv yang juga membelikan Marcel jagung bakar.


"Angkat aja telpon nya, Cel."


"Eh, nggak papa. Nggak penting kok." Marcel kembali memasukkan ponselnya.


"Angkat, Cel. Nggak mungkin kan kalo nggak penting orang itu nelfon terus." tutur Verta.


"Ya udah, Uncle Cel angkat telpon dulu ya Boy." Boy mengangguk setuju.


Marcel beranjak dan mengangkat telepon dari Oliv agak jauh agar tidak didengar Verta dan Boy.


"Halo Liv, kenapa?" tanya Marcel kesal.


"Kak Marcel tu kemana sih? udah seminggu loh kak Marcel ngilang. Kak Marcel nggak mikirin aku apa? Udah diusir dari Mansion, Kak Dirga juga masih diemin aku terus di rumah. Aku mau ketemu sama kak Marcel sekarang." kesal Oliv panjang kali lebar.


"Oke-oke, kamu mau ketemu di mana? Aku kesana sekarang."


"Di taman biasanya ya."


"Oke. Aku sekarang kesana ya." Marcel menutup telpon lalu menuju ketempat di mana Verta dan Boy duduk.


"Udah habis makannya?" tanya Marcel sembari mengusap kepala Boy.


Belum sempat Boy menjawab, Verta sudah menyela "Nak, Uncle mau pulang dulu. Minggu depan Uncle kesini lagi ya." ujar Verta.


"Oh, ya udah nggak papa kok Uncle. Makasih ya udah nemenin Boy terus di rumah sakit."


"Eh, iya sama-sama. Kalo gitu Uncle pamit dulu ya."


"Ayok aku antar sampe mobil, Cel." ujar Verta. Marcel hanya mengangguk.


Mereka berjalan beriringan namun sedikit berjarak. Ada rasa tak rela dalam diri Marcel disaat seperti ini. Meninggalkan putra yang hanya menganggapnya sebagai Paman.


"Hati-hati ya, Cel." pesan Verta saat telah sampai di pintu kemudi mobil Marcel.


grepp


Marcel memeluk erat wanita yang telah ia rusak hidupnya dan kini menjadi ibu untuk anaknya.


"Cel, aku nggak bisa nafas..." lirih Verta. Padahal Verta merasa sesak karna perlakuan Marcel yang terlalu dekat dengannya.


"Makasih, Ta. Makasih udah mau menjaga anak kita dengan baik. Kamu ibu yang sempurna, Ta. Boy beruntung punya kamu. Maafin kesalahan aku, Ta. hiks" Marcel menumpahkan air matanya di bahu Verta. Verta pun tak bisa lagi membendung air matanya, ia ikut terisak di pelukan Marcel.


"Udah jangan melow terus deh." Verta melepaskan pelukan Marcel. "Kamu juga ayah yang hebat untuk Boy. Makasih kamu selalu ada untuk hidup kami." Verta menepuk bahu Marcel yang lebih tinggi dari tubuhnya.


cup


Marcel mencium kening Verta cukup lama. Verta pun hanya memejamkan matanya menerima perlakuan Marcel.


"Aku pamit ya." Marcel merapikan rambut Verta yang berantakan.


"Hati-hati di jalan, Cel." Verta membuka kan pintu mobil untuk Marcel.


"Siap Mommy." Marcel menghapus sisa air matanya sembari tersenyum ke arah Verta.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai guys. Makasih udah mampir di cerita recehan ini. Semoga berkenan di hati para pemirsa hehe

__ADS_1


Oh iya, sambil nungguin Past For Future update, aku rekomendasikan novel keren juga nih untuk kalian. Jangan lupa mampir ya😍



__ADS_2