
"Boy, harusnya kamu berterimakasih dong sama Uncle Cel, Uncle udah capek-capek kerja loh buat beliin Boy mainan baru." bujuk Verta.
"Udah-udah. Yang penting sekarang Boy sehat ya. Nanti kalau Boy udah sembuh, Uncle beliin Play Station. Biar kita bisa nge game bareng." rayu Marcel berwibawa ke-bapakan.
Boy menggelengkan kepalanya "Boy nggak mau PS, Boy maunya Uncle Cel nikah sama Mommy terus jadi Daddy nya Boy."
deg
"Nak, kamu jangan aneh-aneh deh. Uncle Cel bentar lagi tu mau nikah. Kamu bentar lagi bakal punya aunty." Verta segera menepis kecanggungan di antara mereka.
"Uncle Cel mau nikah?? Yahh, padahal Boy pengen banget punya Daddy." Boy menundukkan kepalanya sedih.
"Uncle Cel itu Daddy kamu, Boy." ujar Marcel yang membuat Verta melotot pada Marcel.
"Serius??" sorak Boy. Verta mencubit lengan Marcel.
"Maksud Uncle Cel, Boy itu udah kayak anak Uncle Cel sendiri. Jadi Boy boleh anggap Uncle Cel Daddy nya Boy." Verta menjelaskan pada putranya.
"Oh, gitu ya." Boy kembali memasang wajah kecewa.
Marcel memegangi kedua bahu Boy "Come on Boy, Jangan melow dong. Uncle janji akan selalu ada untuk Boy." Marcel mengangguk sembari tersenyum untuk meyakinkan Boy.
"Promise?" Boy mengacungkan kelingkingnya.
"I'm promise, my Boy." Marcel mengeratkan kelingkingnya pada kelingking Boy.
"Ya udah, kalian di sini dulu ya. Mommy mau urus administrasinya dulu." pamit Verta yang dibalas anggukan kepala Marcel dan Boy.
Verta keluar dari ruangan itu kemudian memegangi dadanya yang sesak. Bagaimana tidak? Boy meminta Marcel untuk menjadi Daddy nya. Padahal tanpa Boy meminta pun Marcel memang lah Daddy nya.
Air mata Verta luruh untuk kesekian kalinya. Ia bersandar pada dinding sembari mendekap kalung yang ia kenakan.
"Tuhan, tolonglah hamba. Hamba hanya ingin bahagia tanpa mengganggu kebahagiaan Marcel. Berkati lah hidup kamu." Verta semakin menggugu.
Selesai dengan urusan administrasi, Verta berlari ke taman untuk menenangkan gejolak yang ada pada dirinya. Setelah merasa cukup kuat untuk berhadapan dengan kedua pria nya, ia kembali masuk kemudian menuju ruang rawat putranya.
"Hai...
"Ssssstt..." Marcel menyuruh Verta untuk diam.
"Udah tidur?" bisik Verta.
"Udah, ayok keluar aja." balas Marcel dengan berbisik juga.
Merekapun melangkah keluar dari ruang rawat Boy.
"Aku mau ngobrol sama kamu, Ta. Kita ke taman aja ya."
"Tapi Boy gimana?
"Aku udah nyuruh suster untuk stand by di dalem. Yukk." Marcel menggandeng tangan Verta.
"Eh, em iya yok." gugup Verta "Em, Cel. Jangan gandengan, aku takut ada yang mata-matai kita lagi." Verta melepaskan tangan Marcel.
"Oh, fine."
"Kita ngobrolnya di mobil kamu aja ya Cel. Yokk." Verta berjalan mendahului Marcel. Marcel pun mengikuti Verta sembari mengantongi tangannya dengan cool.
brakk
Verta mendudukkan dirinya di jog mobil Marcel. Ia terdiam untuk menyimak apa yang akan Marcel katakan. Tangannya sudah saling mereemas gugup.
"Ta," panggil Marcel.
"Iya, Cel." Verta tersenyum canggung.
__ADS_1
"Apa kamu keberatan kalau aku sama Oliv akan menikah?" tanya Marcel serius.
"Sejak kapan sih aku ngelarang kamu, Cel. Lagian kita nggak ada hubungan apa-apa, untuk apa juga aku ngelarang-ngelarang kamu."
"Terus gimana sama Boy?" cemas Marcel.
Verta menggenggam tangan Marcel "Bukankah kamu pernah bilang kalau Oliv itu cewek yang baik? Aku yakin Oliv bisa nerima kamu dan Boy." Verta menenangkan Marcel.
Marcel tersenyum tipis "Apa kamu tau alasan aku ingin memiliki Oliv?" ujar Marcel yang membuat kening Verta berkerut.
"Oh, tentu aku tau. Karna kamu udah tua dan pengen ngerasain anget-angetan di surga dunia kan??" seloroh Verta yang membuat Marcel menjitak kepala Verta.
"Awwww. Kebiasaan!" kesal Verta.
"Lagian otak kamu tu ngeres terus." Marcel terkekeh "Atau jangan-jangan kamu yang belum bisa move on dari banana aku yaaa." goda Marcel yang membuat muka Verta merah padam.
"Eh, aku salah ngomong ya. Maafin aku, Ta." Marcel memegangi bahu Verta agar menatapnya.
"Nggak papa kok, Cel. Santai." Verta tersenyum dengan paksaan.
"Oh iya, apa kabar si Bulan istri boss kamu itu?" Verta mengalihkan pembicaraan dengan menekankan kata istri Boss. Marcel hanya diam yang membuat Verta terkakak.
"Yaelah, kesian amat sih bang. Nggak dapet kakak iparnya, dapet adik iparnya pun jadi hahahahaha." Verta terbahak-bahak.
"Kalo kamu ketawa lagi aku cium." ancam Marcel langsung membuat Verta kincep.
Verta menggelengkan kepalanya saat Marcel semakin mendekatkan wajahnya.
semakin dekat ...
semakin dekat ...
semakin dekat ...
"Kamu tu mau kemana kok masang sabuk pengaman segala?" tanya Marcel
blush
"Hehehe, ya maap." Verta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ta," panggil Marcel lagi.
"Hmm," Verta menoleh ke arah Marcel.
"Sampe kapan?" Marcel memiringkan badannya agar menghadap Verta dengan sempurna "Sampe kapan Boy terus menganggap aku Uncle nya?"
"Cel, kamu tau sendiri kan...
"Itu akan membebani kehidupan aku selanjutnya. Dan Boy akan terus menuntut kita untuk bersama." Marcel menebak kata-kata yang selalu Verta ucapkan saat ia menanyakan tentang Boy.
"Cel," Verta meraih tangan Marcel namun ditepis.
Verta menghela nafas "Aku takut persahabatan kita hancur, Cel." Verta menyandarkan tubuhnya di jog mobil.
"Itu nggak akan terjadi, Ta."
"Biarkan seperti ini dulu, Cel. Aku belum siap kalau Boy tau ayahnya masih ada di dunia ini." Verta memejamkan matanya.
"Apa yang kamu takutkan, Ta." ujar Marcel dengan penekanan.
"Aku takut saat Boy tau kalau kamu Daddy nya, ia akan memilih hidup sama kamu dan Oliv."
"Itu nggak akan terjadi, Ta. Boy akan tetap milik kamu dan aku."
"Tolong jangan paksa aku dulu , Cel."
__ADS_1
brakk
Verta keluar dari mobil Marcel kemudian berlari entah kemana tujuannya. Hingga akhirnya ia duduk di bawah pohon yang cukup meneduhinya.
Pov Verta
Ku pukuli dadaku yang mulai sesak. Aku mulai mengatur nafas untuk menetralkan perasaanku. Sudahlah, air mata sudah tidak bisa lagi dibendung. Aku nggak boleh lemah di depan Boy, putra ku. Aku harus bisa menanggungnya sendiri.
Angin mengalun lembut menerpa wajahku yang pilu. Ku hirup dalam-dalam kemudian ku hempaskan dengan kasar. Aku Verta, ini tentang hidup ku. Tentu banyak orang bertanya-tanya mengapa aku bisa memiliki anak namun status ku masih gadis. Akan ku ceritakan tentang pengalaman buruk ku 10 tahun silam.
Aku adalah gadis berusia 17 tahun kala itu. Aku yatim piyatu dan aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Saat menginjak Sekolah Menengah Akhir (usia 16) aku di kirim oleh kakek nenek ku ke kota untuk sekolah yang lebih layak. Benar saja, sekolah di kota sungguh menyenangkan dan bebas.
Awal mula aku hanya memiliki satu sahabat perempuan, hingga aku mengenal pria pendiam dan judes di kelas ku. Karna saking penasarannya aku dengannya, maka aku berupaya keras untuk mengenalnya lebih lanjut.
Awalnya Marcel merasa risih saat aku terus membuntuti nya. Bagaimana tidak? Aku selalu berbicara panjang kali lebar dan selalu menempel padanya dimana pun dia berada. Perlahan ia menerima ku sebagai teman hingga usia pertemanan kami menginjak satu tahun.
Ini lah awal dari kehancuran hidupku. Aku sering mengajaknya pulang ke kost untuk mengerjakan atau sekedar rebahan bersama. Aku yang saat itu sangat polos tanpa bimbingan dari orang tua, dengan suka rela memberikan kehormatan ku pada Marcel.
Kami tidak munafik, kami mau sama mau. Kami sering melakukan itu secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya aku mengandung Boy. Hancur? jelas hancur. Aku dikeluarkan dari sekolah dan dihina habis-habisan.
Aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Awalnya aku sempat di pukul dan dicambuk. Tapi kakek dan nenekku masih punya hati nurani, mereka masih mau menampung ku. Kebetulan jarak rumah kami dari warga cukup jauh, jadi aku aman di dalam rumah itu.
Aku tidak memberi tahu siapapun tentang ayah dari anak yang ku kandung terkecuali kakek dan nenek ku. Aku tak ingin menghancurkan hidup Marcel. Kami berdua tidak menikah, kami mendapat tentangan keras dari keluarga Marcel. Saat itu Marcel tetap bersikukuh untuk menikahi ku, tapi aku menolak.
Aku tau Marcel tidak mencintai aku, untuk itu aku meminta Marcel memilih mengejar mimpi dan harapannya. Meskipun kami tidak menikah, namun Marcel tetap bertanggung jawab penuh terhadap anak kami. Menuruti semua ngidam ku, menemaniku bersalin, menimang anaknya, dan menjaga aku dan Boy hingga sekarang.
Sekarang yang menjadi prioritas ku ialah kebahagiaan marcel sahabat ku dan Boy anakku. Aku tidak memikirkan lagi tentang diriku. Cukup memiliki Boy aku sudah sangat bersyukur.
Tapi bukan hanya ini rahasia yang disimpan rapi oleh Marcel. Tapi ada satu lagi sesuatu yang ia privasi kan sampai saat ini. Aku ikut cemas saat nanti calon istri Marcel mengetahuinya. Privasi Marcel akan menjadi jalan yang berat untuk mereka.
pov Verta end
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masih ada privasi yang Marcel jaga??
Kira-kira apa nih?🤔
simak terus kelanjutan cerita Past For Future ♥️
__ADS_1