
Sinar mentari mulai menyengat dari ufuk timur, makhluk-makhluk Tuhan tengah berlalu lalang untuk mengawali hari mereka. Namun tidak untuk Marcel yang tengah memandang pepohonan di depan rumah milik Verta. Dirinya larut dalam pikiran yang semakin membuatnya ingin menyerah.
"Minum dulu, Cel." Verta memberikan secangkir kopi pada ayah dari anaknya itu.
"Thanks,"
"Aku tau gimana perasaan kamu sekarang. Tapi aku nggak bisa bantu kamu apa-apa, Cel. Semua keputusan ada di tangan kamu." Verta mendudukkan dirinya di kursi.
"Kamu nggak perlu bantu apa-apa, Ta." Marcel meneguk kopi yang tadi Verta berikan. "Tapi gimana kalo aku lebih memilih Oliv?" imbuhnya yang membuat Verta tertegun.
Verta menghembuskan nafasnya kasar, "Itu hak kamu, Cel."
"Aku udah terlanjur cinta sama Oliv, dan aku tau kalo aku nggak cepet bertindak pasti keluarga Baskara akan berusaha untuk menggagalkan pernikahan kami." Marcel meremat wajahnya.
"Tapi apa kamu yakin akan meninggalkan--"
"Nggak," Marcel memotong ucapan Verta karna tahu arah ucapan Verta. "Aku akan bawa Oliv ke luar negeri sebelum acara pernikahan, aku akan menikahi dia di sana."
"Kamu jangan gila, Cel." Verta menatap tajam Marcel. "Sekeras apapun usaha kamu untuk membawa Oliv, itu akan sia-sia. Inget Cel, kamu berhadapan sama orang besar." imbuh Verta penuh penekanan.
"Terus aku harus gimana, Ta??" Marcel menoleh kearah lawan bicaranya, "Aku harus apa? Aku nggak mungkin melepas Oliv gitu aja. Semuanya udah terlanjur, Oliv udah berhasil bawa hati aku. Kenapa sesulit ini? Arrrrrrrggghhh." Marcel menendang pot bunga yang ada di depannya.
"Cel, tenang dulu. Tapi kamu juga harus berfikir realistis, Cel. Kamu nggak bisa memiliki dua-duanya. Kamu harus memilih salah satu, Cel." Verta mencoba membuat Marcel mengerti.
"Tapi dua-duanya berarti untuk aku, Ta. Kenapa kamu nggak ngerti juga sih?" Suara Marcel semakin meninggi.
"Oke, fine dua-duanya berarti. Tapi kamu nggak bisa berdiri diantara keduanya, Cel. Coba kamu pikir ulang untuk menikah sama Oliv."
Marcel beranjak dari duduknya dengan emosi, "Jadi maksud kamu aku nggak pantes buat nikah sama Oliv, gitu? Jadi selama ini kamu cuma pura-pura mendukung aku sama Oliv, padahal sebenernya kamu menginginkan kami berpisah kan??" hardik Marcel dan kini ia bertepuk tangan di hadapan Verta. "Wowww, aku baru melihat Verta yang sebenarnya sekarang--"
"Marcel Stopp!!!" Verta ikut berdiri.
"Kenapa? Emang bener kan? Kamu sakit hati karna aku mau nikah sama Oliv, hmm?" Marcel tersenyum sinis. "Kamu itu sok suci, Ta. Aku bahkan udah kasih semua yang kamu butuhkan dan sekarang saatnya kamu dapetin aku, itu yang kamu rencanakan dari dulu kan?" imbuh Marcel yang membuat Verta tak kuasa menahan air matanya.
"Kamu keterlaluan, Cel. Apa kamu sadar sama apa yang kamu ucapkan barusan?" Verta berbicara dengan nada bergetar.
"Tentu, saya sadar sekali, Nona." Marcel menyeringai tipis. "Tulis berapa nominal berapapun yang kamu mau yang pria-pria yang kamu tiduri nggak bisa ngasih itu. Tapi serahin Boy ke aku."
__ADS_1
plakk
Verta menampar pipi Marcel dengan sekuat tenaganya. Nafasnya sudah naik turun, hatinya benar-benar teriris dengan ucapan yang baru saja Marcel ucapkan. Wanita mana yang mau kotor? Wanita mana yang mau diperlakukan seperti ini? Luka yang Marcel torehkan sangatlah berpengaruh dalam kelangsungan hidupnya, hingga ia tak lagi menginginkan pria manapun menyentuh hatinya.
"Bawa semua harta kamu yang aku pun nggak pernah minta." Verta menekankan setiap kata-katanya. "Tapi jangan pernah ambil Boy, karna dia nggak pantas punya ayah baju*ngan kayak kamu." Verta mendorong tubuh Marcel. Kemudian berlari kedalam rumah untuk menghindari kejaran Marcel.
"Vertaa!!!!" teriak Marcel kemudian mencegah Verta yang hendak menutup pintu.
"Pergi, breng*sek. Jangan pernah temui kami lagi." Verta yang sudah terselimuti emosi akhirnya berhasil mendorong tubuh Marcel menjauh kemudian mengunci rapat pintu tanpa celah sedikitpun.
"Vertaaa!!! Buka pintunya!!" Marcel terus menggedor-gedor pintu. "Jangan ambil anakku, Perempuan murahan!!" teriak Marcel tiada henti-hentinya.
Tubuh Verta melorot kelantai. Rasa sesak dalam dadanya akhirnya kembali menyeruak dalam dirinya. Kejadian masalalu telah membuatnya kehilangan masa depannya. Luka itu, masih ada.
Reka adegan dimana dirinya diusir, dihina, ditendang oleh teman-teman semasa SMA nya masih terus terngiang di kepalanya. Kotor, menjijikkan, murahan adalah kata yang selalu pantas untuk menggambarkan dirinya kala itu. Sungguh sebuah pengalaman terburuk yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Dan sekarang, bahkan pria yang telah mengotorinya pun menghina dirinya sedemikian rupa. Perih, teramat perih. Wanita mana yang mau diposisi ini? Bahkan Verta rela berbohong pada semua orang bahwa dirinya dan Marcel melakukan hal hina itu atas dasar mau sama mau untuk sedikit menutupi keburukan Marcel. Padahal yang sebenarnya terjadi ialah Marcel yang memaksa Verta untuk melakukan menyerahkan keperawanannya bahkan sampai berkali-kali mereka melakukan hal keji itu.
"Mommy...." Boy berlari menghampiri Verta kemudian memeluknya dengan erat. "Mommy jangan nangis."
"Boy," Verta melepaskan pelukannya saat telah puas menumpahkan air matanya. "Boy harus janji sama Mommy, apapun yang terjadi Boy nggak boleh ninggalin Mommy ya." Verta memejamkan matanya saat jemari Boy mengusap pipinya yang basah.
"Boy janji, Mom. I will always protect you, I promise."
"Makasih, Sayang. Kamu adalah pahlawan untuk Mommy, Nak. I Love you my Son." bulir mata Verta kembali mengalir.
flashback on (Kembali ke masa lalu Verta dan Marcel)
"Ta, yang ini aku nggak paham." Marcel menunjukkan materi dalam buku yang tak ia ketahui.
"Yaelah, Cel. Ini kan udah aku jelasin berulang-ulang dari tadi." kesal Verta. "Kenapa kamu nggak paham-paham sih sama materi ini. Padahal kamu pinter disemua bidang."
"Ya aku kan belum pengalaman masalah itu, Ta. Jadi nggak paham." Marcel memainkan rambut Verta yang dikucir tinggi.
"Nanti kamu juga paham sendiri kalo udah nikah, haha." Verta tetap fokus pada buku yang ia pelajari.
bruk
__ADS_1
Marcel mendorong tubuh Verta di atas kasur lesehan yang ada di kamar kos Verta. Marcel mengusap wajah Verta yang terkejut. Mata mereka saling berpandangan beberapa saat hingga akhirnya Verta menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Marcel.
"Kamu mending pulang deh, Cel. Ini udah mau malem, nggak enak lama-lama, ibuk kos lagi nggak disini. Kamu pulang ya." Verta mendorong tubuh Marcel dari atas tubuhnya, namun Marcel menahan gerakan Verta.
"Aku mau praktekin langsung materi yang tadi biar aku bisa langsung paham." mata Marcel menatap wajah Verta lekat.
"Jangan, Cel. Lepasin aku!!" Verta memberontak sekuat tenaga namun tenaga Marcel lebih kuat darinya. Dengan paksa Marcel membungkam mulut Verta dengan bibirnya.
"Awww sakitttt!!!" pekik Verta dengan suara tertahan karna Marcel memperkos nya dengan paksa.
Akhirnya mereka melakukan itu dalam kos-kosan Verta. Bahkan di waktu-waktu berikutnya Marcel kembali meminta Verta untuk berhubungan dengannya meski tanpa cinta. Verta yang pada masa itu terlalu polos, ia tak menyangka bahwa apa yang Marcel lakukan akan menjadi mala petaka dalam hidupnya.
Flashback off
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebel sama Marcel? Sama, yang nulis juga 😁
yuk jejaknya yuk
__ADS_1