Past For Future

Past For Future
Pelukan Perpisahan


__ADS_3

Cermin-cermin berlampu menyinari wajah indah. Bahkan terpukau. Helaian demi helaian dipangkas dengan tangkas untuk mengubah tampilan lama. Rentetan musik ikut mengalun lembut mengiringi aktivitas manusia yang tengah menggarap penampilan sang putri Baskara.


Gadis itu tersenyum puas dengan tampilannya di balik cermin. Dirinya kini berbeda. Dengan rambut yang di potong sebahu, serta sedikit sentuhan warna gold di sela-sela hitam pekat rambutnya. Bukan tanpa sebab, ia termakan mitos 'memotong rambut sama dengan membuang sial.'


Gadis itu tersenyum merekah sembari melangkahkan kakinya keluar dari salon. Setelah melakukan beberapa perawatan, kini ia kian fresh. Sejenak melupakan masalah pernikahannya yang entah bagaimana alurnya.


Bruk


Saat ini tujuannya adalah menyelesaikan semua urusannya dengan masalalu. Untuk masalah orang baru, belakangan. Oliv memasang earphone ketelinga nya saat taksi yang ia pesan mulai melajukan mobilnya.


"Bahkan gue nggak ngerasa sedih atau kecewa saat ini. Rasanya kosong, seperti mati. Bahkan Gue sendiri nggak tau apa yang Gue rasain sekarang. Semoga gue bisa mengikhlaskan semuanya yang terjadi antara gue dan dia. Semoga cinta ini nggak membekas dengan dalam."


"Persimpangan depan, belok kiri ya, Pak."


"Siap mbak e," jawab driver itu sopan.


Mobil terparkir di depan sebuah kafe minimalis yang tak meninggalkan kesan mewah. Bak kafe VIP yang hanya orang tertentu yang bisa menikmati menu di sana.


Oliv melangkahkan kakinya menuju kafe itu, di mana seseorang memintanya untuk datang memenuhi janji.


Oliv celingukan mencari seseorang yang hendak ia temui. Dan ternyata hanya ada satu orang di kafe itu. Ia membenarkan posisi tasnya kemudian kembali melangkah menuju pria yang kini sudah duduk rapi menunggu kedatangannya.


"Hai," sapa pria itu, Oliv hanya tersenyum menanggapi.


Bohong kalau tidak lagi memiliki rasa. Jantung Oliv masih berdebar kencang saat harus berhadapan dengan mantan tunangannya itu. Ia meremat ujung bajunya untuk sedikit meringankan rasa grogi nya.


"Apa kabar?" tanya Marcel dengan lembut.


"Fine," jawab Oliv singkat. "Ada apa ngajak aku ketemuan di sini?" tanyanya lagi sembari celingukan, pasalnya mereka kini benar-benar hanya berdua.

__ADS_1


"Kafe ini udah aku booking. Jadi aku bisa leluasa bicara sama kamu." Marcel menompang dagunya.


"Cepet, waktu aku nggak banyak," ujar Oliv seraya melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Aku ngajak kamu kesini bukan sebagai sepasang kekasih. Em, ralat, mantan." Marcel tampak memaksakan senyumannya. "Aku ngajak kamu ke sini sebagai seorang adik dan kakak. So, please. Aku pengen bicara sama adik aku."


"Ngomong aja cepet." Oliv masih membuang wajah, menatap objek lainnya.


"Look at me, please." mohon Marcel. Oliv akhirnya menatap manik mata Marcel yang tampak tulus ingin berbicara serius dengannya.


"Cepet ngomong. Jangan tatap aku kayak gitu lagi. Jangan buat aku lemah. Jangan seperti ini terlalu lama kalau kamu nggak punya solusi untuk hubungan kita." Oliv menahan gejolak dalam batinnya.


"Jangan memperulur waktu."


"Maaf," lirih Marcel. "Maaf karna aku terlalu egois untuk hubungan kita. Maaf kalau selama ini aku salah. Aku mau membicarakan ini sebelum hubungan kita sejauh ini, Liv. Tapi saat kamu tau tentang masalalu aku dan kamu pergi begitu aja, itu menyiksa, Liv. Untuk itu aku nggak sanggup untuk memberi tahu kamu tentang identitas aku." Marcel menyeka sudut matanya yang mulai basah.


"Dan yang aku takutkan sekarang terjadi. Kita berpisah di saat hari pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Aku nyesel, Liv."


"Nyesel?" tanya Oliv.


"Iya, aku nyesel kenapa aku nggak-"


"Kak, stopp. Jangan dilanjutin."


"Tapi aku nggak akan pernah menyesali cinta ini, Liv. Aku bahagia. Aku baru merasa ternyata dicintai seseorang itu seindah ini. Aku bahagia udah membawa kamu berlabuh ke hati ku." Marcel menggenggam kedua tangan Oliv.


"Kak, aku-"


"Aku tau." Marcel memotong ucapan Oliv. "Menikahlah dengan pria pilihan keluargamu, aku yakin dia pria yang baik dan pantas untukmu. Kita memang nggak berjodoh, Liv. Aku ikhlas." Kata-kata Marcel yang membuat pertahanan Oliv runtuh. Buliran matanya kian membasahi pipi.

__ADS_1


"Aku capek, Kak. Aku capek!!" Oliv semakin terisak. Marcel berpindah posisi yang kini duduk di samping Oliv. Tanpa aba-aba, Oliv langsung memeluk pria yang ia benci sekaligus ia cintai itu. Rasanya sungguh menyakitkan saat kedua insan yang saling mencintai harus terhalang oleh batas keyakinan yang tinggi.


"Aku akan memastikan kamu bahagia bersama pria itu. Kamu harus belajar menerima dia. Dia jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untuk kamu, Liv." Marcel mengusap kepala Oliv dengan lembut sembari mengecup kecil pucuk kepala Oliv.


"Kenapa Kak Marcel bilang gitu? Kak Marcel kenal sama dia?" Oliv melepaskan pelukannya seraya menatap Marcel dengan penuh tanda tanya.


Marcel menggeleng, "Aku nggak kenal, tapi aku tau. Dan suatu saat kamu juga akan tau, Liv. Kamu cuma perlu waktu untuk mengenal dia." Marcel mengusap wajah Oliv yang basah.


"Tapi, Kak-"


"Menikahlah..." Marcel kembali menjawab kecemasan Oliv.


"Tapi sebelum aku menikah, boleh aku minta sesuatu sama Kak Marcel?" tanya Oliv yang dibalas anggukan kepala Marcel. "Jadilah ayah untuk Boy seutuhnya, Kak," ucap Oliv yang membuat Marcel mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?" tanya Marcel tak mengerti.


"Menikahlah dengan Kak Verta. Aku mohon." Oliv menggenggam tangan Marcel.


"Liv, itu nggak mungkin." elak Marcel.


"Kak Verta udah berkorban banyak untuk Kak Marcel, bahkan dia sampai melupakan kebahagiaannya sendiri demi Kak Marcel dan Boy. Apa kakak nggak pernah melihat bagaimana perjuangan Kak Verta selama ini yang menjadi orang tua tunggal untuk anak kalian? Aku mohon..."


"Aku nggak pantes untuk dia, Liv. Aku udah menghancurkan masa depannya, aku udah membuat dia dipandang sebelah mata, aku udah membuat dia kecewa, bahkan aku udah menuduh dia sebagai wanita murahan." Rasa bersalah Marcel kian besar kala mengingat apa yang telah ia lakukan pada ibu dari anaknya itu.


"Untuk itu perbaiki kesalahan kakak," ucap Oliv sembari tersenyum. "Bahagiakan Kak Verta, cintai dia. Dia wanita yang tulus, dia pantas untuk mendapatkan cinta kak Marcel."


Marcel segera mengusap wajahnya yang basah kemudian tersenyum ke arah Oliv.


"Boleh Kakak peluk adik sekali lagi?" tanyanya sambil terkekeh kecil. Oliv mengangguk lalu menghambur ke dalam pelukan hangat Marcel. Pelukan yang akan ia rindukan di saat-saat proses move on nantinya.

__ADS_1


__ADS_2