
"Sayang, kamu ngapain di sini?" tanya Marcel saat mereka telah duduk. "Kamu naik apa kesini?"
"To the poin, kamu tau apa maksud aku kesini." ucap Oliv dengan datar.
"Sayang, aku bisa jelasin ini semua. Kamu tolong dengerin ya." bujuk Marcel.
"Kenapa?" Oliv berbicara dengan nada tinggi yang tertahan. "Kamu tau? kali ini sangat fatal, Marcel Cristian Pradigta..."
"Sayang-"
"Kenapa kamu nggak pernah bilang dari awal hal sepenting ini, Kak?" tanya Oliv penuh penekanan.
"Sayang, kita bisa nikah di luar negeri. Kita nggak akan pisah, Sayang. Kamu mau kan?" Marcel mendekap tangan Oliv di dadanya.
"No," Oliv menggelengkan kepalanya, "Kita nggak akan bisa bersama, Kak. Semua akan sulit dijalani, tolong ngerti." Oliv melepaskan tangannya dari Marcel. Baru beberapa langkah, Oliv kembali dicegah oleh Marcel.
"Kita udah sejauh ini, Liv. Aku mohon, jangan tinggalin aku. Perpisahan bukan jalan keluar yang tepat, Liv. Aku tau ini sulit untuk kita, tapi kita coba ya."
"Pernikahan bukan untuk ajang coba-coba, Kak. Dan hari ini..." Oliv melepaskan cincin di tangannya lalu menghadap kearah Marcel. "Aku kembalikan cincin ini dan ikatan kita." Oliv meletakkan cincinnya di telapak tangan Marcel.
"Liv, please-"
"Makasih, Kak. Makasih udah jaga aku, mencintai aku, dan mau terima aku. Makasih juga indah mengajarkan aku banyak hal. Setelah ini aku harap kita bisa saling menerima keadaan dan mengikhlaskan semua. Aku pergi dulu, see you." Oliv mengecup kening Marcel kemudian tersenyum menghibur. "Cowok nggak boleh nangis ya..." Oliv terkekeh dengan air mata yang sudah berlinang
Marcel tak lagi menghalau kepergian Oliv, ia meremat wajahnya dengan kasar. Kekhawatirannya selama ini benar-benar terjadi yaitu Oliv meninggalkannya karna perbedaan mereka.
"Kenapa harus begini, Tuhan !!!" teriak Marcel dengan frustasi.
***
Oliv berlari tak tentu arah sembari sesekali mengusap pipinya yang basah. Baru saja ia akan menggapai kebahagiaan, namun lagi-lagi ia harus dihempas oleh kenyataan. Ia kini berada di atas jembatan, perasaan hati tak menentu, ingin rasanya berteriak melampiaskan kekecewaannya.
"Kenapa gue nggak pernah diizinkan untuk bahagia??? Kenapa dunia ini nggak adil buat gue!!!" teriak Oliv dengan pilu.
Ia menangis tersedu-sedu tak perduli dengan keadaan tatapan-tatapan aneh dari orang yang melintas. Hatinya sudah hancur sehancur-hancurnya. Setelah puas menangis, Oliv menyeka air matanya lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya kembali. Ia menoleh kebelakang, dan...
"Elo ngapaiiiin lagi ngintilin Gue. Nggak ada kerjaan lain apa?" ketus Oliv pada Pria yang kini berdiri di depannya.
"Nggak ada," jawab pria itu singkat dengan telapak tangan yang ia selipkan di kantong celananya.
__ADS_1
"Cih, biawak sinting." Oliv mendorong tubuh Gema dengan kesal.
"Hei, mau kemana?"
"Pulang!!" teriak Oliv kemudian masuk kedalam mobil Gema. Gema hanya melongo tak percaya, ia kira Oliv akan berjalan kaki hingga ke Mansion. "Lama banget, sih. Cepetaaan!" teriak Oliv lagi dari jendela mobil.
Gema menggidikkan bahunya.
Sepanjang perjalanan Oliv hanya bungkam meskipun Gema berkali-kali mengajaknya bicara. Oliv lebih memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Entah perasaan apa yang ia rasakan kini, marah, kecewa, dan tentunya terpukul oleh kenyataan yang ia dapat.
Oliv sedari tadi berusaha menepis air mata yang mencoba lolos dari pelupuk matanya. Lenguhan klakson seolah tengah mempertawakan kondisinya. Berat, ya mau bagaimana lagi. Cinta tak bisa dipaksakan atas nama keyakinan.
"Mau minum?" Oliv menggeleng, "Mau makan?" Oliv menggeleng lagi.
"Nih," Gema menyodorkan sapu tangan namun Oliv hanya melirik kearah sapu tangan itu, "Masih bersih kok." Gema menjawab apa yang Oliv pikirkan.
"Thanks,"
Hening
Hanya ada suara klakson dan suara-suara kenalpot motor yang menyalip mobil mereka. Sebenarnya Oliv ingin sekali meluapkan perasaannya pada seorang teman dan menyandarkan kepalanya di bahu seseorang. Namun yang ada di sampingnya ialah Gema, pria yang tak tahu asal usulnya dari mana dan tujuannya menyelinap ke kehidupan untuk apa.
"Iya!" jawab Gema sambil melotot kearah Oliv.
"Elo emang bener-bener biawak gila ya!! turunin Gue sekarang!"
Gema hanya cekikikan melihat reaksi Oliv. Secara tidak langsung bisa mengalihkan perasaan sedih Oliv. Oliv yang geram langsung menghujani Gema dengan cubitan-cubitan nya.
"Awww lagi dong, lagi. So sweet banget sih." Gema kembali tertawa nyaring.
"Sekali lagi, Gue tonjok muka Elo sampe Peyot," ancam Oliv sembari mengepalkan tangannya.
"Ampun-ampun, jangan marah-marah dong," Gema tersenyum simpul. "Kamu manggil saya jangan Elo-elo Gue-gue dong. Panggil Abang aja, saya kan calon suami kamu." Oliv muntah angin akibat ucapan Gema yang sangat menggelitik baginya.
"Sampe. Kita turun yuk." ajak Gema yang membuat Oliv bingung.
"Ngapain ke sini?" tanya Oliv.
"Makan lah," jawab Gema kemudian keluar dari mobil.
__ADS_1
"Ngajakin makan ke tempat yang mewah dikit kek, nggak modal banget." gumam Oliv. Dan dengan terpaksa ia ikut keluar dari mobil menuju sebuah kedai yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil juga.
Mereka berjalan dengan jarak yang lumayan jauh sehingga tak menampilkan bahwa mereka datang secara bersamaan. Gema berjalan sambil memasukkan telapak tangannya di saku celana, sedangkan Oliv berjalan sembari melipat kedua tangannya di perut.
"Mau makan apa?" tanya Gema saat mereka telah menemukan tempat yang pas untuk duduk.
"Tauk, mana Gue tau menu nya apa aja." Ia masih setia melipat tangannya di dada.
"Itu??" Gema menunjuk dengan bola matanya menuju kertas menu yang ada di atas meja.
"Ck, ngomong dari tadi." Oliv mencebik sekaligus merasa malu.
"Mbak!!" Oliv melambaikan tangannya pada pelayan kedai. Dan dengan sigap pelayan itu datang dengan senyum ramah.
"Mau pesan apa Mbak?" tanya pelayan dengan sopan.
"Mau seblak bakso extra pedasnya satu, ayam bakarnya satu, terus ini pecel lele nya satu..." Dan masih ada beberapa menu lagi yang Oliv sebutkan. Sengaja, ingin menguji seberapa pelitnya pria di hadapannya ini.
"Anda mau pesan apa, Om?" tanya Oliv sembari tersenyum devil.
"Catatannya bawa sini, Mbak." Pelayan itu menyerahkan catatannya pada Gema.
"Nih, cukup yang tertulis aja ya." Gema menyerahkan catatan itu lagi pada pelayan.
Oliv tak menghiraukan Gema, ia sedang tak ingin naik pitam lagi dengan pria di hadapannya ini. Sudah perasaannya sedang hancur, ditambah lagi dengan kekesalannya pada Gema. Sungguh mengacaukan mood saja.
Setelah menunggu hampir 15 menit, makanan siap untuk disajikan. Namun Oliv sedikit heran, kenapa makanan yang datang tidak sebanyak yang ia pesan tadi. Kecurigaannya kini tertuju pada Gema yang asik dengan makanan yang ia makan. Benar saja, dia adalah pria pelit dan minim modal.
"Huh, ya udah deh. Seenggaknya dia udah baik hari ini. Nggak tau deh kalo besok balik cuek lagi. Eh, jangan-jangan. Pokoknya besok dia harus udah hilang dari hidup Gue. Gue harus cari cara setelah ini. Walaupun Gue nggak jadi nikah sama kak Marcel, tapi tetep aja Gue nggak mau nikah sama cowok aneh kayak dia."
Tiba-tiba ponsel Oliv menyala, menandakan ada pesan masuk. Oliv melirik sejenak, wallpaper handphone nya bahkan masih fotonya dan Marcel yang membuat hatinya kembali terasa ngilu. Tak sedikitpun menyentuh ponselnya, Oliv mulai menyantap seblak nya dengan lahap.
"Huuuhaaah."
Selain karna seblak nya pedas, ia juga sebenarnya ingin menangis sedari tadi. Namun gengsi karna ada Gema di dekatnya.
"Kepedesan atau nangis?" tanya Gema.
"He'eh pedes. Seblak nya pedes, jadi nangis, hehehe."
__ADS_1
"Menangis lah sepuas mu. Aku akan tetap menggenggam dirimu dengan erat hingga kamu menyadari bahwa hanya aku yang pantas untukmu. Jangan pernah memintaku pergi. Karna kemanapun aku pergi, aku akan turut serta membawamu dalam dekapanku."