
Sebelum membaca, pastikan anda sudah menekan tombol 👍
.
.
.
.
.
"Mau kemana lagi?" tanya Marcel pada Oliv yang sibuk memakan kembang gula disebuah bangku.
"Mau di sini dulu. Habis ini kita ke rumah hantu yuk. Aku penasaran." Oliv menarik tangan Marcel agar duduk di sampingnya.
"Yakin berani?" tanya Marcel lagi namun matanya terfokus pada bibir Oliv yang semakin pink karna kembang gula yang ia makan.
"Berani dong, kan sama pacar aku." Oliv tersenyum lebar sembari memeluk lengan Marcel.
"Ya udah, tapi jangan nempel-nempel terus dong." Marcel menggoyang-goyang tangannya agar Oliv melepaskan pelukannya.
"Iiiih, Kak Marcel kenapa sih. Nggak mau ditempelin terus sama pacarnya??" Oliv memanyunkan bibirnya kesal.
"Bukan gitu, Liv." Marcel meraih tangan Oliv "Apa kamu mau aku nyosor kamu lagi di tempat umum?" Marcel menampilkan senyum devil nya.
"Bentar kak." Oliv menoleh kesana kemari untuk memastikan bahwa mereka berdua telah berada di tempat yang gelap.
"Nggak ada yang lihat kok. Jadi aman."
Marcel membulatkan matanya "Liv?"
"Dingin..." rengek Oliv kemudian memeluk Marcel dengan manja.
"Ya udah makanya kita pulang." Marcel masih menahan diri untuk tidak terpancing dengan kelakuan Oliv.
"Tapi masih penasaran sama rumah hantu..." Oliv mendongakkan kepalanya sambil merengek.
3 menit kemudian...
"Haaaah haaah, pake jeda dong Kak." protes Oliv sembari mengusap bibirnya yang basah akibat ulah Marcel.
"Udah kok, kamu nya aja yang nggak mau nafas." Marcel tersenyum tipis.
"Tauk ah, nyebeliiiin." Oliv beranjak dan meninggalkan Marcel sendiri.
"Kalo udah nggak ngambek balik sini lagi yaaa!!" teriak Marcel kemudian terkekeh melihat tingkah Oliv.
brukk
Akibat minimnya pencahayaan di tempat Marcel dan Oliv duduk, Oliv tak sengaja menabrak seseorang saat berlari. Oliv memejamkan matanya dan bersiap untuk mencium tanah, namun tak kunjung terjatuh, perlahan Oliv membuka matanya dan menatap wajah seorang pria dalam keremangan malam.
"Maafkan saya." ujar Oliv sembari menegakkan dirinya.
"Baiklah," jawab pria itu datar.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Oliv hendak berlalu namun dicegah oleh pria itu.
"Saya sudah minta maaf, tolong jangan memanfaatkan keadaan," Oliv berusaha melepas tangannya namun ia kalah kuat "Tolong lepaskan, atau saya akan teriak." imbuh Oliv mengancam.
__ADS_1
"Diam dan dengarkan, saya hanya ingin bicara." hardik pria itu dengan suara tertahan.
"Ampun, jangan sakiti saya." Oliv sudah dalam mode merengek nya.
"Jangan membuat saya terus-terusan mengawasi tingkah bejat mu di sini." sinis pria itu.
Oliv berhenti meronta dari cengkeraman pria itu. Oliv sejenak tertegun dengan ucapan pria itu, pikirannya langsung terarah kepada sang Papa dan sang Kakak.
"Maaf, maafkan saya. Tapi saya benar-benar tidak melakukan apapun, tolong jangan laporkan apapun pada Papa dan Kakak saya." mohon Oliv.
"Cih, kelakuanmu sungguh tidak mencerminkan kepribadian keluarga Baskara. Ku rasa kau memang pantas untuk diasingkan ke ujung dunia agar kau tidak melakukan semua sesuka hatimu."
"Tolong, tolong jangan lakukan itu. Saya tidak melakukan apa-apa. Tolong jangan membuat keluarga saya membenci saya." Oliv terus memohon.
"Cuci bibirmu yang kotor itu." pria itu menyodorkan air mineral ke arah Bulan "Cepat cuci!!!" bentaknya.
"Kak Marcel kenapa nggak ngejar aku sih. Tolong, aku takut."
"Ba... baik." Oliv terpaksa menuruti perintah pria yang tak lain ialah mata-mata Papa dan Kakaknya.
"Su... sudah." gugup Oliv.
"Jika bukan karna Tuan ku yang terlalu mencintaimu, aku tidak akan sudi berada di sini untuk mengawasi gadis tidak beradab sepertimu."
jlebb
"Tuan siapa? Siapa Tuan anda??" badan Oliv semakin gemetar tatkala pria itu menyeringai ke arahnya.
"Itu bukan urusanmu. Aku peringatkan untuk tidak bersentuhan dengan lelaki yang bukan suamimu. Itu sangat menjijikkan." ujar pria itu tajam hingga tandas kedalam hati Oliv.
"Dan satu lagi, aku akan benar-benar menyeret mu dari kota ini kalau sampai kau melakukan hal keji lagi dengan seorang pria."
Oliv membalikkan badannya "Tapi siapa Tuan yang anda maksud heii??" teriak Oliv namun tak menjangkau lagi keberadaan pria itu.
"Kenapa makin ngeri aja sih hidup gue." Oliv bergidik ngeri.
"Kamu kenapa, Liv." timpal Marcel yang baru datang.
"Eh, nggak papa kok Kak." Oliv tersenyum kecut.
"Ya udah ayok ke rumah hantu." Marcel merangkul bahu Oliv namun Oliv melepaskannya.
"Em, kak. Kita jalan sendiri-sendiri aja ya."
Marcel mengerutkan keningnya namun ia tak membantah ucapan Oliv. Mereka berjalan menyusuri luasnya pasar malam. Wajah Oliv yang sedari tadi murung pun hanya bisa memberikan tanda tanya besar untuk Marcel 'Kenapa'.
Oliv celingukan kesana kemari untuk mencari keberadaan pria yang sengaja memata-matai nya. Saat Oliv menoleh ke arah utara, ia melihat seorang wanita yang ia kenal.
"Kak Verta!!!" teriak Oliv yang membuat wanita yang merasa terpanggil pun menoleh.
"Oliv, Marcel? gawat, aku harus pergi."
Verta pura-pura tak mendengar sapaan Oliv, kemudian menuntun Boy untuk pergi menjauh. Namun naas, Oliv telah menarik tangannya terlebih dahulu. Verta memejamkan mata Sebelum menoleh ke arah Oliv.
"Em, siapa ya?" Verta pura-pura tak mengenali Oliv sembari melirik kearah Marcel yang sudah menunjukkan ekspresi cemas.
"Ini aku Oliv kak, yang beli jagung sama kakak tadi. Masak lupa sih."
"Ohh, iya. Maaf lupa." Verta menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin ini Kak Marcel calon tunangan aku kak." Oliv memperkenalkan Marcel pada Verta yang membuat keduanya tersenyum canggung.
"Uncle di sini juga? Kenapa nggak ngajakin Boy?" tanya Boy yang membuat semua orang melongo.
"Kalian saling kenal?" Marcel menatap Marcel dan Boy secara bergantian.
"Eh, nggak Liv. Kami nggak saling kenal. Mungkin Boy salah orang ya?" gugup Marcel.
"Uncle ko...
"Boy, nak. Kamu salah orang nak. Kita pulang sekarang ya. Besok pagi kamu harus sekolah." Verta memotong kata-kata Boy.
"Santai aja, gimana kalo kita main wahana dulu. Lagian ini masih jam delapan kok. Iya kan Boy?" Oliv merangkul bahu Boy yang cukup tinggi diusianya.
"Nggak usah Tante cantik, makasih. Boy mau pulang aja sama Mommy." Boy melepaskan rangkulan Oliv.
"Ya udah, kalian hati-hati di jalan ya. Salam kenal, Boy." ujar Marcel yang membuat Boy semakin menampilkan raut kecewanya.
"Permisi semua." pamit Verta.
"Kak..." Oliv menyenggol lengan Marcel yang sedari tadi terlihat sangat gugup.
"Eh, i... iya. Kenapa sayang?" Marcel tersenyum canggung.
Oliv menatap Marcel yang tiba-tiba pucat. Oliv menyerngitkan dahinya kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi Marcel.
"Kita pulang aja yuk." ajak Oliv.
"Loh, nggak jadi masuk ke rumah hantu?" tanya Marcel.
"Kayaknya hantunya udah masuk ke badan Kak Marcel duluan. Ayok kita pulang aja, habis itu sholat."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys ♥️
jempolnya jangan lupa 😘
Oh iya. aku saranin untuk mampir di karya yang nggak kalah keren nih. Jangan sampai ketinggalan ceritanya ya🎉
__ADS_1