Past For Future

Past For Future
Masih Ada Rahasia Lagi


__ADS_3

Aku kian mendekapnya erat saat suhu tubuh ini mulai menggila. Nyaman, itulah kurasakan saat ini. Dan aku mulai enggan untuk melepaskannya dari atas tubuhku. Ia pun begitu, tetap mengukung ku agar tak beranjak. Aku nyaman, aku merasa hangat bersamanya.


"Liv, bangun. udah pagi nih." seseorang menepuk-nepuk pipi Oliv.


"Euuuughh."


Kesal karna Oliv hanya melenguh, Bulan menarik guling yang Oliv peluk dengan posesif.


"Ehhhh, mau kemana Tuan..."


"Tuan??" Bulan memonyongkan bibirnya seraya menatap guling yang barusan ia rebut dari Oliv "Ini anak bener-bener deh "OLIIIVVV BANGUUUUUN!!!" teriak Bulan tepat di dekat Oliv.


"Eh, iya Ma. Iya Oliv bangun. Dimana handuk nya? dimana?" Oliv gelagapan sendiri yang membuat Bulan terbahak-bahak.


Oliv melirik Bulan yang sibuk menertawakan dirinya.


brukk


Satu bantal serangan dari Oliv melayang di depan wajah Bulan. Namun sayangnya hanya sampai di depan wajah, belum sempat mengenai wajah Bulan. Oliv menutup mulutnya yang menganga. Habis sudah riwayat hidupnya.


brukk


Bantal itu dilemparkan kembali ke wajah Oliv. Namun Oliv hanya diam menunduk tanpa berniat membalasnya lagi. Hawa dingin memenuhi ruang kamar Oliv. Tatapan kakaknya seolah ingin mengulitinya habis-habisan. Oliv sedikit melirik ke arah Bulan sebagai kode, namun Bulan malah hanya menampilkan ekspresi tahan tawanya.


"Maaf..." lirih Oliv tanpa mengangkat kepalanya.


"Berkemas lah, dan pulang ke Mansion." titah Dirga tegas.


Ada perasaan nyeri dalam hati Oliv saat sang kakak yang biasanya memanjakannya, kini seperti berubah menjadi orang lain. Oliv menghela nafas sebelum akhirnya menjawab ucapan Dirga.


"Aku pulang? Apa Papa sama Mama udah maafin aku Kak?"


"Itu bukan urusanku. Yang terpenting sekarang kau enyah dari rumahku. Merepotkan!" tandas Dirga kemudian berlalu meninggalkan Oliv dan Bulan.


"Mas..." panggil Bulan namun tak dihiraukan oleh Dirga "Huuh, Oliv. Kamu nggak usah ambil hati sama omongannya Mas Dirga ya." Bulan mendudukkan dirinya di tepi ranjang Oliv.


"Nggak papa kok Kak. Aku juga mau pulang aja ke Mansion. Aku udah kangen banget sama Mama Papa." jawab Oliv dengan pura-pura antusias.


"Beneran nggak papa?"


"Beneran lah kak." Oliv nyengir kuda.


"Oh iya, btw yang kamu kenal sama orang yang semalem nganterin kamu waktu pingsan?" tanya Bulan.


"Pingsan?" Oliv kembali mengingat-ingat kejadian semalam "Oh, aku nggak kenal kak. Waktu di mobil juga cahayanya remang-remang, nggak kelihatan muka nya." Oliv menggaruk kepalanya.


"Terus kok bisa kamu pingsan. Kenapa?" tanya Bulan mengintrogasi Oliv.


"Mungkin kecapean Kak. Aku mandi dulu ya Kak." pamit Oliv agar Bulan tak terus menanyainya.


"Liv... terus mata kamu kenapa sembab gitu? kamu habis nangis kan?" Bulan sedikit berteriak saat Oliv beranjak dan menuju kamar mandi.


"Di sengat serangga." jawab Oliv asal.


Bulan mengerutkan keningnya dan kepalanya juga masih dipenuhi banyak pertanyaan tentang Oliv. Bulan akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Oliv dan menuju kamarnya sendiri untuk bertanya pada suaminya.


cklekk


"Mas..." panggil Bulan dengan manja. Dirga hanya melirik dan tetap fokus pada laptop yang ada di meja.

__ADS_1


Bulan mengerucutkan bibirnya sembari duduk di pangkuan suaminya.


"Sayang..." Bulan mengalungkan tangannya ke leher suami tampannya.


"Mau apa?" ketus Dirga.


"Jangan marah-marah dong Pah. Jelek tauk, muaccch." Bulan mengecup bibir Dirga mesra.


"Cium doang?" Dirga menaikkan sebelah alisnya.


"Terus?" Bulan pura-pura bodoh.


"Mau di atas kursi juga boleh. Sambil duduk." Dirga mengedipkan matanya genit. Bulan melotot mendengar penuturan Dirga bersamaan dengan sesuatu yang mulai bergerak di bagian yang ia duduki.


"Mas, kan Minggu kemarin udah." protes Bulan.


"Kan janjinya lima hari sekali."


"Dua Minggu."


"Atau temen kamu...


"Eh, jangan dong." Bulan memeluk dada bidang suaminya.


"Yok."


Bulan yang berencana untuk membujuk suaminya untuk menceritakan tentang Oliv hanyalah sebuah rencana. Pada akhirnya bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan sebuah cumbuann dari suaminya.


***


Oliv menatap bangunan yang besar bak sebuah istana. Pikirannya mulai kalut lagi. Ia benar-benar belum mempersiapkan kata-kata yang akan ia lontarkan pada orang tuanya. Perlahan kaki nya melangkah ke halaman rumah yang hampir menandingi lapangan. Tas ransel yang ia gunakan seolah menambah beban langkahnya. Ia masih takut melihat amarah kedua orangtuanya yang terbiasa memanjakannya.


"Ayo Oliv, kamu pasti bisa memperbaiki semua." Oliv menguatkan dirinya.


"Assalamualaikum..!!"


"Waalaikumsalam..." seorang wanita bertubuh gemuk gempal serta memakai pakaian seragam pelayannya menghampiri Oliv.


"Selamat datang, Nona." wanita itu menundukkan kepalanya.


"Di mana Papa Mama, Jum?"


"Tuan sama Nyonya lagi keluar kota, Non. Tapi kayaknya sore ini pulang."


"Oh, ya udah. Makasih ya Jum." Oliv berlalu kemudian menunju kamarnya.


brukk


Oliv menghempaskan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Tangannya mengusap-usap seprai lembut itu. Ia menatap langit-langit kamar dengan datar. Masih ada waktu mempersiapkan diri untuk bertemu dan meminta maaf pada orang tuanya.


"Pria itu siapa ya?" Oliv mengalihkan pikirannya.


"Kenapa dia baik banget." Oliv tersenyum manis.


"Seenggaknya masih ada yang peduli sama kamu, Liv. Kamu harus bersyukur."


Ting


suara ponsel Oliv menandakan ada pesan masuk. Oliv meraih ponselnya kemudian membuka isi pesan itu.

__ADS_1


"Muncak?" Oliv membalas pesan itu.


"Yaelah, masih 6 Minggu lagi. Gue butuhnya dalam waktu dekat. Gue butuh refreshing." Oliv melempar asal ponselnya dan terus bergelimpungan di atas kasurnya.


Sedangkan di sebuah kamar, sepasang pasutri baru saja menyelesaikan misinya di atas kursi. Keduanya tampak kelelahan, Bulan memeluk suaminya posesif yang membuat Dirga semakin gemas.


"Udah ya. Kamu berat banget sekarang." goda Dirga.


"Emangnya kenapa kalo berat? ini juga gara-gara Mas kan, perut aku jadi gendut." mereka terkekeh bersama.


"Mas..." panggil Bulan.


"Iya se'xy ku."


"Katanya suami istri itu harus saling terbuka kan?" Bulan mendongak untuk menatap suaminya.


"Ya kan ini udah dibuka." tangan Dirga meraba-raba.


"Mas, aku serius. Aku mau tau cerita tentang Oliv. Pliiiis." mohon Bulan .


"Oliv sama Marcel putus." Bulan berdiri karna saking terkejutnya.


"Putus?? Terus-terus?" tanya Bulan seraya memunguti pakaiannya yang berceceran.


Dirga tergelak melihat istrinya yang semakin bar-bar memakai baju di depannya.


"Kamu makin hot, sayang. Aku suka kamu yang nggak pemalu." Dirga tertus menatap intens tubuh istrinya.


"Cepet lanjutin ceritanya atau...


"Oke-oke, jadi gini....


Dirga menceritakan semua yang terjadi antara Oliv dan Marcel. Tak lupa pula rahasia Marcel yang selama ini disimpan rapi. Bulan lagi-lagi dibuat terkejut dengan satu rahasia Marcel lagi yang belum Oliv ketahui sama sekali.


Oliv menyusun foto, boneka, baju dan barang-barang yang sempat Marcel berikan untuknya. Sudah cukup baginya. Ia tak ingin lagi menjalani cinta yang teramat rumit. Kebohongan yang Marcel lakukan cukup memperdalam luka lamanya yang sempat sembuh.


Ting


Oliv heran, pesan grupnya sudah ia bisukan, namun sepertinya ada pesan pribadi yang dikirimkan ke ponselnya. Oliv membuka ponselnya kemudian menganga tak percaya dengan isi chat itu.


"Apa??? Nggak, ini nggak boleh terjadi." Oliv menyambar tasnya kemudian berlari dengan tergesa-gesa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kira-kira readers setuju kalo "Oliv sama Marcel" atau "Oliv sama Si misterius Genius?" nih?


Ke kolom komentar ya. See you next episode guys ♥️


__ADS_2