Past For Future

Past For Future
Akad (TAMAT)


__ADS_3

Pov Oliv


Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Bagai timbunan gunung, gundah-gulana itu terlihat jelas di mataku. Aku melirik keluar. Lihatlah, langit biru dengan gumpalan awan putih bak kapas terlihat indah. Serombongan burung camar melenguh di kejauhan. Pemandangan yang mempesona, berbanding terbalik dengan mendung yang terus menyelimuti raut wajahku.


Aku kembali menatap wajahku. Kuas-kuas dengan lembut melukis wajahku dengan elok rupawan. Namun hanya wajahku yang rupawan. Tidak dengan suasana hati ku yang saat ini masih belum siap menerima suratan takdir Tuhan. Namun meskipun begitu, aku harus tabah. Aku harus menerima semua ini. Menikah dengan putra adam yang sama sekali tidak aku inginkan dalam hidupku.


Aku melirik dari pantulan cermin. Wanita yang pernah Marcel cintai tersenyum kearah ku sembari mengusap-usap perutnya yang membuncit. Wanita itu, aku tahu dia memahami perasaanku saat ini, terjebak dalam kegundahan yang hebat.


Aku menghela nafas sebelum membalas senyuman itu. Ya, aku harus terlihat tegar agar semua orang yang aku sayang ikut membaca kebahagiaanku. Aku memejamkan mata saat seorang perias memasang eyeshadow dan entah apalagi. Aku tak lagi menangis sedari semua orang sibuk mempersiapkan hari ini. Sudah cukup puas aku menangis semalam. Meratap nasib. Memulai menyiapkan diri memulai hari-hari patah hati yang hebat. Bukan hanya patah hati karna kekasihku, tapi juga pada kedua orang tua ku, pada kakakku. Semua bersikeras menikahkan aku tanpa sedikitpun memberi aku peluang untuk menjelaskan.


"Wah, Nona adalah Princess yang cantik jelita. Saya baru ini menemukan wanita yang sangat sempurna." Sang perias memberi pujian. Aku hanya tersenyum menanggapi. Itu hanyalah taktik. Mungkin semua perias akan mengatakan itu pada semua kliennya.


Perias itu menuntun ku untuk duduk di tepi ranjang, tepat di samping Kak Bulan duduk. Kak Bulan menyambut ku dengan antusias.


"Ya ampun, cantik banget. Semua orang pasti pangling sama kamu, Liv. Andai dulu Kakak dandan kayak gini." Kak Bulan merangkup wajahku dengan kagum. Benar saja, toh sewaktu ia menikah dengan Kak Dirga sama sekali tak berias, bahkan hanya diselenggarakan di dalam rumah sakit.


"Oke, sekarang kita setel." Kak Bulan memencet remote menyalakan televisi yang ada di sebelah kiri ku. Aku sedikit menggeser tubuhku untuk menghadap layar. Ternyata, Ya Allah, tubuhku mulai bergetar dengan hebat.


"Sebentar lagi jadi istri orang," bisik Kak Bulan. Ya, layar itu menampilkan calon suamiku yang sudah duduk di kursi di depan Papa serta Kak Dirga dan beberapa orang yang menjadi saksi. Aku masih bergetar sembari menggigit bibir bawahku. Dan akhirnya aku beranjak.


"Mau kemana, Liv?" tanya Kak Bulan.


"Mau ke balkon. Di sini gerah," jawabku.


Aku melangkahkan kakiku ke balkon kamar. Menatap langit cerah dengan tatapan suram. Pecah. Sudahlah, aku tetap ingin menangis meski hanya sebentar. Aku bukan aktris yang pandai berakting. Ini bukan hal yang mudah, ini menyakitkan. Aku sempat melihat wajah Marcel turut menjadi tamu. Wajahnya tampak seperti biasa, hanya saja ia menatap kosong ke arah meja ijab kabul yang tidak lama lagi akan dilaksanakan.


"Liv, ini takdir. Selain harus menerimanya, kamu juga harus ikhlas. Kamu pasti bisa memulainya. Cepat atau lambat kamu akan mencintai suamimu." Kak Bulan memelukku dari samping yang membuat aku semakin terisak. Luntur? terserah saja, aku tak memikirkan tentang riasan wajahku. Aku yakin para perias itu bukan sembarangan, mereka punya kualitas.

__ADS_1


"Liv, ijab kabul nya udah mau dimulai. Ayooo." Kak Bulan menarik tanganku, tapi aku tetap diam tak melangkah. Aku hanya menoleh, melihat dari luar layar yang memperlihatkan dua pria yang tengah berjabat tangan untuk melakukan meresmikan pernikahan dengan sakral. Lagi, aku terisak kembali.


"Ya Allah, kalau memang dia adalah pria yang Engkau kiriman untuk hamba, maka hamba ikhlas. Hamba akan mencoba untuk menerima Takdir yang telah Engkau tuliskan untukku. Tapi tolong ampuni hamba yang belum bisa melupakan pria yang bukan suami hamba. Engkau yang maha mengetahui segala sesuatu yang ada di hati hamba. Kuatkan hamba, Ya Allah."


Kak Bulan dengan sabar menuntun ku, para perias yang entah kenapa mereka bisa kembali ke kamar, segera memperbaiki penampilanku. Entah memperbaiki apa saja, aku tidak peduli.


Pintu kamar dibuka. Dekorasi dari dalam kamar hingga menunju bawah seperti telah dipersiapkan dengan apik. Beberapa Bridesmaids yang tak lain sahabat-sahabat ku merapat menyambut ku dengan riang.


Bak seorang ratu yang berjalan di hamparan karpet, aku dituntun seolah takut diriku lecet.


Langkah demi langkah kakiku menapak tangga untuk turun. Para tamu undangan tampak bertepuk tangan, bersorak ria menyambut kedatanganku. Aku hanya menunduk. Aku tak ingin menatap siapapun, termasuk pria yang tengah duduk di bangku tamu yang pastinya sedang menatapku dengan sendu. Aku tak akan mendongak menatapnya. Menyakitkan.


Aku sedikit terkejut saat tangan seorang pria menjulur ke arahku. Memintaku untuk menggandeng tangannya. Aku menatap pria itu. Rupanya Papa ku. Aku tak meraih tangannya, aku langsung menghambur ke pelukan Papa sambil menangis sendu di pundaknya. Semua orang menatap hari ke arah kami. Mungkin mereka mengira bahwa sang putri bersedih karna telah melepas status gadisnya dan akan meninggalkan ayahnya kelak.


Papa melepaskan pelukanku kemudian tersenyum sembari mengusap wajahku yang dipenuhi kristal bening. Papa membawaku untuk duduk di samping pria yang telah sah menjadi imanku. Sebelum duduk aku sempat menoleh, pemandangan menyakitkan ada di sana. Marcel menunduk. Kenapa? kenapa harus datang ke acara ini hanya untuk menyaksikan wanitanya menikah? Kenapa harus datang untuk menambah perih luka?


"Saya suamimu sekarang. Penantian ini sudah sangat lama. Sekarang saya akan selalu menjaga kamu, selalu di dekatmu, dan memastikan kamu bahagia. Karna saya adalah..." Gema menggantung kalimatnya. Aku masih bergeming tak bersuara. "Saya adalah cinta masa kecilmu, Genius."


deg


Aku buru-buru melepaskan pelukan kami. Terdengar riuh suara tepuk tangan dari tamu undangan yang mengira kami berpelukan mesra. Aku masih menatap suamiku intens. Genius? Aku meneguk saliva ku.


Seperkian detik aku berkedip, menoleh ke arah Marcel. Ia tersenyum ke arahku, berbicara melalui mata 'aku bahagia melihatmu bahagia'. Aku menunduk. Ngilu. Hanya itu yang kurasakan.


Kehidupan baru akan segera dimulai. Tuhan mungkin punya rencana besar untuk kehidupanku, hingga Ia mengirimkan pahlawan untuk mendampingiku. Aku tidak pernah menyangka, pria yang baru saja menyandang status sebagai suamiku itu adalah pria yang selama ini menjadi perisai untuk keluargaku.


Hari ini, aku. Priscanala Olivia Ratu Baskara meneguhkan diri. Tetap berdiri di deru nya ombak. Mengikrarkan sumpah untuk melanjutkan hidup. Memasrahkan diri pada Yang Maha Kuasa. Aku harus kembali hidup, karna telah ada hati yang berkorban. Demi bahagia, demi memegang teguh kepercayaan.

__ADS_1


Benar, cinta tak harus saling memiliki. Cinta tidak buta. Hati harus mengorbankan sesuatu untuk tetap memegang teguh keyakinan atas Tuhan Yang Maha Esa.


(TAMAT)


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih banyak sudah bersama PFF, terimakasih telah mendukung Author, terimakasih untuk kalian semua. Author pamit undur diri dalam cerita ini. Semoga cerita ini berkenan di hati para pembaca.


KARYA KEDUA AKAN SEGERA RILIS. CERITA MASIH BERLANJUT UNTUK KEHIDUPAN RUMAH TANGGA OLIVIA DAN GEMA. JANGAN LUPA FOLLOW YA♥️


DAN, JANGAN UNFAVORITE OKEE. AUTHOR AKAN SANGAT TERSANJUNG SAAT KARYA INI TERAP DI RAK BUKU MESKI TELAH TAMAT ♥️


Follow my IG : nanaqihasna_

__ADS_1


Extra Part nggak nih?😁


__ADS_2