Past For Future

Past For Future
Baju Haram


__ADS_3

...Episode ini mengandung konten dewasa. Harap bersikap bijak 🙏...


.......


.


.


.


.


.


Sepoi angin menerpa, menyentuh apapun yang dilaluinya. Dedaunan pun ikut menari menghayati alunan hembusan udaranya. Pasir-pasir putih berkilauan memantulkan cahaya sang jingga yang ikut serta mengidahkan dunia.


Satu dua helai rambut tergurai dengan indahnya. Sesekali ia sibak dengan anggunnya, malu bercampur rona bahagia menjadi satu. Wanita berparas cantik itu sibuk membuang muka dari pandangan pria dihadapannya. Pria yang menatapnya intens dan penuh dengan semburat bahagia. Menambah kesan ala remaja yang baru saja merajut asmara.


Sang pria meraih jemari gadis dihadapannya kemudian mengecupnya dengan sayang. Sebuah cinta yang tak pernah ia sangka akan menjadi cerita indah tentang dilema, air mata, dan bahagia. Pria itu tersenyum tatkala melihat gadisnya masih enggan untuk menoleh kearahnya.


"Suka nggak sama cincinnya?" Yang ditanya hanya mengangguk. "Seneng nggak?" Pria itu semakin bersemangat untuk menggoda gadisnya yang tampak malu-malu.


"Lihat sini dong." Ia membawa bahu gadisnya untuk menghadap kearahnya.


"Apa sih?" Oliv menggoyang-goyangkan bahunya.


"Kalo ada orang ngomong tuh dilihatin orangnya." Marcel mencubit dagu Oliv.


"Aku denger." celah Oliv.


"Oh iya? Do you love me, Dear?" goda Marcel.


"Yes, i do." jawab Oliv cuek.


"Pantainya indah ya." Marcel ikut memandang pantai di hadapannya. Oliv menoleh menatap Marcel. "Lebih indah dari kamu." Marcel tersenyum miring.


"Iya memang. Pantai emang indah lebih indah dari aku. Sana pacarin pantainya." Oliv nyolot kemudian berdiri dan meninggalkan Marcel.


"Sayang....!!" teriak Marcel, "Kamu tega ninggalin aku yang lumpuh ini?" nada dibuat sok tersakiti.


Oliv mengentikan langkahnya. Ia menghela nafas sebelum kembali menghadap kearah pria nya. Oliv menyilang kan tangannya di perut sembari menatap Marcel sinis.


"Kenapa nggak minta tolong sama pantai aja?" kesal Oliv.


"Kamu posesif banget sih, Cinta." Marcel terkekeh. "Kamu cemburu sama pantai?" Marcel mengusap wajahnya untuk menahan tawa.


"Siapa bilang? Nggak. Aku biasa aja." elak Oliv.


"Ya udah dong. Tolongin calon suamimu dulu sini." Marcel menyodorkan tangannya layaknya balita yang minta digendong.


"Hisss..." Oliv mengerucutkan bibirnya seraya menghampiri Marcel.


Dengan telaten Oliv memapah Marcel menuju kursi rodanya. Mulut Marcel terus melanjutkan rayuannya untuk Oliv yang membuat malu-malu kesal.


bruk


Oliv mendudukkan Marcel di kursi roda yang tak jauh dari tempat duduk mereka tadi. Marcel menahan tangan Oliv untuk tetap berada diposisi nya. Tangannya terulur untuk menyibakkan rambut Oliv yang menutupi wajahnya. Tatapan mereka bertemu hingga beberapa saat.

__ADS_1


Wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan, Ia merasakan nafasnya semakin dekat dengan gadis itu, hingga terasa sesuatu menyentuh bibirnya dengan lembut.


"Aaaawwwwww....!!!"


Oliv yang terkejut dengan teriakan Marcel yang tiba-tiba, membuatnya sedikit berjarak pada Marcel. Oliv mengerutkan keningnya panik saat melihat wajah Marcel semakin memerah menahan sakit.


"Kak, Kak Marcel kenapa?" Cemas Oliv dengan menepuk-nepuk pipi Marcel.


"Aaarrrrgggghh. Liv tolong....!!!" Marcel semakin mengeerang kesakitan.


"Iya apa?? Kak Marcel kenapaaaa?" Oliv semakin cemas. "Kita ke rumah sakit sekarang ya." imbuhnya semakin cemas.


"Aduuuhh. Nggak usah arrrghh itu... ituu..." Marcel menunjuk-nunjuk kakinya.


Oliv melototkan matanya saat melihat makhluk orange yang lumayan besar mencapit jempol kaki Marcel. Bukannya membantu Oliv malah menggigiti jarinya ketakutan.


"Aduuuh nggak berani, Kak. Kalo gantian nyapit aku gimana?" bulu kuduknya semakin menegang.


"Pegang tengahnya, awwww aku ngga bisa ngambilnya, Liv. Tolong kaki kuuuuu...!!" teriak Marcel lebih kencang.


Oliv memajukan tangannya kemudian memundurkannya lagi, memajukan, memundurkan lagi hingga dengan wani-wani angas Oliv memegang kepiting hidup itu kemudian melemparkannya jauh-jauh.


"Hiiiiiiiii..." Oliv menggidikkan bahunya geli.


"Shhhh perih, Liv." Marcel meringis.


"Ya ampun, berdarah!!" kejut Oliv, "Gimana ini?" paniknya.


"Kita ke mobil aja. Di mobil ada P3K." usul Marcel.


***


Sedangkan Bulan tengah mondar-mandir di ruangan walk in closet. Iya terus mengetuk-ngetuk bibirnya sembari berfikir keras untuk membujuk suaminya yang sudah empat hari mendiamkannya. Bulan meremat rambutnya kesal karna idenya telah buntu. Ia sudah bersusah-payah membujuk dari mulai memasak, memijit suaminya, bahkan memberikan suaminya mawar putih sebagai simbol permintaan maaf. Namun naas, bukannya dimaafkan malah menambah penyakit alergi suaminya.


Oliv menatap tubuhnya di balik cermin, ia menarik baju oversize nya kebelakang untuk membentuk lekuk tubuhnya. Sekelibat terlintas ide gila dipikirkannya. Ia membuka lemari dengan tergesa-gesa, mengacak-acak dengan asal. Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan dua tumpuk baju haram yang sengaja Dirga persiapkan untuknya namun tak pernah ia digunakan. Bulan menarik baju saringan berwarna merah cerah dengan senyum licik di wajahnya.


"Ya elah, kenapa nggak kepikiran dari kemarin, sih. Kalo gini kan Pak Tua itu nggak bakalan ngambek lama-lama." Bulan menempelkan baju itu ke tubuhnya. Dengan watak licik yang entah datang darimana, Bulan memakai baju haram itu tanpa ditambah apapun.


cklekk


Bulan mengintip celingukan untuk mencari keberadaan suaminya. Saat dirasa suaminya belum pulang dari kantor, ia melangkah kecil menuju ranjang.


Bulan menautkan kedua jari telunjuknya yang menandakan ia tengah berfikir dengan grogi. Ia memiringkan tubuhnya kemudian mempraktekkan gaya-gaya sennsual seperti foto-foto model dewasa.


"Jangan-jangan, malah kayak wanita penggoda." Bulan merentangkan tubuhnya agar ada sesuatu tercetak dengan sempurna. Namun Bulan kembali menggelengkan kepalanya.


"Gimana ya?" Bulan mengatur nafasnya kemudian, "Oke, rilex Bulan. Kamu cukup cuek aja. Menggoda tanpa bergerak."


cklekk


Pintu kamar dibuka, namun Bulan malah menarik selimut untuk pura-pura tidur. Terdengar suara sepatu yang terlempar dengan asal yang menjadi kebiasaan buruk Dirga Baskara.


Bulan melirik saat terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Bulan menghela nafas lega dan lupa akan tujuan awalnya.


"Kok jadi deg-deg an gini sih." Bulan memegangi dadanya. "Mau goda suami sendiri aja segrogi ini." Bulan terkekeh.


Cukup lama Bulan menunggu suaminya menyelesaikan urusannya, tanpa sadar ia menguap. Matanya sudah mulai sayu tak mampu lagi menahan kantuk.

__ADS_1


Baru terlelap sebentar, Bulan merasakan guncangan di atas ranjang. Ia melirik kebelakang, suaminya merebahkan diri dengan tangan bersedekap di dada.


"Mas..." panggil Bulan namun tak ada sahutan.


"Mas, pake selimut tidurnya." Bulan menepuk pundak Dirga.


"Hmm."


Bulan menghela nafas, kemudian membungkuk untuk menyelimuti tubuh Dirga. Dirga yang sebenarnya belum tidur pun diam-diam melirik istrinya. Matanya semakin menyipit tajam saat melihat dua buah yang terpampang nyata di depannya saat istrinya membungkuk.


gleg


Air liur Dirga hampir menetes. Namun segera Dirga membuang pikiran kotornya dan memaksakan diri untuk memejamkan mata. Dirga membolak-balik kan tubuhnya saat merasa semua posisinya salah. Ia menghadap kearah istrinya, lagi-lagi ia mendapat pemandangan gila saat istrinya tidur dengan terlentang.


Ia mulai hilang akal, rasa gengsinya tinggi namun napsu nya juga lebih tinggi. Dirga meraba apa yang ingin ia raba. Tak cukup di situ ia mulai beraksi pada mainan-mainan favoritnya. Melahap apa yang bisa ia lahap.


"Uuuhhh." suara lenguhan keluar dari mulut Bulan. Perlahan ia membuka matanya saat merasakan ada sesuatu yang basah.


Matanya melotot saat melihat sebuah kepala berada di bawahnya. Ia mulai menggila, tubuhnya merasakan gelenyar yang luar biasa. Bulan menjambak kepala suaminya untuk mengekspresikan rasanya.


huuuh huuuh


Sesuatu telah keluar. Dirga menatap dalam wajah Bulan. Dengan sekali tarikan, baju haram yang Bulan kenakan robek tak beraturan.


"Mas ko...emmphh"


Dirga membungkam mulut Bulan dengan agresif.


"Sampe jam tujuh pagi." bisik Dirga tepat di telinga Bulan yang membuat Bulan semakin meremang.


"Tapi ka.... emmpph"


Lagi-lagi Dirga tak memberikan kesempatan Bulan untuk berbicara. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kepuasan cinta dari bidadari nya.


Dan malam ini menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua sebagai pasangan suami-istri yang sah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ehem.


Oke guys. See you😁

__ADS_1


__ADS_2