
...Latar belakang mu? Tentang kehidupanmu? Kau tak perlu mengambil seonggok risau, kau hanya perlu membawaku kedalam dekapanmu, dan merangkul ku menjalajah kehidupan nyata bersamamu. Dengar, dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu, meskipun ada titik hitam dalam hidupmu. Izinkan aku mencintaimu, simfoni cintaku. ~Olivia Ratu Baskara...
*Quete by DeriNa
***
Hari telah menjelang malam, perjalanan belum usai. Bahkan mungkin kepulangan lebih lama dibandingkan keberangkatan Oliv yang menggunakan Kereta. Langit tengah menyampaikan pesannya pada Bumi melalui rintik hujan malam ini.
"Euuuughh," Oliv melenguh dari tidurnya. Cuaca yang dingin membuatnya sedikit menggigil.
"Kak..." lirih Oliv seraya mengerjapkan matanya. Ia sedikit menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya kerlap kerlip yang ada di sekitarnya. "Kita di mana?" tanya Oliv yang masih belum sadar sepenuhnya.
"Masih di jalan." singkat Gema menjawab. Oliv hanya ber-oh ria tanpa suara.
Seperkian detik kemudian ia mulai menyadari bahwa ada yang aneh dengan keadaan saat ini. Ia celingukan di luar jendela untuk memastikan bahwa ia tak lagi di daerah tempat yang ia singgahi tadi.
"Udah malem? Buset gue tidur berapa jam?"
"Gue pindah duduk tadi digendong atau diseret?"
Dan masih banyak lagi Pertanyaan yang memenuhi otak Oliv. Ia menoleh kearah Gema yang masih fokus menyetir tanpa menghiraukan gerakan-gerakan Oliv yang tengah merasa cemas.
"Jalannya bener ini kan?? Gue nggak diculik kan??"
Oliv hanya berani melontarkan pertanyaan-pertanyaan dalam hati. Bukan takut, hanya saja malas berurusan dengan pria menyebalkan di sampingnya.
"Boleh mampir ke restoran dulu, nggak? Laper nih." akhirnya mulutnya mengeluarkan uneg-uneg sang perut.
"Woy Biawak bisu!!! Gue ngomong sama elo!!"
Tak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut Gema untuk menjawab Oliv. Yang barusan bertanya pun hanya bisa mengelus dadanya untuk bersabar, padahal dalam hati berteriak menyumpahi Gema.
Tak lama setelah mengeluarkan uneg-uneg perutnya yang minta diisi, ternyata Gema kini memarkirkan mobilnya di sebuah halaman restoran yang membuat Oliv berbinar-binar. Ah, rasanya ingin makan semua menu. Laparnya sudah sangat akut untuk saat ini.
"Mau turun atau bengong?" ketus Gema.
"I-iya ini turun kok."
Brakk
Pintu mobil ditutup dengan kuat oleh Gema. Yang membuat Oliv kembali mengusap dadanya untuk menyabarkan hati dan pikiran. Belum saatnya untuk menyombongkan diri. Setelah sampai di mansion, Oliv akan membuat Gema bersujud-sujud meminta maaf karna telah lancang memperlakukan Putri Baskara dengan tidak sopan.
"Mbak mau pesen dong!" Oliv melambaikan tangannya pada salah satu pelayan restoran.
"Silahkan pilih menu nya, mbak." Pelayan itu mempersilahkan.
"Em, saya mau Krispy Chicken with pepper, vegetarian peanut sauce, ini juga deh rice bowl nya minta yang komplit ya, terus minumnya orange juice. Udah itu aja mbak." Oliv tersenyum manis pada pelayan. "Anda mau pesen apa?" Oliv bertanya pada Gema yang duduk di hadapannya.
"Rice bowl komplit, minumnya air putih aja." jawab Gema, Oliv hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian menyerahkan buku menu ke pelayan.
Sembari menunggu pesanan datang, Oliv memutuskan untuk menghubungi Marcel. Rasa rindu sudah sangat menggunung untuk diungkapkan melalui kata dan pertemuan. Oliv menghidupkan ponselnya yang sebelumnya non aktif. Banyak notifikasi pesan bahkan panggilan yang membuat ponsel Oliv konser karna suara notifikasi.
Oliv meneliti satu persatu pesan dan panggilan yang masuk, namun tak ada satupun pesan dari Marcel. Ia sedikit kecewa, namun segera ia tepis perasaannya yang tidak-tidak.
Oliv send message
"Sayang...๐โฅ๏ธ"
__ADS_1
Tak lama kemudian pesan terbalaskan oleh Marcel. Oliv hanya tersenyum melihat pesan yang Marcel kirimkan.
Marcel ku โฅ๏ธ
"Are you happy, my girl?๐๐๐" (Apakah kamu bahagia, wanitaku?)
Oliv
"Aku bahagia. Dan aku kangen banget sama kamu, Kak๐๐"
Marcel kuโฅ๏ธ
"Aku juga, Sayang. Pernikahan kita tinggal menghitung hari, apa kamu udah yakin? Apa kamu nggak mempermasalahkan latar belakangku dan masa lalu ku, Liv?"
Oliv mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya di belakang ponsel. Kenapa Marcel kembali menanyakan hal ini? Mereka sudah sama-sama mencintai satu sama lain, lalu untuk apa ia menanyakan keyakinannya lagi?
Oliv
Latar belakang mu? Tentang kehidupanmu? Kau tak perlu mengambil seonggok risau, kau hanya perlu membawaku kedalam dekapanmu, dan merangkul ku menjelajah kehidupan nyata bersamamu. Dengar, dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu, meskipun ada titik hitam dalam hidupmu. Izinkan aku mencintaimu, simfoni cintaku๐ Aseeeek๐"
Marcel kuโฅ๏ธ
"Jadi pengen cepet-cepet makan kamu ๐ I Love you, Nyonya Pradigta โฅ๏ธ "
Oliv
"I Love you more, calon imam ku โฅ๏ธ"
Pesan terakhir hanya bercentang dua biru. Tak ada lagi balasan dari Marcel, hati Oliv sedikit ngilu. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini ketika Marcel kembali membicarakan masa lalu. Sekarang ini ia hanya ingin cepat pulang dan bertemu dengan calon suaminya itu untuk lebih leluasa mengungkapkan perasaan cinta yang besar untuknya.
Setelah selesai, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang yang masih cukup jauh untuk ditempuh. Sampai di perbatasan kota, mereka melewati hutan lebat dan hanya ada satu dua mobil yang melewati mereka.
ciiiitt
dug
Mobil Gema berhenti mendadak yang membuat Oliv terbentur dashboard mobil cukup keras.
"Awww, kenapa berhenti mendadak sih?" protes Oliv.
"Kayaknya bannya bocor." jawab Gema.
Dooor dor dorrr
Kaca jendela mobil diketuk kasar oleh orang-orang bertopeng yang berpakaian serba hitam.
"Woyyy keluar!!!!"
"Kak Gema," cemas Oliv refleks menggandeng tangan Gema.
"Kamu di sini dulu, jangan keluar." titah Gema, namun lengannya ditahan. Oliv menggeleng mengisyaratkan agar Gema tidak keluar dari mobil.
"Tenang, tunggu aja sebentar." Gema melepaskan tangan Oliv dari lengannya.
Gema akhirnya keluar dari mobil, dan menatap sekeliling. Lampu mobilnya masih menyala, hingga masih nampak untuk melihat jumlah para penjahat yang mencegatnya. Ia menyunggingkan senyumnya. Ternyata masih ada orang yang berani menghadangnya, apa mereka tidak tahu jika berurusan dengannya akan sama saja membunuh diri mereka sendiri.
"Kalian berlima, maju. Dan jangan harap nyawa kalian akan selamat." ucap Gema dengan tenang.
__ADS_1
bug
bug
bug
bug
Gema melawan lima orang sekaligus, bahkan pertarungan sudah hampir 10 menit, namun ia tak kunjung mendapatkan titik terang untuk melumpuhkan lawannya.
"Siaaal!! Kenapa ilmu mereka sepadan dengan ku. Akan aku hempaskan mereka dari Bumi ini."
Pertarungan terus berlanjut hingga Gema sedikit kewalahan dengan tenaga satu banding lima yang membuat tubuhnya sedikit penat. Sebenarnya ia sedikit heran, karna pukulan dari tadi tak mengenai tubuhnya, hanya saja ia kewalahan saat menepis serangan-serangan penjahat-penjahat itu.
"Aaarrrrgggghh." teriak Gema saat salah satu penjahat itu menancapkan jarum suntik di tubuhnya.
"Kak Gemaaaaa!!!" teriak Oliv dari dalam mobil.
"Emmphh..." tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang oleh salah satu penjahat yang tak ia ketahui bagaimana bisa penjahat itu masuk.
" Siaal, gue dibius."
Mata Oliv perlahan mulai sayu dan meredup, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri karna pengaruh obat yang baru saja dibekapkan ke mulutnya.
"Bawa mereka alamat yang saya kirim ke ponsel kalian!!" seru seorang wanita yang baru keluar dari mobil. Lebih tepatnya yang membekap Oliv dengan obat bius tadi.
"Baik, Nyonya." Patuh mereka.
"Good job, Nyonya." Salah satu penjahat tadi melepas topengnya dan menghampiri wanita yang ia panggilnya 'Nyonya'.
"Ini mereka nggak papa?" tanya wanita itu.
"Tenang, masih ada rencana selanjutnya." Pria itu tersenyum sinis.
"Oke, tapi mau makan seblak dulu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut ya??
Dukungannya mana dong๐๐๐๐
__ADS_1