Past For Future

Past For Future
All about you


__ADS_3

~Aku masih mencintainya. Meski aku hanya dapat bertemu bayang-bayang nya. Bulan


...Kediaman keluarga Bulan...


T'lah kucoba t'rus bertahan


Tentang cinta yang kurasa


Ku mencinta, kau tak cinta


Tak sanggup ku terus bertahan


Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu


Memaksamu mencintaiku sepenuh hati


Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu


Tapi terimalah permintaan terakhirku


Genggam tanganku, sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak di depan aku


Cium keningku 'tuk yang terakhir


Ku 'kan menghilang jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi di mana nanti kau terluka


Cari aku, ku ada untukmu


~Lyodra-Pesan terakhir


Hari ini adalah hari weekend. Sebenarnya Bulan berencana untuk mengajak ibunya jalan-jalan. Namun karna berjalan pun susah, jadi Bulan mengurung niat nya dan memilih melamun di balik jendela kamarnya.


"Cinta pertamaku menyakiti hatiku. Cinta dari Bintangku pergi meninggalkan aku." Entah yang keberapa kalinya Bulan menitikkan air matanya.


Ia memandangi gerbang di rumahnya. Masih berharap ada keajaiban yang membawa Bintang datang. Ia meraih handphone nya lalu membaca ulang chat terakhir dari Bintang. Romantis. Bahkan Bulan sering larut dalam kata-kata puitis yang Bintang ucapkan. Pikirannya melayang beberapa hari sebelum Bintang pergi.


Flashback on


"Bul bul, kayaknya sekarang kamu ubah aja penampilan kamu. Jadi diri kamu sendiri. Bulan yang cantik dan manis." Ucap Bintang sambil merapikan rambut Bulan yang terkena angin pantai.


"Aku udah nyaman kayak gini Bin bin. Lagian emang kamu nanti nggak cemburu kalo aku tampil cantik?" Bulan menggoda sang pujaan hati.


"Kamu mau gimana aja sebenernya tetep cantik di mata aku. Cuman nanti kalau aku tiba-tiba pergi dari hidup kamu, masih ada cowok yang mau sama kamu." Bintang terkekeh sembari mengacak-acak rambut Bulan.


"Kamu ngomong apa sih bin bin. Oke aku rubah penampilan aku lagi. Tapi kamu janji nggak boleh ninggalin aku. okee." Bulan menyandarkan kepalanya di bahu Bintang sambil menikmati senja.

__ADS_1


"Bulan mampu menyinari redupnya malam meski bintang terkadang tak ada di sisinya." gumam Bintang pelan yang tak di dengar Bulan.


Flashback off


drrrrttt... drrrrttt


Bulan melirik siapa yang menghubunginya. "Ah, merusak suasana aja pak tua ini."


"Halo." Bulan menerima telepon itu.


"Saya cuman mau bilang makasih karna udah ngobatin luka saya. Bagaimana kalau saya traktir kamu makan. Saya nggak suka lama-lama hutang budi sama orang." ujarnya dengan angkuh dari sebrang sana.


"Tidak perlu tuan. Saya melakukan itu hanya untuk tidak melanggar surat kontrak kerja saya." Bulan menjawab dengan nada bicara datar.


tuuut


Panggilan di akhiri sepihak. Kali ini bukan Dirga, namun Bulan lah yang mengakhiri panggilan tersebut. Wahh nyalinya besar juga bukan? haha.


"Sinting!" hanya itu yang keluar dari bibir manis Bulan. Pasalnya ia masih kesal dengan Dirga yang merebut ciuman pertamanya. Dan untuk kondisi kakinya saat ini, Dirga juga memang pantas disalahkan.


***


Sedangkan di tempat lain seseorang tengah mengumpat kesal karna kelakuan bawahan sekaligus calon adik iparnya itu.


"Bisa-bisanya seorang Dirga di tolak mentah-mentah sama gadis ingusan." Dirga kesal sendiri.


"Aku akan mengecek CCTV. Lagipula aku kan baru mengenalnya. Siapa tau ia cari kesempatan dalam kesempitan."


Dirga segera bergegas menuju ruang CCTV pribadinya. Ia melihat gerak-gerik Bulan dari awal masuk apartemen sampai dengan,


"Pantas saja aku semalam merasa ada benda kenyal di bibirku. Rasanya manis juga" Dirga mulai dengan pikiran liar nya. Bagaimanapun juga ia seorang pria berusia 29 tahun yang sudah cukup matang untuk menikah.


"Iiiiss kenapa aku jadi membayangkan terjadi hal yang lebih." Dirga menggeleng-gelengkan kepalanya nya untuk membuang pikiran kotornya setelah melihat dada Bulan yang sedikit terekspos karna perbuatannya.


Ia lanjut melihat rekaman itu dimana Bulan dengan telaten nya mengobati luka nya. Setelah itu ia juga terkejut karna kaki kanan Bulan banyak mengeluarkan darah yang ia yakini terkena pecahan kaca hingga Marcel datang menghampirinya.


"Cihh. Pantas saja ia menolak ajakan ku mentah-mentah. Mungkin dia kesal." Dirga menyunggingkan senyumnya.


***


...Gedung Perusahaan Baskara Group...


"Bulaaaan... Bulaaaan!" Seorang wanita berperawakan kurus dan tidak terlalu tinggi berteriak dan menghampiri Bulan. Bulan hanya melihat kanan kiri untuk memastikan bahwa ia yang sedang di panggil.


"Bulan kan?? anaknya pak Leo? Ini gue Sandra temen SD elo." wanita itu kegirangan.


"i...iya gue Bulan." jawabannya masih dengan mengingat-ingat Sandra dalam kamus yang ada di otaknya.


"Elo apa kabar Lan. Lama banget kita nggak ketemu karna elo lanjut sekolah ke luar kota." Wanita itu memeluk Bulan dan Bulan pun membalasnya.


"Hehehe iya ndra, gue tinggal sama nenek gue disana." ucap Bulan yang mulai mengingat Sandra teman baiknya saat duduk di bangku SD.


Sandra melepaskan pelukannya,

__ADS_1


"Elo makin cantik aja Lan. Gue awalnya sempet pangling sama elo hehehe." Sandra memuji Bulan. "Nih kita tukeran kontak. Nanti kita makan siang bareng ya." Sandra menyodorkan hp nya pada Bulan.


"Kayaknya besok-besok aja deh kalo mau makan siang bareng ndra. Lihat kaki gue aja pincang-pincang untuk jalan."


"Yaelah gue baru ngeh. Kaki elu kenapa?"


"Ntar deh gue ceritain. sekarang gue ke atas dulu takut telat." Bulan mencoba untuk memberi alasan.


"Ya udah. Hati-hati ya. See you Bulan."



"Selamat pagi tuan." Bulan menyambut kedatangan Tuan Dirga yang hanya di jawab deheman olehnya. Segera ia menuju pantry untuk membuatkan kopi susu yang tidak perlu disaring ampasnya.


tok tok tok


Bulan berjalan tertatih menuju meja kebesaran Tuannya.


"Ini kopi susunya tuan." Bulan meletakkan secangkir kopi susu ke meja Tuan Dirga. Dirga hanya melirik.


"Kenapa kakimu?" Ucap Dirga tanpa mengalihkan pandangannya.


"kenapa gundulmu itu. Dasar pak tua sinting" gumam Bulan dalam hati.


"Tidak apa-apa tuan, saya hanya memijak kaca di dinding." jawabnya asal.


"Hahahahaha," Dirga tertawa lepas hingga menggema di ruangannya setelah mendengar alasan yang dibuat Bulan. Bulan hanya merinding dibuatnya. "Apa kau telah menjadi siluman cicak gadis aneh? Sejak kapan ada orang yang memijak kaca di dinding??" Dirga kembali tertawa.


"Tutup mulut anda tuan. Suara tawa anda sangat jelek. permisi." Bulan segera keluar ruangan karna mukanya sudah merah padam. Rasa marah dan malu bercampur jadi satu.


Dirga menghentikan tawanya setelah mendapat ejekan dari Bulan


"Berhenti disana dan minta maaf Bulan."


"Maaf tuan saya bercanda." Bulan membungkuk sopan.


"Setelah keluar dari ruangan ku berkaca lah dan lihat muka merah mu itu lebih buruk dari suara tawa ku." Dirga memberi titah pada Bulan.


"Baik tuan. permisi." pamitnya


"Dasar gadis bodoh. Tapi aku cukup terhibur dengannya. Setidaknya aku bisa mengalihkan pikiran ku karna harusnya hari ini menjadi hari pertunangan ku dengan Alyssa." gumam Dirga


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


"Past for future" ini menjadi pengalaman pertama buat Author. semoga terhibur. Jangan sungkan-sungkan memberi masukan biar author bisa lebih baik lagi kedepannya 🤗 Jangan lupa tinggalkan jejak kalo suka ceritanya. see you next episode ♥️


__ADS_2