
Karima menoleh ke Daniel.
“Ya, Mas,” jawab Karima.
“Tadi Bunda tanya, kapan bunda bisa melamar kamu,” ujar Daniel.
“Mas jawab apa?” tanya Karima.
“Mas bilang mau dibicarakan dulu sama kamu,” jawab Daniel.
“Rima belum bilang ke Bang Aziz kalau Mas Daniel melamar Rima,” kata Karima.
“Bagaimana kalau pulangnya kira mampir ke rumah Bang Aziz?” tanya Daniel.
“Rumah Bang Aziz jauh di Cipulir. Nanti Karima bicara sama Bang Aziz melalui telepon,” kata Karima.
“Bunda ingin secepatnya melamar kamu,” ujar Daniel.
“Bagaimana kalau malam minggu ini Mas dan keluarga datang melamar kamu?” tanya Daniel.
Karima diam sejenak. Ia berpikir dulu.
“Mudah-mudahan Bang Aziz ada waktu,” kata Karima.
“Aamiin. Biar kita bisa segera menikah,” ucap Daniel.
Seorang karyawan rumah makan datang membawa pesanan mereka. Daniel dan Karima berhenti berbicara. Karyawan itu menghidangkan makanan di atas meja lalu meninggalkan meja mereka. Daniel dan Karima memakan makanan mereka.
Setelah selesai makan dan sholat dzuhur, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Lido Bogor. Jam setengah tiga mereka sampai di Lido. Mereka langsung menuju ke proyek pembangunan hotel.
Sesampai di tempat Daniel dan Karima turun dari mobil. Terdengar suara berisik dari mesin pengaduk semen. Sepertinya para pekerja sedang mengecor fondasi bangunan. Mereka memandangi proyek yang belum selesai bahkan bisa disebut belum setengah jadi. Proyek ini akan menjadi beban bagi mereka karena mereka harus sering datang ke Lido untuk melihat proyek.
Seorang laki-laki menggunakan helm kerja menghampiri mereka sambil berlari.
“Maaf, Pak Bu. Saya tidak tau kalau Bapak dan Ibu sudah datang. Tadi saya sedang memperhatikan yang sedang mengawasi yang sedang cor tiang,” kata laki-laki itu sambil ngos-ngosan.
“Tidak apa-apa. Kami baru sampai,” ujar Daniel.
“Mari Pak Bu saya antar mengelilingi proyek,” kata Pak Wanto mandor proyek.
Daniel dan Karima berkeliling proyek diantar Pak Wanto. Daniel memperhatikan fondasi-fondasi bangunan yang sedang dicor. Walaupun ia hanya meneruskan proyek Yarfin namun Daniel ingin klien mereka puas dengan hasil kerja mereka. Setelah selesai berkeliling proyek Daniel dan Karima kembali ke Tangerang Selatan. Mereka sampai di kantor ketika adzan magrib. Pak Min menghentikan mobil di depan kantor.
__ADS_1
“Terima kasih sudah membantu Karima dan anak-anak,” ucap Karima sebelum turun dari mobil.
“Sama-sama, Rima,” jawab Daniel.
“Rima pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Karima.
“Waalaikumsalam,” jawab Daniel.
Karima turun dari mobil lalu ia berdiri di pinggir jalan. Ia menunggu sampai mobil Daniel pergi. Karima melambaikan tangannya ketika mobil Daniel berjalan meninggalkan kantor. Setelah itu Karima berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman kantor. Ia membuka pintu mobil dengan menggunakan remote lalu ia masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian Karima menjalankan mobilnya meninggalkan halaman kantor.
***
Malam minggu yang cerah Daniel dan keluarganya pergi menuju ke daerah Cipulir. Mereka hendak melamar Karima. Mereka tidak mengajak keluarga yang lain. Cukup keluarga inti saja yaitu Daniel, Pak Dandi, Ibu Gita, Mia, Adrian dan si cantik Safina.
Kedatangan keluarga Daniel disambut oleh keluarga Karima. Karima memiliki tiga orang kakak yaitu Bang Aziz, Bang Edwin dan Bang Anton. Ketiga kakaknya laki-laki semua.
Sewaktu Yarfin ketahuan selingkuh dengan Winny kedua kakak Karima marah besar. Bahkan mereka hampir hendak memu*kul Yarfin hingga babak belur. Untung Aziz cepat-cepat mencegah kedua adiknya untuk berbuat anarkis. Kalau tidak Yarfin sudah habis digebukin oleh adik-adiknya Aziz.
Daniel dan keluarganya masuk ke pekarangan rumah Aziz.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel dan keluarganya.
Daniel dan keluarga menyalami keluarga Karima.
“Apa kabar Pak Daniel?” sapa Aziz ketika menyalami Daniel.
“Waduh. Jangan panggil saya Pak lagi! Panggil saya Daniel,” kata Daniel.
“Saya terbiasa memanggil Pak,” ujar Aziz.
Saat Daniel bersalaman dengan Edwin dan Anton, kedua kakak Karima menatap Daniel dengan penuh sidik. Daniel merasa risih ditatap begitu oleh kakak-kakak Karima. Berbeda dengan Aziz, Aziz bersikap friendly terhadap Daniel. Mungkin karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu.
Aziz mempersilahkan tamunya untuk duduk. Daniel dan keluarganya duduk di kursi tamu. Ruang tamu rumah Aziz sangat besar sehingga bisa memuat kursi banyak.
“Om Daniel.” Hari dan adik-adiknya keluar dari ruang keluarga. Mereka menyalami Daniel dan keluarga satu persatu.
“Aduh. Pintar-pintar sekali,” puji Ibu Gita ketika bersalaman dengan anak-anak Karima.
Edwin dan Anton memperhatikan keponakan-keponakan mereka yang sedang menyalami Daniel dan keluarga. Walaupun keponakan mereka akrab dengan Daniel bukan berarti mereka setuju Karima menikah dengan Daniel. Mereka tetap harus waspada, mereka tidak ingin kejadian Yarfin terulang kembali.
Hari dan adik-adiknya ikut bergabung bersama mereka. Hari dan Gathan duduk di kursi yang kosong sedangkan Rachel duduk di pangkuan Daniel. Melihat Rachel duduk di pangkuan Daniel, Edwin langsung memanggil Rachel.
__ADS_1
“Rachel, sini duduk sama Angku!”
Rachel menggelengkan kepalanya.
“Nga mau. Lahel mau cama Om Danil,” jawab Rachel.
“Sudah. Biarkan saja ia dipangku sama Daniel,” ujar Aziz. Edwin diam. Ia tidak suka kalau Rachel dekat dengan Daniel.
Pak Dandi mulai mengutarakan niat kedatangan mereka ke rumah Aziz.
“Saya dan keluarga saya datang ke sini untuk melamar Karima untuk anak kami Daniel,” ujar Pak Dandi.
“Maaf, Pak. Sebelum kami menjawab lamaran Daniel, saya hendak bertanya kepada Daniel,” kata Anton.
“Silahkan,” jawab Pak Dandi.
“Bung Daniel. Apa yang yang menyebabkan Bung Daniel ingin melamar Karima?” tanya Anton.
“Seperti yang Bung Daniel ketahui Karima janda memiliki anak tiga. Usianya lebih tua dari Bung Daniel. Kenapa harus memilih Karima? Sedangkan di luar sana masih banyak perempuan yang masih muda dan cantik-cantik. Apalagi Bung Daniel kelihatannya berasal dari keluarga berada, pasti mudah untuk mendapatkan perempuan yang cantik-cantik,” kata Anton.
Aziz menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Anton. Daniel tersenyum mendengar perkataan Anton. Semua keluarga Daniel menoleh ke Daniel, menunggu jawaban dari Daniel. Daniel menarik napas dalam-dalam.
“Baiklah akan saya jawab. Saya memilih Karima untuk menjadi istri saya karena dia sangat cantik di mata saya. Dia membuat saya nyaman berada di dekatnya. Dia lembut dan tutur katanya halus, membuat saya tidak ingin berhenti bicara dengannya,” ujar Daniel.
“Dan mengenai anak-anak Karima, kehadiran mereka membuat saya menjadi orang yang sangat diperlukan. Dengan kehadiran mereka membuat hidup saya lebih berarti dan berwarna,” lanjut Daniel.
Aziz menoleh ke Anton.
“Bagaimana, Ton? Apakah masih kurang jawabannya?” tanya Aziz.
“Sudah cukup, Bang,” jawab Anton.
Aziz beralih kepada Edwin. “Edwin. Ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Aziz.
“Ada, Bang,” jawab Edwin. Aziz mempersilahkan Edwin untuk bertanya.
“Pekerjaan Bung Daniel apa?” tanya Edwin.
“Saya seorang direktur di perusahaan milik papa saya,” jawab Daniel.
“Berarti kamu anak papa. Apa-apa milik papa kamu. Kamu tidak memiliki perusahaan sendiri,” ujar Edwin dengan nada mengejek.
__ADS_1